
Bayu masih terdiam bagai orang bingung, seakan belum bisa berkata apa-apa menjawab pertanyaan Michella. Akan tetapi sepasang matanya masih saja menatap gadis itu lekat-lekat.
Sedangkan Michella, seakan merasa tertantang atau dia yang malah menantang, tidak mau kalah juga menatap Bayu lekat-lekat. Malah dia membarengi perbuatannya itu dengan menyunggingkan senyum manisnya.
"Gimana, Bay?" tanya Andra seketika yang langsung memecah kebisuan. "Apa lu berani nembak adik gue sekarang? Atau... lu nunggu Sela nembak lu?"
"Oh nggak..., nggak gitu juga...," kata Bayu tiba-tiba sedikit tersedak seakan terkejut. Seolah dia berkata tanpa sadar.
Entah maksud ucapan Bayu apa orang-orang yang ada di situ seperti belum mengerti. Atau sebagiannya pura-pura belum mengerti.
Sementara Raihan yang masih berada di samping Bayu, menoleh pada pemuda itu, terus berkata bernada tanya seakan mengungkapkan ketidakmengertiannya. Entah pura-pura atau serius.
"Nggak gitu gimana maksud lu? Lu nggak berani nembak Sela, gitu?"
"Bukan kayak gitu juga," kata Bayu cepat seakan membantah. "Gue...."
"Kalau gitu... lu tembak Sela sekarang kalau lu berani!" kata Raihan cepat seolah memotong ucapan Bayu.
Setelah itu Raihan mendorong Bayu tidak terlalu kuat, tapi Bayu langsung maju ke depan, ke arah Michella berdiri dalam keadaan terkejut.
Sedangkan Viola, entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu, secara refleks dia juga mendorong Michella ke depan, ke arah Bayu pula. Namun Michella tampak tersenyum seakan menyetujui perbuatan Viola tersebut.
Sehingga, akibat aksi mendorong itu, membuat jarak antara Michella dengan Bayu jadi semakin dekat, cuma 2 langkah kurang lebih.
Tampak Bayu masih terkejut bercampur kesal atas perbuatan Raihan. Seketika hatinya disergap rasa gelisa dan sedikit gugup. Sikapnya tampak sedikit canggung terkesan malu.
Dia meruntuki dirinya sendiri, kenapa harus sekarang dia dihadapkan kejadian seperti ini? Seumur hidup belum pernah pacaran. Bagaimana caranya dia akan menembak cewek secara langsung kalau begitu?
Sedangkan Michella makin memamerkan senyum manisnya di depan Bayu. Sepasang mata indahnya terus menatap pemudanya seakan tidak ingin terpicing walau sesaat.
Jantungnya juga sebenarnya berdebar-debar, menanti momen saat Bayu menembaknya. Namun dia berusaha untuk tetap bersabar. Yang lebih penting jangan sampai dia grogi. Agar ketika Bayu telah menembaknya, dia akan menumpahkan kebahagiaannya tanpa canggung.
"Ayo, Bay! Lu nunggu apa lagi sih?" kata Andra menegur seolah tidak sabar.
"Ayo, Kak Bay, kamu pasti berani!"
"Ayo, Mas Bay! Jangan sampe cewek yang nembak kamu!"
Terdengar Marsha dan Aira berseru yang tidak terlalu keras, memompa keberanian Bayu. Tidak ketinggalan juga Jennie, ikut menyerukan kalimat penyemangat yang senada.
Sedangkan Viola masih saja belum berani bersuara. Tapi senyum manisnya langsung terkembang sebagai apresiasi atas kejadian yang sedang berlangsung.
Bagas juga masih terdiam. Tapi dia juga tampak sedikit tersenyum. Bersamaan hatinya merasa bahagia kalau Michella dan Bayu jadian. Menurutnya mereka memang pasangan yang ideal.
Sementara Raihan, Miko, dan Andra masih saja tersenyum menyaksikan saat-saat Bayu bakal menembak Michella.
★☆★☆
Sementara itu Bayu perlu menetralkan kondisinya yang sedikit nervous. Dipejamkan kedua matanya sejenak, memenangkan perasaannya yang sempat dirundung ketakutan untuk mengungkapkan perasaannya.
