Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 50 APAKAH BENAR?


__ADS_3

Viola sudah menjelaskan kepada keluarganya tentang masalah yang sebenarnya terjadi antara keluarga mereka dengan keluarga Pak Baskoro. Bahwa antara mereka cuma terjadi kesalahpahaman saja.


Keluarga Pak Mahendra menuduh Fauzan sebagai pihak keluarga Pak Baskoro yang menjadi sebab kematian Rania, putri Pak Mahendra dan Bu Hellen. Hal itu adalah sebuah kekeliruan menurut Viola.


Yang seharusnya bertanggung jawab tentang masalah ini adalah keluarga Pak Darmawan. Karena dalam kasus kematian Rania, putra pertama mereka yang bernama Tristan ikut terlibat.


Rania menolak menikah dengan Fauzan waktu itu karena Rania telah hamil, hasil dari hubungannya dengan Tristan, pacar Rania yang sebenarnya.


Rania belum atau tepatnya tidak berani mengatakan hal tersebut kepada ortunya. Tapi dia berani mengatakannya kepada Fauzan karena kasihan kepada pemuda itu.


Takutnya Fauzan nanti kecewa, setelah menikahi dirinya, ternyata mendapati dirinya sudah tidak perawan lagi, bahkan sudah hamil dengan pacarnya, Tristan.


Memang Fauzan sempat syok waktu itu. Tapi akhirnya dia tetap menerimanya, tetap akan menikahi Rania walaupun sudah hamil. Dan nanti akan mengakui sebagai anak janin yang dikandung Rania. Hal itu karena Fauzan ternyata sudah mencintai Rania.


Akan tetapi Rania tetap tidak setuju, tetap menolak menikah dengan Fauzan yang tidak dicintainya. Dia akan pergi bersama Tristan ke luar negeri, dan hanya akan menikah dengan Tristan.


Hal itu Viola juga sudah jelaskan kepada kedua orang tuanya.


Seharusnya Pak Mahendra dan istrinya, Bu Hellen sudah bisa mengerti tentang masalah tersebut. Seharusnya mereka tidak lagi menyalahkan keluarga Pak Baskoro atas kematian Rania, putri pertama mereka, karena sudah mengetahui duduk persoalannya.


Namun, mungkin karena sudah terbalut oleh dendam, Pak Mahendra tetap menyalahkan Fauzan sebagai orang yang menyebabkan kematian Rania, meskipun dia menerima keterangan dari Viola tersebut.


Dan karena hal itu Pak Mahendra kini sudah memutuskan hubungannya dengan Pak Darmawan, terutama memutus hubungan bisnis.


Yang ujung-ujungnya Pak Mahendra tetap tidak merestui hubungan putrinya, Viola dengan Raihan, selaku anak atau putra ke tiga Pak Baskoro.


Meskipun Viola sudah menerangkan kembali bahwa Raihan sudah putus hubungan dengan Pak Baskoro.


Lebih tepatnya Pak Baskoro sudah memutus hubungan dengan Raihan. Pak Baskoro sudah tidak menganggap Raihan bagian dari anaknya.


Dengan kata lain, Raihan sudah berdiri sendiri.


Seharusnya Pak Mahendra tidak menggolongkan Raihan bagian dari keluarga Pak Baskoro. Meskipun secara fakta Raihan termasuk anak keturunan Pak Baskoro.


Namun tetap saja Pak Mahendra tidak merestui. Lelaki tua itu tetap menganggap Raihan termasuk anak Pak Baskoro. Diakui atau tidak diakui.


Karena tidak merestui itu Viola diharuskan memutuskan hubungannya dengan Raihan, tidak boleh berpacaran lagi dengan Raihan. Yang otomatis Viola dilarang lagi bertemu dengan Raihan.


Sungguh miris!


Kenapa keluarga orang-orang kaya semisal mereka itu begitu sadis terhadap anak-anak mereka? Seenaknya saja mereka mengatur perasaan anak-anak mereka tanpa perduli, apakah anak-anak tersebut suka atau tidak?


Miko yang masih mencintai Aira, tapi tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan gadisnya itu. Kisah hidup dan cintanya tidak jauh beda dengan adiknya, Viola.


Sungguh alur cerita cinta mereka begitu menyedihkan. Mereka hanya bisa mencintai orang yang mereka cintai, tapi tidak bisa memiliki.


Sungguh miris!


Dan Viola, alur hidupnya sekarang benar-benar ditentukan oleh orang tuanya, terutama papanya.


Bukan saja dilarang bertemu dengan Raihan, apalagi berpacaran, bukan saja dilarang berteman dengan Marsha. Bahkan sekarang Viola harus pindah kampus.


Awalnya Viola akan dikuliahkan ke LA, Amerika. Karena di sana ada saudara papanya yang punya bisnis dan tinggal di sana.


