
Gadis cantik yang baru masuk itu terus saja melangkah menuju tempat di mana Pak Darmawan, Miko, dan Pak Johan berada.
Sedangkan Raihan yang belum jadi ke tempat Pak Darmawan masih saja memandang pada gadis cantik yang mengundang berbagai tanda tanya dalam benaknya.
Begitupun juga dengan Bayu. Bahkan dia langsung merasa bakalan terjadi sesuatu dengan kemunculan gadis itu di sini. Atau bisa jadi gadis itu ada hubungannya dengan kedua orang kaya yang baru datang tadi itu.
Sementara gadis itu terus saja melangkah, dan berhenti tepat di samping kiri Miko. Lalu tangannya merangkul manja lengan Miko. Adegan itu nyaris tepat di depan Raihan yang kembali melangkah, seolah gadis itu sengaja memperlihatkannya kepada Raihan.
Namun sikap Raihan sama sekali tidak menghiraukan perbuatan gadis cantik yang tidak lain Melinda itu. Dia sudah putus hubungan dengan gadis itu. Jadi, apapun yang Melinda lakukan terhadap Miko, sudah bukan urusannya lagi.
Hanya saja kemunculan Melinda dengan tiba-tiba dan aksinya yang dilakukan barusan yang jelas memancing sikap rasa cemburunya, membuatnya bertanya-tanya, apa maksud Melinda berbuat demikian?
Memikirkan hal itu, Raihan berfirasat kalau gadis itu pasti bakalan melakukan sesuatu yang mengejutkan.
"Kenapa kamu datang ke sini Melinda?" tanya Pak Darmawan bernada heran. Namun sikap datar dan dinginnya tetap melekat bersamanya.
"Iya, Sayang, kenapa kamu datang ke mari?" kata Miko yang terus tersenyum semenjak kehadiran gadis itu. "Biar aku dan papamu yang mengurus masalahmu."
Tidak lama kemudian Raihan tiba di depan Pak Johan. Sedangkan Pak Darmawan dan Miko kembali menatap sinis pada pemuda itu.
"Kamu sudah tahu siapa dia, Mas?" kata Melinda bernada aneh sambil menatap Raihan dengan sinis. "Cowok inilah yang mau merebut aku dari kamu."
Mendengar ucapan Melinda barusan, tentu saja membuat Raihan terkejut. Apa maksud gadis itu berbicara demikian? Merebut bagaimana, sedangkan Melinda beberapa hari yang lalu masih menggodanya untuk mengajaknya balikan. Permainan apa yang hendak dimainkannya?
"O, rupanya lelaki inilah yang pernah berpacaran dengan kamu," kata Miko bernada dingin-sinis penuh keangkuhan dan sikap merendahkan.
"Melinda, bisa-bisanya kamu menyukai lelaki rendahan seperti dia?" kata Pak Darmawan penuh hinaan. "Apa kamu diguna-gunainya?"
"Maafkan aku, Papa," kata Melinda berlagak menyesal. "Dulu aku tidak mendengar ucapanmu karena termakan oleh bujuk rayuannya dan janji-janji palsunya."
"Pemuda miskin ini merayuku sehingga aku bisa suka sama dia," lanjutnya tetap memainkan sandiwaranya. "Maafkan aku, Mas Miko."
"Apa maksud Mbak berkata demikian?" Raihan tidak tahan lagi untuk berbicara setelah melihat permainan yang diperankan Melinda. "Bukankah kita berpacaran dulu atas dasar suka sama suka?"
"Bukan karena saya mengucapkan rayuan-rayuan yang tidak ada artinya kepada Mbak," lanjut Raihan penuh kegeraman yang ditekan. "Kenapa sekarang Mbak memungkiri?"
Dalam hati Melinda memang mengakui kebenaran ucapan Raihan, mereka berpacaran dulu atas dasar suka sama suka. Bukan karena termakan oleh rayuan gombal atau janji-janji palsu.
Bahkan dia merasa kalau Raihan adalah lelaki yang tidak pandai merayu. Raihan hanya bisa menuangkan kasih sayang dalam bentuk yang sederhana kepadanya dulu.
Namun semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, di mana Raihan tidak mau diajak balikan, tidak mau memperjuangkan cinta mereka bersama-sama, mulai saat itulah gadis itu membenci Raihan.
Bersumber dari kebencian itu timbul niatan jahat pada diri Melinda kalau dia ingin menghancurkan hidup Raihan. Maka dimainkanlah sandiwara kotor seperti yang ditunjukkan itu.
★☆★☆
"Kamu dengar, Mas Miko," kata Melinda mencoba memprovokasi pacarnya itu. "Dia mencoba membalikkan fakta setelah apa yang dilakukannya padaku dulu."
"Hei, Cowok Kampung!" hardik Miko mulai naik amarahnya mendengar ucapan Raihan. "Cewek secantik pacar gue ini mana mungkin mau sama cowok miskin kayak lu kalau bukan karena lu ngerayu segala!"
