
Terus terang Michella cukup terpesona dengan aura yang menguar dalam diri seorang Bayu. Sikapnya yang begitu cool, tapi tidak terkesan angkuh. Malah Bayu terkesan bersahaja dan tetap menjaga kesopanan.
Apalagi tadi saat dia melihat senyum Bayu yang begitu menawan. Cewek manakah yang tidak meleleh melihat cowok tampan yang tersenyum semenawan itu.
Memang, seperti yang Michella sudah kenal, cowok cool itu amat jarang tersenyum. Tapi sekali tersenyum, apalagi cowoknya ganteng, pasti cakep.
Sedangkan Bayu, bagaimanakah kesan pemuda itu saat pertama kali bertemu dengan Michella?
Cewek secantik dan seanggun Michella, pemuda mana pun pasti akan tergerak dengan pesona yang ditebarkan oleh Michella. Tidak terkecuali dengan Bayu.
Tentu saja pemuda dingin itu terpesona dengan kecantikan Michella. Itu sudah pasti. Terpesona semenjak pertama kali melihat gadis itu.
Namun Bayu sepertinya sudah mahir menyembunyikan perasaannya di balik wajah tampannya yang dingin. Dia mampu membungkus hatinya yang tergetar di balik sikap datarnya.
Dia mampu menampakkan sikap tenangnya di hadapan gadis itu, tapi sebenarnya hatinya amat bergemuruh ingin memiliki Michella.
Yang lebih penting dari itu semua Bayu masih mampu mengekang hasratnya ingin memiliki si gadis, karena dia amat menyadari akan keadaan dirinya yang bukan siapa-siapa.
"Siapa cowok yang dijodohin sama lu, Sela?" tanya Bayu bagai mengulang pertanyaannya, membuat kebisuan di antara mereka seketika hancur berantakan.
"Lu cemburu ama cowok itu ya?" tanya Michella sambil tersenyum seakan mencandai. "Lu jujur aja! Gratis kok, nggak usah bayar kalau lu ngaku...."
"Kenapa lu nyangka gue suka ama lu?" Bayu malah bertanya, tapi jelas mendustai perasaannya. "Lu sebegitu PD-nya gue cemburu sama cowok yang dijodohin ama lu."
"Tapi lu beneran emang suka sama gue 'kan?" tanya Michella seolah bukan lagi bercanda, tapi ingin tahu perasaan Bayu padanya.
"Apa setiap cowok yang dekat ama lu, lu tanya kayak gitu?"
"Ngng..., nggak juga sih," sahut Michella setelah berlagak berpikir sejenak. "Kayaknya baru lu deh...."
"Berarti lu yang suka ama gue kalau gitu," kata Bayu menebak dengan jitu.
Deg!
Michella langsung terdiam sejenak. Sedapat mungkin dia bertahan untuk tidak kaget, tapi dia kaget juga. Dan Bayu masih sempat melihatnya meski cuma sebentar.
Kenapa tebakan cowok ini begitu tepat ya, pikirnya.
Melihat Michella kaget mendengar ucapannya, Bayu cuma diam saja, tidak memberi reaksi apa-apa. Tapi setidaknya dia tahu kalau Michella ternyata juga menyukai dirinya. Sama seperti dirinya yang juga menyukai gadis itu.
"Nggak ada untungnya menyukai cowok miskin kayak gue, Sela," kata Bayu seakan mengingatkan. "Lu nanti yang repot, habis diporotin ama gue...."
"Iiih, PD amat sih gue suka ama lu!" gerutu Michella yang juga mendustai hatinya, berlagak cemberut. "Lu kali yang suka ama gue...."
__ADS_1
"Bener... lu nggak suka ama gue?"
"Nggak, gue nggak suka ama cowok ke-PD-an kayak lu!"
"Syukurlah lu ternyata nggak suka ama gue, padahal...," kata Bayu seperti menggantung ucapannya.
"Lu yang suka ama gue 'kan?" kata Michella sok yakin. "Udah, ngaku aja! Nggak usah muna deh!"
Bayu cuma melirik sebentar gadis itu melalui kaca spion dalam. Lalu bertanya seakan mengalihkan suasana seru di antara mereka, mengulang pertanyaannya tadi.
"Siapa cowok yang dijodohin sama lu, Sela?"
"Gue nggak bakal ngasih tau sampe lu bilang ama gue kalau lu suka ama gue...," Michella tetap ngotot.
"Maksa amat sih gue suka ama lu!" kata Bayu yang sebenarnya menggerutu, tapi tertutupi dengan sikap dinginnya.
"Jadi, lu nggak mau ngaku kalau lu suka ama gue?"
"Kita saling kenal aja baru, Neng," Bayu masih berkilah. "Mana mungkin secepat itu gue suka ama lu? Lu jangan aneh-aneh lah. Jawab aja pertanyaan gue!"
"Nggak, gue nggak mau jawab," cemberut Michella.
