Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 62 SYUKURLAH BUKAN DIA


__ADS_3

Viola berusaha menjalani hidupnya selama setengah tahun ini tanpa kehadiran dan keberadaan Raihan di sisinya. Tanpa ditemani oleh pemuda yang amat dan masih dicintainya.


Apakah menjalani kehidupan seperti itu berat baginya?


Oh tentu saja berat, bahkan amat berat.


Dia berusaha menguatkan hatinya agar tetap tegar menjalani hidup, hidup tanpa cinta sang pujaan, Raihan Pratama.


Dia berusaha menyembunyikan kerapuhan hatinya di mata orang-orang. Dan menampakkan kepada orang-orang kalau dia dan hatinya baik-baik saja.


Dia berusaha menyibukkan dirinya untuk tidak memikirkan Raihan. Membantu mengelola restoran kakaknya, Miko. Bahkan dia salah satu chef andalan di restoran itu. Di samping menyibukkan dirinya juga dengan dunia kuliah.


Namun toh terkadang bayangan Raihan tetap saja muncul di dalam hati dan pikirannya. Ingin rasanya dia berontak, melanggar peringatan orang tuanya. Ingin rasanya dia bertemu Raihan, untuk mengobati rasa rindunya yang sudah memenuhi rongga dadanya.


Namun Viola masih khawatir, jangan-jangan ancaman papanya benar-benar akan terjadi. Papanya mengancam hendak menghancurkan perusahaan Raihan kalau dia tidak mengindahkan peringatan papanya.


Apalagi perusahaan Raihan sudah mencapai kesuksesan yang gemilang, sudah masuk dalam jajaran perusahaan besar. Sudah cukup banyak memiliki koneksi dengan perusahaan-perusahaan ternama.


Dia tidak ingin menghancurkan kesuksesan yang telah dicapai oleh Raihan hanya demi menuruti kehendaknya. Tidak, dia tidak ingin melakukannya....


Cukuplah dia memandang pemuda pujaan hatinya itu dari kejauhan. Jangan sampai dia mendekat, nanti akan menghancurkan segalanya.


Untunglah pada 2 bulanan ini dia bisa berkumpul kembali bersama Marsha. Dan ternyata persahabatan mereka tidaklah luntur. Masih tetap terjalin dengan baik penuh keakraban seakan mereka tidak pernah berpisah.


Dan sekarang Marsha sudah satu profesi dengannya, yaitu chef restoran. Kalau dia chef di restoran kakaknya, sedangkan Marsha chef di restoran Raihan.


Tentu hal itu membuat Viola amat gembira. Begitupun juga dengan Marsha. Mereka tidak menyangka, begitu telah bertemu kembali, masing-masing mereka sudah menjadi chef restoran.


Karena mereka satu profesi dan juga persahabatan mereka semakin kental saja, maka mereka tidak merasa gengsi dan pelit saling bertukar ide-ide cemerlang tentang masak memasak.


Akan tetapi dia maupun Marsha tidak bisa sering-sering bertemu. Karena dia masih dalam pantauan orang-orang papanya. Makanya kalau ingin menemui Marsha, dia mencuri-curi kesempatan.


Begitupun juga halnya dengan Marsha. Dia juga mencuri-curi kesempatan jika ingin bertemu dengan Viola.


Mungkin perlu juga diketahui sedikit di sini bahwa Miko dan Aira sudah balikan. Kejadiannya sekitar 3 bulan lebih yang lalu.


Miko yang tidak kenal menyerah terus mengajak Aira untuk balikan. Sedangkan Aira pada dasarnya memang masih mencintai Miko, dia terima-terima saja pemuda yang sebenarnya baik itu mengajaknya balikan.

__ADS_1


Apalagi Raihan yang sudah tahu kisah cinta mereka mendukungnya. Termasuk Bayu yang sebenarnya tidak ada rasa terhadap Aira juga mendukung.


Akan tetapi untuk sementara mereka berpacaran secara sembunyi-sembunyi dahulu, tidak terlalu terang-terangan. Takut jika orang tua mereka masing-masing tahu kalau mereka telah pacaran lagi, pasti akan dipisahkan lagi.


Kembali pada Viola....


Untungnya Viola di kampusnya juga sudah mempunyai teman akrab. Dia mendapatkan sahabat yang cukup sesuai dengan kriterianya 3 bulan setelah dia ngampus di kampus barunya itu.


Adapun nama sahabat baru Viola itu adalah....


★☆★☆


"Ola...!"


Baru saja dia keluar dari pintu mobilnya, terdengar seseorang memanggilnya dari arah belakang samping kanannya.


Perlu diketahui bahwa saat ini yang masih terhitung pagi Viola telah berada di kampusnya. Lebih tepatnya dia masih berada di parkiran kampus.