Tapi Viola menolaknya dengan tegas. Dia lebih memilih tetap kuliah di Indonesia saja. Kalau tetap dipaksa kuliah ke Amerika, lebih baik dia tidak kuliah.

__ADS_1


Akhirnya Viola tetap kuliah di Indonesia, di Jakarta, tetapi dengan kampus yang berbeda dari kampusnya yang terdahulu. Juga tidak boleh sama sekali bertemu dengan anak-anak dari Pak Baskoro, apalagi dengan Raihan.


Jika kedapatan Viola sengaja menemui mereka, maka Viola harus kuliah di Amerika, tidak boleh tidak.


Akan tetapi tidak jadi masalah bagi Viola. Yang penting dia masih berada di tanah tumpah darahnya. Meskipun dia tidak bisa bertemu Raihan, walaupun dia tidak bisa berhubungan dengan sang kekasih meski lewat HP, karena HP-nya yang dari Raihan sudah disita juga.


Tidak jadi masalah bagi Viola. Setidaknya dia masih punya harapan untuk berjumpa lagi dengan Raihan, entah kapan.


★☆★☆


Kesedihan yang dialami Viola, begitu juga dirasakan oleh Raihan.


Dia sudah amat mencintai Viola. Dan dia merasa telah menemukan cinta sejatinya pada gadis pujaan hatinya itu.


Berpisah dengannya sungguh merupakan kesengsaraan di atas kesengsaraan. Dia sudah melewati berbagai macam penderitaan hidup, bahkan tidak sedikit penderitaan yang benar-benar parah.


Namun penderitaan yang lebih dahsyat yang pernah dialami sepanjang hidupnya adalah berpisah dengan Viola.


Sudah berkali-kali dia menghubungi gadisnya lewat HP pemberiannya, tapi nomor Viola sudah tidak aktif lagi. Maka dia yakin HP Viola pasti sudah disita oleh ortunya.


Sehingga untuk bertemu atau menghubungi Viola tanpa sepengetahuan orang tuanya semakin sulit. Ditambah lagi dia mendengar kabar dari Marsha kalau Viola pindah kampus.


Hampir dua pekan setelah dia diusir dari rumah Viola dengan tidak terhormat, Raihan nekad mendatangi rumah Viola. Tapi tetap saja dia tidak bisa bertemu dengan Viola.


Membuat Raihan semakin penasaran. Dia mencoba lagi mendatangi rumah Viola, bahkan beberapa kali, namun hasilnya nihil. Dia tetap tidak bisa berjumpa dengan Viola.


Bahkan Raihan tidak dibiarkan masuk walaupun cuma melewati pintu pagar. Bahkan Raihan diusir lagi dari rumah Pak Mahendra yang diiringi oleh kata-kata yang begitu menghinakan.


Raihan sebenarnya memahami, Viola tidak ingin bertemu dengannya pasti karena diancam oleh orang tuanya. Bukan karena Viola tidak bisa berontak seperti dulu, tapi dia tetap ingat pesan Raihan agar tidak melawan atau membantah lagi terhadap orang tuanya.


Bahkan Raihan sudah berkeliling mencari kampus tempat Viola kuliah, tetap juga tidak bisa berjumpa dengan Viola. Maka Raihan berkesimpulan kalau Viola memang sengaja menghindar darinya.


Tapi Raihan tetap masih bersikap bijak. Viola melakukan hal tersebut karena terpaksa, karena desakan dan ancaman orang tuanya.


Begitu sebulan lebih tidak bertemu Viola, sengsaranya didera rindu semakin menjadi-jadi. Kesedihan semakin membungkus perasaannya. Akhirnya dengan nekad lagi-lagi Raihan mendatangi rumah Viola.


Awalnya Bu Hellen yang menemui Raihan. Bukan di depan teras, tapi lagi-lagi di depan pintu pagar yang tertutup rapat.


"Kamu lagi!" hardik Bu Hellen melalui jendela kecil pintu pagar dengan jengkel. "Berapa kali aku sudah bilang jangan datang lagi, malah kamu datang lagi!"


"Tante, tolong pertemukan saya dengan Viola!" mohon Raihan begitu memelas. "Saya ingin bicara dengannya!"


"Kamu itu sebenarnya tuli atau apa?!" berang Bu Hellen yang langsung emosi. "Sudah berapa kali aku bilang, Viola nggak mau bertemu kamu lagi!"


"Itu nggak mungkin, Tante," bantah Raihan. "Viola amat mencintai saya, dan saya juga amat mencintainya. Dia nggak mungkin nggak mau nemuin saya. Pasti Tante dan suami tante yang melarangnya 'kan?"


"Baiklah, aku akan panggilkan putriku!" kata Bu Hellen bernada datar seolah mengalah. "Kamu dengar sendiri omongannya kalau kamu belum percaya!"


Kemudian Bu Hellen berbalik dengan cepat terus melangkah meninggalkan Raihan yang harap-harap cemas akan kehadiran Viola di matanya.


