
Kampus baru suasana baru itulah yang dirasakan Viola begitu pertama kali kuliah di Jakarta ini. Namun yang terpenting hatinya nyaman karena tidak ada yang menyoal mengenai penampilannya.
Bahkan di kampusnya berkuliah ini ternyata ada banyak gadis tomboy. Dan tidak sedikit di antara mereka nyaris sudah seperti laki-laki; merokok dan miras.
Bahkan yang lebih parah lagi, di antara mereka ada yang menyukai perempuan. Atau lebih tepatnya lesbian.
Memikirkan hal itu membuat hatinya bergidik. Dan membandingkan dengan dirinya yang memang juga bergaya laki-laki alias tomboy. Namun dia tidak merokok apalagi miras, atau hal-hal yang menjijikkan lainnya.
Dan yang lebih penting lagi dia masih memiliki naluri menyukai laki-laki, bukan menyukai sesama jenisnya.
Hal ini merupakan buah dari didikan ambunya. Wanita yang sudah meninggalkannya itu memang membiarkannya bergaya atau berpenampilan seperti laki-laki. Namun bibinya itu selalu mewanti-wanti dirinya agar jangan bersifat seperti laki-laki secara utuh.
Bergaul dengan laki-laki boleh saja, tapi jangan sampai Viola bergaul dengan laki-laki yang menghantar dirinya pada perilaku yang negatif.
Kalau bisa Viola memperbanyak bergaul dengan sesama jenisnya, yaitu wanita. Namun hal itu masih sulit dia lakukan.
Dia masih ingat pesan bibinya menjelang kematiannya agar Viola kembali ke kodratnya sebagai perempuan secara utuh. Dan mulai membuka ruang hatinya untuk laki-laki, jika suatu saat ada laki-laki yang menyatakan cinta kepadanya.
Perlu diketahui bahwa seumur hidup Viola belum pernah berpacaran. Bukan berarti dia tidak menyukai laki-laki. Namun semua laki-laki yang pernah bergaul dengannya, hatinya tidak ada minat untuk memacari.
Di samping itu pula laki-laki yang pernah menjadi temannya menganggapnya seperti laki-laki. Dalam artian lebih pantas dijadikan teman dalam bergaul, bukan untuk dijadikan pacar.
Padahal wajahnya itu cantik, amat cantik bahkan dengan kecantikan yang unik. Malah ada yang pernah bilang padanya.
"Lu tu memang cantik, tapi lu tu cowok. Makanya lu tu lebih pantas disebut cowok cantik...."
Saat mengingat kembali nasehat-nasehat dan pesan bibinya sebelum meninggal, rasanya dia amat berdosa dan durhaka sekali kepada bibinya kalau dia tidak mendengar dan melaksanakannya.
Memikirkan hal itu, makanya mumpung dia telah pindah ke suasana baru, dia bertekad akan memulai hidup baru. Namun hal pertama yang bisa segera dilakukan adalah mencari teman wanita.
Dan bertekad sedapat mungkin tidak bergaul lagi dengan laki-laki seperti kebiasaannya dulu. Kalau toh juga ada laki-laki yang ingin berteman dengannya, dia akan jadikan teman biasa saja, bukan teman akrab.
Selagi Viola masih tenggelam dalam perenungan tentang dirinya, seketika ada seseorang yang menyapanya dari arah samping kirinya. Perlu diketahui bahwa saat ini dia tengah duduk sendiri di salah satu kursi di taman kampus.
"Hai, lagi sendiri ya?"
Suara sapaan itu tidak terlalu keras, namun sanggup membuatnya sedikit terkejut. Bersamaan dengan itu semua lamunannya tadi langsung berantakan.
Kejap berikut dia lantas memiringkan kepalanya ke samping kiri menoleh ke sumber suara yang menyapanya. Dan tak butuh waktu lama dia langsung melihat sebentuk tubuh ramping milik seorang gadis cantik.
Gadis cantik itu masih berdiri diam sambil menatapnya dengan lembut penuh persahabatan, menyunggingkan senyum hangat penuh keakraban. Jarak berdirinya gadis itu dengannya sekitar 2 meter.
"Boleh gue duduk di situ?" kata gadis itu lagi karena Viola tidak segera menyahuti sapaannya, mengungkapkan permintaannya ingin duduk bergabung dengan Viola pada kursi yang sama.
