
Sepulang dari kampus, Marsha sebenarnya hendak ke restoran Viola. Maksudnya, ke restoran Miko yang dikelola oleh Viola. Tentu saja setelah menghubungi gadis itu sebelumnya.
Namun Viola mengabarkan kalau dia akan ke tempat Marsha saja, yaitu ke restoran Raihan. Sedangkan Marsha setuju-setuju saja.
Sebagaimana kebiasaan Viola seperti biasa, sepulang dari kampus dia langsung ke restoran Miko, mengerjakan tugasnya di situ. Bahkan dia lebih sering tidur di restoran yang disediakan Miko untuknya.
Boleh dibilang Viola jarang di rumahnya. Atau lebih tepatnya dia seperti tidak senang tinggal di rumahnya. Hal itu berlangsung semenjak orang tuanya memaksa dia putus dengan Raihan.
Maka, setelah tugas utamanya selesai, dia langsung ke restoran Raihan. Waktu itu jam 6 lewat setelah dia selesai melaksanakan shalat maghrib.
Perlu diketahui bahwa, sebenarnya Michella sepulang dari kampus ingin ikut dengan Viola ke restoran. Tapi belum juga niatnya itu kesampaian, gadis itu sudah di jemput oleh orang-orang papanya.
Dengan terpaksa Michella ikut pulang ke rumahnya bersama orang-orang tersebut, meski hatinya kesal.
Sedangkan Viola merasa lega Michella tidak ikut dengannya. Soalnya, maksud dia hendak bertemu dengan Marsha, ingin membicarakan masalah perjodohan Michella dengan Raihan.
Tentu kalau ada Michella, suasananya jadi tidak enak. Lagi pula Viola belum mau berterus terang pada Michella kalau dia pernah pacaran sama Raihan. Dan sampai sekarang masih mencintai pemuda itu.
Begitu Viola telah sampai di restoran Raihan, setelah memarkir mobilnya, dia langsung berjalan setengah berlari menuju sebuah lorong yang ada di samping kanan restoran.
Di depan lorong agak masuk sedikit, rupanya Marsha sudah menanti. Begitu bertemu, kedua sahabat itu kangen-kangenan sebentar dengan cipika-cipiki, lalu mereka berjalan menyusuri lorong sambil ngobrol santai.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah ruangan atau kamar pribadi yang cukup luas, rapi dan bagus. Nuansa kewanitaan telah menghiasi kamar itu.
Kamar itu adalah milik Marsha tentunya. Dia lebih sering tidur atau bermalam di kamarnya itu ketimbang dia pulang ke rumahnya. Dia juga tidak jauh beda dengan Viola, tidak senang tinggal di rumah.
"Sa, sebenarnya gue pingin ngobrol tentang hal penting ama lu," kata Viola begitu mereka telah duduk di tepi pembaringan. "Makanya gue beraniin nyamperin lu di sini."
"Kok sama ya?!" kata Marsha bernada heran. "Gue juga sebenarnya pingin omongin masalah penting ama lu."
"Lu udah dapat cowok yang sesuai kriteria lu ya?" tebak Viola seraya tersenyum menggoda.
"Bukan itu yang gue pingin omongin," kata Marsha seperti malas membicarakan soal cowok. "Ada yang lebih penting ketimbang omongin itu."
"Lu mau omongin apa?" tanya Viola ingin tahu.
Seakan-akan dia menangguhkan dulu masalah penting yang ingin disampaikan. Sepertinya dia pingin tahu dulu masalah apa yang ingin disampaikan Marsha.
"OK, gue dulu kalau gitu," kata Marsha sepakat dia dulu yang bicara.
"Hm..., gini," lanjut Marsha setelah mendehem sedikit. "Semalam di rumah gue ada acara keluarga.... Awalnya gue menduga gitu. Nggak tahunya itu sebenarnya acara perjodohan...."
Sampai di situ Viola sudah mulai deg-degan. Wajah cantiknya sedikit tegang. Dia sudah bisa menduga acara perjodohan itu acara perjodohan siapa.
★☆★☆
"Lu tau nggak itu sebenarnya acara perjodohan siapa?" tanya Marsha selanjutnya.
__ADS_1
"Siapa...?" tanya Viola cepat seakan tidak sanggup dan tidak ingin menduga-duga.