Melihat suasana yang sudah mulai memanas, Bayu dapat mengendus gelagat kalau si Miko itu pasti akan bertindak kekerasan. Maka Bayu segera melangkah dengan cepat menghampiri Raihan.
Begitu sampai dia berhenti di samping belakang sebelah kiri Raihan. Lalu bersiap memberikan pertolongan kepada Raihan kalau sahabatnya itu dipukul atau semisalnya.
__ADS_1
Sedangkan Raihan, mendengar hinaan yang dilontarkan Miko jelas dia tidak terima. Namun dia masih menahan kesabaran untuk tidak menghajar lelaki yang membuat cintanya dengan Melinda menjadi berantakan.
"Anda kalau tidak tahu masalah tidak usah bicara sembarangan!" kata Raihan bernada dingin sambil menatap tajam pada Miko.
Miko juga jelas tidak terima Raihan mengatainya. Apalagi melihat Raihan menatapnya dengan begitu rupa. Kemarahannya sudah tak terbendung lagi.
"Berani-beraninya lu ngomong kayak gitu ama pacar gue, Cowok Udik!" berang Melinda mulai membiasakan diri melontarkan kata-kata pedas dan hinaan pada Raihan.
Kekecewaan dan kebencian yang membungkus perasaan Melinda, membuatnya tidak ada rasa hormat lagi kepada Raihan. Bahkan saking bencinya terhadap Raihan, dia sudah mulai ilfeel terhadap Raihan.
Sekaligus pula akting Melinda yang sungguh lihai itu membuat Miko langsung tersulut emosi. Jelas dia terprovokasi oleh ucapan Melinda.
"Berani-beraninya lu ngejawab gue hah!"
Sembari melontarkan hinaan Miko melangkah cepat ke arah Raihan yang hendak mencengkeram kerah baju pemuda itu. Tapi belum juga dia sampai di depan Raihan, Bayu sudah berdiri di depan Raihan menamenginya.
"Anda kalau mau bicara, bicara saja!" kata Bayu bernada dingin. "Tidak usah pake kekerasan segala!"
Miko seketika berhenti melangkah kalau tidak mau menabrak Bayu. Lalu, karena mungkin naluri bela dirinya, Miko langsung mundur ke belakang dengan cepat.
"Papa, kenapa diam aja?" kata Melinda memprovokasi Pak Darmawan. "Dua cowok udik itu mau ngeroyok Mas Miko. Bantu, Pa!"
"Kamu tenang saja, Melinda!" kata Pak Darmawan menenangkan putrinya yang tampak panik. "Dua lelaki rendahan itu tidak bakalan bisa mengganggu Miko."
"Iya, Sayang, kamu tenang aja," kata Miko menenangkan sang pacar. "Dua cowok kampung ini nggak ada apa-apanya bagiku."
Melinda segera mengembangkan senyum manisnya seraya menatap mesra kepada Miko. Seakan adegan itu sengaja dipamerkan di depan Raihan.
Sedangkan Pak Darmawan yang masih menatap sinis penuh penghinaan kepada Raihan, segera berkata bernada ancaman.
"Aku dengar Melinda ngomong kamu dari Surabaya," lanjut Pak Darmawan menuduh yang tidak-tidak. "Jangan-jangan kamu sengaja datang ke Jakarta ini menyusul putri saya biar kamu bisa balikan lagi dengannya?"
"Asal Bapak tahu, saya datang ke Jakarta semata-mata untuk kerja," kata Raihan masih dalam taraf kesabaran meski ucapannya bernada datar. "Sama sekali tidak ada hubungannya dengan putri Bapak, apalagi minta balikan segala."
"Bahkan, putri Bapak-lah yang minta balikan dengan saya," lanjut Raihan. "Tapi saya tolak."
"Apa benar begitu, Melinda?" tanya Pak Darmawan sambil menatap Melinda yang terus nempel dengan Miko.
Jelas Pak Darmawan maupun Miko tidak atau belum tahu tentang pertemuan Melinda dengan Raihan di taman beberapa hari yang lalu karena gadis cantik yang sudah menjadi jahat itu tidak memberitahukan kepada mereka.
Dan sepertinya memang Melinda sengaja tidak memberi tahu. Karena dalam kepalanya yang sudah berpikiran jahat sudah merancang pertemuan seperti ini.
Maka, dengan tenang Melinda menjawab pertanyaan Pak Darmawan.
"Jelas tidak mungkinlah aku minta balikan lagi dengan cowok itu, Pa, setelah aku menyadari betapa bodohnya aku dulu mau berpacaran dengan dia yang tidak punya apa-apa selain rayuan gombalnya."
Ucapan Melihat barusan makin membuat Bayu geram terhadap gadis itu sebenarnya. Jelas-jelas beberapa hari yang lalu Melinda mengajak Raihan untuk bicara di taman yang inti pertemuan itu Melinda minta balikan dengan Raihan. Tapi Raihan menolak.