"Ya udah kalau nggak mau jawab," kata Bayu seakan mengalah. "Sekarang gue nanya, rumah lu di mana biar gue antar?"
★☆★☆
"Sial amat hidup gue hari ini!" gerutu Michella seakan mengeluhkan nasibnya. "Udah mau dijodohin ama cowok yang disuka. Ketemu orang baik tapi nggak mau nolong! Apes dah hidup gue!"
"Jangan salah paham dulu, Sela," kata Bayu mencoba meluruskan pemahaman Michella. "Gue bukan nggak mau nolong. Di rumah itu nggak ada orang tua. Yang ada cuma kakak gue. Itu pun laki-laki juga."
"Lu 'kan nggak ngapa-ngapain gue? Napa lu yang takut? Harusnya gue yang takut. Tapi gue yakin lu tu orang baik, nggak mungkin macam-macamin gue."
"Kalau gitu rumah teman lu di mana biar gue ngantar?" tanya Bayu lagi seakan tidak menggubris ucapan Michella.
"Gue juga nggak mau ke teman gue," jelas Michella yang sekarang kesalnya hilang, dan sedih mendominasi. "Nyokap ama bokap gue pasti nyari gue juga di situ...."
"Tolongin gue kali ini, Mas Bay!" mohon Michella makin sedih, bahkan titik air matanya sudah jatuh. "Lu bawa gue ke mana kek. Jangan bawa gue pulang.... Gue nggak mau dijodohin.... Tolong nemenin gue malam ini..., Mas Bay!"
Sekarang bukan lagi air mata Michella yang keluar, tapi tangisnya sudah meledak. Meski tidak meraung-raung, tapi sudah cukup mengungkapkan betapa menyedihkan nasib gadis itu yang menolak dijodohkan.
Suara tangis Michella yang begitu memilukan membuat Bayu lemah. Dia tidak tahan kalau mendengar wanita menangis. Apalagi gadis itu sambil menangis begitu mengiba meminta pertolongannya.
"Baik, baik! Gue nolongin lu," kata Bayu menenangkan. "Lu tenang aja, nggak usah nangis! Gue bakal ngantar lu di rumah gue! Insyaa Allah lu aman."
__ADS_1
"Beneran, Mas Bay?" tanya Michella di sela tangisnya seakan kurang percaya.
"Beneran," kata Bayu meyakinkan. "Lu tenang aja, nggak usah nangis lagi! Nanti...."
"Nanti apaan?" tanya Michella ingin tahu tapi masih menangis.
"Nanti cantiknya... ikut nangis," kata Bayu berseloroh tanpa ekspresi.
"Ah lu bisa aja," ucap Michella hampir tertawa di tengah dia masih menangis. "Masa' cantik bisa nangis sih?"
"Ya bisa lah," Bayu masih berseloroh tanpa ekspresi.
"Gimana cantik bisa nangis?" kata Michella heran, masih menangis. "Lu pernah lihat pa?"
"Lu sekarang lagi ngapain?"
"Lagi nangis...."
"Nah tuh... cantik lagi nangis...."
Tidak bisa tidak tangis Michella seketika berhenti. Berganti dengan suara tawa yang cukup lepas tapi pelan. Membuat kecantikannya semakin mempesona. Bersamaan dengan itu sikapnya sedikit merasa kikuk.
Betapa tidak? Bayu seolah memuji akan kecantikannya yang terkemas dalam selorohan yang ringan tapi berkelas. Jelas membuatnya tersipu malu sebenarnya. Tapi terbungkus dalam tawanya.
Michella juga cukup terhibur dengan selorohan yang Bayu buat. Kesedihannya sejenak terhempas entah ke mana. Berganti rasa senang di hatinya.
Sedikit-sedikit dia mulai mengenal kepribadian seorang Bayu. Dia tidak menyangka ternyata Bayu bisa juga bergurau yang menghibur hati, meski disampaikan tetap dalam mode dia, dingin dan datar.
"Terima kasih," ucap Michella tulus seraya tersenyum manis.
"Jangan GR dulu," tanggap Bayu seakan salah tanggap, "gue nggak muji lu cantik. Gue hanya ingin nunjukin kalau cantik bisa nangis."
"Terima kasih karena lu mau nolongin gue," kata Michella memperjelas ucapan terima kasihnya.
Senyumnya yang menawan masih tersimpul di bibir merahnya. Sedangkan hatinya semakin berseri-seri menikmati kebersamaannya dengan Bayu.
Entah kenapa saat ini begitu indah dia rasakan bersama Bayu? Apakah itu tandanya dia sudah menyukai seorang Bayu? Apakah secepat itu?
Sepertinya tunggu dulu! Jangan terburu-buru menyimpulkan!
"O...."
Hanya itu tanggapan Bayu selanjutnya. Setelah itu dia tidak bicara lagi. Tapi matanya sejenak melirik Michella dari kaca spion dalam. Dilihatnya gadis itu masih saja tersenyum seraya melihat suasana di luar mobil.
__ADS_1
★☆★☆★