Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 72 BAGAS, MANTAN MICHELLA YANG TERNYATA MENYUKAI MARSHA


__ADS_3

"Bagas...!"


Terdengar suara Michella setengah berseru menyebut nama pemuda tampan berambut sedikit panjang itu. Nada suaranya seperti marah, dan tatapan mata gadis itu pula seperti menyorotkan kebencian.


Sedangkan Viola cuma sedikit terkejut atas kehadiran pemuda dingin itu yang tanpa diundang. Dan tentu saja merasa heran.


Viola tidak terlalu mengenal pemuda pendiam yang dipanggil Bagas itu. Tapi dia tahu kalau Bagas pernah pacaran dengan Michella, dan sekarang sudah putus. Atau lebih tepatnya Bagas yang mutusin Michella.


Dengan kata lain Bagas adalah mantannya Michella.


Apa maksud Bagas menemui mereka di taman ini, Viola benar-benar tidak tahu dan tidak mau menebak-nebak.


Apakah Bagas ingin balikan lagi dengan Michella atau punya maksud lain, Viola juga tidak bisa menentukan.


Sementara Bagas, si cowok cool, begitu tiba di tempat itu sejenak menatap Michella agak lama. Tatapan matanya seperti datar saja. Namun mengandung kesedihan dan penyesalan.


Sedangkan Michella, memang beberapa saat dia menatap Bagas dengan sorotan kebencian dan amarah. Tapi saat mengingat kalau pemuda itu sudah bukan apa-apanya lagi alias cuma mantan, kebencian dan amarahnya seketika mengendur.


Setelah itu sorot matanya kembali seperti biasa. Lebih tepatnya berusaha untuk biasa dan bersikap biasa.


Dia pikir tidak ada artinya lagi membenci dan marah terhadap Bagas. Karena hal itu hanyalah perbuatan sia-sia. Menganggap Bagas seperti orang lain itu lebih baik, kalau tidak mau dianggap teman.


Itupun dia dan Bagas putus sudah cukup lama, kurang lebih sudah setahun. Dan Michella boleh dibilang sudah melupakan pemuda itu. Tadi itu dia hanya sedikit kaget saja karena Bagas datang dengan tiba-tiba.


"Gas! Lu ada perlu sama siapa ya?" tanya Viola menyapa sekaligus mewakili antara dia dan Michella berbicara dengan Bagas.


Karena dia melihat Michella sepertinya enggan atau tidak mau bicara dengan Bagas. Apalagi saat ini gadis itu memandang ke arah lain. Meski dia melihat ekspresi wajah cantik Michella tampak biasa saja.


"Sama... Sela?" lanjut Viola bernada hati-hati sambil melirik pada Michella.


Bagas sedikit terkejut mendengar Viola berbicara padanya, seakan baru menyadari kalau Viola juga ada di situ. Memandang gadis itu sebentar, lalu kembali memandang Michella.


"Sel, gue boleh ngomong sama Ola nggak?" tanya Bagas hati-hati seakan takut menyinggung perasaan Michella.


Biar bagaimanapun dia tetap merasa bersalah atas putusnya hubungan asmara mereka di masa lalu. Karena yang menjadi sebab mereka putus adalah dia sendiri.


"Lu tinggal ngomong aja kali!" kata Michella sedikit datar dan ketus. "Kenapa mesti minta ijin ama gue segala?"


Bagas menelan salivanya mendengar ucapan Michella barusan. Masih ditatapnya gadis itu selama 5 detik. Lalu beralih memandang Viola, terus berkata bernada tanya.


"Lu... kenal ama Sasa 'kan, La?"


"Sasa... siapa ya?!" tanya Viola ingin kejelasan.


Dia punya teman akrab yang bernama Marsha dengan panggilan Sasa. Tapi apakah itu yang Bagas maksudkan, Viola belum bisa memaksudkan. Sebab di kampus ini juga ada cewek yang panggilannya juga Sasa.


Sedangkan Michella tidak ada reaksi berarti saat Bagas berbicara kepada Viola, dan tidak pula dengan pertanyaan cowok cool itu.


"Marsha Evelyne Baskoro," kata Bagas memperjelas, bahkan menyebut namanya dengan lengkap.


Michella hanya melirik sekilas saat Bagas menyebut nama itu. Dia tahu Marsha juga memang teman akrab Viola. Hanya saja dia belum pernah bertemu dengan gadis itu selama berteman dengan Viola.


