Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 21 MENDAPAT MASALAH DI PARKIRAN MOTOR


__ADS_3

Selesai mengadakan rapat Raihan dan Bayu tidak langsung pulang ke rumah. Kedua pemuda yang rajin ibadah itu shalat magrib dulu di mushollah yang ada di lingkungan perusahaan.


Sedangkan Shafira dan Aira memutuskan langsung pulang ke rumah mereka masing-masing begitu selesai rapat.


Perlu diketahui bahwa sekarang Raihan dan Bayu tidak lagi tinggal di kos-kosan. Mereka sekarang sudah tinggal di rumah yang cukup besar dan megah.


Shafira ternyata tidak tanggung-tanggung dalam membantu adiknya. Di samping membantu mengelola perusahaan adiknya itu, juga membantu dalam menyediakan fasilitas yang dibutuhkan Raihan.


Seperti membelikan rumah yang pantas buat adiknya. Karena adiknya sekarang bukan hanya seorang CEO, tapi juga seorang pemilik perusahaan. Dia harus memiliki rumah yang pantas buat ditinggali, bukan tinggal di kos-kosan.


Sedangkan Raihan, dibelikan rumah tidak terlalu masalah baginya. Tapi rumah yang dibelikan kakaknya itu terlalu besar dan terlalu mewah baginya. Raihan maunya rumah yang sederhana saja. Yang penting cukup buat dia tinggal dan Bayu.


Namun karena Shafira sudah membelikan rumah tersebut, apa boleh buat. Mau tidak mau Raihan harus menerima pemberian kakaknya itu.


Tidak hanya rumah saja, Shafira membelikan sekalian mobil. Tidak hanya membelikan satu, melainkan sekalian 2. Tentunya yang satu buat Raihan, sedangkan yang satunya buat Bayu.


Shafira jelas tidak bisa dan tidak akan melupakan kebaikan Bayu. Bahkan seluruh keluarganya seharusnya tidak boleh melupakan kebaikan pemuda itu. Dialah yang terus mendampingi Raihan dari kecil hingga sekarang.


Shafira melihat bahwa Bayu bukan saja adik sepupu yang baik dan penurut bagi Raihan. Melainkan juga sahabat sejati bagi Raihan.


Bagi Shafira sebenarnya fasilitas berupa mobil yang diberikan kepada Bayu menurutnya kurang. Dia sebenarnya hendak membelikan juga rumah kepada pemuda tampan itu.


Pasalnya, berkat perusahaan ayahnya Bayu yang sudah menjadi milik Pak Baskoro, perusahaan Pak Baskoro telah sukses besar, sehingga menjadi salah satu perusahaan raksasa di kota ini. Sedangkan Pak Baskoro sendiri sudah menjadi salah satu pengusaha terkenal.


Namun tentu saja Bayu yang memiliki karakter sederhana menolaknya. Dibelikan mobil saja oleh gadis cantik berusia 27 tahun itu dia sebenarnya menolaknya juga. Apalagi mau dibelikan rumah segala.


Tapi karena Raihan memaksa adik sepupunya itu dan memberikan kata-kata mutiara kepadanya, akhirnya Bayu mau juga dibelikan mobil.


Akan tetapi, meskipun Raihan dan Bayu punya mobil, tetap saja mereka kalau ke kantor memakai motor. Hal itu dikarenakan mereka berdua masih menyamar sebagai karyawan OB.


Apa jadinya jikalau seorang karyawan OB pergi ke kantor dengan memakai mobil? Apalagi mobil milik mereka itu adalah mobil mewah dan mahal.


Tentu, bukan saja karyawan OB lainnya akan menjadi heboh, para karyawan staf juga ikut menjadi geger. Tentu mereka semua akan mencurigai yang tidak-tidak terhadap Raihan maupun Bayu.

__ADS_1


Karyawan staf saja yang memiliki mobil cuma dewan direksi dan sebagian manajer. Sebagian besar staf lainnya hanya memiliki motor.


Sebenarnya Raihan dan Bayu selama menjadi karyawan OB tidaklah berjalan dengan mulus begitu saja. Berbagai macam gangguan sudah mereka terima, baik yang kecil atau sepele hingga yang besar. Bahkan ada yang sengaja cari gara-gara dengan mereka hingga main fisik.


Nah, kalau seandainya Raihan dan Bayu pergi ke kantor dengan menggunakan mobil mereka, tentu orang-orang yang selalu cari perkara dengan mereka akan menjadikan momen itu untuk menindas mereka.


Orang-orang itu tentu akan menuduh mereka berbuat jahat. Terus melaporkan hal itu kepada atasan agar mereka dipecat.