Lagi-lagi Viola tidak lantas menjawab permintaan gadis yang berbusana tidak terlalu fulgar itu. Dia masih menatap si gadis beberapa saat lagi. Dan langsung mengetahui kalau gadis itu adalah teman sekelasnya.
Setelah puas memandang si gadis, Viola menggeser duduknya ke pinggir kursi sebelah kanan, sebagai isyarat kalau gadis itu boleh duduk bergabung dengannya. Tanpa dia harus berkata.
Seakan tahu akan isyarat yang ditunjukkan Viola, gadis itu melangkah menghampiri Viola, terus duduk di samping kiri gadis tomboy itu. Sementara senyum lembutnya belum juga hilang dari wajah cantiknya.
★☆★☆
"Kenalin, nama gue Marsha Evelyne," kata gadis itu memperkenalkan diri tanpa diminta sambil menyodorkan tangannya di hadapan Viola. "Lu cukup manggil gue Sasa aja...."
"Viola," kata Viola singkat sambil menyambut jabat tangan gadis yang ternyata bernama Marsha.
__ADS_1
Meski Viola masih bersikap dingin, tapi tidak menunjukkan antipati terhadap Marsha. Setidaknya dia harus bersikap waspada terlebih dahulu kepada siapa pun yang baru dikenalnya, termasuk Marsha. Walaupun teman satu kelasnya.
Itu sudah menjadi kebiasaannya semenjak dahulu kalau mau berteman dengan orang. Apalagi terhadap laki-laki.
"Viola Amanda," kata Marsha menyebut lengkap nama Viola. "Apa benar gitu ya?"
"Ya, lu benar," sahut Viola bernada dingin tapi sikapnya dibuat santai saja.
Sepasang matanya tidak lagi memandang Marsha. Tapi memandang ke depan sambil menghadap lurus ke depan. Duduknya juga lurus ke depan sambil bersedekap.
"Gue mesti manggil lu apa nih biar enak?" tanya Marsha mulai mengakrabkan diri.
"Terserah lu aja," sahut Viola dengan gaya tenangnya. Dia tidak ingin memancing keakraban terlalu dini, tapi tetap menjaga kesopanan serta sikap tidak membenci atau rasa tidak senang.
"Gimana gue panggil Lala aja?" tanya Marsha mengajukan. "Boleh nggak?"
"Not bad," sahut Viola bernada sedikit senang dengan panggilan barunya itu. Nama akrab Lala cukup menarik juga, pikirnya.
"Gue juga masih baru di kampus ini," tutur Marsha memberi tahu tanpa ditanya. "Yaaa..., belum ada sebulan gitu...."
"By the way, lu pindahan kampus dari mana?" tanya Marsha seakan kepo. "Kalau boleh tahu."
"Dari Bogor," sahut Viola masih singkat-singkat.
"Oh, lu dari Bogor ya," kata Marsha seolah menebak.
"Sebenarnya nggak kayak gitu."
"Maksudnya?"
"Kalau lu?" tanya Viola sambil melirik Marsha sebentar.
"Gue sebenarnya sepat kuliah di Ausi (Australia)," ungkap Marsha. "Tapi gue nggak betah. Akhirnya kembali ke tanah air dan memutuskan kuliah di kampus ini."
"Bukannya enak kuliah di luar negeri?" tanya Viola seolah menguji. "Eh, BTW, lu tinggal di Ausi ya?"
"Nggak juga," sahut Marsha membetulkan. "Gue lahir dan tinggal di sini sejak kecil...."
"Kuliah ke Ausi tu gue cuman ikut teman aja," lanjutnya, "sekaligus coba-coba gitu. Tapi gue nggak betah ama gaya hidup orang-orang di sana, terlalu bebas. Gue nggak kepingin kayak gitu."
"O gitu...."
"Kalau boleh tahu, lu pertama masuk di kampus ini kapan?" tanya Viola ingin tahu. "Secara... lu kayaknya lebih duluan masuk dari gue. Iya nggak?"
"Iya sih," sahut Marsha jujur mengakui. "Kalau nggak salah 4 harian setelah lu masuk."
