
Setelah perbincangan Raihan dan Bayu di kamar Raihan, Bayu langsung pulang ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Raihan.
Sewaktu Bayu ke kamar Raihan, dia tidak bawa HP. Terus HP-nya dimode silent. Tentu dia tidak mendengar nada notifikasi apapun di HP-nya itu, apalagi nada dering orang yang menelponnya.
Begitu dia sudah berada di pembaringannya, mengambil HP di atas nakas di samping tempat tidurnya, lalu membukanya, baru dia tahu kalau Aira menelponnya sekaligus mengirim chat di WA-nya.
Sejenak Bayu terdiam memikirkan, apakah menelpon balik Aira atau membalas chatnya saja?
Sementara itu pula di kamar Raihan, dia juga mendapat notifikasi chat sekaligus penelponan. Sedangkan dia juga tidak tahu akan hal itu karena HP-nya juga dimode silent.
Begitu dia membuka HP-nya, barulah dia tahu kalau Viola dan Marsha ternyata mengirim chat di WA-nya sekaligus menelponnya.
Untuk beberapa saat lamanya dia terdiam memikirkan kedua gadis cantik yang berbeda style itu. Baru tadi sore dia berkenalan dengan mereka. Tidak banyak yang dibicarakan saat pertemuan pertama itu. Jadi Raihan belum merasa akrab dengan masing-masing mereka.
Sehingga dia tidak pernah berpikir kalau secepat itu mereka melakukan interaksi dengannya melalui WA, bahkan menelponnya segala.
Untuk menelpon balik masing-masing mereka jelas Raihan tidak ingin. Karena dia merasa tidak sopan menelpon orang yang belum terlalu dikenalnya malam-malam begini, apalagi seorang cewek. Apalagi tidak ada keperluan yang darurat terhadap mereka.
Namun sekarang dia menjadi bingung, bukan karena siapa duluan yang harus dia balas chatnya. Melainkan bingung, apakah perlu dia membalas WA mereka?
Setelah berpikir agak lama dan mempertimbangkan siapa tahu ada pesan penting dari kedua gadis itu, maka dia putuskan membuka WA masing-masing mereka.
Pertama Raihan membuka WA dari Marsha. Ada 3 chat yang tertuang di situ yang menurutnya tidak terlalu penting. Namun begitu membaca chat yang ke 4, terus membuka upload foto yang dikirim Marsha, dia langsung terkejut bukan main.
Isi chat Marsha memang sempat membuatnya terkejut. Namun yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah upload foto yang dikirim Marsha.
Adapun isi chat itu berbunyi:
Mas Rai, wajahmu miriiip... banget ama papa aku... Apa kamu kakak laki-laki aku yang udah lama ninggalin rumah ya? Tolong jawab jujur ya, Mas Rai! Soalnya... aku udah kangeeen... banget ama kakak aku itu... Please ya!!!
Di bawah pesan itu tertuang upload foto papanya Marsha yang ternyata adalah Pak Baskoro, artinya ayahnya juga. Di bawah foto itu tertulis pesan:
Ini papa aku, Mas Rai, mirip kamu 'kan?
Mana tidak membuat Raihan terkejut bukan main kalau begitu. Sungguh tidak dia sangka kalau dia bersaudara kandung dengan Marsha, gadis cantik yang baru tadi sore dia bertemu sekaligus berkenalan.
Kenapa dunia ini begitu sempit?
Raihan memang sudah memperkirakan kalau pasti akan bertemu dengan keluarganya. Karena memang di Jakarta ini adalah tempat dia lahir.
Tapi sungguh dia tidak menyangka kalau secepat itu bertemu dengan mereka. Padahal dia baru 3 bulan berada di kota kelahirannya ini.
Shafira sudah mengetahui keberadaannya di kota ini. Dia sudah bertemu dengan Marsha yang ternyata adiknya. Selanjutnya siapa lagi yang akan dia ketemu?
Sebenarnya dia tidak menginginkan dulu untuk bertemu dengan keluarganya. Tapi siapa sangka takdir sudah menentukan diluar keinginannya.
★☆★☆
Raihan masih terpekur diam memandang pesan Marsha itu. Dia masih bingung harus menjawab apa. Apakah dia harus memberitahukan kalau dia adalah kakaknya?
