Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 18 LANGKAH AWAL RAIHAN


__ADS_3

Beberapa saat lamanya ruangan CEO itu masih dibungkam oleh kebisuan. Belum ada lagi yang bersuara sejak Raihan mengucapkan perkataan yang membuat 3 orang yang ada di situ terdiam.


Ya, mereka semua memang tidak punya kekuatan untuk menentang Pak Baskoro. Dan seakan menerima begitu saja sesuai alur takdir yang berjalan.


Namun tak lama kemudian, Shafira berkata yang ditujukan kepada Bayu yang tentu saja membuyarkan kebisuan dan kesunyian yang beberapa saat berlangsung.


"Bay, sebenarnya, aku bukannya nggak perduli akan nasib yang menimpa keluarga Pakle Mulyono, ayahmu dan juga kamu. Namun aku juga nggak punya kekuatan untuk menentang papa."


"Papa terlalu besar untuk kita lawan dengan kekuatan kita yang lemah ini," lanjut Shafira bernada mendesah.


"Aku ucapkan terima kasih atas perhatian Mbak kepada keluarga kami," kata Bayu lapang dada. "Tapi Mbak nggak usah terlalu memikirkannya. Aku juga sudah nggak mempermasalahkannya lagi."


"Bukan karena aku nggak punya kekuatan untuk merebut hakku kembali," lanjut Bayu bernada bijak. "Yang terpenting bagiku perusahaan bapakku tetap berjalan meski sudah jadi milik Tuan Baskoro."


"Kamu tenang saja, Bay, suatu saat kita pasti bisa merebut hakmu kembali dari tangan Tuan Baskoro," kata Raihan memberi suport.


"Kalau kamu nggak punya pegangan," kata Shafira "kamu nggak bisa melaksanakan tekadmu itu."


Raihan terdiam mendengar ucapan kakaknya itu. Dalam hati dia berpikir tentang kebenaran ucapan itu. Kalau dia maupun Bayu tidak punya pegangan atau landasan untuk mengebrak kekuasaan Pak Baskoro, mana bisa dia mewujudkan tekadnya itu?


Memikirkan akan hal itu, Raihan mulai tertarik untuk mengelola perusahaan yang diberikan oleh ayahnya ini. Namun dia harus tahu dulu latar belakang, kenapa perusahaan ini Pak Baskoro berikan padanya?


"Mbak Fira, apa sebab Tuan Baskoro memberikan perusahaan ini kepadaku?" tanya Raihan mengutarakan ganjalan hatinya.


"Sebenarnya perusahaan ini nggak secara langsung diberikan papa kepadamu," tutur Shafira mengungkapkan.


"Maksudnya?" tanya Raihan belum mengerti.


Maka mulailah Shafira menuturkan latar belakang perusahaan ini hingga diberikan kepada Raihan.


Perusahaan yang sementara dikelolah oleh Shafira ini yang dibantu oleh Aira sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan Shafira dan Aira.


Maksudnya, dulu perusahaan ini hampir dijual oleh Pak Baskoro. Bukan karena perusahaan induk mengalami keguncangan finansial. Namun karena Pak Baskoro merasa perusahaan ini tidak layak lagi untuk dipegang olehnya.


Karena sebenarnya Pak Baskoro juga mempunyai perusahaan yang usahanya hampir mirip dengan perusahaan ini. Yaitu perusahaan yang diamanahkan kepada anak laki-laki pertamanya yang bernama Fauzan Adhitama untuk mengelolanya.


Dengan kata lain, perusahaan yang dikelolah oleh putra pertamanya dipertahankan. Sedangkan perusahaan ini dilepas.


Akan tetapi sebelum perusahaan ini benar-benar dijual oleh Pak Baskoro, Shafira dan Aira meminta kepada Pak Baskoro untuk memberikan perusahaan ini kepada Raihan, putra atau anak ke tiganya.


Awalnya Pak Baskoro tidak setuju untuk memberikan perusahaan ini kepada Raihan. Alasannya sudah jelas, dia juga amat membenci putranya itu. Hal itu didukung oleh Fauzan, putra pertamanya.


Namun karena dibujuk oleh Shafira yang dibantu oleh mamanya, Bu Retno, akhirnya Pak Baskoro mau juga menyerahkan perusahaan ini kepada Raihan. Dengan amat terpaksa.


Dengan ketentuan, perusahaan ini tidak ada lagi koneksi dengan perusahaan induk, yaitu PT. MITRA Baskoro Company. Dengan kata lain perusahaan ini sudah dilepas oleh perusahaan induk dan dibiarkan jalan sendiri.


Sedangkan Pak Sudrajat, papanya Aira tidak memberi reaksi apa-apa. Dalam artian, kakaknya mau memberikan perusahaan ini kepada Raihan atau tidak, bukan urusan dia. Itu terserah Pak Baskoro sendiri selaku yang punya perusahaan.