Namun....
★☆★☆
"Kenapa Mbak Melinda berdusta?" tanya Raihan terkejut tidak percaya Melinda berani berdusta. "Beberapa hari yang lalu Mbak mengajak ketemuan dengan saya yang katanya ingin bicara."
__ADS_1
"Padahal intinya Mbak minta balikan dengan saya," lanjut Raihan. "Tapi saya menolak untuk balikan. Apakah Mbak pura-pura lupa?"
"Sayang, apa ucapan cowok itu memang benar?" tanya Miko penuh selidik.
"Apa kamu sudah nggak percaya aku lagi, Sayang?" kata Melinda berlagak merajuk. "Yang dusta itu dia. Dia cuma terobsesi dengan aku karena aku putusin. Makanya dia ngomong ngelantur kayak gitu."
"Iya, Sayang, aku percaya padamu."
"Gue pikir lu cuma songong aja. Ternyata lu juga cowok halu yang pandai ngarang cerita."
Seketika terdengar suara bernada santai tapi mengandung hinaan dari arah samping kanan Raihan. Lalu serta merta orang yang ada di tempat itu memandang ke sumber suara yang ternyata milik seorang gadis cantik berblazer merah jambu.
Gadis cantik tidak lain adalah Jennie yang tengah melangkah santai ke tempat Pak Darmawan. Mengikut di belakangnya Karin, asisten sekaligus sekretarisnya.
Melihat kedatangan kedua gadis itu, Raihan maupun Bayu sudah membatin kalian kehadiran keduanya pasti akan memperunyam permasalahan. Namun Raihan dan Bayu tetap bersikap tenang.
"Jennie, Karin!" sapa Pak Darmawan begitu kedua wanita cantik itu telah tiba di TKP.
"Hai, Kak Jennie!" sapa Melinda pula bernada berusaha gembira.
"Kamu dan asistenmu makan siang di sini?" tanya Miko bernada biasa sebagaimana seorang kakak.
Setelah menjawab sapaan orang-orang yang menyapanya, Jennie langsung mengemukakan tujuannya ke mari.
"Cowok songong ini dan temannya yang sok itu juga punya masalah dengan aku dan Karin, Om Darmawan."
"Oh, masalah apa, Jennie?" tanya Pak Darmawan antusias.
"Mereka ngeganggu kalian?" tanya Miko bernada dingin.
"Dia dan temannya itu," kata Jennie sambil menunjuk Raihan dan Bayu dengan telunjuknya, "sengaja menabrak kami sewaktu mau masuk tadi."
Apa yang Bayu duga ternyata benar. Tapi dia diam saja, membiarkan Raihan yang bicara. Dia hanya bersiaga saja menjaga Raihan agar tidak kena pukul Miko.
"Saya harap Mbak tidak menambah runyam masalah," kata Raihan bernada datar sambil menatap sengit pada Jennie. "Kami sudah menjelaskan kalau kami tidak sengaja menabrak kalian."
"Yang lebih parah lagi," lanjut Jennie tanpa menggubris ucapan Raihan, "dia dan temannya itu udah meluk aku ama Karin dengan sengaja. Alasannya ingin menolong."
Mendengar adiknya ditabrak oleh Raihan saja sudah membuat amarah Miko meledak. Apalagi adiknya sampai dipeluk segala.
Maka Miko hendak melabrak Raihan. Namun Bayu segera bertindak cepat mencegat tindakan Miko, sehingga Miko tidak bisa menjangkau Raihan yang tetap tenang di tempatnya.
Namun Miko masih tetap memaksakan kehendak. Tapi Pak Darmawan cepat melerainya dan menenangkannya. Lalu berucap.
"Tidak perlu kamu mengotori tanganmu dengan menyentuh tubuh hina kedua pemuda kampung itu, Miko. Biarkan saja!"
Ucapan Pak Darmawan itu seakan menyadarkannya kalau dia adalah seorang CEO muda yang memiliki martabat tinggi. Berurusan dengan orang-orang rendahan seperti Raihan dan Bayu akan menurunkan imejnya.
Tapi pemuda tampan namun angkuh itu meminta pada Pak Darmawan agar memecat kedua pemuda itu. Dan Pak Darmawan yang juga sepemikiran langsung menyetujui.
Akhirnya hari itu Raihan dan Bayu dipecat dari kafe dengan kesalahan yang dibuat-buat. Namun Raihan dan Bayu tidak bisa membantah keputusan itu meski mereka mengajukan protes.
Mereka cuma orang kecil. Jelas tidak bisa melawan kehendak orang-orang kaya itu yang dengan seenak udel memutuskan memecat mereka.
__ADS_1
Sementara Melinda mengembangkan senyum jahatnya menyaksikan penderitaan Raihan. Sedangkan Jennie langsung menyunggingkan senyum kepuasan penuh kemenangan terhadap Raihan.
★☆★☆★