Namun baru beberapa detik Bayu memejamkan mata, terdengar Michella berkata bernada merajuk manja.
"Mas Bay! Apa kamu menunggu aku yang nembak kamu?"
Seketika Bayu membuka kedua matanya saat mendengar ucapan Michella barusan. Terus menatap Michella lekat-lekat, langsung pada kedua bola mata gadis itu yang tampak berbinar.
Kemudian, entah keberanian dari mana dia dapatkan atau setan mana yang merasukinya, dengan berani tanpa ragu Bayu menggerakkan kedua tangannya, meraih kedua tangan Michella.
Menggenggam jemari-jemari halus gadis itu dengan lembut, dengan penuh perasaan. Lalu terdengar dia berkata lembut meski terselip sedikit kecanggungan, mengungkapkan isi hatinya.
"Sebenarnya... aku nggak punya keahlian dalam menembak cewek. Karena terus terang... aku belum pernah pacaran...."
"Jadi..., aku mau ngomong apa sama kamu," lanjut Bayu, "aku masih bingung...."
Entah sadar atau tidak Bayu telah berkata 'aku kamu' kepada Michella. Membuat hati gadis itu langsung bertaburan bunga-bunga indah. Hal itu sebagai tanda bahwa Bayu telah siap menerima dirinya.
Mudah-mudahan sebentar lagi Bayu bakal nyatain perasaan pemuda itu padanya,pikirnya.
__ADS_1
Sementara orang-orang yang masih berada di ruangan yang agak luas itu tetap terdiam, tidak ingin bersuara sedikitpun. Seakan tidak ingin mengganggu drama percintaan yang berlangsung di depan mata itu.
"Tapi... aku nggak bisa pungkiri...," kata Bayu selanjutnya, "kalau aku suka sama kamu... sejak pertama kali kita bertemu."
Michella masih saja diam mendengar ucapan Bayu sampai di situ. Seakan dia masih menunggu Bayu berkata lagi. Masih menikmati genggaman tangan Bayu yang begitu lembut penuh perasaan.
"Sorry, Sel, aku nggak tau ngucapin kata-kata yang indah buat ngungkapin perasaan aku ke kamu," Bayu masih saja lanjut dengan makin berani. "Tapi... aku hanya bisa ngucapin kalau aku... memang suka sama kamu...."
Betapa Michella tidak bisa lagi menahan rasa bahagia begitu mendengar pernyataan Bayu kalau pemuda itu memang menyukainya secara terus terang dan berani.
"Aku nggak butuh ucapan-ucapan indah atau semisalnya, Mas Bay," kata Michella bernada lembut sambil masih terus tersenyum. "Yang aku butuhin adalah pernyataan rasa suka kamu ke aku. Itu yang penting buat aku."
"Dan... aku juga," lanjut Michella dengan nada penuh bahagia, "menyukai kamu, Mas Bay...."
"Jadi..., kamu mau jadi pacar aku?" tanya Bayu yang juga tidak bisa menahan rasa bahagianya sambil tersenyum.
"Mau...," sahut Michella sambil mengangguk pasti tanpa ragu.
Ini kali pertama Bayu menembak cewek seumur hidupnya. Namun kali yang pertama ini yang notabene dia belum punya pengalaman, sukses membuatnya begitu amat bahagia yang tiada terkira.
Kali pertama ini dia menembak cewek yang dia sukai. Ternyata gadis yang dia tembak, Michella juga menyukainya, dan langsung menerimanya sebagai pacarnya tanpa pikir-pikir.
Siapakah yang tidak bahagia kalau begitu?
Dan... seolah mendapat keberanian Bayu langsung memeluk Michella dengan erat dengan lembut dengan penuh perasaan kasih dan suka cita.
Michella pun demikian, membalas pelukan Bayu dengan mencurahkan semua rasa bahagianya dalam pelukan itu.
Sementara kebahagiaan yang kedua insan itu rasakan, dapat juga dirasakan oleh semua yang ada di ruangan itu. Terlihat dari senyum mereka yang begitu tulus menyambut hari jadiannya Michella dan Bayu.
Sehingga sebentar saja seluruh ruangan itu langsung dipenuhi oleh suasana kebahagiaan yang begitu tulus begitu syahdu.
