
Eril pulang dengan keadaan marah, dan membanting pintu dengan keras membuat Elisa terkejut dan langsung ke luar.
"Bang Eril," panggil Elisa dengan lembut.
Eril langsung menoleh dan menidurkan tubuh dengan kasar ke sofa tanpa menjawab panggilan sang adik.
"Apa ada masalah, Bang?" tanya Elisa dengan lembut sambil menghampiri sang kakak.
Gadis itu duduk di samping Eril, kemudian pria itu tidur di atas pangkuan sang adik dengan manja.
"Aku sakit," ucap Eril dengan lirih.
Hatinya sangat sakit mengingat kembali kejadian tadi, karena dia di permalukan di depan orang ramai.
"Sakit?" tanya Elisa.
Gadis itu memegang kening sang kakak. Namun, tidak panas membuatnya bingung. Sakit apa sebenarnya Eril?
"Sakit di sini." Eril memegang tangan Elisa dan meletakkannya di dadanya.
Elisa tersenyum, karena dia dapat merasakan detak jantung sang kakak membuat mereka saling menatap satu sama lainnya.
__ADS_1
'Aku tidak sabar rasanya ingin menghancurkan kehidupannya. Tapi, usianya masih 15 tahun,' batin Eril.
Elisa langsung membuang padanya, karena dia takut melihat Eril menatapnya dengan sangat dalam.
"Kak, Elisa hari ini tidak masuk sekolah. Sebab, guru semua sedang rapat," ucap Elisa dengan lembut.
Eril menganggukkan kepala dan menutup kedua mata, karena dia ingin menenangkan pikiran sambil menikmati nikmatnya berada di pangkuan Elisa.
Sedangkan gadis kecil itu, merasa tidak nyaman berada seperti ini. Sebab, dia takut Eril akan melakukan hal yang hampir terjadi waktu itu.
'Apa bang Eril tidak menganggap ku seperti adiknya? Sebab, dia hampir saja merenggut kesucian ku,' batin Elisa.
Gadis itu ingin pergi dari apartemen Eril. Namun, dia tidak tahu akan ke mana yang mengharuskan dia tetap bertahan di sana.
Jam makan siang tiba.
Citra dan Yogi makan bersama di ruangan kerja pria itu, karena ingin merayakan hari jadian mereka berdua.
"Citra, saya benar-benar sangat berterimakasih padamu karena sudah menerima cinta saya," ucap Yogi dengan lembut.
Citra tersenyum dan mengangguk, karena dia merasa malu saat berdekatan dengan Yogi seperti ini. Apa lagi mereka berdua sudah berpacaran.
__ADS_1
'Indahnya memiliki pacar tampan seperti ini, apa lagi dia sangat mencintai ku. Membuatku lupa akan pengkhianatan Flo dan bang Eril,' batin Citra.
Gadis itu masih saja mengingat kembali pengkhianatan Flo dan Eril. Namun, tiba-tiba dia mengingat sang keponakan yang sudah lama tidak bertemu.
"Pak, apa bapak tahu di mana Flo?" tanya Citra dengan lembut.
Yogi terkejut saya Citra bertanya seperti itu, karena setahunya sang pacar belum bisa melupakan pengkhianatan itu.
"Sebenarnya ... "
Yogi menceritakan semua pada Citra kalau Flo hamil anak Eril dan pria itu tidak mau bertanggung jawab, membuat Citra bersedih karena keponakannya hamil tanpa adanya suami.
"Kenapa bang Eril tidak mau bertanggung jawab?" tanya Citra dengan lirih.
Yogi menceritakan semua saat Eril memilih pergi saya Flo meminta pertanggungjawaban pria itu. Citra merasa iba pada sang ponakan karena di Campaka Eril saat mengandung.
"Semoga Flo bisa menjalankan kehidupan, walaupun dia hamil tanpa adanya suami di sampingnya," ucap Citra dengan lirih.
Walaupun Flo sudah sangat melukai hatinya, Citra tetap mengkhawatirkan keadaan sang keponakan yang tengah mengandung.
"Semoga saja! Karena, saya juga kasihan, tidak mungkin kalau saya yang bertanggung-jawab bukan?" ucap Yogi.
__ADS_1
Citra langsung menatap tajam pria itu, dan Yogi langsung menutup mulut karena sudah salah bicara.
BERSAMBUNG.