
Sudah sebulan lebih ini, Raihan maupun Bayu belum dapat kerjaan yang tetap. Terhitung mulai dari waktu dipecatnya mereka dari kafe tempat mereka kerja dulu.
Hidup di Jakarta, kalau tidak ada kenalan memang tidak mudah untuk mencari kerjaan. Kenalan baik mereka satu-satunya adalah Mas Herman itu. Namun dia juga tidak bisa banyak membatu.
Ditambah lagi di Jakarta ini mereka belum ada setengah tahun. Jelas mereka belum banyak tahu tentang Jakarta.
Sementara kedua pemuda kampung itu cuma punya ijazah SMA. Jelas tidak banyak opsi bagi mereka dalam mencari lapangan pekerjaan dengan ijazah SMA selain karyawan kafe, OB, atau yang sederajat dengan pekerjaan seperti itu.
Dikarenakan sebab-sebab tersebut, mereka belum juga mendapatkan pekerjaan yang tetap hingga sekarang.
Pekerjaan yang bisa menopang hidup mereka untuk sementara adalah menjadi ojol. Pekerjaan yang tidak terlalu disenangi, namun apa boleh buat harus dijalani.
Bagi Raihan, mengantar orang ataupun barang ke tempat tujuan tidak jadi masalah. Semuanya disikat olehnya.
Sedangkan Bayu lebih senang mengantar benda mati daripada benda hidup. Artinya dia cuma mengantar pesanan makanan, barang atau paket. Dia tidak mau mengantar orang, entah apa alasannya.
Suatu ketika Bayu punya orderan mengantar paket makanan restoran mewah nan mahal ke sebuah perusahaan elit. Orderan itu berjumlah 4 paket.
Makanan restoran itu perpaketnya seharga Rp. 300.000-an lebih. Jadi, kalau 4 paket pelanggannya harus membayar dia Rp. 1.300.000-an. Ditambah ongkos pengantaran paket tersebut ke tempat tujuan.
Adapun orang yang memesan paket makanan restoran itu bernama Karin Dianita. Sebelumnya Bayu tidak tahu siapa itu Karin Dianita. Dia hanya tahu mengantar paket ke alamat sesuai yang diberikan oleh si pemesan.
Bayu tidak pernah berpikir kalau pelanggan yang memesan orderan yang cukup fantastis itu adalah orang yang pernah dia jumpai.
Saat ini pemuda berkulit coklat itu tengah menunggu pelanggannya mengambil pesanannya di ruang tunggu atau ruang lobby. Sambil menunggu si pelanggan datang mengambil pesanan, Bayu menyempatkan membaca sebuah buku yang cukup tebal.
Sedangkan paket makanan yang terbungkus dalam kresek ditaruh di atas meja di depannya.
Sementara itu seorang gadis cantik berblazer biru cerah tengah melangkah sedikit cepat menuju ruang lobby. Dialah Karin, sekretaris sekaligus asisten Jennie, orang yang memesan makanan mahal itu.
Begitu 4 meter lagi dia sampai di kursi di mana Bayu menunggu, Karin seketika merandek. Ditatapnya Bayu yang masih merunduk membaca buku sejenak. Tapi tak lama dia segera tahu siapa yang mengantar pesanannya.
Maka, bertemu dengan pemuda itu kembali membuat Karin teringat lagi saat pemuda kampung itu menabraknya di depan kafe hingga hampir jatuh.
Sebenarnya Karin masih dendam dan sakit hati kepada Bayu atas peristiwa tersebut. Rasa sakit hatinya belum terobati meski Bayu telah dipecat dari kafe milik Pak Darmawan.
Maka segera terbetik di dalam benaknya rencana tengil untuk mengerjai pemuda itu. Lalu setelah dirasa sudah menyusun secara baik rencananya itu dalam benaknya, Karin melangkah lagi menghampiri Bayu.
Sementara Bayu belum pula menyadari kehadiran Karin hingga gadis imut itu berada di dekatnya dan menegurnya.
"Oh, lu ya yang ngantar pesanan gue?"
Bayu segera mengangkat kepala terus memandang gadis cantik di depannya. Benaknya langsung mencerna kalau Karin adalah orang yang memesan orderan makanan yang di letakkan di atas meja ini.
Tapi belum ngeh kalau gadis itu pernah bertabrakan dengan dia di depan kafe tempat kerjanya dulu.
Segera dimasukkan bukunya kembali di dalam tasnya. Lalu fokus menghadapi pelanggannya tanpa berpikir macam-macam.
"Dengan Mbak Karin Dianita ya?" tanya Bayu setelah melihat WA di HP-nya orang yang memesan orderan.
"Ya, benar," sahut Karin bernada datar bergaya elegan berpadu dengan sikap jaim.