Sementara itu Bayu tetap setia menemani sang boss ke manapun perginya.


Sekitar 15 menit berlalu, datanglah Viola menemui Raihan. Tapi Raihan masih tetap di luar pintu pagar. Sedangkan Viola berada di dalam pagar. Dia menengok Raihan dari balik jendela kecil.


Setelah sebulan lebih tidak bertemu dengan sang pujaan hati, begitu kembali bertemu betapa hati Raihan amat senang tidak bisa terlukiskan.

__ADS_1


Kalau saja mereka tidak dibatasi oleh gerbang pagar, Raihan pasti memeluk erat gadisnya itu. Namun dia hanya bisa melihat wajah cantik kekasihnya yang sudah lama tidak dilihat secara langsung.


Akan tetapi raut wajah Viola seperti menunjukkan rasa tidak senang bertemu dengannya. Bahkan wajah itu tampak judes bercampur dingin.


★☆★☆


"Apa kabarmu, Lala?" tanya Raihan berusaha tetap senang melihat Viola. "Kamu... kamu baik-baik aja 'kan?"


"Mas Rai, lupakanlah aku!" kata Viola bernada datar bercampur ketus, seolahnya. "Karena aku udah nggak cinta lagi sama kamu. Aku minta kita putus."


"Ka... kamu... kamu bilang apa, Lala?" bukan main kagetnya Raihan mendengar ucapan lugas itu, seolahnya dia bagai disambar petir.


"Aku udah nggak cinta lagi ama kamu," Viola mengulangi ucapannya dengan nada yang sama. "Lupakanlah aku! Selamanya!"


"Ka... kamu... kamu pasti bercanda 'kan, Lala?" Raihan sudah hampir frustasi mendengar ucapan Viola yang tidak main-main itu. "Kamu pasti masih mencintaiku. Kamu minta putusnya cuma bercanda 'kan? Katakanlah!"


"Mas Rai, ini terakhir kalinya kita berjumpa," kata Viola masih datar, masih ketus. "Jangan pernah lagi menemui aku! Aku harap kamu bisa mencari pengganti yang lebih baik dari aku."


Belum juga Raihan mengucapkan sesuatu, Viola sudah berbalik dengan cepat. Meninggalkan dirinya yang terpaku dalam pilu dan duka. Seketika saja hatinya hancur berkeping-keping.


Dia pernah merasakan sakit diputuskan oleh Melinda. Tapi ketika Viola memutuskan dirinya hari ini di sore ini, hatinya sungguh sakit sesakit-sakitnya. Hingga tanpa terasa air matanya jatuh dapat dicegah.


Terbayang lagi di saat Melinda memutuskan dirinya. Juga nyaris di waktu yang sama, di sore seperti ini. Ucapannya juga nyaris sama.


Apakah ini memang sudah takdirnya menerima nasib sebegitu menyedihkan?


Sementara itu Viola, setelah berbalik air matanya ternyata tak bisa dia tahan lagi. Bahkan dia langsung menangis sambil berlari. Tanpa perduli pandangan mamanya yang tersenyum senang menyaksikan Viola menuruti perintahnya.


"Maafkan aku, Mas Rai. Aku masih mencintaimu...."


Tangis dan ucapannya itu berbaur mengiringi gerak kakinya yang berlari kecil masuk ke dalam rumahnya. Ucapan bernada lirih itu terus diulang-ulang hingga dia masuk ke dalam kamarnya.


"Maafkan aku, Mas Rai...! Aku masih mencintaimu...."


Dihempaskan tubuhnya di atas pembaringannya, lalu memeluk guling, membenamkan wajahnya yang berselimut pilu di balik guling itu. Lalu menangis sejadi-jadinya.


"Aku masih mencintaimu, Mas Rai.... Aku masih mencintaimu.... Maafkan aku....!"


Sementara di luar pagar Raihan masih terpaku diam bagai patung. Matanya menatap lurus ke depan namun hampa. Sedangkan air matanya semakin deras mengalir.


Dia tidak hiraukan lagi Bu Hellen mengomelinya panjang pendek, mengusirnya dengan kasar, terus meninggalkan dirinya yang sudah seperti orang lingkung.


Seandainya Viola membunuhnya saja sekarang, itu lebih baik ketimbang gadis itu memutuskannya tanpa alasan yang jelas.


Sungguh dia tidak menyangka perubahan begitu cepat terjadi. Viola memutuskannya seolah dia sedang bermimpi yang amat menyeramkan.


Dia sudah jatuh cinta dua kali. Tadi sudah dua kali pula hatinya amat sakit karena cinta.


Apakah ini memang sudah takdirnya?


Sungguh kasihan....!


Apakah Viola benar-benar tidak mencintainya lagi? Ataukah ini hanyalah sebuah mimpi buruk?


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2