
Viola hanya bisa terduduk diam di tempatnya. Dia sudah semakin kepayahan kini, semakin lemas. Pandangan matanya sudah nanar menatap ketujuh lelaki bengis yang terus melangkah cepat ke arahnya.
Sementara 7 lelaki bertampang bengis itu tinggal 1 meter lagi jaraknya dengan dirinya. Sang boss sudah siap menusuk Viola lagi dengan pisaunya.
Namun belum juga mereka bisa menjamah Viola, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang cukup keras dari depan mereka.
"Berhenti...!"
Begitu hebatnya suara bentakan itu membuat 7 lelaki bengis itu langsung berhenti melangkah. Lalu secara berjamaah mereka memandang ke depan.
Namun mata mereka langsung disambut lampu depan sebuah mobil yang demikian terang. Sehingga membuat mata masing-masing mereka sedikit silau hingga harus menghalau cahaya lampu itu dengan tangan mereka.
Sementara di depan sana berjarak 10-15 meter, seketika 2 pintu depan sebuah mobil sedan terbuka dengan cepat. Lalu keluar 2 pemuda tampan dari situ dengan cepat pula.
Lalu kedua pemuda tampan itu berlari cepat ke arah sekumpulan 7 lelaki bengis yang hendak menghabisi Viola. Lalu tanpa ba bi bu mereka langsung menyerang ketujuh lelaki bengis itu dengan cepat, dengan ganas.
Sedangkan ketujuh lelaki bengis itu jelas tidak menyangka akan kedatangan 2 pemuda tak dikenal. Dan belum juga mereka bisa berbuat sesuatu, 2 pemuda itu sudah menghajar mereka tanpa ampun. Sehingga....
Bughk! Bughk! Dughk!
Plak! Plak!
Des! Des! Des!
Bughk! Dughk!
Tanpa ampun lagi mereka harus menerima pukulan dan tendangan bertubi-tubi dari kedua pemuda tampan itu. Tanpa mereka sempat menangkisnya hingga membuat mereka terjajar ke belakang. Bahkan ada yang jatuh ke atas aspal yang cukup menyedihkan.
Sementara sang boss, begitu selesai menerima pukulan dan tendangan yang membuat dia terjajar 5 langkah ke belakang, dengan cepat dia menguasai diri.
Lalu dengan cepat balas menyerang pemuda tampan yang menyerangnya. Pisau yang masih tergenggam erat di tangan kanannya diayunkan hendak menyabet leher pemuda penyerangnya.
Namun pemuda tampan itu lebih cepat lagi bertindak. Dengan cepat dia menghindari sabetan pisau itu, terus menangkap tangan sang boss. Kemudian tangan yang satunya mencekal sikut lelaki bercodet itu dengan cepat pula dan kuat.
Lalu pemuda itu menekuk tangan sang boss ke dalam hingga ujung pisau sang boss menusuk perutnya. Sehingga tanpa ampun pisaunya sendiri menembus ke perutnya cukup dalam.
Jreb!
"Aaa...!" jerit sang boss cukup keras.
Namun si pemuda tampan tidak menghiraukan jeritan lelaki bercodet itu. Dengan gerakan cepat pula dia melenting ke udara sambil berputar. Lalu kaki kanannya yang juga ikut melayang langsung menghantam lurus wajah sang boss.
Desss!
"Akh...!"
Saking kerasnya tendangan itu membuat lelaki bercodet itu terlempar ke belakang sambil menjerit tertahan. Lalu tubuhnya jatuh terlentang di atas aspal.
Sementara pemuda tampan itu tidak menghiraukan lagi lawannya. Dengan cepat dia berbalik lalu melangkah cepat ke tempat Viola yang masih terduduk lemas.
Sedangkan Viola kondisi tubuhnya semakin lemah. Dia sepertinya sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Lalu dia langsung rebah ke belakang.
