
Setelah selesai bekerja, aku tidak pulang melainkan duduk di bangku sambil bermain ponsel menunggu kedatangan Flo. Wanita yang mempu melukai hati tantenya.
Tak berselang lama akhirnya yang di tunggu-tunggu sampai juga, dengan wajah yang tidak bisa di jelaskan. Mungkin dia bertemu Bang Eril di depan tadi.
"Loh, kok Tante belum pulang?" tanya Flo yang baru menyadari kalau aku masih ada di dapur.
"Iya, sengaja. Soalnya lagi nunggu bang Eril," jawabku dengan sangat santai.
Aku melihat wajahnya sedikit cemberut, dan sudah di pastikan kalau dia sudah mulai cemburu akan ucapku tadi.
"Oh, dia ada tuh di luar," jawab Flo sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Masa iya? Tapi, kok dia gak nelpon aku?" tanyaku seolah-olah tidak tahu apa-apa.
"Tidak tahu," jawabnya dengan sangat cuek.
Aku tersenyum simpul, melihat raut wajah Flo yang terlihat jelas dia cemburu padaku. Tidak tinggal diam aku langsung menelpon Bang Eril.
📞 Tanpa nama.
[Halo, sayang? Kenapa lama sekali?]
Aku terdiam mendengar suaranya, dan melihat nomornya sudah tidak ada nama lagi. Karena sudah aku hapus namanya di dalam hatiku begitu juga dengan ponselku.
[Halo, abang masuk. Ya?]
Aku tersadar dan menjawab dengan gumam saja, kemudian memutuskan sambungan telepon kami.
"Baik banget sama aku, sampai-sampai dia mau jemput ke dalam segala," ucapku dengan sengaja, agar Flo mendengarnya.
"Euum, bucin banget!" sahut Flo.
Aku tersenyum simpul, karena rencana ku berjalan dengan lancar. Tinggal menunggu kedatangan Bang Eril barulah aku melihat bagaimana sikap mereka di hadapanku.
Tak berselang lama akhirnya pintu terbuka, Bang Eril masuk ke dalam dan dia langsung menghampiriku tanpa melirik ke arah Flo.
"Sayang, ayo kita pulang," ucap Bang Eril dengan sangat mesra, membuat hatiku kian sakit mengingat kembali penghianatan mereka.
"Iya, ayo." Aku berjalan dengan perlahan bersama dengannya tanpa melirik ke arah Flo sedikitpun.
Setelah sampai di luar, aku dan Bang Eril langsung naik motor dan dia melajukan motornya menuju rumahku.
Selama di perjalanan, aku dan Bang Eril sama-sama diam tidak ada yang bersuara, karena aku ingin menenangkan hati yang sejak tadi sakit
__ADS_1
'Dia bisa bilang cinta sama aku. Tapi, terlihat jelas perubahan dirinya padaku,' batinku.
Setelah sampai di rumah, aku langsung turun dari motor Bang Eril dan berjalan dengan perlahan. Namun, langkahku terhenti karena dia menarik tanganku.
"Sayang, entar malam ke rumah. Ya, soalnya papa mau ketemu sama kamu," ucap Bang Eril dengan sangat lembut dan manis.
Bisa-bisanya dia, sudah selingkuh masih juga ingin membawaku ke rumah orang tuanya. Aku tidak habis pikir, bukan karena itu saja.
Aku juga tidak mungkin ke rumah Pak Polisi Edson, karena sudah pasti akan ada Bang Amon di sana.
"Bisa?" tanya Bang Eril sekali lagi, karena aku hanya diam saja tidak menjawab ucapannya.
"Sepertinya tidak, karena Abang tahu bukan? Hubungan aku sama bang Amon?" tanyaku sambil menatap wajah tampannya.
"Iya, katakan saja kita bertiga juga masih bersahabat. Agar bang Amon tidak tersakiti," jawab Bang Eril sambil memegang tanganku.
"Sepertinya tidak bisa, katakan pada pak Edson besok aku akan datang ke kantor polisi," sahutku sambil melepaskan tangannya.
"Baiklah, nanti malam abang tidak bisa menelpon kamu karena ada urusan penting," ucapnya sambil mengelus-elus kepalaku.
Aku hanya menganggukkan kepala saja, karena sudah tahu dia akan kemana dan menemui siapa.
