Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 52 MAAFKAN AKU NGGAK MENJADI KAKAK YANG BAIK


__ADS_3

Sementara itu di malam yang sama....


Gadis cantik itu, Viola Amanda, seperti telah disinggung pada bab sebelumnya kalau dia juga selama beberapa hari ini tidak keluar rumah. Otomatis pula dia tidak masuk kampus, jelas.


Gadis itu lebih banyak mengurung diri di dalam kamarnya. Menangisi nasibnya di dalam kamarnya. Pula hampir tidak berinteraksi dengan orang seisi rumah, apalagi ngobrol.


Mamanya sebenarnya merasa kasihan juga dengan keadaannya. Namun peraturan keluarga ini begitu keras. Meskipun putrinya tapi harus pula menjalankan peraturan yang sudah dibuat.


Setelah sekian lama Viola mengurung diri di dalam kamar, barulah malam ini dia keluar kamar. Saat ini dia masih duduk diam di tempatnya, di sebuah kursi panjang di taman kecil di belalang rumahnya. Tanpa perduli angin dingin nan lembut menerpa wajah cantiknya.


Entah sudah berapa lama Viola duduk di situ. Yang jelas kepalanya yang sedikit mendongak ke langit tetap diam tak bergerak. Sepasang matanya masih saja menatap langit yang bertaburan bintang-bintang.


Namun sepertinya sepasang mata indah itu tidak fokus menatap yang dilihat. Sorotannya begitu kosong, begitu hampa. Sinar matanya juga tampak redup, seredup nasibnya yang sungguh menyedihkan.


Bayangkan saja mulutnya dipaksa mengucapkan kalimat yang bertentangan dengan hatinya. Gadis itu dipaksa mengucapkan kata putus kepada pemuda yang begitu baik padanya. Dipaksa mengatakan tidak cinta kepada kekasih yang masih dan amat dicintainya.


Sungguh menyedihkan!


Ya..., saat ini gadis itu masih dirundung kesedihan yang mendalam. Tampak dari wajah cantiknya terselimut duka lara yang tiada tara.


Tanpa terasa air mata bening bergulir pelan lagi di pipi halusnya. Tapi tidak terdengar lagi tangisnya seakan suara tangisnya sudah hilang. Yang tersisa cuma air mata....


Ya, dia masih punya stok air mata untuk mengungkapkan nasibnya yang malang. Meski entah stok air mata itu masih tersisa berapa.


Pilu, duka lara, kecewa, menyesal, berbagai perasaan bercampur jadi satu dalam tetesan air matanya kini.


"Akankah kita berjodoh, Mas Rai?" desahnya begitu pelan, lirih, seakan dia saja yang boleh mendengar. "Kenapa nasib cinta kita kayak gini?"


Suaranya terdengar begitu sedih, begitu pedih.


Gadis itu hanya bisa mengungkapkan keluh kesah dan keresahannya kepada kesunyian malam. Kepada manusia, entah pada siapa?


Biasanya dia curhat sama Marsha. Namun sahabatnya itu tidak bisa lagi dia hubungi karena simcard lamanya sekarang sudah diganti. Jadi simcard Viola pada HP-nya sekarang simcard baru. Nomor kontak dalam HP-nya nomor kontak yang sudah disetting oleh orang tuanya.


Sedangkan di kampus barunya yang sekarang dia belum punya teman yang cocok dengannya. Dia belum menemukan teman kampus yang seperti Marsha.

__ADS_1


Kenapa tinggal dengan orang tuanya nasibnya begitu menyedihkan? Segala apa yang hendak dia perbuat sudah disetel oleh papa dan mamanya.


Kenapa mereka tidak mau mengerti kalau dia punya jalan sendiri dalam menentukan hidupnya? Kenapa kehidupan cintanya harus diatur oleh papa mamanya? Kenapa orang yang dia cintai harus ditentukan?


Begitukah kehidupan orang kaya?


★☆★☆


Sementara itu Miko yang datang dari arah belakang melangkah pelan mendekati adiknya. Di lengan kanannya tercantel jaket tebal. Begitu satu meter lagi dia sampai di belakang Viola, pemuda tampan itu berhenti.


Sejenak dia menatap Viola yang duduk membelakanginya itu. Hatinya sempat ragu, apakah menemani Viola duduk dan ngobrol atau tidak.


Masalahnya, Viola sampai saat ini seperti tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Apalagi dengan dirinya yang dulu pernah membenci Viola lantaran penampilan gadis cantik itu seperti laki-laki.