Namun si pemuda yang sudah sampai di tempat Viola cepat tanggap. Dengan cepat pemuda itu berjongkok terus menangkap badan Viola. Sehingga Viola tidak sampai rebah ke aspal.
Hampir bersamaan pemuda yang satunya, setelah menumbangkan semua preman itu, datang juga menghampiri Viola. Begitu sampai dia langsung berposisi di sebelah kiri Viola.
Sementara Viola sepertinya masih tersadar meski makin kepayahan. Dia masih dapat merasakan ada orang lain yang menolongnya. Lalu matanya yang tadi terpejam karena meringis menahan sakit terbuka perlahan.
Lalu kepalanya menoleh lemah ke wajah tampan yang cukup dekat dengan wajahnya. Pandangannya yang nanar masih bisa mengenal siapa penolongnya.
"Mas Rai....," desahnya begitu lirih dan lemah.
"Bertahanlah, Viola! Aku akan membawamu ke rumah sakit," kata pemuda tampan yang ternyata Raihan itu bernada amat cemas. "Jangan pingsan dulu ya!"
"Iya, Mas Rai...," kata Viola dengan suara lemah, "aku akan tetap... bertahan demi kamu...."
__ADS_1
"Tapi...," lanjut Viola masih dengan suara lemah, "jangan pernah tinggalkan aku ya, Mas Rai...!"
"Kamu tenang saja, Viola," kata Raihan memberi ketenangan, "aku nggak akan meninggalkanmu. Bertahanlah hingga kita sampai ke rumah sakit!"
Viola hanya mengangguk lemah sambil tersenyum di tengah ekspresinya menahan rasa sakit.
"Ayo, Rai, cepat kita bawa ke rumah sakit!" kata pemuda yang satunya yang tidak lain adalah Bayu bagai memerintah.
"Iya, ayo!"
Kemudian Raihan mengangkat tubuh Viola dan membopongnya. Lalu dia melangkah cepat menuju mobil bersama Bayu. Tapi Bayu lebih cepat melangkah.
Setelah sampai di mobil, dia membuka pintu belakang mobil sebelah kanan. Kemudian Raihan yang sudah sampai segera masuk ke dalam mobil bersama Viola yang masih digendongnya.
Tak lama kemudian, mobil sedan mewah itu meninggalkan tempat yang masih sunyi itu, meninggalkan 7 orang preman yang masih terkapar tak sadarkan diri.
★☆★☆
Ketika itu di ruang ICU yang sunyi....
Tampak Viola masih terbaring diam tak sadarkan diri di atas pembaringan. Alat bantu pernapasan masih terpasang di hidungnya. Jarum infus masih menempel di tangan kirinya.
Walaupun dia sudah melewati masa kritis yang hampir merenggut nyawanya, tapi Viola belum bisa dikatakan aman. Saat ini, tepatnya siang ini dia masih tak sadarkan diri alias masih koma.
Luka tusukan yang dia derita tergolong parah. Pisau yang menusuknya cukup dalam. Di samping merobek kulit luarnya, juga melukai sebagian organ di dalam tubuhnya. Dengan sebab itu pula dia kekurangan banyak darah.
Oleh sebab itu, tim medis memutuskan untuk melakukan operasi besar terhadap luka yang diderita Viola.
Beruntungnya, setelah melewati proses operasi yang cukup lama, tim medis berhasil melakukan operasi atas luka tusukannya tersebut. Di samping itu juga Viola cepat mendapat suplai darah dari pihak rumah sakit.
Lebih beruntungnya lagi Raihan cepat melakukan tindak pertolongan terhadap Viola. Kalau saja malam itu Raihan dan Bayu tidak datang menolongnya mungkin riwayat hidup Viola akan berakhir malam itu juga.
Namun, meski dokter sudah menyatakan bahwa Viola sudah melewati masa kritis, tapi Viola hingga siang ini belum juga sadarkan diri. Itu artinya sudah 2 hari Viola masih dalam kondisi koma seperti itu.