"Sebenarnya itu acara perjodohan Kak Rai sama cewek yang bernama Michella," sahut Marsha bernada mendesah. Saat mengucapkan kalimat itu hatinya seketika langsung bersedih bercampur kecewa.
Marsha memang belum mengenal Michella dan belum tahu kalau gadis itu adalah sahabatnya Viola, sahabatnya juga. Sebabnya karena Viola belum memberi tahu pada Marsha.
Sedangkan Viola, hatinya langsung terkejut. Dia sudah tahu kalau Raihan dijodohkan sama Michella. Tapi tak urung hati dan perasaannya masih saja dia merasakan sakit bagai teriris sembilu.
"Untung aja acara perjodohan itu nggak jadi tadi malam," kata Marsha selanjutnya, masih dengan nada sedihnya. "Tapi nyokap gue tetap kekeh jodohin Kak Rai sama cewek pilihan nyokap itu...."
"Gue ngeliat Kak Rai sedih banget, La," ungkap Marsha, "kasian... banget. Sebenarnya Kak Rai menolak perjodohan itu. Tapi nyokap tetap pada keputusannya, dan nggak bisa dibantah...."
"Mas Rai nerima perjodohan itu...?" kejut Viola hampir copot jantungnya.
"Lu tenang aja, La, Kak Rai tetap menolah perjodohan itu," kata Marsha berusaha menenangkan Viola. "Cuman... Kak Rai nggak bisa nolak terang-terangan di depan nyokap. Karena takut penyakit nyokap kambuh lagi."
"Tapi pada akhirnya... Mas Rai bakal nerima perjodohan itu," gumam Viola bernada amat pilu. "Dia... dia bakal nikah sama Sela...."
Viola tidak bisa lagi membendung kesedihannya yang bercampur rasa kecewa yang mendalam. Air mata bening seketika keluar dari kelopak matanya tanpa bisa dia cegah. Menandakan kesedihannya yang tak terbendung.
"Nggak... nggak kayak gitu, Lala," Marsha tetap berusaha menenangkan perasaan Viola yang sudah kacau itu, sementara kesedihan juga semakin merundungnya. "Kak Rai tetap berusaha mencari cara gimana menolak perjodohan itu. Lu jangan mikir macam-macam dulu...."
Bujukan Marsha barusan seakan tidak berpengaruh pada keadaan Viola. Hatinya semakin sedih, sakit dan kecewa. Sementara air matanya semakin deras mengalir di pipi halusnya meski suara tangisnya belum terdengar.
Kesedihannya akibat orang tuanya memaksanya putus dengan Raihan belum juga reda. Kini kesedihan itu bertambah lagi akibat mengetahui kalau Raihan ternyata telah dijodohkan.
Hatinya memang benar-benar kecewa saat ini. Tapi... dia harus kecewa pada siapa? Dan kenapa dia harus kecewa?
Apakah dia kecewa karena mencintai Raihan? Sehingga dia sekarang menderita akibat didera oleh kesedihan.
"Nggak papa, Sa, gue nggak papa," Viola mencoba mendustai perasaannya. "Kalau... misalkan Mas Rai bakal nikah ama Sela, gue senang malah. Sela juga cewek yang baik...."
"Sela?!" tanya Marsha mulai ngeh dengan sebutan itu. "Maksud lu Sela tuh nama panggil Michella, gitu?"
"Iya," sahut Viola sambil menyeka air matanya. "Sela memang nama panggil Michella. Dia teman kampus gue, dan juga sahabat gue, sama kayak lu."
"Apa...?!"
★☆★☆
Bukan main terkejutnya Marsha mendengar pengakuan Viola barusan. Sungguh dia tidak menyangka kalau Michella ternyata juga sahabat sahabatnya ini.
Sebagai sahabat, Marsha dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Viola. Tentu amat berat bagi Viola menghadapi masalah seperti ini. Sehingga pantaslah Viola didera oleh kesedihan yang amat sangat.
Pemuda yang dicintainya, Raihan Pratama, Viola sungguh tidak menyangka kalau telah dijodohkan dengan Michella, sahabatnya sendiri juga.
"Apa yang lu pingin obrolin ama gue tentang masalah perjodohan ini juga, La?" tanya Marsha setelah dapat menguasai perasaannya yang tadi terkejut.
__ADS_1
Namun nada suaranya masih menampakkan kalau dia juga didera rasa sedih yang mendalam.
