
Aku duduk bersama Bang Amon di bangku dekat halaman rumahnya, dan kami sudah diam sejak satu jam yang lalu. Entah mengapa tidak ada yang mau membuka obrolan.
"Citra."
"Bang Amon."
"Duluan saja," ucap Bang Amon sambil tersenyum manis.
"Bang saja," sahutku dengan sangat lembut.
Aku merasa tidak nyaman berdua seperti saat ini bersamanya. Namun, ada satu masalah yang harus kami selesaikan.
"Bang, Citra sebenarnya tidak ingin menikah mudah apa lagi sama Abang," ucapku dengan sangat hati-hati, takut menyakiti hatinya.
Raut wajahnya berubah, dan aku tahu saat ini hatinya sangat kecewa karena ucapanku tadi.
"Iya, abang tahu kok. Ayo kita pulang hari sudah malam." Bang Amon bergegas pergi meninggalkan aku.
Aku langsung mengikuti langkahnya dengan sangat cepat, setelah aku menghampirinya dia langsung melajukan moto menuju rumahku.
Selama di perjalanan dia tidak berbicara apapun padaku, sehingga aku juga diam sampai di rumah.
"Terimakasih Bang," ucapku sambil turun dari atas motor Bang Amon.
"Sama-sama, abang pulang dulu," ucap Bang Amon sambil melajukan motornya.
Aku masuk ke dalam dan tidak melihat adanya orang, sehingga aku langsung masuk ke dalam kamar. Saat hendak menidurkan tubuh ponselku bergetar ada pesan masuk.
📥Pak Yogi.
(Citra, saya ingin bertemu kamu besok di cafe.)
Aku tersenyum bahagia, karena sudah pasti Pak Yogi akan memberikan gajiku yang belum aku ambil.
"Wah, pasti gaji dong ini ... aku besok cepat saja pergi ke cafe karena dua hari lagi akan pergi ke luar kota," ucapku dengan lirih.
Aku berniat pergi ke luar kota dan menetap di sana karena ada pamanku. Hatiku kian sakit kalau terus-terusan melihat Flo dan Bang Eril di sini, apa lagi mereka akan bertunangan beberapa bulan lagi.
"Sakit sekali hati ini. Semoga saja mereka mendapatkan karma karena sudah menyakiti hatiku," ucapku dengan lirih.
Lagi-lagi saat berpikir otak kecilku tidak mampu untuk memikirkan semuanya, sehingga aku mengantuk dan tertidur pulas sambil memeluk ponselku.
*. *. *.
__ADS_1
Azan Subuh berkumandang, mataku mulai terbuka dan melihat adanya Kak Fiia di sampingku. Entah sejak kapan kami sudah tidur berdua karena aku sama sekali tidak mengingat apa-apa.
'Bismilla, pagi ini aku akan menyelesaikan semua sebelum aku pergi ke luar kota besok,' batinku.
Aku berjalan dengan perlahan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai berwudhu aku langsung bergegas melaksanakan Shalat Subuh dua rakaat.
Setelah selesai Shalat, aku berdoa meminta ampunan dan bantuan pada sang pencipta alam semesta ini.
'Ya Allah, semoga hamba, engkau berikan jalan yang indah setelah ini. Aamiin,' batinku.
Aku bergegas membuka mukenah, kemudian bersiap-siap agar nanti tidak terburu-buru berangkat ke cafe.
Setelah aku rapi dan wangi, aku melihat jam masih pukul 06:00 Wib. Yang artinya masih dua jam lagi aku berangkat.
"Masih lama, sebaiknya aku bermain ponsel saja sampai waktunya berangkat." Aku langsung bermain ponsel di sofa sambil membaringkan tubuhku.
"Citra, kenapa tadi gak bangunin?" tanya Kak Fiia yang baru saja terbangun.
"Tidak, kan' kakak gak ada bilang apa-apa waktu aku belum tidur," jawabku dengan sangat santai.
"Duralek, kamu aja udah tidur waktu aku pulang!" serunya sambil bergegas pergi dari hadapanku.