★☆★☆


"Sudah 3 tahun perusahaan ini aku dan Aira kelola," tutur Shafira kemudian. "Tahun pertama dan tahun ke dua keadaan perusahaan masih aman-aman saja...."


"Namun pada satu tahun terakhir," lanjut Shafira, "keadaan perusahaan sudah goncang. Bahkan pada 3 bulan terakhir ini keadaan semakin memburuk. Sampai sebagian karyawan harus aku PHK..."

__ADS_1


"Kalau kamu nggak ingin memiliki perusahaan ini," kata Shafira lagi bernada memohon, "seenggaknya kamu dan Bayu membantu kami dalam mengatasi keterpurukan yang terjadi di perusahaan ini."


Raihan terdiam sejenak memikirkan semua penuturan Shafira barusan. Begitu halnya juga dengan Bayu. Tapi dari tarikan wajah mereka tampak kalau mereka tengah berpikir.


Lalu, seakan sudah bersepakat sebelumnya, Raihan dan Bayu beralih memandang 2 koper kecil warna hitam di atas meja di hadapan Shafira dan Aira.


Raihan memandang koper yang berada di depan Shafira. Sedangkan Bayu memandang koper yang berada di depan Aira.


Shafira dan Aira yang tentu melihat dan tahu arah pandangan mata kedua pemuda tampan itu, seolah tahu arti pandangan mereka, kedua gadis itu segera membuka koper di depan mereka.


Setelah itu, Shafira menyodorkan koper yang dia buka ke hadapan Raihan. Sedangkan Aira, tanpa disuruh langsung menyodorkan koper yang dibukanya ke hadapan Bayu.


"Itu semua adalah berkas-berkas dan dokumen-dokumen penting perusahaan ini," kata Shafira tanpa ditanya, "berikut surat-surat penting lainnya."


"Silahkan kalian lihat dan mempelajarinya!" lanjut Shafira seperti meminta dengan sangat.


Sejenak Raihan maupun Bayu hanya melihat isi koper yang ada di hadapan mereka masing-masing. Terus mereka saling tatap beberapa detik. Lalu kembali memandang tumpukan surat-surat penting yang ada di dalam koper.


Tak lama kemudian, Raihan menggerakkan tangannya mengambil beberapa lembar kertas penting itu. Hampir bersamaan Bayu mengikuti pula. Sedangkan perbuatan mereka itu terus ditatap oleh Shafira dan Aira tanpa berkedip.


Shafira menatap Raihan dan Bayu secara bergantian. Adapun Aira cuma menatap Bayu seorang, pemuda yang telah membuatnya tertarik hingga menghasilkan rasa suka.


"Apakah kamu percaya kami bisa mengelola perusahaan ini, Mbak?" tanya Raihan sambil terus mengamat-amati lebaran-lembaran kertas yang ada di tangannya. "Kami cuma lulusan SMA loh."


"Kami juga nggak punya pengalaman bekerja di perusahaan, Mbak," kata Bayu menyambung. "Kami hanya mantan buruh pabrik."


Sambil berbicara, dia juga tidak lepas mengotak-atik lembaran-lembaran kertas yang ada di tangannya.


"Kalian tentu masih ingat," kata Shafira menanggapi, "saat kami menanyakan beberapa hal tentang keadaan perusahaan kepada kalian sewaktu kami mengunjungi kalian di Surabaya...."


"Dari situ aku berpikir kalau kalian memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Terlepas dari status pendidikan yang kalian miliki. Maka, aku merasa yakin kalau kalian bisa mengelola perusahaan ini."


"Apa yang dikatakan Mbak Fira itu memang benar, Mas Rai, Mas Bay," kata Aira sependapat. "Aku juga yakin kalau kalian bisa menjalankan perusahaan ini dengan baik."


"Bahkan mungkin lebih baik lagi dari apa yang sudah Mbak Fira dan aku jalankan selama ini."


★☆★☆


Raihan maupun Bayu terus saja mengotak-atik kertas-kertas penting yang ada di dalam koper di hadapan mereka masing-masing. Sembari hal itu mereka menanyakan beberapa hal tentang perusahaan ini kepada Shafira dan Aira.


Dengan tanpa sungkan, dengan penuh semangat dan keseriusan, kedua gadis cantik itu menjelaskan semua yang ditanyakan Raihan maupun Bayu.


Yang ditanyakan oleh kedua pemuda tampan itu bukan asal muasal perusahaan ini berdiri. Bukan bertanya perusahaan ini bergerak di bidang apa. Bukan bertanya tentang bagaimana mereka menjalankan perusahaan ini. Atau hal-hal yang semisal yang sifatnya umum.


Sementara memang belum pernah mereka jelaskan kepada Raihan maupun Bayu tentang hal tersebut sebelumnya. Dan jika mereka bertanya tentang hal-hal tersebut kedua gadis itu pasti menjawabnya.


Namun kedua pemuda tampan itu menanyakan tentang perkara-perkara mendasar yang ada dalam perusahaan ini. Selanjutnya menanyakan tentang tindakan-tindakan yang mereka lakukan dalam mengatasi masalah tertentu.