__ADS_1
Lalu Bayu mengeluarkan bill harga makanan itu, terus menyerahkan kepada Karin yang menatapnya dengan sorotan aneh.
"Lu nggak inget ama gue lagi ya, orang yang lu tabrak di depan kafe?" tanya Karin masih datar bercampur ketus bergaya jaim.
Bayu tidak lantas menjawab pertanyaan Karin. Sejenak ditatapnya gadis cantik itu agak lama. Terus koneksi pikirannya langsung mengingat kalau dia pernah bertemu dengan Karin dan tentang apa yang dikatakan gadis itu.
Seketika hati Bayu langsung merasa tidak enak. Dari gelagat yang ditampakkan Karin, kuat dugaan Bayu kalau gadis itu akan melakukan penindasan lagi.
Peristiwa tabrakan di depan kafe merupakan salah satu sebab terbesar dia dan Raihan di keluarkan dari kafe. Karena ternyata 2 gadis yang bertabrakan dengan mereka adalah direktur dan asistennya.
Sungguh dia dan Raihan tidak menyangka akan hal itu. Dan lebih tidak menyangka lagi kalau peristiwa tabrakan itu dijadikan senjata oleh sang direktur untuk menindas mereka.
★☆★☆
Sekarang sang asisten direktur sudah berhadapan dengannya. Dan besar kemungkinan gadis itu akan melakukan sesuatu yang pasti akan merugikannya.
"Maaf, Mbak, bukan saya menabrak Mbaknya, tapi kita saling bertabrakan," kata Bayu hati-hati meralat tuduhan Karin barusan.
"Saling tabrakan kata lu?!" sengit Karin masih menjaga sikap jaimnya. "Napa bisa gue terlempar kalau gitu?"
"Maaf, Mbak, saya harap Mbak tidak mengungkit masalah itu lagi," kata Bayu tidak ingin berdebat. "Ini bill harga pesanan Mbak. Total semua dengan ongkos antarnya sebesar Rp. 1.500.000,-."
Bayu kembali menyodorkan bill harga pesanan kepada Karin. Sedangkan Karin melirik sebentar bill harga itu. Lalu mengambilnya dengan agak kasar.
Melihat sebentar secarik kertas yang memuat tulisan daftar menu pesanan beserta harganya. Lalu menengok bungkusan kresek yang berisi 4 paket makanan restoran.
Sedangkan Bayu tidak mau komentar apa-apa. Dia diam saja seolah membiarkan saja perbuatan Karin barusan. Dia tidak ingin melakukan tindakan yang membuat gadis itu menjadikannya senjata untuk menindasnya.
"Jangan bicara yang tidak-tidak, Mbak," kata Bayu bernada dingin menahan amarah. "Mbak sudah memegang bill harga. Menu yang tertulis di situ sesuai dengan isi yang ada dalam paket ini. Saya tidak mungkin melakukan kesengajaan dalam membelikan pesanan."
"Lagi pula saya tidak tahu kalau yang mengorder paket makanan adalah Mbak, orang yang pernah bertabrakan dengan saya," lanjut Bayu berusaha menerangkan walaupun terpaksa.
"Kalau tau gue yang mesan lu bakal sengaja 'kan?" tuduh Karin makin ketus makin sinis.
"Saya kira Mbak ini orang kantoran yang terpelajar dan cerdas," kata Bayu bernada sinis menyindir. "Tapi kenapa Mbaknya mengucapkan perkataan bagai orang yang tidak cerdas?"
"Lu ngatain gue orang bodoh, gitu?" sengit Karin berang langsung tersinggung.
"Coba Mbak pikir," kata Bayu seakan menerangkan ucapannya barusan, "kalau saya sengaja melakukan penipuan terhadap pesanan Mbak, pastinya Mbak tidak akan membayar saya bukan?"
"Tentu saya akan rugi kalau begitu," lanjut Bayu. "Apakah Mbak pikir saya sengaja merugikan diri saya sendiri?"
"Alaaah sudah," kata Karin seakan tidak ingin berdebat lama dengan Bayu yang jelas dia kalah. "Lu kebanyakan ngomong. Boleh nggak gue periksa?"
Bayu tidak menyahuti permintaan gadis itu. Namun dia segera membuka paket pesanan makanan bagian atas. Lalu mempersilahkan Karin memeriksanya.
"Napa lauk ikannya gurame goreng?" komentar Karin spontan mengkomplain paket yang diantar Bayu. "Gue 'kan mesannya nila goreng. Lu bisa baca orderan sih?"
Sebenarnya pesanan yang diorder Karin sudah benar. Hanya saja dia berpura-pura mengkomplain pesanan yang diantar Bayu, seolah pesanan itu salah. Karin mulai menjalankan rencana menyebalkannya setelah melakukan pendahuluan yang menyebabkan dia kesal.
