Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 25 PERTEMUAN YANG TIDAK DISANGKA-SANGKA


__ADS_3

"Aku heran ama gadis bernama Jennie itu, Rai," gumam Bayu saat mereka baru saja keluar dari restoran sambil tersenyum bingung, "ada-ada aja yang diperbuatnya untuk mendapat perhatian dari kamu."


"Gadis gila itu bukan sedang mencari perhatian," ralat Raihan santai saja, "tapi sedang mengekspresikan rasa bencinya kepadaku...."


"Memang begitu yang terlihat," kata Bayu masih pada pendapatnya, "tapi intinya dia cari-cari perhatian sama kamu. Jangan-jangan dia demen sama kamu, Rai."


"Kalau bercanda jangan kelewatan, Bay," tegur Raihan sambil menoleh sekilas pada sepupu sekaligus sahabatnya itu. "Dia itu udah punya pacar. Lagian dia mana demen sama cowok miskin kayak aku."


"Pura-pura miskin," kata Bayu cepat memperbaiki ucapan Raihan yang terakhir.


"Kalau saja Jennie tahu bahwa kamu bukan saja seorang CEO tapi pemilih perusahaan," lanjut Bayu, "aku yakin dia pasti akan ninggalin pacarnya yang sombong itu, dan akan berpaling ke kamu."


"Kamu kok makin ngelantur ngomongnya," dengus Raihan kesal juga dengan candaan Bayu itu. "Siapa juga yang bakalan suka sama gadis gila kayak Jennie itu?"


"Jadi kamu nggak demen seandainya Jennie suka sama kamu?" tanya Bayu seakan serius.


"Kamu mau jodohin aku sama gadis gila itu?" tanya Raihan masih kesal.


"Aku pingin tau aja seandainya dia suka sama kamu," kata Bayu lagi.


"Nggak," jawab Raihan tanpa pikir lagi. "Kamu aja yang ambil kalau demen...."


Bayu hendak menanggapi ucapan Raihan lagi. Tapi pemuda itu cepat memotongnya dengan berkata.


"Udah, nggak usah lagi omongin gadis itu! Kayak orang penting aja diomongin!"


"Aku nggak bisa bayangin jika seandainya Jennie masuk dalam daftar cewek yang menyukai kamu," kata Bayu tanpa menggubris peringatan Raihan. "Berarti ada tiga cewek cantik yang suka sama kamu; Melinda, Viola, dan Jennie. Kayaknya bakalan seru."


"Apa maksud omonganmu?" tanya Raihan bernada dingin sambil menatap tajam pada Bayu.


"Coba kamu pikir," kata Bayu menguraikan ucapannya, "Melinda itu sebenarnya masih mencintai kamu, aku yakin...."


"Jangan sok tahu kamu," bantah Raihan spontan. "Kamu nggak lihat apa yang udah dia lakuin ama kita?"


"Dengar dulu omongan aku, jangan dipotong dulu!"


"Apa yang udah dia lakuin pada kamu tiga bulan yang lalu, itu sebenarnya luapan kemarahan dan kekecewaan dia karena kamu menolak untuk berjuang bersamanya dalam memperjuangkan cinta kalian...."


Apa yang dikatakan Bayu barusan memang benar. Waktu itu sebenarnya Melinda memohon padanya agar dia mau membantu gadis itu dalam memperjuangkan cinta mereka. Namun....


"Semuanya sudah berakhir, Bay," kata Raihan bernada mendesah, "nggak ada lagi yang perlu diperjuangin. Cintaku pada Melinda sudah berakhir."


"Ya memang seharusnya begitu, kisah cinta kalian memang seharusnya berakhir," kata Bayu memahami perasaan Raihan. "Tapi perlu kamu sadari kalau Melinda masih mencintai kamu."


Raihan tercenung memikirkan ucapan Bayu itu. Benar tidaknya kalau Melinda masih mencintainya, itu tidak pernah dia pikirkan. Karena memang dia sudah tidak mencintai lagi gadis itu. Buat apa memikirkan kalau Melinda masih mencintainya?

__ADS_1


"Adapun Jennie, kalau kamu menganggap dia amat membenci kamu," kata Bayu melanjutkan, "itu bisa saja benar. Tapi intinya, dengan dia membenci kamu, itu artinya dia sering atau mungkin selalu memikirkanmu...."


"Meskipun memikirkanmu karena benci, tapi lama kelamaan bisa saja berubah menjadi cinta...."


"Hahaha..., kayaknya kamu ada bakat menjadi pakar percintaan," kata Raihan meledek sambil tertawa pelan.


"Dikasi tahu malah meledek," gerutu Bayu kesal. "Awas aja omongan aku benar!"


"Sekarang gimana dengan Viola?" tanya Raihan yang sepertinya ingin tahu uraian Bayu tentang perasaan Viola terhadapnya.


Sejenak Bayu menetralkan perasaannya yang tadi sempat kesal atas ledekan Raihan. Tak lama kemudian dia sudah siap menguraikan perasaan Viola terhadap Raihan. Tapi....


"Mas Rai! Mas Bay!"


★☆★☆


Seketika terdengar suara seseorang yang memanggil mereka dari arah samping kanan Raihan agak ke depan.


Spontan kedua pemuda tampan itu langsung berhenti melangkah. Bukannya menoleh ke orang yang memanggil, mereka malah saling bertatapan sejenak. Lalu mereka sama-sama menoleh ke sumber suara panggilan.


Di sana, berjarak sekitar 7-8 meter telah berdiri seorang gadis cantik yang tengah menghadap ke arah mereka sambil tersenyum gembira.