Terkhusus menanyakan tentang tindakan apa saja yang sudah dilakukan dalam mengatasi kemelut yang belakangan ini terjadi.


Shafira maupun Aira menjawab semuanya tanpa sungkan dan tanpa malu serta tidak ada yang ditutup-tutupi.


Dari situ saja, dari hal-hal yang ditanyakan itu saja, baik Shafira maupun Aira semakin mengakui kejeniusan kedua pemuda tampan itu.

__ADS_1


Apalagi ketika Raihan maupun Bayu mengemukakan kritikan jenius yang tidak bersifat meremehkan kemampuan orang. Terus memaparkan tentang ide-ide cemerlang dan tindakan-tindakan yang tepat yang harus dilakuan.


Hal itu semua semakin membuat Shafira maupun Aira mengakui sekaligus mengagumi kejeniusan Raihan maupun Bayu dalam berpikir maupun bertindak.


Kedua gadis cantik itu jadi berpikir, bisa-bisa kemelut perusahaan ini dapat dengan cepat teratasi. Bahkan mungkin mereka akan membawa perusahaan ini menjadi lebih terkenal.


"Apakah ada berita acara atau surat pernyataan dari Tuan Baskoro bahwa perusahaan ini sudah putus hubungan dengan perusahaan induk?" tanya Raihan di sela dia masih terus memeriksa dokumen-dokumen penting.


"Nggak ada," sahut Shafira terus terang. "Papa hanya bilang kalau perusahaan ini sudah nggak terkoneksi lagi dengan PT. MITRA Baskoro Company. Nggak ada dokumen tertulis atau berita acara segala."


"Apakah hal semacam itu penting, Mas Rai?" tanya Aira ingin tahu sekaligus pula terkejut seakan tersadar akan sesuatu.


"Ya jelas penting," sahut Raihan meski santai tapi bernada tegas. "Jika suatu saat perusahaan ini bisa sukses dengan kesuksesan yang gemilang, besar kemungkinan Tuan Baskoro itu akan mengambil alih lagi perusahaan ini...."


"Dengan dalih perusahaan ini masih terkoneksi dengan perusahaan induk," lanjut Raihan, "meski dia pernah bilang kalau perusahaan ini sudah putus hubungan dengan perusahaan induk."


"Kita nggak bisa menuntutnya karena nggak ada bukti tertulis mengenai hal itu," kata Raihan selanjutnya.


Shafira maupun Aira tampak manggut-manggut mendengar perkataan Raihan yang memang benar adanya. Mereka memperkirakan kalau Pak Baskoro akan melakukan hal itu.


"Terus gimana kalau gitu?" tanya Shafira meminta saran Raihan. "Apa aku dan Aira secepatnya mengurus hal itu ke papa?"


"Jangan sekarang!" saran Raihan. "Nggak usah terburu-buru. Kita fokus untuk mengatasi kemelut yang terjadi di perusahaan ini dulu...."


"Jadi... kamu sudah siap mengambil alih kendali perusahaan ini?" tanya Shafira seakan menebak sambil tersenyum gembira.


Aira juga mendengar ucapan Raihan barusan ikut tersenyum senang.


"Nanti dulu," sahut Raihan bukan berarti menolak.


Lalu dia menoleh pada Bayu yang lagi asyik dengan pekerjaannya, terus bertanya.


"Ada lagi yang kamu tanyakan, Bay?"


"Pemilik perusahaan ini sekarang atas nama siapa, Mbak Fira?" tanya Bayu. "Apakah sudah atas nama Raihan?"


Shafira tidak lantas menjawab pertanyaan yang mendasar itu. Malah dia terkejut tanpa sadar. Lalu menoleh pada Aira yang juga memandangnya sambil terkejut.


"Be... belum...," sahut Shafira sedikit terbata karena masih terkejut.


Sungguh dia maupun Aira tidak menyangka kalau masalah itu menjadi perhatian penting bagi kedua pemuda itu. Yang mana dulu tidak terlalu dihiraukan. Sementara perusahaan ini masih atas nama....


"Atas nama siapa, Mbak?" tanya Raihan bernada santai.


"Masih atas nama pemilik perusahaan induk, yaitu papa," sahut Shafira seperti takut-takut.


"Mbak, apa kita segera mengurusnya?" tanya Aira ke Shafira.


Baru saja Shafira hendak menjawab, Raihan langsung cepat berkata.


"Nggak usah terburu-buru, santai saja. Nanti kita urus belakangan saja."


Kemudian Raihan memutuskan untuk sementara waktu tidak mengambil alih dulu kendali perusahaan ini. Tapi dia dan Bayu akan mengelola perusahaan ini di belakang latar. Sedangkan Shafira dan Aira masih muncul di permukaan.

__ADS_1


Shafira dan Aira setuju saja. Yang terpenting bagi mereka Raihan mau mengurus perusahaannya ini meski belum secara langsung.


★☆★☆★


__ADS_2