★☆★☆
Marsha dan Bagas sudah resmi pacaran. Begitu juga dengan Michella dan Bayu, resmi juga berpacaran pada hari yang sama.
Sekarang, tersisa hubungan antara Viola dengan Raihan. Akankah hubungan mereka dapat tersambung lagi pada hari atau malam ini pula?
"Mas Bay," kata Michella setelah mereka sudah saling melepas pelukan. "Rasanya kebahagiaan kita belum lengkap tanpa nyatuin kembali hubungan antara dua orang yang kita sayangi...."
"Kamu benar, Sel," sambut Bayu sambil masih tersenyum. "Aku berharap malam ini juga hubungan mereka bisa tersambung lagi."
Lalu Michella segera berbalik ke belakang dan langsung menuju ke arah Viola. Sedangkan Bayu juga berbalik dan langsung menghampiri Raihan.
Sementara itu, Viola yang tadinya tampak tersenyum bahagia menyambut sekaligus menyetujui hubungan Michella dengan Bayu, begitu mendengar ucapan Michella dan Bayu tadi, seketika senyumnya hilang.
Kini rasa gugup bercampur rasa malu seketika menyergap dirinya. Sehingga untuk sementara dia hanya bisa terdiam. Tapi diberanikan dirinya untuk melirik Raihan sebentar.
Lalu menatap Michella yang menghampirinya. Terus beralih menoleh pada Marsha, Aira serta Jennie yang ternyata juga tengah menghampirinya.
Sedangkan Raihan tampak tenang saja. Tapi sepertinya dia sudah persiapkan apa yang harus dia lakukan untuk memulai hubungannya lagi dengan Viola yang sempat break.
"Sekarang giliran lu," kata Bayu yang sudah berada di samping kiri Raihan seakan menyuruh.
"Benar, Rai," kata Miko yang berada tidak jauh di samping kanan Raihan. "Sekarang giliran lu untuk nyambung kembali hubungan lu sempat break sama Ola."
"Gue yakin lu udah persiapin semuanya buat menyambut gadis lu 'kan?" kata Andra yang juga ada di dekat situ.
Raihan hanya tersenyum menanggapi ucapan 3 pemuda tampan itu seraya memandang mereka. Lalu kembali menatap ke arah Viola yang sudah dikerubuti oleh 3 gadis cantik yang pasti akan mendukung hubungan mereka.
"Kami udah nemuin kebahagiaan kami masing-masing, La," kata Michella. "Sekarang giliran lu untuk menyambut kebahagiaan lu."
"Lu tenang aja, La," sambung Aira, "nggak ada lagi yang nggak setuju hubungan lu sama Mas Rai."
"Kak Aira benar, La," sambung Marsha tak mau ketinggalan dalam memberi dukungan, "kami semua di sini sepenuhnya ngedukung lu sama Kak Rai...."
Lalu Marsha menoleh pada Jennie dan berkata, "Gitu 'kan, Kak Jenn?"
__ADS_1
"Betul," tanggap Jennie langsung tanpa pikir-pikir, pertanda ikut mendukung sepenuhnya, "nggak ada lagi yang ngehalangi atau menentang hubungan lu sama Raihan, nggak juga aku nggak juga Kak Miko...."
"Semuanya kami di sini ngedukung lu," lanjut Jennie seraya tersenyum.
Mendengar dukungan dan pemberi semangat dari ketiga gadis cantik itu membuat Viola senangnya bukan main. Apalagi mendengar dukungan dari Jennie, kakaknya yang kemarin-kemarin masih menentang hubungannya dengan Raihan. Tapi....
"Kamu tenang saja," kata Jennie seakan mengerti apa yang dipikirkan Viola, "masalah papa sama mama yang masih menentang hubungan kamu sama Raihan, itu urusan aku sama Kak Miko."
"Yang penting sekarang secepatnya kamu balikan sama Raihan," lanjut Jennie.
Michella juga mengatakan kalau masalah perjodohan, tidak perlu Viola pikirkan. Hal itu biar menjadi urusan kakaknya, Andra. Nanti dia yang bakal bicara baik-baik dengan papa dan mama mereka.
Marsha dan Aira juga tidak mau ketinggalan, ikut mengurangi beban pikiran Viola. Mereka mengatakan kalau masalah perjodohan, biar mereka dan Shafira yang bakal membicarakannya dengan Bu Retno, ibunya Raihan.