"Iya," sahut Viola sedikit parau di tengah tangisnya yang tak bersuara. "Malahan... gue tau tentang perjodohan ini dari Sela langsung."
"Kapan?" tanya Marsha ingin tahu, cepat.
"Tadi waktu kami di kampus...," sahut Viola setelah kembali menyeka air matanya. Namun kesedihannya belum bisa dia seka dari hatinya.
Kemudian Viola menceritakan tentang pembicaraannya dengan Michella sewaktu mereka bertemu di kampus tadi pagi.
Menceritakan tentang kabar menyakitkan yang dibawa Michella kepadanya. Yaitu kabar perjodohan Raihan dengan Michella.
Setelah itu memberitahukan bahwa Michella juga menolak perjodohan tersebut. Sehingga untuk menghindari acara perjodohan itu, dia nekad meninggalkan mamanya. Bahkan rela tidak pulang ke rumahnya, demi menghindari perjodohan tersebut.
Intinya, Viola menceritakan tentang semua yang diceritakan Michella kepadanya. Termasuk menceritakan tentang pertemuan Michella dengan Bayu hingga Bayu mengantarnya ke kampus tadi pagi.
Tapi Viola tidak menceritakan tentang perasaan Michella terhadap Bayu, bahwa Michella menyukai Bayu. Hal itu sengaja dilakukan demi menjaga perasaan Marsha yang pernah menyukai Bayu juga, meski Marsha belum pernah mengungkapkan kepada Bayu.
Entah sekarang, apa perasaan itu masih ada apa sudah tidak ada Viola tidak bisa memastikan. Apalagi hingga sekarang Marsha belum punya pacar.
"Apa lu udah bilang ke Sela kalau lu dan Kak Rai masih pacaran, hanya saja sekarang lagi break?" tanya Marsha setelah Viola selesai bercerita.
Sebenarnya yang menganggap Viola dan Raihan masih pacaran adalah Marsha. Karena dia sudah mendengar penuturan dari Viola maupun Raihan bahwa ternyata mereka masih saling mencintai.
Viola terpaksa menyatakan putus pada Raihan karena dipaksa oleh kedua orang tuanya. Padahal hati kecilnya tidak ingin putus dengan Raihan.
Sedangkan Raihan, setelah tahu kalau Viola minta putus dengannya karena diancam oleh ortunya, maka dia merasa belum putus dengan Viola. Raihan masih menganggap kalau dia dan Viola masih pacaran. Hanya saja masih break hingga sekarang.
Oleh karena itu, Marsha berkesimpulan bahwa Viola dan Raihan belum putus secara hakiki.
"Belum," sahut Viola yang tangisnya hampir reda, tapi sedihnya belum. "Tapi... mungkin nggak bakal gue kasi tahu. Biarlah Mas Rai sama Sela jadian. Gue juga senang."
"Lu jangan bo'ongin hati kecil lu, La!" kata Marsha mengingatkan. "Lu masih mencintai Kak Rai. Lu pasti nggak rela Kak Rai jadi milik orang lain, meskipun itu sahabat lu sendiri."
"Terus.... gue harus gimana, Sa?" kata Viola bingung di tengah kesedihannya. "Nggak mungkin gue nentang perjodohan itu, karena itu keputusan orang tua Sela dan orang tua lu."
Marsha lebih mendekat pada Viola, terus kedua telapak tangannya memegang ujung pundak Viola. Lalu berkata memberi semangat pada Viola agar tetap bertahan bersama Raihan.
"Dengerin gue! Kak Rai udah pasti menentang perjodohan itu. Dan Michella juga bilang ke lu kalau dia juga menentang perjodohan itu. Jadi lu nggak usah sedih, nggak usah mundur! OK?!"
"Tapi...."
"Nggak ada tapi-tapian," kata Marsha memotong ucapan Viola yang baru hendak bicara. "Pokoknya lu nggak usah khawatir. Tinggal lu bantu perjuangan Kak Rai dengan mempertahanin hubungan kalian. OK?!"
Viola tersenyum di tengah kesedihan melanda. Dia merasa bersyukur telah mempunyai sahabat sejati seperti Marsha. Di saat-saat sedih seperti ini, memang keberadaan sahabat sejati amatlah penting.
★☆★☆★
__ADS_1