__ADS_1
Kalau dia berterus terang terlalu cepat, Marsha tentunya pasti akan senang sekali. Namun dia yang akan susah nantinya. Seluruh keluarganya yang ada di Jakarta pasti akan mengetahui keberadaannya dengan cepat.
Tentunya mereka pasti akan memanggilnya untuk pulang ke rumah. Hal itu yang dia tidak inginkan.
Di samping itu juga Marsha pasti akan memberitahukan kepada Viola, sahabatnya kalau dia adalah kakaknya. Hal itu yang lebih dia tidak inginkan. Entah kenapa?
Memikirkan akan hal itu, maka Raihan membalas chat Marsha yang awalnya bertuliskan permintaan maafnya karena baru bisa membalas WA si gadis, terus menyertakan alasan keterlambatan membalas.
Kemudian, setelah mengirim chat itu, Raihan menulis lagi chat yang isinya berbunyi:
Mbak Marsha, orang di dunia ini begitu banyak. Nggak menutup kemungkinan di antara mereka ada yang wajahnya sama meski bukan satu keluarga. Sepertinya saya bukan kakak Mbak yang Mbak cari....
Lalu Raihan mengirim chat itu ke WA Marsha. Namun WA itu meski centang 2 tapi masih berwarna abu-abu karena Marsha belum membukanya.
Rupanya di nun jauh di sana, tepatnya di rumah Marsha, HP gadis itu ditinggal terbaring di atas nakas samping tempat tidurnya. Sedangkan dia berada di kamar Shafira, kakak perempuannya.
Rupanya gadis itu tengah curhat kepada Shafira tentang seorang cowok yang baru dia kenal tadi sore. Cowok itu tidak lain adalah Raihan.
Sedangkan pemuda itu, setelah beberapa menit menunggu balasan dari Marsha yang tidak juga kunjung datang, dia membuka WA dari Viola.
WA dari Viola cuma ada 2 chat. Chat pertama berisikan sapaan kepada Raihan dan permintaan maaf jikalau sekiranya mengganggu pemuda itu mengchatnya malam-malam begini.
Terus chat ke 2 bertuliskan yang isinya berbunyi:
Mas Rai, salahkah aku berpenampilan kayak cowok?
Setelah berpikir sebentar, lalu dia membalas chat Viola tersebut. Raihan tidak memberikan komentar tentang chat Marsha yang pertama. Dia langsung membalas chat Viola yang ke dua yang isinya antara lain:
Belum lama Raihan mengirim chat itu, Viola ternyata langsung membalasnya. Entah, apakah gadis itu kebetulan berada di dekat HP-nya? Ataukah dia memang sengaja menunggu balasan WA dari Raihan?
Mana yang pasti dari dua kemungkinan itu, Raihan tidak terlalu memikirkannya. Yang jelas dia sudah mendapat balasan chat dari Viola yang bunyinya:
Yaaa... seenggaknya kasi saran ke aku, aku harus gimana?
Tanpa lama berpikir Raihan langsung membalas pula chat Viola itu yang bunyinya:
Saya nggak punya saran terbaik yang bisa saya berikan kepada Mbak Viola. Saya hanya bisa berpesan agar Mbak nggak lupa akan kodrat Mbak sebagai seorang wanita.
Tanpa menunggu lama, Viola langsung membalas chat Raihan:
Masalah itu aku memang selalu ingat dan perhatiin, Mas Rai, aku masih sadar kok kalau aku ini cewek....
Sepasang insan muda-mudi itu terus saja berchat ria beberapa waktu lamanya. Bermula dari membahas tentang penampilan Viola yang sebenarnya tidak terlalu bermasalah bagi Raihan.
Namun Raihan memberi nasehat kepada gadis itu agar membatasi pergaulan dengan lelaki. Sebaliknya, dia menyarankan agar Viola memperbanyak bergaul dengan perempuan.
Sedangkan Viola, semua yang disampaikan oleh Raihan kepadanya, diterima dengan senang hati. Malah dia merasa tersanjung dengan perhatian dan motifasi yang disampaikan Raihan.
Sehingga membuat Viola semakin bersimpati kepada Raihan. Malah jangan-jangan dia menjadi suka sama Raihan. Atau malah makin suka?
__ADS_1
★☆★☆
Siang itu di sebuah perusahaan cukup besar....
Kala itu di ruangan Direktur Utama atau CEO yang cukup luas dan besar, tepatnya di shofa tamu, duduk saling berhadapan Shafira, Aira, Raihan, dan Bayu. Tidak ada lagi orang lain di ruangan itu selain mereka.