Dia amat mengenal siapa atau tepatnya gadis yang memanggilnya itu. Setelah menutup pintu mobilnya, dia segera membalikkan bandan dan menoleh pada gadis cantik yang memanggilnya.


Dia kaget bukan karena melihat Michella yang dia ketahui bahwa semalam gadis itu ternyata tidak pulang ke rumahnya. Melainkan karena melihat busana yang dikenakan Michella yang cukup dikenalnya, dan mobil sedan mewah yang berada di dekat Michella berdiri.


Busana yang dikenakan Michella adalah busana yang pernah dipakainya sewaktu tinggal beberapa hari di rumah Raihan. Dan mobil sedan yang berhenti di dekat Michella adalah mobil sedan yang amat dikenalnya, yaitu milik pemuda yang masih dicintainya, Raihan.


Perasaannya makin tidak karuan melihat fenomena yang dilihatnya. Jantungnya makin berdebar kencang mana kala apa yang dipikirkan terjadi. Hatinya mulai terasa sakit kalau sampai Michella ternyata telah berpacaran dengan Raihan....


"Ola, ke mari!" seru Michella kembali memanggil Viola yang masih terpaku diam di tempatnya. "Jangan bengong aja di situ! Gue kenalin nih ama teman gue yang cowok."


Viola masih berdiri diam bagai orang bengong. Dia masih menatap sambil membelalak pada apa yang dilihat di pelupuk matanya itu.


Sementara Michella menoleh ke dalam mobil dan menegur seseorang yang masih duduk di kursi kemudi.


"Mas Bay! Lu kok nggak turun dulu sih? Turun dulu dong biar gue kenalin teman cewek gue."


Mendengar Michella memanggil nama yang bukan nama sang pujaan, hati dan perasaannya langsung nyes bagai diguyur air dingin.


Ternyata yang membawa mobil Raihan adalah Bayu. Dan Viola baru menyadari kalau kedua kakak beradik itu biasa saling tukar-tukaran mobil.

__ADS_1


Setelah menentramkan perasaannya yang sempat kacau, dia melangkah cepat menghampiri Michella. Sementara, bersamaan dengan itu pengemudi mobil yang memang Bayu, juga keluar dari mobil, lalu langsung menghampiri Michella pula.


Dan begitu Viola sudah berada di depan Michella, Bayu sudah berada di samping kanan Michella. Namun sikap Bayu seakan-akan tidak mengenal Viola. Tatapan matanya begitu datar dan dingin memandang Viola. Tapi cuma sebentar.


Sedangkan Viola juga berlagak tidak mengenal Bayu. Dia berusaha bersikap biasa agar Michella tidak curiga.


"Sorry, Sela," kata Bayu seperti hendak minta diri. "Gue buru-buru, nggak bisa lama-lama di sini."


"Nanti dulu!" cegat Michella setengah cemberut. "Gue mau kenalin teman cewek gue ke lu. Gimana sih?!"


"Kenalin, dia bernama Viola Amanda!" kata Michella tanpa menunggu persetujuan Bayu. "Dipanggil Ola."


Lalu dia kembali beralih memandang Viola yang berdiri diam di depannya, terus berkata memperkenalkan Bayu padanya.


"Ola, ni teman baru gue, namanya Bayu Anggara, dipanggil Mas Bay."


Viola mengulurkan tangan kanannya hendak berjabat tangan, berlagak bagai orang yang hendak kenalan. Sedangkan Bayu menatap datar sejenak gadis cantik itu, lalu memandang telapak tangan Viola yang terulur.


"Mas Bay! Lu napa sih?" tegur Michella makin cemberut. "Nggak mau kenalan ama teman cewek gue?"


Bayu tidak menyahut atau menanggapi ucapan Michella. Tapi dia segera mengulurkan telapak tangan kanannya, berjabat tangan dengan Viola. Saling menyebut nama, lalu Bayu cepat-cepat melepas tangannya.


"Udah ya, Sela," kata Bayu sambil berbalik hendak melangkah, "gue mau ke kantor."


"Habis ngampus lu pulang ke rumah!" lanjut Bayu berpesan dengan mode datar. "Jangan biarin nyokap ama bokap lu nyari-nyari lu terus!"


"Siap, Boss!" sahut Michella bercanda, tapi dia mendengar pesan Bayu tersebut.


"Kapan kita ketemu lagi?" tanya Michella selanjutnya. Nadanya seperti tidak ingin berpisah dengan Bayu.


"Terserah lu," sahut Bayu sambil berjalan menuju pintu sebelah kanan mobil.


"Hati-hati, Mas Bayu!" kata Michella berpesan sambil tersenyum manis.


Baru saja dia melambaikan tangannya pada Bayu, Viola langsung menarik tangannya yang satu, terus membawanya pergi dari situ.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2