
Sebenarnya malam ini merupakan acara keluarga bagi Pak Baskoro dan adiknya, Pak Sudrajat yang biasa mereka lakukan di luar rumah. Lebih seringnya di restoran yang tentunya restoran mewah dan mahal.
Namun karena pertemuan dengan Raihan dan juga Bayu, acara tersebut di restoran mewah itu sedikit tertunda.
Maka, dengan tanpa menghiraukan keberadaan Raihan dan Bayu yang masih ada di tempat itu, dengan tanpa perduli perasaan istrinya yang ingin sekali bertemu putranya, Pak Baskoro memerintahkan semuanya untuk masuk ke dalam restoran.
Perintah itu demikian absolut, tidak ada yang bisa membantah, sampai pun istrinya sendiri terpaksa menuruti, meski hasratnya ingin bertemu putranya semakin besar.
Namun baru saja perintah Pak Baskoro itu terucap, terdengar Raihan berkata yang ditujukan kepada ayahnya.
"Saya melihat Anda kelihatan panik, Tuan Baskoro. Apakah Anda takut dengan kemunculan saya yang tiba-tiba tanpa Anda sangka-sangka?"
Raihan berucap begitu dengan nada kalem. Sikapnya demikian tenang berkesan santai. Tanpa ada rasa gentar atas kebesaran ayahnya sama sekali.
Akan tetapi ucapan bernada santai itu sukses membuat Pak Baskoro tidak jadi melangkah, bahkan terkejut, sangat terkejut. Tidak menyangka kalau Raihan dengan berani berkata begitu kepadanya.
Begitu juga yang lain, urung untuk melangkah masuk. Bukan karena Pak Baskoro tidak jadi melangkah. Tapi mereka terkejut mendengar ucapan Raihan yang begitu berani. Sampai-sampai mereka semua menatap Raihan dengan perasaan ngeri.
Selama ini tidak ada yang berani berkata lancang semisal ucapan itu kepada Pak Baskoro. Tapi kenapa pemuda itu begitu berani berkata seperti itu?
Sedangkan Pak Baskoro, begitu mendengar ucapan Raihan, dia langsung berbalik menghadap Raihan, dan terus menatapnya dengan tajam. Aura kemarahannya sudah tampak dari wajahnya yang membesi.
Raihan yang ditatap oleh ayahnya bagai tatapan seekor singa yang hendak menerkam mangsanya, tampak tenang-tenang saja, tampak santai saja.
Melihat Raihan begitu berani terhadapnya, Pak Baskoro bersiap-siap akan memuntahkan amarahnya kepada pemuda itu. Tapi dia tidak mau dilihat oleh istrinya. Takutnya penyakit istrinya akan kambuh lagi melihat dia memarahi putranya.
Oleh karena itu dia memerintahkan sebagian keluarga untuk duluan masuk ke dalam. Dia dan Pak Sudrajat yang tinggal untuk sementara.
Istri, kedua anak serta menantu dan cucu Pak Sudrajat segera melangkah masuk ke restoran tampa menunda. Sedangkan Bu Retno sebenarnya ingin bertemu Raihan terlebih dahulu baru mau masuk.
Tapi Pak Baskoro tetap melarangnya. Akhirnya Bu Retno masuk juga ke dalam setelah pula dibujuk oleh Shafira dan Jovanka, menantunya. Wanita tua yang masih tampak cantik itu masuk ditemani oleh putra pertamanya dan menantu serta cucunya.
Sementara Marsha lebih memilih berdamai dengan situasi untuk sementara. Dia tidak mau menentang papanya secara terang-terangan. Dia segera masuk setelah melempar senyum hangat sebentar pada Raihan.
Yang tersisa di tempat itu cuma Raihan dan Bayu yang berdiri berdekatan. Pak Baskoro dan Pak Sudrajat yang kini menatap heran pada Shafira dan Aira yang tidak ikut masuk.
★☆★☆
"Shafira, Aira! Kenapa kalian masih di sini?" tanya Pak Baskoro bernada tajam bagai menginterogasi.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama papa yang ada kaitannya dengan Raihan," kata Shafira dengan nada seperti takut-takut. "Mumpung... papa sama Raihan bertemu meskipun di tempat kayak gini."
Sedangkan Aira sebenarnya sudah takut. Tapi karena ada Shafira, dia berusaha untuk berani tetap berada di sini.
"Kamu tahu, lihat saja anak itu aku sudah muak!" kata Pak Baskoro berang. "Apalagi aku mau mendengar ucapanmu yang berkaitan dengan anak tidak tahu diri itu!"
Raihan cuma tersenyum santai saja mendengar ucapan Pak Baskoro itu. Sedangkan Bayu tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap situasi seperti ini. Dia lebih baik memilih diam.
"Ini penting, Pa," kata Shafira menegaskan.
"Kamu mau bicara soal apa, Shafira?" Pak Sudrajat cepat mengambil alih pembicaraan sebelum Pak Baskoro melontarkan kemarahannya lagi.