Juga belum tahu kalau Marsha itu adalah kakaknya Raihan. Karena Viola belum pernah menyebut-nyebut nama Raihan pada Michella sebelumnya.


★☆★☆

__ADS_1


"O... Sasa itu yang lu maksud," kata Viola sudah tanggap. "Iya gue kenal. Teman akrab gue malah."


"Emangnya kenapa dengan Sasa?" lanjut Viola bertanya. "Lu ada perlu sama dia? Atau... ada yang pingin lu sampein sama dia melalui gue?"


Bagas tidak lantas menjawab pertanyaan Viola. Pemuda pendiam itu terdiam sejenak sambil menoleh pada Michella. Seakan dia ragu hendak mengutarakan sesuatu karena ada Michella.


Atau bisa saja dengan sikapnya seperti itu seakan ingin minta izin pada Michella untuk mengutarakan sesuatu mengenai Marsha.


"Lu kalau mau ngomong, ngomong aja!" tegur Michella seolah tahu arti pandangan Bagas kepadanya. "Nggak usah pake minta ijin segala ama gue. Kita 'kan udah nggak ada apa-apa lagi. Lu bebas ngomongin cewek mana pun."


Saat berbicara, nada suara Michella terdengar biasa saja, tanpa adanya tekanan sedikitpun. Sepertinya Michella sudah benar-benar tidak ada rasa lagi dengan Bagas.


Sedangkan Bagas, mendengar ucapan Michella barusan menjadi lega. Lega karena ternyata Michella sudah bisa melupakan dirinya. Itu artinya dia mau pacaran dengan cewek mana pun Michella tidak bakalan marah.


"Lu mau ngomong apa sih, Gas?" tanya Viola seakan tidak sabaran. "Kenapa lu nanyain tentang Sasa?"


Bagas kembali beralih memandang Viola setelah mendengar gadis cantik itu bertanya. Lalu dia berkata bernada tanya seakan ingin kejelasan.


"Bener lu teman akrabnya Sasa?"


"Iya benar," kata Viola meyakinkan. "Masa' gue bo'ongin lu?"


"Eh tunggu!" lanjut Viola menyadari akan sesuatu. "Lu bisa tau nama lengkap Sasa dari mana? Lu kenal juga sama dia?"


"Sebenarnya...," sahut Bagas setelah beberapa detik terdiam, "Sasa teman SMA gue dulu...."


"Maksudnya... Sasa pacar lu waktu di SMA dulu..., gitu?" tanya Viola menebak.


Mendengar pertanyaan itu Michella tetap tenang-tenang saja, seakan dia tidak terpengaruh. Sedangkan Viola juga tidak bermaksud menyinggung Michella.


"Nggak..., nggak kayak gitu," bantah Bagas cepat yang memang berkata jujur. "Gue belum pernah pacaran ama dia."


"La, lu bisa pertemuin gue dengan Sasa nggak? Secara... lu 'kan teman akrabnya."


Sambil berkata demikian, Bagas sesekali melirik Michella. Sepertinya pemuda itu masih sungkan mengutarakan maksudnya yang sebenarnya karena ada Michella.


Sedangkan Michella, seakan mengetahui akan karakter Bagas, seketika dia berdiri. Terus berkata pada Viola.


"La, gue masuk kelas duluan ya."


Tanpa menunggu persetujuan Viola, gadis itu langsung melangkah tinggalkan tempat itu. Membuat Viola seperti merasa tidak enak, terus menegurnya dengan maksud mencegah Michella pergi.


"Lu nggak nungguin gue dulu, Sel?"


"Cowok itu nggak bakalan leluasa ngomong kalau masih ada gue," sahut Michella santai sambil terus berjalan.


Viola hendak mencegat Michella lagi. Namun keburu Bagas sudah berkata lagi seakan mendesaknya.


"La! Bisa nggak lu pertemuin gue sama Sasa?"


Viola tidak segera menjawab pertanyaan Bagas. Dia memandang sejenak kepergian Michella yang berjalan cukup cepat. Dan sekarang gadis itu sudah cukup jauh dari tempat ini.


★☆★☆


Setelah puas memandang Michella yang telah pergi, lalu Viola kembali memandang Bagas. Terus berkata tidak menjawab pertanyaan Bagas.