Aku melanjutkan kembali bermain ponsel, dan tidak sengaja melihat Flo memposting poto bersama Bang Eril. Terlihat mereka sangat mesra dan bahagia.
Setelah dua jam kemudian, aku berangkat ke cafe dengan sangat terburu-buru karena takut Pak Yogi menunggu ku terlalu lama.
Setelah sampai di cafe, aku langsung bergegas masuk ke dalam ruangan Pak Yogi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sifat tidak sopan itu selalu saja datang menghampiriku.
"Permisi Pak?" Aku bergegas masuk ke dalam dan melihat Pak Yogi duduk di bangku, kekuasaannya sambil tersenyum manis padaku.
"Duduk di hadapan saya!" pinta Pak Yogi padaku.
"Baik Pak!" Aku langsung bergegas duduk di hadapannya, kemudian menatap wajah tampannya membuatku semakin menyukainya.
Pak Yogi memberikan aku amplop berwarna cokelat. Sudah bisa di pastikan kalau itu adalah uang gajiku beberapa hari lalu.
"Terimakasih Pak, kalau begitu saya permisi dulu." Aku beranjak bangun dan hendak langkahkan kaki. Namun, tanganku di tahan oleh Pak Yogi.
"Tunggu sebentar, saya ingin bicara padamu," ucap Pak Yogi sambil melepaskan tangannya.
Aku mengangguk kepala, kemudian duduk kembali sambil menatap wajahnya terus-menerus.
"Saya sangat menyukai kamu, mau tidak menjadi pacar saya?" tanya Pak Yogi sambil menatap wajahku.
__ADS_1
Aku terdiam kemudian mulai menghela nafas dalam-dalam.
"Maaf, saya tidak bisa. Lagi pula saya akan pergi ke luar kota," jawabku dengan sangat hati-hati, takut melukai hatinya karena penolakanku yang kedua.
"Tidak apa-apa, kenapa kamu harus ke luar kota?" jawabnya dengan pasrah sekaligus bertanya.
"Tidak usah saya jelaskan, Pak Yogi juga akan tahu apa penyebabnya," jawabku dengan sangat santai.
"Baiklah, semuanya adalah privasi kamu," sahut Pak Yogi.
Aku melihat kekecewaan yang kedua kalinya, pada wajah Pak Yogi. Entah mengapa aku tidak mau berpacaran terlebih dahulu sejak kejadian yang menimpaku.
Walaupun lebih tepatnya, aku tidak mau karena wajahnya yang jelek di tambah lagi dia sudah ompong.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak." Aku bergegas pergi dari sana dengan sangat cepat.
Aku berjalan dengan perlahan, kemudian ada sebuah motor melaju kencang di hadapanku. Sifat tidak ada akhlak langsung menghampiriku.
"Semoga dia jatuh," ucapku sambil terus menatapnya.
Bruk!
Aku membuka mulut lebar-lebar, kemudian berlari menghampirinya bersama beberapa warga yang ada di sana.
'Ya ampun, aku berdosa banget untuk sumpahin dia sampai jatuh seperti ini,' batinku.
"Tolong dia, tolong!" teriak beberapa warga yang ada di sana.
Salah satu warga membuka helm pria tersebut, sontak aku langsung membuka mata lebar-lebar melihat pria itu.
"Bang Eril, Pak tolong dia!" teriakku dengan histeris melihat kepalanya banyak sekali mengeluarkan darah.
Pandanganku mulai gelap melihat banyaknya darah, sehingga aku langsung pingsang. Setelah dua jam akhirnya aku sudah sadar.
Aku melihat sekeliling, ternyata aku ada di rumah sakit dan ada Bang Eril di sampingku.
'Ternyata aku ada di UGD, Bang Eril sudah di tangani Dokter,' batinku sambil melirik ke arah Bang Eril.
Bersambung.
Halo teman-teman, apa kabar kalian semuanya. Baik? Dong, ya?
Author datang lagi ni, menyapa kalian semua yang sudah membaca novel receh ini dengan ketulusan hati. Karena novel yang author tulis adalah kisah nyata.
__ADS_1
Jika kalian mau mengobrol sama author, masuk saja ke dalam grup fans Cinta Terindah.