Deg!
__ADS_1
Seketika Bayu langsung terkejut. Sebenarnya dia sudah merasa kalau Karin akan berbuat gila. Tapi tak urung dia tetap kaget juga.
"Ini sesuai pesanan, Mbak," bantah Bayu tetap berusaha menjelaskan, tetap berusaha menahan amarah yang sejak tadi ditahan-tahan. "Saya masih menyimpan WA pesanan Mbak."
Lalu Bayu membuka handphonenya dan terus melihat WA pesanan Karin. Dan di situ jelas tertera kalau salah satu lauknya adalah 2 ekor gurame goreng. Bukan nila goreng seperti yang dikomplain Karin.
"Ini lihat, Mbak!" kata Bayu sambil memperlihatkan pesan Karin di HP-nya di depan wajah gadis itu. "Pesanan Mbak jelas tertulis gurame goreng, bukan nila goreng."
"Oh, kalau gitu gue salah nulis pesanan dong," kata Karin dengan santainya tanpa rasa berdosa. "Gue pinginnya nila goreng, eh malah nulis pesan gurame goreng. Sorry ya!"
"Sekarang lu kemas barang lu ini dan tinggalkan tempat ini!" usir Karin dengan seenak jidatnya. "Lu lama-lama di sini bikin gue tambah kesal!"
"Tidak bisa begitu, Mbak," kata Bayu hampir terlepas murkanya. "Pesanan Mbak ini dibayar dulu. Soal Mbak salah tulis pesanan, itu urusan Mbak. Yang penting saya sudah mengantar paket makanan ini sesuai orderan."
"Lu kok nyolot sih?" berang Karin berusaha tetap berani meski telah melihat tanda-tanda kemarahan dari Bayu. "Mau nyari ribut ya di sini?"
"Mbak yang ingin cari ribut!" bentak Bayu yang tidak bisa lagi menahan amarah.
★☆★☆
Bentakan Bayu itu cukup keras membuat Karin langsung terkejut ketakutan. Sampai-sampai tanpa sadar dia mundur 2 langkah ke belakang saking takutnya.
Wajah cantiknya kini telah pucat. Sepasang matanya yang menyorotkan ketakutan masih menatap Bayu yang juga menatapnya dengan tajam seolah tatapan seekor singa yang siap menerkamnya.
Dan akibat suara bentakan Bayu itu membuat 3 orang gadis resepsionis juga ikut terkejut dan segera memandang ke arah Bayu.
Sementara itu, Miko yang baru memasuki kantor besar ini juga mendengar bentakan Bayu. Dan begitu mengetahui teman mantan pacar Melinda itu ada di perusahaan ini, amarahnya segera naik.
Tanpa banyak pikir pemuda angkuh itu langsung bergegas menuju ruang lobby.
Hampir bersamaan Jennie yang juga mendengar dan melihat Bayu membentak Karin, cepat-cepat ke ruang lobby. Dilihatnya Karin sudah ketakutan.
Sementara itu pula, dua orang gadis cantik yang juga baru memasuki kantor perusahaan besar ini, juga sempat melihat dan mendengar Bayu membentak seseorang.
Begitu mereka melihat secara teliti, ternyata yang dibentak adalah Karin, asisten Jennie. Dan mereka mengenal gadis yang masih ketakutan itu.
Tapi bukan itu perhatian mereka. Dua gadis cantik itu lebih memperhatikan Bayu. Sorot pandangan mata mereka menyiratkan kalau mereka mengenal Bayu.
"Mbak, bukankah itu Mas Bayu?" kata gadis berblazer coklat muda seolah memberi tahu sambil terus menatap Bayu.
"Ya, aku sudah tahu," aku gadis berblazer merah yang juga menatap Bayu. "Rupanya dia sudah ada di Jakarta."
"Kalau dia udah ada di kota ini, kemungkinan besar Raihan juga ada di kota ini," lanjut gadis itu. "Karena mereka selalu bersama-sama...."
"Aku malah yakin kalau Mas Raihan juga ada di sini, Mbak," kata gadis berblazer coklat muda bernada mantap.
"Ya, itu nanti kita urus. Kita lihat dulu apa yang terjadi," kata gadis berblazer merah ingin fokus melihat apa yang terjadi di lobby. "Kayak-kayaknya Miko dan Jennie bakal membantu Karin untuk memojokkan Bayu."
"Kita kesana aja, Mbak!" ajak gadis berblazer coklat muda. "Pak Miko itu jago beladiri. Takutnya akan menghajar Mas Bayu."
"Tunggu dulu!" tahan gadis berblazer merah. "Kita lihat perkembangan dulu!"
__ADS_1
★☆★☆★