Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 60 APAKAH RAIHAN BERSIASAT?


__ADS_3

"Maaf, Bu. aku sudah punya pasangan sendiri. Aku berharap ibu nggak memaksa aku menikah dengan orang yang aku nggak cinta...."


Bu Retno tidak lantas merespon penolakan Raihan atas kehendaknya tersebut. Ditatapnya sejenak putra ke tiganya lekat-lekat.


Sejenak Bu Retno berpikir, apakah ucapan Raihan itu cuma sekedar penolakan atau memang Raihan sudah punya pasangan sendiri yang dia belum tahu?


Masalahnya, alasan yang dilontarkan Raihan barusan adalah alasan baru. Sewaktu dia menolak dijodohkan pada dua kali yang sebelumnya, Raihan tidak menyertakan penolakannya dijodohkan bahwa dia sudah punya pasangan sendiri.


Makanya Bu Retno sempat tertegun mendengar ucapan putranya itu kalau dia sudah punya pasangan sendiri.


Sedangkan Shafira dan Dr. Kenzie juga langsung menatap Raihan saat melontarkan ucapannya itu. Mereka memang telah tahu kalau Raihan punya pacar, dulu. Tapi mereka telah tahu pula kalau Raihan sudah putus dengan Viola, mantannya Raihan tersebut.


Apakah Raihan sudah kembali dengan mantannya itu? Atau Raihan memang sudah punya pacar baru lagi?


Pasangan suami istri muda itu hanya bisa menerka-nerka dalam hati saja. Masing-masing mereka sepertinya belum mau mengeluarkan suara kalau belum ditanya.


"Ibu baru tahu kalau kamu sudah punya pacar," kata Bu Retno setelah beberapa saat terdiam. "Atau... itu hanya alasan kamu saja untuk menolak ibu jodohkan dengan pilihan ibu...."


"Sejak lama aku memang sudah punya pacar, Bu," ungkap Raihan mulai berterus terang, "sebelum ibu menjodohkan aku dengan pilihan ibu."


Bu Retno lantas beralih memandang Shafira. Wanita tua namun masih cantik itu tahu dan mengerti bahwa cuma Shafira yang paling mengerti tentang Raihan. Makanya dia langsung bertanya tentang kebenaran ucapan Raihan kepada putri ke duanya itu.


"Benar Raihan sudah punya pacar, Fira?"


Shafira tidak lantas menjawab pertanyaan mamanya itu. Dia kembali menatap Raihan, terus menanyakan tentang apa yang dia pikirkan.


"Apa kamu udah balikan sama Lala, Rai?"


Sejenak Raihan memandang ibunya yang kembali menatapnya beberapa detik. Lalu beralih memandang Shafira. Terus menjawab pertanyaan kakak perempuannya.


"Kami sebenarnya belum putus, Mbak...."


Jawaban Raihan jelas membuat Shafira dan Dr. Kenzie heran. Lantas Shafira segera menanggapi jawaban itu dengan cepat.


"Loh, kamu bilang Lala minta putus sama kamu. Gimana sih?"


"Lala minta putus sama aku karena terpaksa," sahut Raihan menerangkan yang sebenarnya. "Dia diancam oleh papanya kalau nggak mutusin aku. Makanya aku bilang kami sebenarnya belum putus."


"Apa selama setengah tahun ini kalian udah pernah ketemuan?" tanya Shafira ingin tahu.


"Ketemuan sih belum pernah," sahut Raihan jujur mengakui. "Tapi aku udah tahu di mana dia berada selain di rumahnya dan di kampus."


"Fira, Rai, siapa Lala itu?" tanya Bu Retno seketika seakan menyela pembicaraan kedua anaknya itu.


Shafira maupun Raihan tidak langsung menjawab pertanyaan mama mereka. Ditatapnya sejenak wanita tua itu, lalu kejap berikut mereka saling tatap.


Sedangkan Dr. Kenzie juga memandang istrinya dan adik iparnya itu. Dokter muda itu tahu apa yang dipikirkan keduanya. Tapi dia masih memilih diam saja.


Sementara Pak Baskoro sebenarnya tidak terlalu berminat nimbrung dalam pembicaraan. Tapi saat menyaksikan pertanyaan istrinya belum dijawab oleh kedua anaknya itu membuat rasa penasarannya tergelitik juga.


"Siapa Lala itu, Fira?" tanya lelaki angkuh itu bernada tajam dan dingin.


★☆★☆

__ADS_1


Lagi-lagi Shafira belum mau menjawab pertanyaan seperti itu. Seolah-olah dia tidak berani untuk menjawab. Dia tatap sejenak papanya, lalu kembali beralih menatap Raihan.


