
Batas waktu yang diberikan Raihan kepada Pak Baskoro untuk membuatkan 2 surat pernyataan telah habis. Sedangkan Pak Baskoro tidak juga membuatkan 2 surat pernyataan tersebut kepada Raihan.
Adapun 2 surat pernyataan yang dimaksud adalah surat serah terima kepemilikan PT. Buana Persada kepada Raihan; dan surat pemutusan hubungan PT. MITRA Baskoro Company dengan PT. Buana Persada, seperti yang telah dinyatakan sendiri oleh Tuan Besar itu.
Mengapa Pak Baskoro tidak juga membuatkan 2 surat pernyataan tersebut?
Hal itu tidak lain disebabkan oleh ketidak perdulian Pak Baskoro kepada Raihan, juga karena Tuan Besar itu telah meremehkan kemampuan anak ketiganya tersebut dalam mengelola perusahaan. Dan hal itu telah disadari oleh Raihan.
Maka mulai saat itu Raihan bertekad akan menunjukkan kebolehannya dalam dunia bisnis, agar dia tak diremehkan oleh siapa pun, sampai pun oleh ayahnya sendiri.
Mulai menampakkan dirinya di atas permukaan, merancang persaingan dengan perusahaan-perusahaan lain untuk merebut pasar bisnis, termasuk merancang persaingan dengan perusahaan raksasa semisal Pak Baskoro dan Pak Mahendra.
Karena dia sudah bertekad menampakkan diri, maka Raihan menyuruh Shafira untuk mengumumkan kepada seluruh dewan direksi dan seluruh karyawan bahwa pemilik PT. Buana Persada sekaligus CEO-nya adalah dia.
Sontak saja seluruh karyawan selain yang sudah mengetahui terkejut mana kala mereka mengetahui bahwa ternyata Raihan Pratama adalah Big Boss mereka.
Sebagian besar karyawan selama ini menyangka bahwa Raihan itu hanyalah karyawan OB biasa bersama Bayu. Tidak tahunya ternyata Raihan adalah pemilik sekaligus dirut perusahaan. Dan Bayu adalah asistennya.
Lebih terkejut lagi para karyawan yang pernah cari masalah baik dengan Raihan maupun dengan Bayu. Lebih tepatnya mereka ketakutan. Mereka takut kalau dengan sebab ulah mereka itu dipecat oleh sang boss.
Ternyata apa yang mereka takutkan menjadi kenyataan. Sebagai karyawan yang bermasalah dan juga punya catatan hitam langsung dikeluarkan dari perusahaan tanpa kompromi.
Perlu diketahui bahwa Raihan telah membentuk dewan khusus dalam perusahaan yang bertugas membantunya dalam segala hal yang terkait kepentingan perusahaan, termasuk melacak orang-orang yang bermasalah dalam perusahaan.
Berkat bantuan mereka yang memang semuanya adalah orang-orang terpercaya, Raihan dapat mengetahui siapa-siapa di antara karyawannya yang tidak becus dalam bekerja.
Berkat hasil kerja mereka juga Raihan dapat mengetahui adanya penyusup atau mata-mata dari perusahaan induk yang ditempatkan di perusahaannya.
Maka tanpa kenal ampun Raihan memecat semua karyawan yang bermasalah itu. Sedangkan 4 orang karyawan penyusup Raihan kembalikan kepada tuan mereka, yaitu Pak Baskoro.
Tentu saja Pak Baskoro makin menggeram marah terhadap anaknya yang sudah tidak dianggapnya lagi itu. Sekaligus terkejut tidak percaya kalau Raihan dapat mengetahui penyusup yang ditempatkan di perusahaan yang sudah dia buang itu.
Setelah Raihan melakukan 'pembersihan' di semua divisi di perusahaannya, dia mulai menata ulang manajemen perusahaannya. Memperbaiki tatanan yang sudah tersusun di masa Shafira masih mengelolanya dulu.
Sebagaimana hal ini sudah disepakati oleh anggota dewan khusus yang telah dibentuk oleh Raihan, termasuk Shafira.
Di samping itu juga Raihan mengadakan rapat-rapat khusus dengan anggota dewan khususnya itu untuk merancang metode-metode yang jitu dalam mengelola perusahaan, agar perusahaan berkembang dengan pesat.
Juga merancang strategi-strategi dalam mengahadapi persaingan dengan perusahaan-perusahaan lain.
__ADS_1
★☆★☆
Dan ada yang tidak kalah hebat lagi yang Raihan lakukan selama menata ulang perusahaannya itu. Dia berhasil membuat sendiri 2 surat pernyataan yang pernah diminta kepada ayahnya tapi tidak diberikan.
Yang lebih menarik dalam hal ini bukan isi surat pernyataannya. Melainkan Raihan berhasil menirukan tanda tangan Pak Baskoro, sebagaimana yang diterakan dalam 2 surat penyataan tersebut.
Tentu saja pejabat-pejabat tinggi perusahaan, termasuk dewan khususnya yang dinamakan Dewan 12, menjadi heboh dibuatnya. Sungguh mereka tidak menyangka kalau Boss Besar mereka berani bertindak sampai sejauh itu.
Terang saja tindakan Raihan tersebut sempat membuat mereka sedikit takut, selain Bayu tentunya. Mereka takut atau lebih tepatnya khawatir kalau orang-orang perusahaan induk akan menyerang perusahaan ini.
Namun Raihan menenangkan mereka semua dan sudah mengantisipasi jika kemungkinan buruk itu akan terjadi. Dan Raihan meminta kepada mereka semua untuk memberikan kepercayaan kepada dirinya dalam mengatasi masalah itu.
