
Wiwit tertawa lepas, sampai-sampai dia tersedak aku pun hanya mentertawakan temanku sama sekali tidak membantunya, dan seorang pria datang memberikan air untuk gadis itu.
"Terimakasih Bang, sudah menolong saya," ucap Wiwit sambil melirik ke arahku dengan sangat tajam.
"Sama-sama," jawab pria itu kemudian dia bergegas pergi dari hadapan kami.
"Teman gak ada, akhlak!" cecar Wiwit, sontak aku langsung tertawa lepas dan mulai memakan bakso milikku.
"Enak dong, punya teman kayak gitu." Aku menjawab ucapannya sambil menyantap bakso dengan perlahan.
Wiwit tidak menggubris ucapku, terlihat dia sangat marah karena tadi tidak membantunya saat tersedak. Selesai kami makan aku melihat Yesi dan Kak Fiia lewat sehingga kami langsung mengejarnya.
"Ayo Wit, ngebut lagi!" teriakku dari belakang karena Wiwit yang membawa motornya.
"Ya Allah, lindungilah hamba." Wiwit berdoa sambil mempercepat lajunya, membuat ku geli karena dia baru saja berdoa tadi.
Setelah kami kehilangan jejak, akhirnya memutuskan untuk pulang saja karena aku lelah dan mengantuk.
"Wit, kita tunggu mereka di sini saja," ucapku dan Wiwit menghentikan motornya di tempat kami bertemu dengan Bang Amon tadi.
"Mungkin sebentar lagi mereka sampai, kita tunggu sebentar lagi aja," sambung Wiwit dengan sangat lemas.
Aku sangat khawatir akan keadaanya yang terlihat tidak baik-baik saja, dan memeriksa kening juga tubuhnya.
"Kamu, pasti lelah?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.
"Enggak kok," jawabnya dengan sangat tegar padahal aku tahu dia sedang menahan sakit.
"Wit kalau mereka bertanya, kamu jawab aja bang Amon ganteng banget," pintaku pada Wiwit, karena aku tidak mau samapi Kak Fiia atau Yesi menghinaku.
"Jangan bohong, dosa tau," jawabnya dengan senyuman manis.
"Bohong satu kali doang, kan' gak papa." Aku mulai bangun dari duduk dan mengirimkan pesan kepada Kak Fiia.
📤Aku.
(Kak Fiia, kami udah jumpa dia sangat tampan.)
Tidak berselang lama akhirnya pesanku di balasannya.
📥Kak Fiia.
(Kami otw, jangan kemana-mana!)
Aku tertawa lepas sampai-sampai Wiwit mendorongku sampai aku terjatuh ke tanah.
"Wiwit!" teriakku sambil bangun dan membersihkan baju yang terkena debu.
"Ada apa?" tanya Wiwit sambil melirik ke arahku dengan sangat kepo.
__ADS_1
Aku duduk di sampingnya dan mulai berbisik mengenai rencana ku agar Kak Fiia dan Yesi percaya.
"Baiklah, untuk kali ini saja," jawab Wiwit dengan sangat lembut dan lemas.
Aku tersenyum tidak sabar menunggu kedatangan Kak Fiia dan Yesi, yang akan aku kerjain nanti. Tak berselang lama akhirnya mereka datang juga dengan sangat tergesa-gesa.
"Di mana, dia?" tanya mereka berdua dengan serempak, membuatku dan Wiwit langsung menatap satu sama lainnya sambil tersenyum.
"Udah pulang, kenapa emangnya?" tanyaku balik.
Kesal akan jawaban dariku, Kak Fiia langsung menoyor kepalaku sehingga aku terjatuh ke tanah.
"Dasar, gak ada akhlak!" seruku sambil bergegas bangun dan membersihkan baju yang terkena debu.
"Minta agar dia datang lagi!" pinta kak Fiia.
"Malas, entar kakak ambil lagi pacar aku!" sahutku dengan ketus agar Yesi peka ucapku barusan.
"Dasar, cepat minta dia datang lagi," ucapnya sekali lagi membuatku kesal dan bergegas pergi bersama Wiwit.
"Adek duralek!" serunya yang menatap kepergian ku bersama Wiwit.
Setelah sampai di rumah aku langsung menidurkan tubuh, karena terasa sangat lelah habis bertemu dengan Oppa korengan.