Setelah dia pergi dari hadapanku, dan sudah tidak terlihat lagi. Aku pun masuk ke dalam dan duduk di sofa.
Lagi-lagi otak kecilku tidak mampu memikirkan semuanya, sehingga aku tertidur pulas dan masuk ke alam mimpi.
Aku duduk di bangku seorang diri, dan terlihat ada pria yang menghampiriku. Sontak aku langsung membuka mulut lebar-lebar melihat dia.
"Bang Amon," ucapku dengan sangat lembut sambil menatap wajahnya.
"Bidadari abang, kenapa kamu tidak mau menjadi calon istriku?" tanya Bang Amon dengan sangat lirih.
Aku terdiam dan melihatnya menangis, karena tidak tega aku pun memeluk dia dengan sangat erat.
"Lepaskan!" teriaknya, dengan sangat nyata dan aku juga bisa merasakan dia ada di dalam pelukanku.
"Adek duralek!" seru Kak Fiia, sambil melepaskan pelukan kami. Entah sejak kapan aku memeluknya.
"Mengganggu mimpiku saja! Pergi dari sini! Mana tadi lagi sama bang Amon walaupun hanya di akan mimpi," ucapku dengan sangat ketus.
Kak Fiia tertawa mendengar ucapanku, mungkin dia akan menghinaku yang sudah menyia-nyiakan pria itu.
"Menyesal, 'kan kamu?" tanya Kak Fiia sambil menunjuk wajahku, dan juga menarik tanganku.
__ADS_1
"Sudahlah, putuskan saja Eril itu," ucapnya dengan sangat santai.
Aku tahu Kak Fiia memang tidak menyukai Bang Eril. Entah mengapa aku juga tidak tahu dia sangat membenci pria itu.
"Kak Fiia, masuk ke dalam kamar ... aku ingin bercerita." Aku menarik tangannya masuk ke dalam kamar, kemudian duduk di bibir ranjang.
"Katakan?" tanyanya dengan sangat penasaran.
"Sebenarnya ... " Aku menceritakan semua pada Kak Fiia, karena sudah tidak sanggup lagi menahannya seorang diri.
"Sabar, biarkan saja mereka bahagia. Yang terpenting putuskan dia sekarang juga!" Kak Fiia berucap dengan ketus, karena kesal pada Flo dan juga Bang Erli.
"Tapi, aku mau menjalankan misi dulu," ucapku sambil berbisik kepada Kak Fiia.
"Aku tidak setuju!" sentaknya membuat aku takut.
"Kenapa?" tanyaku dengan sangat penasaran, kenapa dia tidak setuju pada rencanaku.
"Karena dia pria mesum, kalau terjadi sesuatu kepadamu? Apa yang harus kita lakukan?" Kak Fiia menjawab sambil bergegas pergi dari hadapanku.
Aku terdiam dan memikirkan apa yang barusan Kak Fiia ucapkan, kemudian mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu.
'Benar juga, karena waktu itu saja dia berani mencium ku tanpa izinku. Besok aku akan memutuskan hubungan dengan dia,' batinku.
Hancur berkeping-keping hatiku, mengingat keponakan yang sangat aku sayangi mengkhianati ku.
"Sakit. Tapi, tidak berdarah. Namun, membekas di dalam hati ini sampai kapanpun," ucapku dengan lirih.
Aku merasa seperti hidup tetapi, mati karena sudah dapat pengkhianatan dua kali dari orang yang sangat aku sayang dan percaya.
Kalau sampai aku dapat penghianatan lagi, sudah di pastikan aku mendapat hadiah kulkas atau televisi. Karena mencacat rekor di khianati sebanyak tiga kali oleh orang terdekat.
Sekarang aku tahu, kalau musuh itu ada di dalam selimut yang setiap hari aku gunakan.
Bersambung.
Salam dari Author Cinta Terindah.
(Citra memang mengalami penghianatan sebanyak dua kali, dalam hidupnya. Karena author ambil kisah ini dari kisah nyata.)
Yang pertama oleh sahabat baiknya, yang sangat dekat sampai-sampai mereka tidur dalam satu bantal dan satu selimut.
Namun, penghianatan yang paling sakit saat Citra di khianati oleh keponakannya sendiri. Nama dan semuanya author samarkan ya.
__ADS_1