"Kamu sudah bertemu dengan adikmu, Marsha, Rai?" tanya Shafira membuka pembicaraan.
"Ya, kemarin sore," sahut Raihan mengakui. "Tapi waktu itu aku belum tahu kalau dia adikku. Barulah tadi malam aku tahu kalau dia adikku saat dia mengirim foto Pak Baskoro, ayahnya."
Shafira maupun Aira dapat memaklumi kalau Raihan tidak mau menyebut Pak Baskoro dengan sebutan papa atau ayah. Rupanya Raihan sampai detik ini masih membenci Pak Baskoro, ayahnya.
"Suatu saat kamu harus bilang sama dia kalau kamu adalah kakaknya yang selama ini dia cari-cari," kata Shafira mengingatkan.
"Ya itu urusan nanti saja," kata Raihan tidak mau dulu membahas masalah yang tidak penting menurutnya.
"Sebenarnya apa maksud Mbak memanggil aku dan Bayu di perusahaan ini?" lanjut Raihan dengan nada serius.
"Aku hendak menyerahkan perusahaan ini kepada pemilih aslinya sekarang juga, yaitu kamu, Rai," kata Shafira bernada cukup tegas.
"Aku merasa nggak pernah meminta apapun dari Tuan Baskoro, Mbak," kata Raihan bernada datar, "apalagi perusahaan ini."
"Kamu memang tidak memintanya dari papa," kata Shafira terus membujuk. "Tapi papa memberikannya kepadamu."
"Apa maksudnya orang tua itu berbuat baik segala kepadaku?" kata Raihan bernada sinis bercampur datar. "Apa dia ingin mengambil hatiku agar aku mentolelir kesombongannya?"
"Mas Rai, sebenci apapun kamu kepada Om Baskoro," kata Aira menasehatkan, "tapi beliau adalah ayahmu, orang yang wajib kamu hormati."
"Aku akan menghormatinya sebagai seorang ayah kalau dia mengembalikan hak Pakle Mulyono yang sudah dia rampas belasan tahun yang lalu," kata Raihan masih bernada datar penuh penekanan.
"Peristiwa itu sudah berlalu, Rai," kata Bayu seakan mengingatkan. "Nggak perlu diungkit lagi. Aku juga sudah nggak mempermasalahkannya lagi."
"Kamu nggak mempermasalahkan karena kamu nggak punya kekuatan untuk menentang," begitu dingin nada suara Raihan sambil menatap Bayu.
Mendengar ucapan itu Bayu langsung terdiam, seakan tidak punya kata-kata untuk membantah. Karena sebenarnya dalam hati kecilnya mengakui ucapan Raihan, dia tidak punya kekuatan untuk mengambil hak ayahnya kembali.
Peristiwa itu telah berlalu sudah 18 tahun lamanya. Pak Baskoro dengan akal licik dan perbuatan curangnya mengambil perusahaan milik Pak Mulyono.
Sementara Bu Retno Setyaningrum selaku kakak dari Pak Mulyono diam saja, seakan menyetujui perbuatan suaminya. Tanpa melakukan apa-apa demi membela hak adiknya.
Inilah yang membuat Raihan benci kepada kedua orang tuanya. Saking bencinya, dia memilih tinggal di Malang bersama simbah putrinya, ibunya Bu Retno. Dan berharap tidak mau bertemu lagi dengan kedua orang tuanya.
Sungguh miris perjalanan hidup si Raihan ini. Sejak usia masih kecil sudah tertanam kebencian terhadap kedua orang tuanya yang amat susah diredam.
Sedangkan Bayu, si anak malang yang dulunya anak orang kaya, sejak kecil harus berkawan derita. Kedua orang tuanya kini sudah tidak ada.
Ayahnya meninggal kena serangan jantung akibat ulah Tuan Baskoro yang merebut perusahaannya. Tidak lama kemudian ibunya meninggal karena sakit keras.
Tinggallah Bayu hidup miskin bersama simbah putrinya. Dan Raihan sejak saat itu terus menemaninya, menemani di kala susah maupun duka.
__ADS_1
Itulah makanya meski Raihan diberikan perusahaan oleh ayahnya, jangankan merasa senang, malah sepertinya makin benci kepada ayahnya.
★☆★☆★