
Tampak Jennie dan Karin duduk di salah satu meja di ruangan depan di dalam kafe itu. Saat ini mereka tengah berbincang-bincang sambil menunggu pesanan mereka datang.
Adapun yang mereka perbincangkan tidak lain adalah tentang kejadian di depan pintu kafe tadi yang masih membuat Jennie penasaran. Terutama tentang perbuatan Raihan yang telah menabraknya.
"Gue masih belum terima perbuatan cowok itu," gumam Jennie menggeram. Jelas sekali dia masih belum terima perbuatan Raihan tadi. "Gue yakin dia ama temannya itu sengaja nabrak kita."
"Udah, Jenn, nggak usah dipikirin," kata Karin menasehati. "Nggak ada untungnya. Nanti malah nurunin imej kamu sebagai seorang boss."
"Gue masih kesal aja ama cowok itu," gerutu Jennie. "Lagaknya songong banget. Sok cool lagi!"
"Kalau aku merhatiin dari aksen mereka ngomong," kata Karin mengemukakan dugaannya, tanpa mengomentari sekaligus seolah tak menggubris gerutuan Jennie, "kayaknya mereka orang jawa deh, Jenn."
"Mau orang jawa kek, mau dari mana kek, bodo' amat!" kata gadis cantik itu masih saja menggerutu kesal.
"Suatu saat gue akan balas cowok itu!" kata Jennie bernada geram penuh ancaman.
"Segitu amatnya kamu membenci cowok itu," kata Karin sambil tersenyum menggoda. "Nanti bencimu itu lama-lama berubah jadi cinta loh, Jenn."
"Iii..., amit-amit deh gue deman ama pelayan kafe," kata Jennie sambil bergidik jijik. "Nggak level tau!"
Karin yang hendak menanggapi ucapan Jennie barusan langsung diurungkan. Karena seorang gadis pelayan kafe telah datang menghampiri mereka dengan mengantarkan pesanan mereka.
Barulah setelah pelayan kafe itu meninggalkan mereka Karin menanggapi ucapan Jennie.
"Katanya nggak demen, tapi kok diinget-inget terus."
"Sapa juga yang demen inget-inget cowok songong kayak gitu, Karin?" bantah Jennie setengah mendelik.
"Kamu tadi bilang kalau suatu saat kamu akan membalas cowok itu," kata Karin makin menggoda boss tapi seperti sahabatnya itu. "Bukankah perbuatanmu itu sama saja inget-inget cowok itu terus?"
"Itu beda, Karin!" kata Jennie sedikit geregetan. "Gue nginget dia bukan karena deman, tapi benci."
"Tapi kalau kamu inget-inget terus kerena benci, bisa-bisa rasa bencimu itu nanti malah berubah jadi cinta," Karin terus saja menggoda bossnya itu.
"Lu kalau ngomong jangan asal ya," dengus Jennie kesal. "Mana mungkin gue jatuh cinta ama seorang pelayan kafe? Yang benar aja lu!"
"Lagi pula gue udah punya Dimas yang jauh lebih ganteng daripada cowok songong itu," lanjut Jennie.
"Kamu yakin dapat mempertahankan hubunganmu dengan Pak Dimas?" tanya Karin seperti meragu. "Nggak berpaling ke cowok yang kamu benci itu?"
"Ya yakinlah," kata Jennie antusias. "Lu kayaknya meragukan cinta gue ama Dimas?"
Baru saja Karin hendak mengomentari ucapan Jennie barusan, tiba-tiba langsung diurungkan. Tanpa sengaja sepasang matanya melihat dua lelaki berbeda usia telah memasuki kafe dengan langkah lebar dan cukup cepat.
__ADS_1
"Pak Darmawan..., Pak Miko...," kata Karin bernada agak pelan bagai mendesis menyebut nama kedua lelaki berbeda usia yang barusan masuk itu.
★☆★☆
Meski Karin berkata pelan, tapi Jennie masih mendengar apa yang dia ucapkan. Tanpa banyak pikir gadis cantik itu segera memandang ke arah pintu masuk. Dan langsung saja dia melihat dua orang yang baru masuk itu.
"Kak Miko..., Om Darmawan...," desis Jennie bernada heran menyebut dua orang yang baru masuk itu. "Mau ngapain mereka ke sini?"
Dia juga heran melihat ekspresi amarah yang ditunjukkan kedua orang itu. Sepertinya kedua orang itu tengah marah terhadap sesuatu yang serius. Tapi Jennie belum bisa mereka-reka tentang masalah apa yang mereka marahkan.
Dia tahu Pak Darmawan adalah owner kafe ini yang merupakan salah satu cabang usaha konglomerat itu. Dan Miko itu adalah kakak laki-lakinya yang memang bermitra dengan Pak Darmawan dalam bisnis.
Karin tidak menanggapi ucapan Jennie barusan meski dia mendengarnya juga. Sepasang matanya terus saja memperhatikan dua lelaki yang terus melangkah tanpa henti itu.
Sementara itu dua lelaki yang disebut Jennie bernama Pak Darmawan dan Miko terus saja melangkah menuju suatu tempat yang masih dalam kafe. Wajah mereka yang terselip karakter angkuh sebagai orang kaya memang tampak menguarkan kemarahan.
Belum juga mereka sampai ke tempat yang dituju, Pak Manajer Kafe telah datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Sikapnya begitu hormat kepada kedua lelaki itu.
"Selamat siang, Pak, Pak Miko," sapa Pak Manajer Kafe penuh hormat. "Ada apa kok tumben ke kafe dengan tiba-tiba?"