Hal-hal semacam itu sudah diperhitungkan oleh Raihan dan Bayu. Itulah makanya mereka tidak ingin berbuat yang aneh-aneh dulu selama dalam penyamaran. Mereka tetap bersabar saja meski gangguan itu cukup menyakitkan.


★☆★☆


Selesai shalat magrib, Raihan dan Bayu berniat langsung pulang. Dengan melangkah sedikit cepat mereka berjalan menuju parkiran motor. Tentu mereka sambil saling berbincang-bincang.


Begitu sudah tiba di parkiran motor, tidak ada lagi motor karyawan yang berjejeran di situ selain motor mereka.


Tanpa banyak pikir, tanpa melihat motor masing-masing aman atau tidak, Raihan maupun Bayu langsung mengenakan helm, memasukkan kunci kontak di colokan, lalu bersiap hendak naik di atas jok.


Namun, baru saja Raihan naik di jok motornya, baru saja Bayu menaikkan standar satunya, seketika mereka merandek. Mereka merasakan aneh pada ban motor mereka.


"******!" umpat Bayu agak keras dengan amat kesal.


"Ya salam...!" keluh Raihan bernada kesal.


Dengan tatapan yang cukup menyedihkan bercampur dengan amarah mereka terus saja menatap ban motor mereka. Ada apakah gerangan dengan ban motor mereka?


Rupanya ban motor mereka telah kempis. Bukan saja ban belakang yang kempis, bahkan ban depan ikut-ikutan kempis juga.


Entah sebab kempisnya cuma karena kurang angin atau bocor mereka tidak tahu pasti. Tidak tampak juga dari luaran kalau kedua ban motor mereka bocor.


Namun kuat dugaan mereka kalau ban motor mereka sengaja dikempiskan. Siapa yang punya ulah, mereka belum bisa menebak.


Yang pasti yang melakukan perbuatan keterlaluan tersebut besar kemungkinan mereka-mereka yang tidak senang terhadap kedua pemuda itu.

__ADS_1


"Ini sudah keterlaluan, Bay," kata Raihan seperti menekan amarahnya.


"Kayaknya kita mesti beri pelajaran kepada mereka, Rai," kata Bayu bernada dingin.


"Kamu bisa perkirakan siapa yang melakukan perbuatan ini, Bay?" tanya Raihan selepas memandang ban motornya yang kempis.


"Aku mencurigai 4 orang yang cari-cari masalah dengan kita beberapa hari ini," sahut Bayu setengah yakin.


"Empat orang karyawan OB itu maksudmu?" kata Raihan mencocokkan.


"Siapa lagi kalau bukan mereka," kata Bayu.


"Kalau memang benar mereka, perbuatan mereka ini kemungkinan hanyalah jebakan," kata Raihan menganalisa. "Tindakan mereka yang utama tentunya akan menganiaya kita di sini...."


"Kali ini aku nggak bisa tinggal dia lagi, Rai," kata Bayu bernada dingin penuh kegeraman. "Aku mesti beri mereka pelajaran...."


"Oh, rupanya kalian udah mau jadi jagoan...."


Tiba-tiba terdengar suara bernada kalem dari samping mereka. Suara itu tidak terlalu keras namun cukup jelas bagi telinga Raihan dan Bayu.


Maka seketika mereka menoleh dengan cepat ke arah samping, Raihan samping kanannya, sedangkan Bayu samping kirinya.


Di situ, sekitar 5-6 meter dari tempat mereka, rupanya telah berdiri 4 orang lelaki yang rata-rata berusia 30-an ke atas. Tampang mereka begitu bengis, sorotan mata mereka memancarkan permusuhan yang sangat mana kala menatap Raihan dan Bayu.


Tidak butuh waktu lama Raihan dan Bayu langsung mengetahui siapa keempat lelaki bengis itu. Keempat lelaki itulah yang barusan mereka bicarakan. Yang tidak lain tidak bukan adalah empat karyawan OB.


Seketika saja Raihan maupun Bayu sudah mencium bau penindasan di sini, yang akan disebarkan oleh keempat lelaki itu.


Berpikir akan hal itu Raihan maupun Bayu segera bersiaga. Keempat lelaki itu tidak menutup kemungkinan akan main fisik terhadap mereka.


Keempat lelaki itu melangkah perlahan menghampiri Raihan dan Bayu. Sikap mereka begitu menyebalkan, penuh peremehan terhadap Raihan dan Bayu.


Namun Raihan maupun Bayu tetap tenang di tempatnya. Mereka tidak melakukan apa-apa selain berdiri menghadap ke arah keempat lelaki bringas itu yang sebentar lagi sampai di hadapan mereka.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2