Tapi Raihan langsung menganggukkan kepalanya seolah menyuruh kakaknya menjawab pertanyaan itu. Dan Shafira langsung mengerti anggukan kepala Raihan.


"Lala itu nama panggil, Pa, Ma," tutur Shafira hati-hati. "Nama aslinya Viola Amanda...."


"Viola putrinya Hellen maksudmu?" tebak Bu Retno cepat bernada tajam.


"I... iya, Ma," sahut Shafira agak takut-takut.


"Beraninya kamu menjalin hubungan asmara dengan anak musuh keluarga kita, Rai?" tegur Bu Retno setengah membentak.


Kemarahan langsung menguar dari wajah tuanya. Kedua matanya langsung menatap tajam penuh kekesalan pada putra ke tiganya itu. Di situ juga terselip kekecewaan.


Raihan tetap dalam mode tenang menerima bentakan ibunya itu. Teguran bernada membentak itu tidak ada pengaruhnya bagi pemuda itu. Karena dia masih menganggap dirinya bukan bagian dari keluarga itu.


Hanya saja dia tidak ingin menentang ibunya secara kasar. Meski rasa sakit di hatinya akibat keandilan ibunya dalam menggores derita di masa kecilnya dulu, tetap dia menghargai wanita tua itu sebagai perempuan yang melahirkannya.


Sementara Shafira tidak tahu harus berkata atau berbuat apa untuk membela adiknya itu. Melihat kemarahan mamanya terhadap Raihan membuatnya takut juga.


Lebih-lebih lagi Dr. Kenzie yang jelas tidak bisa berbuat apapun. Meski merasa kasihan juga akan nasib yang menimpa Raihan.


Adapun Pak Baskoro, dia malah senang istrinya memarahi Raihan. Dia sebenarnya tidak perduli Raihan mau pacaran dengan siapa, walaupun dengan anak Pak Mahendra, musuh bebuyutannya. Karena dia tidak menganggap Raihan itu adalah anaknya.


Tapi kali ini dia harus mendukung istrinya menjodohkan dengan anak seorang pengusaha kaya. Dan berlagak menentang Raihan berpacaran dengan anak musuh bebuyutannya.


Makanya dia berkata kepada Raihan bernada dingin campur sinis.


"Asal kamu tahu!" lanjut Pak Baskoro dengan nada dingin berbalut geram. "Keluarga Baskoro dilarang keras menjalin hubungan dengan keluarga Mahendra, keparat itu! Mereka adalah musuh bebuyutan keluarga kita!"


"Aku bukan keluarga kalian," sanggah Raihan meski dengan kalem tapi tegas, "dan tidak ikut-ikutan dengan masalah kalian. Jadi..., aku bebas menjalin hubungan dengan siapa pun, termasuk Viola...."


"Rai, kenapa kamu selalu saja berkata begitu?" tanya Bu Retno yang sudah melunak nada suaranya. Ucapannya itu mengandung duka dan penyesalan.


"Memang kenyataannya begitu 'kan, Bu?" kata Raihan masih berusaha berbicara sopan kepada ibunya. "Lelaki tua di samping ibu itu masih tidak menganggap aku sebagai anaknya."


"Masakan aku harus memaksa diriku tetap menjadi bagian dari keluarga ini," lanjut Raihan, "sedangkan aku tidak dianggap."


"Ayahmu boleh masih tidak menganggap kamu sebagai anaknya," kata Bu Retno berusaha mengambil hati Raihan. "Tapi aku, ibumu tetap menganggap kamu anak. Kamu tetaplah anak kandung ibu, Nak...."


Raihan hendak berkata lagi menanggapi ucapan ibunya barusan. Namun Dr. Kenzie cepat-cepat berkata padanya seakan mengingatkannya.


"Rai, kesehatan mama belakangan ini kurang baik. Jadi tolong..., kamu jangan membuat mama terlalu memikirkan perbuatanmu yang menolak kehendaknya...."


"Benar, Rai, tolong kali ini kamu mengalah dulu demi kesehatan mama," kata Shafira menyambung ucapan suaminya.


"Atau... kamu kenal dulu lah cewek pilihan mama buat kamu," kata Dr. Kenzie selanjutnya. Lalu dia menoleh pada mertuanya, terus berkata, "Bukan begitu, Ma?"


"Iya, Rai," kata Bu Retno langsung merespon, "coba kamu kenalan dulu saja dengan gadis pilihan ibu. Di samping dia dari keluarga terpandang dan anak seorang pengusaha besar, anaknya juga baik. Lambat laun kamu pasti suka sama dia."