__ADS_1
"Sekarang kami adalah bawahan Raihan di PT. Buana Persada," kata Shafira memberi tahu. "Raihan sudah mengambil alih perusahaan itu sebagai pemilih perusahaan sekaligus CEO atau Direktur Utama."
"Hanya berita tidak berarti itu kamu bicarakan padaku yang kamu bilang penting?" kata Pak Baskoro bernada sinis penuh peremehan.
"Dengar! Aku tidak perduli lagi dengan perusahaan itu," lanjut Pak Baskoro bernada dingin. "Mau anak tidak tahu diri itu mengelolanya atau tidak, bukan urusan aku."
"Tapi perusahaan itu masih atas nama papa," kata Shafira mengingatkan, "belum beralih atas nama Raihan. Kenapa papa belum buatin surat serah terima kepemilikan?"
"Kamu sudah berani mengatur papa, Shafira?" kata Pak Baskoro bernada dingin penuh ancaman.
Mendengar ucapan papanya yang seperti mengancam itu, Shafira tidak berani lagi berbicara. Malah dia bergidik ngeri melihat wajah papanya yang sudah dipenuhi kemarahan itu.
Sedangkan Aira langsung tertunduk dalam-dalam, tidak berani memandang Pak Baskoro.
"Siapa yang mengatur Anda, Tuan Baskoro?" tiba-tiba Raihan yang sedari tadi diam bersuara. Nada bicaranya masih santai.
"Bukankah itu fakta?" lanjut Raihan berani-berani saja. "Anda sudah menyatakan menyerahkan perusahaan itu kepada orang lain, tapi Anda belum membuatkan surat pernyataan serah terima kepemilikan. Apa maksud Anda?"
"Tutup mulutmu, anak kurang ajar!" bentak Pak Baskoro berang. "Kamu tidak berhak berbicara!"
"Mas Bas, jangan seru-seru berbicara!" kata Pak Sudrajat memperingatkan. "Kita masih di tempat umum."
"Boleh saja Anda mengatakan saya tidak berhak bicara," kata Raihan seolah tidak terpengaruh dengan ucapan Pak Sudrajat kepada ayahnya. "Tapi saya harus bicara, karena ini fakta."
"Nak Rai, cobalah berbicara sopan dengan ayahmu!" kata Pak Sudrajat menasehati. "Jangan terus membantah bicaranya!"
"Masih kurang sopankah sedari tadi saya bicara, Pakle?" kata Raihan seakan protes. "Kalau begitu bicara sopan yang bagaimana menurut Pakle yang benar-benar sopan?"
"Ayah?! Pakle menyebut dia ayah saya?" kata Raihan lagi makin menjadi. "Bukankah Pakle sudah dengan tadi kalau dia sudah tidak menganggap lagi saya sebagai anaknya?"
"Bahkan dengan teganya dia melarang istrinya untuk menemui putranya yang sudah lama tidak bertemu," lanjut Raihan.
"Orang yang tidak menganggap saya sebagai anaknya, pantaskah saya menghormatinya sebagai seorang ayah?"
Pak Sudrajat langsung terdiam mendengar semua ucapan Raihan barusan yang begitu mendasar. Perkataan Raihan tersebut memang tampaknya tidak sopan. Tapi tidak bisa terbantahkan. Karena hal itu memang kenyataan.
Pak Baskoro juga ikut terdiam. Dalam hati harus dia akui kebenaran ucapan Raihan. Dia memang sudah tidak menganggap lagi Raihan sebagai anaknya saking bencinya terhadap Raihan. Buat apa dia dihormati sebagai seorang ayah?
Lagi pula dia tidak perduli kalau Raihan juga tidak menganggapnya sebagai ayah. Dia tidak merasa rugi sama sekali. Karena baginya anak itu tidak ada artinya.
Sedangkan Shafira yang mengetahui kehidupan Raihan waktu kecil dulu, yang menderita di tengah keluarganya, tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pendirian Raihan. Jiwanya yang sudah memberontak begitu, mana mungkin bisa menerima perlakuan papanya begitu saja.
Sementara Bayu maupun Aira hanya bisa terpaku diam saja di tempat masing-masing. Mereka jelas tidak berani angkat bicara.
Bayu yang biasanya berani menegur Raihan, kali ini tidak berani entah kenapa? Aira yang sedari tadi sudah dikungkung rasa takut, makin tidak berani berkutik.
★☆★☆
"Sekali lagi saya tanya kepada Anda, apa maksud Anda belum membuatkan surat pernyataan serah terima kepemilikan PT. Buana Persada?" tanya Raihan bernada datar.
"Kalau kamu mau ambil perusahaan miskin itu, ambil saja," kata Pak Baskoro bernada sinis. "Tidak usah menuntut yang tidak-tidak kepadaku."