Tapi....
★☆★☆
"Tapi... aku sudah mutusin Mas Rai," kata Viola bernada pelan bagai mendesah. Kepalanya sedikit tertunduk seakan tidak berani memandang siapa pun, apalagi menatap Raihan.
"Kamu nggak sepenuh hati 'kan mutusin dia?" tanya Jennie tetap meyakinkan dan meneguhkan Viola.
"I... iya sih...," sahut Viola seraya mengangguk pelan.
"Lu harus yakin kalau Raihan bakal nerima kamu kembali," kata Jennie masih memberi semangat.
"Gue udah bilang ama lu kalau Kak Rai nggak nganggap kalian putus, La," sambung Marsha. "Lu harus yakin kalau Kak Rai bakal nerima lu lagi."
Viola mengangkat kepalanya, lalu memandang 3 gadis cantik yang berada di dekatnya. Namun dia belum mengatakan apa-apa seolah masih mikir-mikir atau bisa jadi bingung harus ngapain.
"Udah sana!" suruh Jennie. "Nggak usah mikir-mikir lagi!Pangeranmu udah lama nungguin kamu tuh!"
Lalu Jennie yang diikuti Marsha memboyong Viola agar maju ke depan, ke hadapan Raihan. Sedangkan Raihan, bukan diboyong ke depan, tapi Miko dan Bayu seakan bersepakat mendorong Raihan ke depan.
Sehingga Raihan yang membiarkan saja perbuatan Miko dan Bayu jadi terdorong ke depan, dekat di hadapan Viola yang sudah dilepas oleh Jennie dan Marsha.
Sedangkan kedua gadis itu, setelah itu kembali kepada pasangan mereka masing-masing. Begitu halnya juga dengan Michella dan Aira.
Kini sepasang insan itu, Raihan dan Viola sudah berada hampir tepat di tengah ruangan. Berdiri berhadapan saling berdekatan, cuma berjarak kurang dari 2 langkah.
Raihan terus menatap Viola seakan tidak ingin lepas. Sedangkan Viola kembali tertunduk seakan tidak sanggup menatap mata Raihan.
Lalu....
Dengan perlahan tangan kanan Raihan terangkat. Lalu sebagian jemarinya menyentuh dagu gadis itu, terus mengangkat wajah cantik itu dengan perlahan.
Sedangkan Viola tidak melakukan perlawanan seakan menurut saja. Sehingga sepasang matanya yang berbinar tapi terselip sedikit rasa malu menatap langsung ke bola mata Raihan.
"Takdir sudah nentuin kalau kita memang adalah pasangan yang direstui," kata Raihan bernada lembut sambil terus tersenyum. "Apapun rintangan yang menghalangi, kita pasti bakalan tetap bersatu. Kamu harus percaya itu."
Perlahan kedua tangan Viola terangkat. Lalu menggenggam telapak tangan kanan Raihan dengan erat tapi lembut. Lalu membawanya dalam dekapannya. Sementara sepasang matanya terus menatap Raihan.
"Aku semestinya menyadari secara utuh kalau kamu memeng jodoh aku yang hakiki," kata Viola bernada lembut juga sambil tersenyum manis.
"Begitu pun dengan aku, kamu juga adalah jodoh aku yang sesungguhnya," balas Raihan.
"Ya," kata Viola sambil mengangguk pasti.
"Sekarang... apapun yang bakal terjadi, nggak ada lagi kata putus di antara kita," kata Raihan seolah mengucap ikrar. "OK!"
"Iya, aku janji...."
Kemudian Viola langsung memeluk Raihan dengan erat, dengan penuh perasaan. Menumpahkan semua kerinduannya selama ini, mencurahkan semua rasa bahagianya yang sempat terkandas... dalam pelukan itu.
Sedangkan Raihan juga balas memeluk gadis pujaan hatinya itu dengan penuh kasih, penuh cinta.
Rasa rindu yang selama ini terkekang dalam diri mereka, telah terbayar lunas pada pertemuan kembali mereka itu.
__ADS_1
Ya, secara otomatis Raihan dan Viola telah resmi balikan. Tanpa ada rintangan, tanpa ada seorang pun yang mencegah. Dan semua orang yang ada di situ merestui.
★☆★☆★