"Bagaimana cara agar, aku bisa membatalkan perjodohan ini?" pikirku dengan sangat bingung.
Aku bukannya tidak mau menerima kekurangannya itu. Tetapi, aku belum siap saja untuk menikah mudah di usiaku yang masih 18 tahun.
"Tente, bangun!" teriak mahluk astral itu, eh salah maksudnya keponakanku.
Dengan sangat keterpaksaan aku mulai bangun dan menoyor kepalanya, membuatnya sangat kesal padaku.
"Tante, aku datang dari tadi gak ada yang buka pintu. Pada kemana semua orang?" tanyanya sambil duduk di samping ku.
"Pergi," jawabku dengan sangat cuek.
"Oh, aku pulang dulu. Ya," ucapnya sambil beranjak bangun. Namun, aku menahannya karena dia sudah menganggu tidur siang ku walaupun hari masih pagi.
"Ada apa?" tanyanya sambil menatap ke arahku.
"Enak aja udah menganggu, terus mau pergi dengan mudahnya. Pijitin!" sentak ku membuatnya sangat takut dan langsung memijat tubuhku.
Pijatannya sangat enak, membuatku tertidur dan masuk alam mimpi indah. Dengan sayup-sayup terdengar suaranya berbicara dengan Kak Fiia. Namun, mataku tidak bisa terbuka.child
"Ah masa, Ya?" tanya Flo dengan sangat kuat.
"Iya, Wiwit jujur sama kami setelah aib dia aku yang pegang," jawab Kak Fiia.
Mataku langsung terbuka sedikit mendengar ucapan mereka, aku sangat kesal lagi-lagi tidur ku terganggu.
__ADS_1
"Bagus dong. Tapi, kasihan Tente Citra dapat cowok jelek," kekeh Flo begitu juga bersama Kak Fiia.
"Biarkan saja, yuk kita makan bakso ada aku beli tadi." Aku mendengar mereka berdua sudah pergi dan langsung bangun.
'Maafkan aku Wit, karena ini semua adalah permintaanku agar kamu bohong dan yang terkena imbasnya adalah kamu,' batinku dengan lirih.
Aku penasaran sebarnya aib Wiwit apa, sampai-sampai gadis itu tidak berani menutup mulutnya saat Kak Fiia dan Yesi mengancam.
"Ini tidak boleh di biarkan, aku harus membantu Wiwit agar dia tidak lagi di ancam oleh mereka berdua, karena banyak sekali rahasiaku padanya." Aku berucap sambil bergegas berganti baju.
Setelah selesai berganti baju, aku langsung bergegas pergi menuju ruang tamu yang terdapat Kak Fiia dan Flo di sana.
"Enak. Ya, makan bakso berdua aja," cibirku sambil menghampiri mereka.
"Terus yang makan berdua aja, pakai uang dari bang Amon siapa?" tanya Kak Fiia yang masih menyantap baksonya.
Aku sudah menebaknya, pasti Wiwit juga buka mulut tadi. Hal ini membuatku semakin penasaran apa yang di sembunyikan olehnya dariku.
"Enak dong, dapat cowok tajir anaknya Polisi lagi," sambung Flo sambil menatap ke arahku.
"Euum, lanjutkan pekerjaan kalian." Aku bergegas pergi dari sana dengan berlari, karena aku ingin menelpon Wiwit dan bertanya apa yang terjadi.
Setelah sampai di dalam kamar, aku langsung mencari ponselku dan membukanya. Banyak sekali pesan masuk dari Bang Amon.
📥 Oppo Amon.
(Bidadari abang, lagi apa?)
📥 Oppo Amon.
(Balas dong, sayang.)
📥 Oppo Amon.
(Entar malam, abang telpon kamu. Y)
📥 Oppo Amon.
(Balas dong, bidadari surga ku.)
"Bagaimana ini?" tanyaku sambil membalas pesannya.
📤Aku.
(Maaf Bang, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan perjodohan kita. Maaf sekali lagi.)
Setelah mengirimkan pesan, terlihat nomorku langsung di blokir oleh Bang Amon dan aku bernafas lega.
"Alhamdulillah," ucapku dengan sangat lega.
__ADS_1
Bersambung.