__ADS_1


"Sebenarnya... maksud lu pingin ketemuan sama Sasa apaan sih? Lu suka sama dia?"


Bagas tidak lantas menjawab pertanyaan Viola barusan. Sejenak dia memandang Michella yang sudah semakin jauh. Terus kembali beralih pada Viola dan berkata bernada meminta.


"Boleh gue duduk?"


"Oh silahkan!" kata Viola mempersilahkan sambil menggeser duduknya ke sebelah kanan kursi.


Tanpa disuruh dua kali Bagas langsung duduk di sebelah kiri Viola. Tepatnya duduk hampir di ujung kursi sebelah kiri.


"Dulu... waktu kami masih di SMA," tutur Bagas mulai bebas bercerita, "gue emang suka sama Sasa. Hanya saja...."


"Hanya saja lu malu nyatain kalau lu suka sama Sasa," tebak Viola cepat memotong ucapan Bagas. "Gitu 'kan?"


"Gue bukan cuma malu, La," kata Bagas mengakui, "tapi gue takut nyatain perasaan gue sama dia waktu itu."


Meski Bagas berkata tampak seperti datar saja. Namun ucapannya mengandung kesedihan dan pengungkapan rasa kecewa. Mungkin dia sedih dan kecewa karena dia tidak berani menyatakan perasaannya pada Marsha.


"Apa karena Sasa udah punya pacar waktu itu?" tanya Viola seolah menebak.


Padahal sebenarnya dia tahu kalau Marsha belum pernah berpacaran. Karena dia tahu type cowok yang disukai Marsha adalah type cowok yang sedikit unik. Ya... kurang lebih seperti karakter Bagas ini.


Dan Michella juga mempunyai selera yang tidak jauh beda dengan Marsha, sama-sama menyukai cowok cool. Pantas saja, setelah putus dari Bagas, dia langsung menyukai Bayu.


Viola bertanya demikian pada Bagas, tidak lain hanya untuk mengetes sampai di mana kejujuran Bagas.


"Sepanjang yang gue tahu, Sasa belum pernah punya pacar," sahut Bagas berkata jujur. "Gue memang sering ngikutin berita tentang dia...."


"Sampe sekarang?" tanya Viola ingin tahu.


"Iya, sampe sekarang," sahut Bagas. "Cuman... ketika dia kuliah dia luar negeri gue nggak bisa ngapdate berita tentang dia. Barulah gue bisa ngikutin lagi setelah dia pulang kembali ke Indo."


"Berarti sampe sekarang lu masih suka sama Sasa?" tanya Viola ingin memastikan.


"Gue memang masih suka sama Sasa sampe sekarang...," ungkap Bagas.


Lalu Bagas menuturkan kalau dia akan tetap menyukai Marsha selamanya. Sampai pun dia pernah berpacaran dengan Michella, Bagas tetap masih menyukai Marsha.


Itulah makanya kenapa dia memutuskan Michella. Dan memang lebih baik dia memutuskan Michella karena pikirannya selalu tertuju pada Marsha.


"Itulah makanya gue minta tolong ama lu buat dipertemuin sama Sasa," kata Bagas selanjutnya.


"Lu mau nembak dia?" tebak Viola.


"Kayaknya gitu sih," kata Bagas seperti malu-malu. "Mumpung dia masih kosong sampe sekarang."


"Lu udah tau kampusnya di mana 'kan? Lu temuin aja dia di situ!" kata Viola menganjurkan. "Atau di rumahnya kek, atau di resto kakaknya kek. Dia seringnya di situ kalau udah pulang dari kampus...."


"Iya juga ya," kata Bagas seperti terbetik sebuah ide, "gue temuin di resto Pak Raihan aja kali ya?! Pak Raihan 'kan seorang pengusaha muda yang baik."


"Iya, gitu aja," kata Viola menyetujui ide Bagas itu.


"Tapi...," kata Bagas meragu.


Sedikit banyak Viola sudah mengerti karakter yang seperti bagaimana seorang Bagas ini. Maka dia mengusulkan biar dia yang menyampaikan perasaan Bagas kepada Marsha. Tapi Bagas harus hadir di situ.

__ADS_1


Tanpa banyak pertimbangan Bagas langsung setuju. Dan menyerahkan kepada Viola, kapan waktu pelaksanaannya. Dia tinggal setuju saja dan melaksanakan sesuai yang direncanakan Viola.


★☆★☆★


__ADS_2