★☆★☆


Raihan terdiam seperti terpekur memikirkan semua ucapan yang dia dengar barusan itu. Atau sepertinya dia tengah memikirkan bagaimana menolak perjodohan itu tanpa harus melukai perasaan ibunya.

__ADS_1


"Siapa nama cewek yang ibu ajukan padaku?" tanya Raihan akhirnya setelah agak lama terdiam.


Tanpa basa-basi Bu Retno langsung menerangkan tentang calon istri buat Raihan atas pilihannya.


Nama cewek itu adalah Michella Anjani, putri salah seorang pengusaha besar di kota ini yang bernama Pak Prayoga. Sedangkan ibunya bernama Bu Puspita.


Michella ini adalah anak terakhir Pak Prayoga dari tiga orang bersaudara. Dan sekarang dia masih kuliah.


Kemudian Bu Retno menerangkan tentang sifat-sifat Michella sesuai yang diberitahukan Bu Puspita kepadanya. Tentu saja tentang sifat yang baik-baik saja.


Sedangkan Raihan sudah tidak menyimak lagi ucapan ibunya setelah dia mendengar ibunya memberitahukan kalau gadis yang akan dijodohkan dengannya ternyata bernama Michella.


Tentu saja dia terkejut mendengar hal itu. Tapi benaknya masih bertanya-tanya, apakah Michella yang disebutkan oleh ibunya sama dengan Michella yang sekarang berada di rumahnya?


Siapa tahu bukan?


Untuk mengobati rasa penasarannya, setelah ibunya selesai menjelaskan tentang profil Michella secara singkat, lalu Raihan meminta untuk diperlihatkan foto cewek yang dijodohkan dengannya itu.


Tanpa menunggu lama, Bu Retno langsung meraih HP-nya yang dia letakkan di atas meja di depannya. Dan tak lama dia sudah mengirim foto Michella ke HP Raihan.


"Ibu udah ngirim foto gadis calon istrimu itu ke HP-mu," kata Bu Retno memberi.


Tanpa banyak pikir, Raihan segera meraih HP-nya yang diletakkan di saku jaketnya bagian dalam. Membukanya dan langsung melihat foto yang barusan dikirim oleh ibunya.


Belum lama Raihan memandang foto cewek yang dijodohkan dengannya, dia langsung kaget bukan main, sebenarnya. Karena ternyata Michella yang dijodohkan dengannya memanglah Michella yang ada di rumahnya sekarang.


Pantas saja Michella juga terkejut saat melihatnya pertama kali. Rupanya pemuda yang dijodohkan dengannya adalah kakaknya Bayu.


Pantas saja Michella tidak memberi tahu tentang siapa orangnya yang dijodohkan dengannya. Hal itu tentu saja untuk menjaga perasaan Bayu.


Karena bisa jadi Michella menyangka Bayu sudah mulai menyukainya. Bisa jadi....


Namun keterkejutan Raihan masih bisa dia tahan sedikit. Tapi meskipun begitu orang-orang yang ada di situ sudah melihat keterkejutan Raihan. Dan Bu Retno langsung salah sangka akan keterkejutan putranya itu.


Dia menyangka Raihan langsung terpesona dengan kecantikan Michella yang memang cantik.


Sedangkan Shafira yang benar-benar mengenal Raihan ketimbang mamanya tidak sepemikiran dengan Bu Retno. Dia menduga kagetnya Raihan disebabkan pemuda itu sudah mengenal gadis itu. Atau mungkin pernah bertemu.


Tapi dia diam saja, tidak menanggapi atau mengomentari keterkejutan adik laki-lakinya itu.


"Bolehkah ibu kasih tempo ke aku untuk memikirkan perjodohan ini?" tanya Raihan setelah agak lama terdiam. "Atau... biar aku mengenal lebih dekat dulu gadis pilihan ibu itu!"


"Ah... ibu yakin kamu pasti suka," ucap Bu Retno seolah tidak sesuai pertanyaan.


"Pertanyaan aku bukan itu jawabannya, Bu," kata Raihan mengoreksi.


"Ya, nggak papa, kamu mengenal dulu nggak papa," akhirnya Bu Retno menjawab sesuai pertanyaan. "Tapi ibu sudah bilang ke Bu Puspita kalau perjodohan kalian tetap jadi."


Seharusnya Raihan kaget mendengar keputusan ibunya itu. Tapi karena dia sudah mengantisipasi bahwa keputusan itu tetap terlontar, Raihan jadi tidak kaget.


Tapi benaknya tentu saja berpikir keras bagaimana menolak perjodohan itu tanpa menyakiti perasaan ibunya.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2