Tapi gadis cantik yang ternyata Marsha tidak sendirian di tempat yang ternyata parkiran mobil itu. Ternyata ada sekitar belasan orang bersamanya. Dan mereka semua menoleh ke arah Raihan dan Bayu juga saat Marsha memanggil keduanya.


Sementara Raihan dan Bayu, saat memandang kepada sekelompok orang itu, yang mereka kenal selain Marsha adalah cuma Shafira dan Aira.


Terutama terhadap seorang lelaki tua berjas biru tua. Lelaki itu menatap tajam berpadu sorotan keangkuhan pada kedua pemuda itu. Siapa lagi lelaki tua itu kalau bukan Tuan Baskoro.


Tak lama kemudian, setelah melihat Raihan dan Bayu berhenti terus menoleh ke arahnya, Marsha segera berlari kecil menghampiri kedua pemuda tampan itu.


Sedangkan beberapa orang lainnya selain Shafira dan Aira merasa heran melihat Marsha menghampiri Raihan dan Bayu. Terlebih lagi istri Tuan Baskoro, Bu Retno.


Wanita tua yang tampak masih cantik itu bukan saja merasa heran. Tapi segera terkejut mana kala menatap lekat-lekat ke wajah Raihan. Dia merasa seperti tidak asing lagi dengan pemuda itu.


"Kalian kok bisa ada di sini?" tanya Marsha tanpa bermaksud menghina begitu dia sampai di depan kedua pemuda itu.


Marsha mengenal bahwa restoran yang mereka kunjungi ini termasuk restoran mewah dan termahal di kota ini. Sedangkan yang dia tahu bahwa Raihan dan Bayu itu cuma karyawan OB di perusahaan kakak perempuannya.


Kalau mereka yang hanya sebagai karyawan OB masuk ke restoran mahal ini, bukankah cuma membuang-buang duit saja? Kenapa tidak makan di warung biasa saja, yang tidak perlu mengeluarkan uang banyak?


Itulah makanya kenapa Marsha sampai bertanya seperti itu. Hanya ungkapan rasa herannya saja. Namun Raihan maupun Bayu sama sekali tidak tersinggung. Mereka maklum akan ketidak tahuan Marsha akan mereka sebenarnya.


"Nyasar, Sasa," Bayu yang menyahut. "Gara-gara dia nih aku harus ngeluarin duit banyak malam ini."


"Hahaha..., kok bisa sampe gitu sih?" kata Marsha sambil tertawa karena merasa lucu akan jawaban Bayu.

__ADS_1


Entah mengapa Marsha begitu bahagia malam ini bertemu kedua pemuda tampan itu di tempat ini. Terutama kepada Bayu. Entah kenapa dia merasa nyaman bersama kedua pemuda itu. Terutama kepada Bayu.


Dia seperti merasakan suatu perasaan tersendiri ketika bersama Bayu.


★☆★☆


Sementara Marsha dan kedua pemuda tampan itu saling ngobrol, Bu Retno bertanya kepada Shafira dan Aira.


"Siapa kedua pemuda itu, Fira, Aira? Apa kalian mengenal mereka juga?"


Baik Shafira maupun Aira tidak lantas menjawab pertanyaan Bu Retno. Mereka saling tatap sejenak. Lalu tak lama Aira menganggukkan kepada seakan meminta Shafira yang menjawab.


"Apakah mama ingin tahu?" kata Shafira balas bertanya.


"Cuma pemuda biasa kenapa harus mengenal segala," kata Pak Baskoro bernada angkuh. "Ayo kita masuk!"


"Panggil adikmu itu, Fira!" perintah seorang lelaki tampan yang tidak lain adalah Fauzan Adhitama.


"Tunggu! Jangan dulu ada yang masuk!" cegat Shafira cepat saat keluarganya dan keluarga Aira hendak beranjak masuk ke dalam.


Orang-orang itu tidak jadi melangkah masuk. Tapi dalam hati masing-masing mereka merasa heran. Bahkan Pak Baskoro, Fauzan, dan ayah Aira, Pak Sudrajat merasa kesal atas cegatan Shafira itu.


"Kalian harus mengenal dulu kedua pemuda itu baru kita masuk ke dalam!" kata Shafira lagi begitu melihat semua keluarganya tidak jadi melangkah masuk.


"Apa-apaan kamu, Fira?" kata Fauzan bernada jengkel. "Buat apa kamu mencegat kami demi kedua pemuda biasa itu?"


Shafira tidak menggubris ucapan kakaknya itu. Dia kembali menoleh ke arah Marsha dan kedua pemuda itu. Terus berseru kepada Marsha dengan agak keras.


"Sasa! Panggil kedua cowok itu ke mari!"


"Iya," sahut Marsha seraya menoleh pada kakaknya.


Lalu kembali menoleh pada Raihan dan Bayu, lalu mengajak keduanya bergabung dengan keluarganya.


"Ayo, Mas Rai, Mas Bay! Aku perkenalin ama keluarga aku."


Bagai disambar petir kedua pemuda itu langsung terkejut bareng-bareng. Sungguh mereka tidak menyangka kalau orang-orang di sana itu adalah keluarga Marsha.


Sungguh Raihan tidak menyangka kalau bakal bertemu dengan keluarganya begitu cepat dan di saat dia tidak siap seperti ini.


Sungguh Bayu tidak menyangka kalau bakal bertemu dengan Pak Baskoro, orang yang dengan cara licik telah merampas perusahaan ayahnya, yang dengan sebab itu ayahnya kena serangan jantung hingga meninggal.


Sungguh Raihan dan Bayu benar-benar tidak menyangka. Sungguh pertemuan ini merupakan pertemuan yang tidak mereka sangka-sangka.


Apakah tindakan Raihan maupun Bayu setelah mengetahui akan hal itu?

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2