Langkah Raihan selanjutnya adalah mengadakan pertemuan dengan Pak Baskoro. Atau lebih tepatnya menemui ayahnya itu.
Tujuan utama Raihan ingin bertemu dengan Pak Baskoro yaitu hendak memperlihatkan kepada tuan besar itu 2 surat penyataan yang dia buat sendiri. Raihan ingin melihat bagaimana reaksi ayahnya setelah melihat hasil perbuatannya.
Awalnya Raihan yang diikuti oleh Bayu dan beberapa orang rekan kerjanya pergi ke kantor induk. Tentu sebagai pengantar ke sana adalah Shafira bersama Aira.
Namun, jangankan bisa bertemu dengan Pak Baskoro, masuk ke perusahaan itu saja Raihan dan rekan-rekannya tidak diperbolehkan.
Cuma Shafira dan Aira yang diperbolehkan masuk. Namun kedua gadis cantik itu hanya bisa sebagai penyampai maksud kedatangan Raihan di perusahaan induk, tidak berhasil mempertemukan Pak Baskoro dengan Raihan.
Orang yang menemui Raihan hanyalah Fauzan. Dia menemui adiknya bukan untuk diajak masuk menemui ayahnya. Melainkan pemuda sombong itu menemui Raihan untuk menghinanya dengan kasar, setelah itu mengusirnya dengan tidak terhormat.
Raihan hanya bisa bersabar meninggalkan perusahaan induk bersama rekan-rekannya. Tidak mau membalas hinaan kakaknya meski amat menyakitkan. Dia hanya berusaha agar tidak ribut dengan kakak tertuanya itu.
Jalan satu-satunya Raihan agar bisa bertemu dengan Pak Baskoro adalah pergi ke kediaman tuan besar itu. Artinya dia akan pergi ke rumahnya semasa kecil dulu di mana dia dibesarkan selama 7 tahun di sana.
Itu jalan satu-satunya meskipun Raihan terpaksa menempuhnya.
★☆★☆
Akhirnya pergilah dia bersama Bayu pada keesokan harinya ke kediaman Pak Baskoro, tepatnya pada sore hari di mana orang-orang telah pulang kerja.
Raihan cuma pergi berdua saja dengan Bayu. Tidak ada rekan-rekannya yang kemarin ikut ke perusahaan induk ikut bersamanya ke sana.
Perlu diketahui bahwa Raihan telah meninggalkan rumah orang tuanya itu semenjak usia 7 tahun. Sementara saat ini dia sudah berusia 26 tahun. Itu artinya Raihan sudah 19 tahun lamanya dia meninggalkan rumah orang tuanya itu.
Tentunya dia maupun Bayu sudah tidak mengetahui lagi di mana letak rumah itu. Maka untuk ke sana mereka diantar oleh Shafira, di mana gadis itu memang menuju pulang kerumahnya tersebut.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, sampailah mereka di kediaman besar dan megah itu.
Karena mobil Shafira paling depan, dia duluan masuk di kediaman itu. Menyusul di belakangnya mobil Raihan yang disupiri oleh Bayu.
Begitu kedua mobil sedan mewah itu sampai di depan serambi kediaman Pak Baskoro yang megah itu, kedua mobil itu langsung berhenti di situ.
Tak lama Shafira mendahului keluar dari mobilnya. Menyusul kemudian Raihan dan Bayu yang hampir bersamaan.
"Ayo masuk, Rai, Bay!" ajak Shafira setelah memperhatikan pintu masuk yang tertutup.
"Sebentar," kata Raihan tanpa memandang Shafira.
Lalu dia melayangkan pandangannya mengamati keadaan sekeliling dari tempat berdirinya. Meski agak-agak lupa, tapi dia tahu banyak perubahan yang terjadi di areal kediaman ini dibanding masa kecilnya dulu.
"Banyak perubahan selama kamu ninggalin rumah, Rai," kata Shafira seakan memberi tahu.
"Yah..., banyak perubahan...," kata Raihan menanggapi.
Tanpa terasa sudah 19 tahun dia meninggalkan rumah orang tuanya ini. Banyak kenangan masa kecilnya dulu masih tersimpan di rumah ini, terutama kenangan menyedihkan sekaligus menyakitkan.
Meski ada sedikit kenangan bahagia.
Kenangan bahagia saat bersama Shafira, kakak perempuannya. Ya, cuma kakaknya itu yang bisa membuatnya bahagia. Karena cuma kakaknya itu yang membelanya di kala keluarga yang lain menindasnya.
Betul-betul dia memiliki kenangan menyedihkan yang begitu pahit pada masa kecil dulu di rumah ini. Di rumah yang sebenarnya rumahnya juga.
"Nggak usah lagi kamu mengenang masa kecilmu yang nggak ngenakin, Rai," kata Shafira menghibur saat melihat wajah Raihan yang berubah sedih. "Sekarang kamu udah besar setelah melewati banyak hal yang nggak ngenakin dalam hidupmu."
"Benar, Rai," kata Bayu ikut menasehati. "Kamu harus terus menatap ke depan! Nggak usah menengok ke belakang lagi yang ngebuat kamu sedih, hingga akhirnya sakit hati."
"Yah..., kalian benar," kata Raihan bernada mendesah. "Aku nggak usah lagi ingat-ingat masa kecilku yang menyedihkan itu. Aku harus menatap masa depan yang cerah buatku...."
"Ayo masuk, Rai!" ajak Shafira lagi.
Tapi baru saja Raihan berbalik hendak melangkah ke serambi rumah, dari arah pintu masuk yang terbuka berseru seorang gadis cantik.
"Mas Rai! Mas Bay!"
★☆★☆★
__ADS_1