Sementara selama itu Raihan, Marsha, dan Bayu, masing-masing mereka dalam berjaga hampir tidak pernah meninggalkan Viola. Tapi Raihan yang lebih sering menemani Viola di ruangan itu.
Sedangkan baik Marsha maupun Bayu tidak bisa selamanya menjaga Viola karena urusan penting yang tidak bisa mereka tinggalkan. Marsha harus berkuliah. Sedangkan Bayu harus terus berada di perusahaan untuk memantau perkembangan tiap hari.
Sebelum pingsan Viola telah berpesan kepada Raihan, selain jangan pernah meninggalkannya, juga Raihan tidak perlu menghubungi keluarga Viola dan mengabari tentang keadaannya.
Akhirnya Raihan menghubungi adiknya, Marsha. Karena Marsha adalah teman akrab Viola. Raihan tidak menghubungi Shafira karena bukan teman akrab Viola.
Lagi pula Raihan masih merahasiakan kepada Shafira kalau dia berteman dengan gadis seperti Viola itu.
Maka sejak malam itu Marsha lebih sering berada di rumah sakit mulai dari proses operasi berlangsung bersama Raihan dan Bayu.
Sementara siang ini cuma Raihan yang berada di ruang ICU menemani Viola. Sedangkan Marsha belum pulang dari kuliah, Bayu belum pulang dari kantor.
Perlahan dia duduk di kursi di sisi kanan tempat tidur. Sedangkan matanya yang sedikit sayu karena kurang tidur terus menatap wajah Viola seakan tidak mau berkedip. Sedangkan wajah tampannya kini berbalut duka dan kesedihan.
Perlahan pemuda itu meraih jemari kanan Viola. Lalu menggenggam jemari itu ke dalam kedua genggamannya dengan erat tapi lembut. Setelah itu dia mengecup jemari halus Viola dengan lembut penuh perasaan.
"Viola..., bangunlah!" kata Raihan bernada pilu mendesah. Sementara wajah tampannya berbalut duka dan kesedihan yang mendalam. "Jangan tidur terus...!"
"Viola, maafkan aku karena beberapa hari ini sempat mengabaikanmu," lanjutnya lagi. "Maafkan aku, Viola."
Kemudian Raihan sedikit merunduk, lalu ditempelkan jemari Viola yang masih digenggamnya di keningnya sambil matanya sedikit terpejam, terus melanjutkan monolognya.
"Bangunlah, Viola...! Jangan biarkan aku terus tersiksa dalam keresahan...!"
Sementara Raihan bermonolog rupanya Viola sudah mulai siuman. Bermula jemari tangan kirinya yang bergerak pelan, bukan jemari yang digenggam Raihan.
Lalu perlahan kedua matanya terbuka dan langsung melihat langit-langit ruangan. Kemudian telinganya mendengar suara Raihan yang seakan berbicara padanya.
Dilirikkan matanya ke kanan, memandang pemuda itu yang terus berbicara sendiri. Berbicara tentang ungkapan perasaan pemuda itu kepadanya.
__ADS_1
Tadinya dia ingin menyapa pemuda itu. Tapi mendengar kata-kata yang diucapkan Raihan, dia urung untuk menyapa. Maka dia asyik saja mendengar kata-kata itu sambil tersenyum penuh bahagia.
Kepalanya yang masih terasa sakit, lukanya yang masih terasa perih, tapi mendengar kata-kata Raihan yang sudah lama ditunggu-tunggu itu, membuatnya tidak merasakan penderitaannya.
★☆★☆
"Bangunlah, Viola...! Jangan biarkan aku terus tersiksa dalam keresahan...!" kata Raihan belum menyadari kalau Viola sudah siuman, bahkan tengah memandangnya saat ini sambil tersenyum bahagia.
