Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
POV Citra


__ADS_3

Saat ini kami sudah ada di dalam pesawat, aku duduk di samping Pak Yogi dengan sedikit berjauhan. Sebab, takut bersentuhan dengannya.


"Cit, kalau sudah sampai, saya langsung pulang ya, kamu juga," ucap Pak Yogi dengan lembut.


Aku tersenyum dan mengangguk tanda setuju, karena aku juga ingin mempersiapkan diri untuk besok bekerja.


Selama di perjalanan aku dan pak Yogi hanya diam, tidak ada yang mau berbicara. Sebab, aku lelah dan ingin tidur. Namun, tidak bisa karena anak kecil yang di depan kami terus menangis.


"Bu, anaknya kenapa?" tanya ku, karena aku kasihan, bayi itu tidak berhenti menangis sejak masuk tadi.


"Tidak tahu dek, semua sudah saya kasih," jawab ibu tersebut.


Aku pun bangun dan menghampirinya, kemudian mengambil bayi itu dan memeriksanya. Ternyata dia masuk angin.


"Bu anaknya masuk angin, apa ada minyak kayu putih?" tanyaku.


"Ada."


Ibu tersebut langsung mencari minyak kayu putih dan aku sudah berhasil membuat bayi itu diam.


Aku mengoleskan minyak kayu putih ke perut bayi itu dan memijat nya sedikit, kemudian ke luarlah suara boom mematikan dari bayi itu.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" pekik ku.


Semua mata tertuju padaku bagitu juga dengan Pak Yogi, yang terus menatap ku karena mereka mengira aku yang baung angin.


"Alhamdulillah, anak saya bisa buang angin. Terimakasih banyak dek," ucap ibu tersebut.


Barulah semua orang berhenti menatap ku, karena mereka tahu siapa sebenarnya yang buang angin.


"Sama-sama Bu, saya permisi dulu." Aku berjalan kembali ke bangku ku dah duduk.


Aku lihat Pak Yogi tersenyum manis padaku, dan aku tahu apa maksudnya tersenyum seperti itu.


"Sudah Pak, jangan menggoda saya," ucapku dengan lembut.


"Tidak! Saya masih ingin bekerja, lagian umur saya masih 18 tahun Pak," ucapku.


Ya, tadi Pak Yogi membisikan kalau aku sudah cocok memiliki anak dan aku langsung membantahnya. Sebab, maksud dia kalau aku sudah cocok menikah dengannya.


"Tidak masalah bukan? Kalau, umur saya sudah bau kematian, yang artinya sudah matang dan dewasa," jawab Pak Yogi.


Rasanya aku ingin masuk ke dalam kolam renang, karena gerah mendengar kata-kata kematian yang aku ciptakan tadi.

__ADS_1


"Bukan seperti itu Pak, menikah untuk seumur hidup. Jadi, harus benar-benar siap dan bersedia," jelas Ku.


Karena aku lebih memilih menikah tua, daripada harus menikah muda dan menyesal akhirnya.


"Ya, 'kan saya sudah tua," ucapnya lagi.


Kali ini aku hanya diam tidak menjawab, kalau aku menjawab maka tidak ada habisnya perdebatan kami dan kasihan semua penumpang mendengarkannya.


Beberapa jam kemudian . . .


Kini kami sudah tiba di tanah air, dan aku berpisah dari pak Yogi karena rumah kami lain arah. Aku memilih naik taksi menuju rumah.


Setelah sampai, aku langsung turun dan membawa koper ku masuk ke dalam tanpa mengucapkan salam.


Saat aku masuk ke dalam rumah, terlihat sangat sunyi sehingga aku langsung menunju kamar.


Entahlah kenapa saat aku ada di rumah, maka otak kecil ku tidak sanggup berpikir terlalu lama. Sehingga aku memutuskan untuk tidur dan bermimpi.


Sebelum benar-benar pulas, aku menyempatkan diri untuk menghayal terlebih dahulu. Sebab, itu adalah hobi ku.


Karena menghayal gratis, tidak di pungut biaya apapun oleh siapapun. Namun, menyakitkan karena tidak akan terjadi.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2