Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
POV Citra


__ADS_3

Aku sangat kesal melihat wajah bang Eril, entah mengapa saat dia datang dan mengacaukan lamaran Pak Yogi, aku jadi tambah membencinya.


"Tentu saja! Aku datang, karena kau mau mengambil kekasih ku!" teriak Bang Eril dengan lantang.


Aku semakin membencinya, karena dia berucap aku masih menjadi kekasihnya. Kalu sayang, kenapa dia mengkhianati ku dan berselingkuh dengan Flo.


'Ck, dasar pria tidak tahu diri,' batin ku dengan kesal.


"Kau tanyakan langsung padanya orangnya, apakah dia masih mau padamu atau menerimaku!" jawab Pak Yogi tak kalah dari Bang Eril.


Aku hanya diam. Sebab, sudah memiliki jawaban saat Bang Eril bertanya nantinya.


"Baik, aku bertanya padamu. Apakah kau melihat dia! Atau aku?" tanya Bang Eril padaku.


Semua orang hanya melihat pertengkaran kami, dan aku menatap wajah Pak Yogi yang terlihat memohon padaku, agar menerima lamarannya.


Aku menghela nafas panjang, dan berucap, "Citra memilih Pak Yogi!"


Pak Yogi langsung tersenyum dan melompat ke udara, karena dia sangat bahagia cintanya aku terima. Sedangkan bang Eril, terlihat jelas dia malu dan kesal padaku karena tidak memilih-nya.


"Aku akan membalas kalian!" teriak Bang Eril sambil bergegas pergi dari hadapan kami.

__ADS_1


Pak Yogi tersenyum dan menghampiri aku, dan semua orang yang ada di sini bersorak-sorak. Sebab, aku sudah menerima Pak Yogi.


"Terimakasih, apakah sekarang kita menjadi kekasih?" tanya Pak Yogi dengan lembut.


Aku tersenyum dan mengangguk, karena aku juga menyukai pria itu dari dulu. Namun, karena kesalahpahaman aku membencinya dan menolak cintanya berulangkali.


"Terimakasih," ucapnya lagi sambil memberikan dua buket padaku.


"Sama-sama," jawabku dengan lembut.


"Cie!" teriak semua karyawan sambil bergegas masuk ke dalam.


"Pak, apa bapak bisa menerima semua kekurangan saya?" tanya ku sambil menatap wajahnya.


Dia tersenyum dan membawaku duduk di bangku, kemudian dia memperlihatkan Poto kami. Terlihat aku sedang makan jagung bakar dengan lahap.


"Kalau saya tidak bisa menerima kekurangan mu, sudah lama saya meninggalkan mu dan berhenti menyatakan cinta ini," ucap Pak Yogi dengan lembut.


Aku tersenyum, karena pria itu memang menerima aku apa adanya. Sebab, dia diam saat aku buang angin di saat ada dia. Juga hal memalukan yang lainnya.


Namun, dia tetap mau menyatakan cinta yang terbukti kalau dia mencintaiku dengan tulus.

__ADS_1


"Terimakasih Pak, saya juga senang kalau begitu," ucapku dengan lembut.


Pria itu tersenyum dan memberikan aku cincin emas yang berukir inisial C dan Y, yang sudah di pastikan adalah nama kami berdua.


"Saya mau kamu menerimanya," ucap Pak Yogi dengan lembut.


Aku mengangguk dan memasang cincin emas tersebut, karena jujur aku menyukai cincin ini yang terlihat sangat cantik dan manis saat berada di tangan ku.


"Cantik sekali," ucapnya sambil menatap wajahku.


Aku tertawa karena dia lucu, mengatakan cincin yang aku kenakan cantik. Namun, matanya malah melirik ke wajahku.


"Kalau begitu mari kita masuk, dan kembali bekerja," ucapku dengan lembut.


"Aku ingin menafkahi mu," ucap Pak Yogi.


Aku tersenyum dan bergegas masuk ke dalam, ia dia tidak akan memberikan aku mengenakan tugas ku. Sebab, dia sedang Bucin padaku.


Ingin selalu didekat ku. Padahal, dia tahu kalau aku ini jorok suka kentut sembarangan yang beraroma busuk.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2