"Apakah... apakah kamu nggak mau dengar tentang ungkapan perasaanku terhadapmu?"
"Bangunlah...! Biar kamu bisa dengar ungkapan perasaanku... bahwa... bahwa.. aku menyukaimu..., aku menyukaimu, Viola...."
"Kalau kamu setuju..., kalau kamu menyukai aku juga, aku siap mengubah rasa suka ini menjadi cinta... saat ini juga...."
"Tapi bangunlah dulu, Viola...! Jangan tidur terus...!"
"Aku setuju dan aku menyukaimu juga...."
Raihan yang hendak berkata lagi seketika langsung berhenti dan terkejut bukan main. Kejap itu pula dia langsung mengangkat kepalanya, dan terus memandang Viola.
Dan Raihan makin terkejut mana kala mendapati Viola sudah siuman, bahkan sekarang masih menatapnya sambil memberikan senyumnya yang terindah yang pernah dia miliki.
"Ka... kamu... udah siuman?" tanya Raihan dalam kejutnya. Jantungnya langsung deg-degan. Wajahnya sedikit memerah bagai menahan rasa malu.
Jangan-jangan Viola sudah mendengar semua racauannya tadi?
"Sejak kapan?"
"Aku udah dengar semua ungkapan perasaanmu tadi," kata Viola berkata jujur.
"Oh..., ah..., tadi itu aku cuma ngebaca mantra agar kamu cepat bangun," kilah Raihan yang sudah ketangkap basah. Nada suaranya tampak sedikit gugup.
Lalu dia tersadar kalau masih menggenggam jemari halus Viola. Tapi baru saja dia hendak melepas genggamannya itu, dengan cepat Viola melarangnya.
"Jangan dilepas! Peganglah terus!"
Nada suara Viola bukan lagi suara seorang gadis tomboy, melainkan suara seorang gadis lembut yang tengah merajuk manja kepada kekasihnya.
Mendengar permintaan Viola itu, Raihan tidak jadi melepas semua genggamannya. Maksudnya, tangan kanan terus menggenggam jemari Viola, sedangkan tangan kiri bergerak ke kepala Viola, lalu membelai lembut rambut depan Viola.
Sedangkan Viola benar-benar meresapi belaian lembut pemuda itu yang penuh perasaan.
"Syukurlah kalau kamu udah siuman," kata Raihan berusaha menetralkan kembali perasaannya yang masih deg-degan.
"Mas Rai, tapi benar 'kan ungkapan perasaanmu tadi itu jujur?" kata Viola seakan ragu akan ungkapan perasaan Raihan tadi. "Bukan bo'ongan 'kan?"
"Iya, itu dari hatiku," tutur Raihan tidak mau berbelit-belit. "Apa kamu nggak percaya? Aku nggak hapal loh kalau mau ngomong lagi."
"Hahaha..., kamu ini lucu," kata Viola sambil tertawa renyah. "Masak nembak cewek saat koma...."
"Tapi manjur 'kan?!" kata Raihan sambil tersenyum. "Buktinya kamu sekarang siuman."
Viola cuma tertawa, tapi cuma tertawa kecil dan tidak lama. Tidak berani ketawa gede karena dia langsung merasakan jahitan di lukanya yang masih terasa perih.
"Jangan terlalu senang, lukamu belum sembuh!" kata Raihan mengingatkan.
"Sekarang kamu gimana, apa benar menyukai aku juga yang cuma pemuda miskin ini?" tanya Raihan kemudian.
"Ya, aku juga menyukai kamu, amat menyukai," sahut Viola tanpa mikir-mikir lagi. "Malahan aku mencintaimu, Mas Rai.... Apapun keadaan kamu...."
"Berarti kita resmi pacaran nih?" kata Raihan sekan menegaskan.
Viola mengangguk pasti sambil terus tersenyum bahagia.
"Tapi...."
__ADS_1
"Tapi apa, Viola?"
★☆★☆★