"Kamu punya karyawan yang bernama Raihan?" tanya Pak Darmawan bernada datar langsung ke titik masalah di mana sebab dia dan Miko datang ke mari.
"Benar, Pak," sahut Pak Manajer Kafe sedikit takut-takut karena melihat kemarahan yang mencuat di wajah Pak Darmawan. "Ada apa dengan Raihan, Pak?"
"Dia sudah berbuat kesalahan yang amat besar," Miko yang menyahuti bernada geram penuh dendam.
"Bukan hanya saya yang pemuda sialan itu singgung," geram Miko bernada dingin, "tapi dia juga telah berani menyinggung martabat Om Darmawan."
Tentu saja Pak Manajer Kafe terkejut mendengarnya. Kalau sudah sampai begitu, itu sudah merupakan kesalahan yang amat berat yang akan berujung pemecatan.
Sebenarnya Pak Manajer Kafe hendak bertanya tentang kesalahan apa yang diperbuat karyawan barunya itu terhadap Pak Darmawan dan Miko yang sampai membuat mereka tersinggung. Setahu dia Pak Darmawan belum pernah bertemu dengan Raihan.
Entah dengan Miko, apakah Raihan pernah bertemu dengan CEO muda itu di luaran, Pak Manajer Kafe belum bisa memastikan.
Jadi, kesalahan apa yang diperbuat anak itu terhadap Pak Darmawan dan Miko, Pak Manajer Kafe masih bingung.
Tapi melihat kemarahan Big Boss-nya itu dan juga kemarahan Miko, dia tidak berani bertanya. Dia hanya bisa berkata mengabarkan keberadaan Raihan saat ini saat Pak Darmawan menanyakan.
"Maaf, Pak, saat ini Raihan tengah izin melaksanakan sholat."
"Apa dia masih lama?" tanya Miko bernada dingin.
"Sepertinya sebentar lagi dia akan datang."
__ADS_1
★☆★☆
Selepas berucap demikian Pak Manajer Kafe memandang ke arah pintu masuk. Belum lama dia berbuat demikian, dilihatnya Raihan dan Bayu telah masuk ke dalam kafe dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa.
"Itu dia anaknya sudah datang," kata Pak Manajer Kafe memberi tahu sambil matanya terus memandang pada Raihan.
Pak Darmawan dan Miko langsung memandang ke arah Pak Manajer Kafe memandang. Sepasang mata mereka tak butuh waktu lama langsung melihat dua pemuda biasa yang walau berpenampilan sederhana namun berwajah tampan.
Namun kejap berikut tatapan mata keangkuhan dan sifat merendahkan langsung menyorot dari kedua mata mereka saat melihat Raihan dan Bayu pertama kali.
"Yang mana bernama Raihan, Johan?" tanya Pak Darmawan bernada datar, sarat akan penghinaan.
"Yang itu, Pak, yang berambut lurus belah samping," sahut manajer kafe yang ternyata bernama Pak Johan memberi tahu.
Serta merta Pak Darmawan dan Miko langsung fokus menatap pemuda yang dimaksud, yaitu Raihan. Tatapan mata mereka bukan saja menyorotkan peremehan, tapi juga mengandung kebencian yang sangat.
Sedangkan Pak Johan masih belum mengerti apa-apa maksud kedua lelaki itu hendak bertemu dengan Raihan. Yang jelas dia segera memanggil pemuda tampan itu untuk datang ke tempat mereka.
"Raihan, ke mari!"
Raihan yang melangkah hendak berbelok arah bersama Bayu seketika berhenti melangkah mendengar panggilan Pak Johan barusan. Otomatis pula Bayu ikut berhenti.
Lalu serta merta kedua pemuda itu segera memandang ke arah Pak Johan. Dan mereka langsung melihat bukan saja manajer kafe itu yang ada di situ, tapi juga terdapat dua lelaki yang memasang wajah marah yang penuh kebencian.
Baik Raihan maupun Bayu belum tahu siapa Pak Darmawan adanya karena baru pertama kali ini mereka melihatnya. Dan Bayu juga belum tahu siapa itu Miko, karena belum pernah melihatnya.
Sedangkan Raihan jelas tahu siapa itu Miko, yaitu selingkuhan Melinda. Dia sudah melihat pemuda tampan itu di Surabaya sewaktu sedang berpacaran dengan Melinda.
"Kamu, Bayu, kembali ke pekerjaanmu!" perintah Pak Johan.
Raihan kembali melangkah tapi menuju ke tempat ketiga pembesar itu. Sedangkan Bayu juga kembali melangkah menuju ruangan pekerjaannya, yaitu bagian penyediaan pesanan pengunjung.
Namun baru tiga langkah kakinya bergerak, terdengar suara seorang wanita menghentikan langkahnya.
"Berhenti, Mas Bayu!"
Dengan seketika Bayu langsung berhenti melangkah. Lalu segera memandang ke arah datangnya suara panggilan itu. Tapi bukan saja dia yang menoleh, Raihan serta Pak Darmawan, Miko dan Pak Johan juga ikut menoleh dan memandang ke sumber suara.
Begitu orang-orang itu telah melihat siapa orang yang menyuruh Bayu berhenti itu, maka mereka semua langsung segera tahu siapa yang memanggil itu.
Miko langsung melontarkan senyum kepada wanita yang baru datang itu seolah menyambut kedatangannya.
Sedangkan Raihan maupun Bayu tentu saja terkejut melihat wanita atau gadis itu. Kenapa gadis itu tiba-tiba datang lagi ke kafe ini? Apakah ada hubungannya dengan kedatangan dua lelaki itu?
__ADS_1
Dia tidak lain adalah....
★☆★☆★