__ADS_1
"Apa karena Anda takut apabila perusahaan itu sukses di kemudian hari, Anda tidak bisa lagi mengambilnya?" kata Raihan seolah mengintimidasi.
"Huh! Kamu jangan sombong, Anak Muda," cibir Pak Baskoro. "Perusahaan itu sebentar lagi akan jatuh bangkrut. Buat apa repot-repot segala membuatkan surat pernyataan buat kamu. Buang-buang waktu saja!"
"Saya sudah memeriksa semua kegiatan selama 3 tahun perusahaan itu dikelola oleh Mbak Shafira, Tuan Baskoro," kata Raihan tidak terpengaruh dengan ucapan ayahnya. "Selama itu sama sekali tidak ada koneksi dengan perusahaan Anda...."
"Tapi Anda mengatakan kalau sebentar lagi perusahaan itu akan bangkrut," lanjut Raihan. "Dari mana Anda tahu kalau sebentar lagi PT. Buana Persada akan bangkrut?"
Seketika Pak Baskoro bungkam, tidak bisa menanggapi perkataan itu dengan cepat. Dia hanya menatap Raihan dengan tajam penuh kebencian.
"Apakah Anda tahu dari mata-mata Anda yang Anda pasang di perusahaan saya?" kata Raihan lagi sambil tersenyum.
Pak Baskoro maupun Pak Sudrajat seketika terkejut mendengar pertanyaan bernada menebak itu. Tapi keterkejutan mereka cuma sebentar. Seolah sikap mereka menyembunyikan sesuatu.
Akan tetapi Raihan sudah lihat ekspresi terkejut mereka meski cuma sebentar. Maka dia yakin kalau tebakannya benar.
"Saya peringatkan kepada Anda agar segera memanggil pulang orang-orang Anda di perusahaan saya," kata Raihan bernada tegas, "sebelum saya yang akan membuang mereka ke tempat Anda kembali."
"Satu lagi. Saya beri Anda waktu 10 hari untuk membuatkan saya surat pernyataan serah terima kepemilikan PT. Buana Persada dan surat pernyataan bahwa perusahaan induk sudah tidak punya hubungan lagi dengan PT. Buana Persada."
"Jangan saya sendiri yang akan membuatnya yang nantinya Anda akan menyesal di kemudian hari," lanjut Raihan seolah mengancam.
"Ingat, Tuan Baskoro! Jangan coba-coba bermain-main dengan saya kalau Anda tidak ingin cepat-cepat hancur!"
"Lagakmu seperti Tuan Besar saja, Anak Muda," kata Pak Baskoro bernada sinis penuh peremehan. "Apa yang kamu andalkan hah?"
"Mungkin saat ini saya belum punya apa-apa yang bisa diandalkan, Tuan Baskoro," kata Raihan tetap tenang saja. "Tapi suatu saat nanti saya akan memberikan kejutan kepada Anda."
"Hahaha...! Kamu terlalu jumawa, Anak Muda," kata Pak Baskoro sambil tertawa meremehkan. "Perusahaan miskinmu itu sebentar lagi akan runtuh...."
"Kamu berpijak di dahan yang lapuk, Anak Muda," lanjut Pak Baskoro masih tersenyum mengejek penuh peremehan. "Aku masih berbaik hati mengingatkanmu."
Raihan cuma tersenyum saja mendengar ucapan Pak Baskoro yang jelas sekali meremehkannya itu. Tapi dia tidak perlu menanggapinya. Cukup dia bertekad untuk membuktikan kalau dia tidak bisa diremehkan.
"Sekali lagi saya ingatkan, Tuan Baskoro, waktu Anda cuma 10 hari dari sekarang!" Raihan malah mengingatkan kembali batas waktu permintaannya tadi.
"Kamu pikir aku peduli dengan permintaanmu yang tidak ada gunanya itu?" kata Pak Baskoro masih dalam mode peremehan. "Jangan harap aku akan memenuhinya!"
Lagi-lagi Raihan cuma tersenyum mendengar ucapan Pak Baskoro. Dia tidak perlu menanggapinya.
Lalu, setelah merasa cukup berbicara dengan ayahnya, tanpa menghiraukan orang tua itu dan adiknya, Raihan pamitan kepada Shafira dan Aira. Lalu meninggalkan tempat itu begitu saja bersama Bayu.
Sama sekali dia tidak menghiraukan Pak Baskoro. Pamitan pun tidak.
Melihat tingkah menjengkelkan anaknya itu, Pak Baskoro semakin berang. Ingin rasanya dia menghajar putranya yang menurutnya kurang ajar itu, yang tidak tahu diri itu.
Tidak lama kemudian, dengan suasana hati yang dongkol, dia berbalik dengan cepat, terus melangkah masuk ke gedung restoran. Sedangkan Pak Sudrajat ikut melangkah pula di sampingnya.
Menyusul kemudian Shafira dan Aira setelah menoleh sebentar pada Raihan dan Bayu yang sudah sampai di parkiran motor.
★☆★☆★
__ADS_1