Setelah ucapan Marsha alias Sasa itu selesai, kedua gadis cantik itu berhenti berbicara. Bersamaan dengan itu kebisuan langsung membungkam suasana, kesunyian langsung membungkus keadaan.
★☆★☆
"Lala," kata Marsha yang langsung memecahkan kesunyian yang tak lama terjadi di antara mereka. "Kita 'kan terbilang baru di kampus ini ya...."
"Gue lihat lu kayaknya belum punya teman akrab di kampus," lanjut Sasa. "Sementara... gue juga belum punya teman di sini. Gimana kalau kita temanan aja? Lu mau nggak?"
"Lu nggak risih ngajak temanan ama gue yang modelnya kayak gini?" kata Viola mengingatkan akan penampilan dirinya, sebagai bahan pertimbangan bagi Marsha kalau ingin mengajak berteman.
__ADS_1
"Emang napa dengan penampilan lu?" kata Marsha seolah heran Viola bertanya seperti itu. "Gue rasa nggak ada yang salah tuh. Di kampus ini juga banyak yang kayak lu kali."
"Ya... kali aja lu risih," kata Viola masih mengingatkan.
"Ya nggak lah," ungkap Marsha jujur.
"Sebenarnya gue tu nggak milih-milih amat kalau pingin ngajak temanan ama orang," tutur Marsha mengakui. "Asal saling menjaga kepercayaan, jujur dan saling mengerti. Itu aja kok."
"Apa lu nggak nuntut syarat khusus ama gue kalau pingin ngajak temanan?" tanya Viola seakan menguji.
"Maksud lu?" tanya Marsha belum paham.
"Ya misalkan kalau gue perokok, miras, candu.... Yang lebih parah lagi kalau misalkan gue juga lesbi. Apa lu tetap ngajak gue temanan?"
Marsha tidak lantas menanggapi atau menjawab pertanyaan Viola. Dia menatap sejenak gadis tomboy itu lekat-lekat seolah tengah menelisik kebenaran akan perkataan yang seperti pengakuan Viola itu.
Ditatap sedemikian rupa, Viola tenang-tenang saja dan tetap bersikap santai. Malah seperti membiarkan Marsha memeriksa dirinya.
"Ah, lu kayaknya bukan perokok deh," kata Marsha mengungkapkan hasil penelitiannya. "Apalagi peminum atau pecandu. Kalau lu lesbi gue nggak tahu."
"Kalau misalkan gue punya sifat jijik kayak gitu?"
"Gue tetap ngajak lu temanan," kata Marsha memang jujur.
"Ah, yang benar aja lu!" kejut Viola seakan tidak percaya. "Masak orang kayak gitu diajak temanan?"
"Gue ngerasa menjadi teman baik bagi orang lain, kalau gue berhasil ngebuat dia menjadi orang yang baik, bahkan lebih baik lagi dari gue."
"Keren! Gue salut ama prinsip lu," puji Viola tulus.
"Nggak usah muji gue," kata Marsha menegur. "Yang penting, lu mau nggak jadi teman gue?"
"Gue sih mau aja," kata Viola seakan membuka ruang untuk pertemanan. "Asal kayak lu tadi, kita saling ngejaga kepercayaan, saling jujur, dan saling ngerti antara satu sama lain...."
"Kalau gitu kita sama dong."
"Kayaknya sih gitu...."
Akhirnya kedua gadis cantik yang berbeda style itu resmi saling mengikat tali pertemanan. Dan mereka bersepakat akan merayakan hari jadi pertemanan mereka di kafe selepas jam kampus. Hal itu sesuai usulan Marsha.
Namun....
"Daripada kita buang banyak duit masuk kafe mahal," kata Viola mengusulkan, "mending kita ngerayainnya di apartemen gue aja. Gimana?"
"Makanannya?"
"Kita masak sendiri aja, Sasa."
"Lu... bisa masak?" kejut Marsha seolah tidak percaya.
"Huh, lu ngeremehin gue ya. Gini-gini gue pandai masak tahu. Lu mau dimasakin kayak gimana, tinggal bilang."
"OK, fix, di apartemen lu aja."
Akhirnya sepakatlah mereka merayakan pertemanan mereka di apartemen Viola. Dan makanannya masak sendiri.
__ADS_1
★☆★☆★