Itu dulu, sudah berlalu. Sekarang dia tidak membencinya lagi, sama sekali. Bahkan dia ikut bersedih akan nasib cinta sang adik bungsu.


Adapun kalau Viola tidak mau berbicara dengan dirinya karena membencinya misalkan, adalah hal yang wajar. Miko dapat memakluminya.


Namun....


Sedangkan Viola tetap tak bergeming di kursinya. Seolah tidak menyadari kehadiran Miko. Dia tetap diam saja sambil masih menatap langit.


Tapi tak lama, setelah memantapkan niatnya, Miko kembali melangkah dan berhenti di samping kiri Viola agak ke depan sedikit.


"Aku ngeganggu kamu kalau ikut gabung di sini?" sapa Miko bernada lembut.


Viola tetap diam, tetap membisu. Kepalanya juga pun sama sekali tidak bergerak meski hanya sekedar menengok.


Miko tidak marah atau tersinggung akan sikap Viola seperti itu. Dia malah tersenyum kecil.


"Boleh aku ikut gabung di situ?" kata Miko lagi setelah merasa Viola tidak akan menjawab pertanyaannya.


Barulah kali ini gadis cantik yang bagai patung hidup itu bergerak. Pertama, setelah tersadar dia buru-buru melap air matanya.


Lalu dia menoleh sedikit dengan malas di samping kirinya. Kemudian menggeser duduknya dengan malas pula hingga di ujung kursi sebelah kanan.

__ADS_1


Perbuatannya itu jelas sebagai isyarat kalau Miko boleh duduk di sampingnya tanpa harus berbicara. Dan Miko langsung paham akan isyarat itu. Maka segera dia duduk di samping adiknya tanpa pake lama.


Begitu telah duduk di samping Viola, Miko langsung menyematkan jaket yang dia bawa ke tubuh Viola tanpa minta persetujuan. Tapi Viola membiarkan saja seolah menyetujuinya.


"Kamu masih sakit 'kan? Masih demam 'kan?" kata Miko bernada lembut penuh kasih sayang setelah itu. "Kenapa keluar nggak pake jaket? Apa kamu doyan sakit ya?"


Mendengar ucapan lembut penuh kasih sayang itu membuat hati Viola sedikit tergerak. Dengan segera dia menatap Miko lekat-lekat.


Ekspresi wajahnya tampak begitu heran. Sorot matanya jelas memancarkan kecurigaan. Apa maksud pemuda itu?


Dulu Miko adalah orang yang paling keras membencinya setelah papanya. Dulu pemuda itu berkarakter angkuh dan sombong.


Tapi sekarang, kenapa dia bersikap seperti orang yang paling menyayanginya dan perduli akan masalahnya? Kenapa sikapnya sudah tidak angkuh dan sombong lagi?


Bahkan dengan ekspresi wajahnya yang lepas seperti itu, sedikit memperjelas bahwa di balik wajah tampannya itu tersembunyi kesedihan dan duka yang mendalam.


"Kenapa kamu menatapku kayak gitu, Ola?" tanya Miko seperti jengah, tapi bibirnya tersenyum. "Apa... aku enak dipandang ya?"


"Apa maksudmu bersikap kayak gitu?" tanya Viola bernada ketus masih menatap Miko.


"Bersikap kayak gitu gimana?" tanya Miko seolah tidak merasa.


"Kamu tiba-tiba kayak perduli dan perhatian gitu padaku," ungkap Viola. "Padahal... dulu kamu yang paling benci ama aku setelah papa."


"Kamu dulu tu sombong banget," lanjut Viola. "Sekarang... kok kamu kayak masang muka sedih gitu? Maksudmu apa?"


"Apa aku nggak boleh berubah ya?" kata Miko bernada santai seakan bercanda.


"Baguslah kalau kamu mau berubah," kata Viola tetap ketus setelah kembali memandang langit. "Hanya... aku ngerasa aneh aja...."


Perlahan Miko menggerakkan kepalanya, dari memandang Viola beralih menatap langit seperti yang Viola perbuat. Lalu berkata bernada mendesah penuh ketulusan bercampur penyesalan.


"Maafkan aku... selama ini nggak menjadi kakak yang baik buat kamu...."


Tidak bisa tidak Viola kembali menatap kakak laki-lakinya lekat-lekat. Ucapan Miko dia rasa begitu tulus. Tapi juga sekaligus mengandung penyesalan. Menyesal atas apa yang selama ini dia perbuat kepada Viola.

__ADS_1


★☆★☆


__ADS_2