
Citra masih menatap wajah anaknya dengan sangat dalam. Sebab, sekarang gadis itu adalah ibu untuk Muhaamar.
"Anakku sayang, besok sama nenek dulu ya? Bunda mau kerja, untuk kita," ucap Citra dengan lembut.
Walaupun gadis itu akan begadang setiap malam, tetap dia akan merawat bayi yang belum berdosa itu.
"Walaupun kamu tidak ada ayah, kamu masih memiliki bunda sayang," ucap Citra dengan lembut.
Ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari Yogi dan dia langsung menjawabnya. Kemudian, menatap wajah sang kekasih hatinya.
Yogi: Apa besok kamu sudah masuk? Karena, saya masih lama di luar kota. Mungkin, akan satu Minggu.
Citra: Besok saya sudah masuk Pak, kalau bapak masih lama di saja yasudah tidak apa-apa.
Yogi tersenyum, karena Citra mau memahami pekerjaannya yang harus ke luar kota selama satu Minggu.
Yogi: Saya ingin bil ...
Terputus, karena Yogi mendengar suara anak bayi menangis dari ponsel Citra.
Citra: Nanti saya telpon lagi, Pak!
Citra langsung memutuskan sambungan telepon, karena sang bayi menangis tersedu-sedu karena pipis.
__ADS_1
"Anak bunda pipis," ucap Citra dengan lembut.
Gadis itu langsung menganggati popok sang bayi dengan yang baru, dan memberikan susu lagi. Setelah itu, bayi kecil itu tertidur pulas karena sudah kenyang.
"Aku juga mengantuk," ucap Citra.
Gadis itu mulai memejamkan mata dan tertidur pulas, karena dia merasa sangat mengantuk sejak di rumah sakit tadi.
. . .
Yogi merasa sangat aneh, karena Citra terlihat panik tadi dan suara tangisan bayi itu sangat kencang.
"Apa ada saudara Citra, yang membawa bayi?" tebak Yogi.
Pria itu menduga-duga ada saudara Citra yang membawa bayi, karena itu tadi ada tangisan bayi di dalam ponsel Citra.
Pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya, karena dia ingin segera pulang dan melepaskan rindu pada sang kekasih hatinya.
. . .
Salam pulang ke rumahnya, dan dia mendengar suara tangisan bayi, membuatnya sangat terkejut.
"Jima!" panggil Salam dengan karas.
__ADS_1
Wanita itu langsung menghampiri sang suami, kemudian mencium tangannya dengan lembut.
"Ada apa, Pak?" tanya Jima dengan lembut.
"Tadi bapak ada dengar suara bayi menangis," jawab Salam.
Jima membawa sang suami duduk di sofa dan menjelaskan semua pada sang suami, membuat Salam sangat terkejut.
Sebab, cucunya sudah melahirkan anak tanpa seorang suami. Sekarang, malah sang anak yang merawat bayi tidak berdosa itu.
"Apakah semua orang akan terima, kalau anak kita yang masih gadis merawat bayi?" ucap Salam dengan cemas.
Jima juga memikirkan hal yang sama, dan mereka akan merencanakan agar nama Citra tidak tercemar dan juga Flo.
"Itu bagus Pak," ucap Jima.
Dia menyetujui keinginan sang suami, mengatakan kalua Citra mengadopsi anak seseorang yang dirahasiakan identitasnya.
Agar tidak ada yang mengira kalau Citra sudah hamil duluan sebelum menikah.
"Iya, dan bapak akan mengurus surat adopsi itu agar Flo tidak bisa mengambil anaknya dari kita," ucap Salam dengan lembut.
Jima menyetujui usul sang suami, karena dia juga tidak rela kalua sang anak sudah merawat bayi itu, dan Flo datang mengambil sang bayi.
__ADS_1
Dia benar-benar tidak ikhlas kalau hal itu terjadi pada sang anak, dan meminta sang suami cepat mengurus adopsi bayi kecil itu secepatnya.
BERSAMBUNG.