Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 15 AWAL PERKENALAN YANG BAIK


__ADS_3

Raihan masih duduk diam di kursi taman yang terletak di trotoar itu. Pandangan matanya memang menghadap ke arah jalan, tapi pikirannya tidak fokus pada apa yang dia lihat.


Benaknya masih saja sibuk memikirkan paket makanan yang masih setia menemaninya di samping kanannya ini.


Paket makanan itu terbilang cukup mahal. Mau dijual ke mana atau kepada siapa dia masih bingung. Mau dibawa pulang ke kos-kosan agar dimakan bareng-bareng sama Bayu dan beberapa rekan kos lainnya, dia masih menimbang-nimbang.


Masalahnya harga 3 paket makanan itu tidak sedikit. Bayangkan saja harganya sebesar Rp. 2.000.000,- lebih. Kalau dimakan percuma begitu saja tanpa dijual jelas dia rugi besar. Kalau begitu dia harus merelakan uangnya melayang begitu saja.


Sementara itu, selagi Raihan masih dilanda kekalutan, Viola dan Marsha semakin dekat menghampirinya. Dan begitu kedua gadis cantik itu sudah berada kurang dari 2 meter di dekat Raihan, mereka berhenti melangkah.


Berhenti melangkah tidak langsung menyapa Raihan. Mereka diam sejenak di tempat mereka berdiri seakan tengah menimbang-nimbang tentang obrolan apa yang akan dibicarakan di awal menyapa.


Sedangkan Raihan masih saja diam dan tenang di tempatnya. Kepalanya tidak bergerak sama sekali ke samping seakan tidak tahu atau tidak menggubris kehadiran Viola dan Marsha.


Tak lama Viola dan Marsha saling pandang. Lalu tampak Marsha menggoyangkan sedikit kepalanya dan lirikan matanya sebagai isyarat bagi Viola agar dia yang memulai menyapa.


Paham akan isyarat dari Marsha, Viola kembali menoleh pada Raihan, terus menyapa dengan nada lembut dan santai.


"Hai, Bang!"


Perlahan Raihan menoleh ke samping kanannya ke arah suara orang yang memanggil. Dan betapa terkejutnya dia begitu tahu ternyata tidak jauh di dekatnya sudah berdiri 2 orang yang tengah menatapnya dengan senyum ramah.


Pertama kali melihat Marsha, Raihan langsung tahu kalau dia adalah perempuan. Karena pakaian yang dikenakan Marsha adalah gaun wanita pada umumnya.


Tapi begitu memandang Viola, Raihan menyangka yang dia lihat itu adalah lelaki yang amat tampan. Soalnya pakaian yang Viola pakai seperti pakaian laki-laki.


Bercelana panjang agak komprang, berbaju dalam longgar, berjaket laki-laki. Apalagi memakai pet yang cukup menyamarkan kalau Viola itu seorang wanita. Apalagi Viola agak tinggi dari Marsha.


Ditambah lagi suara sapaan yang Raihan dengar dari sampingnya itu mirip suara laki-laki. Tentulah suara itu berasal dari orang yang ditatapnya itu. Makin membuat Raihan menyangka kalau Viola adalah laki-laki.


Hal yang wajar....


Namun semakin lama menatap wajah Viola, Raihan malah berpikir kalau wajah Viola terlalu tampan untuk seorang laki-laki, bahkan wajah itu terkesan cantik.


Memikirkan hal itu Raihan malah jadi ragu, apakah orang yang dilihatnya itu benaran laki-laki, atau gadis cantik yang tomboy?


Hampir satu menit Raihan menatap Viola. Dan sepanjang durasi itu juga Viola saling bertatapan dengan Raihan. Maka sepanjang durasi itu jantung Viola berdebar-debar cukup kencang.


Betapa tidak? Pria yang membuatnya terpesona pada pandangan pertama itu, semakin membuatnya terpesona menatap Raihan dari dekat seperti ini. Viola semakin merasakan ketampanan Raihan yang unik.


Sedangkan Marsha, semakin melihat Raihan dari dekat semakin dia melihat kalau Raihan itu amat mirip dengan papanya. Dan ketika berada cukup dekat seperti ini, dia merasakan sesuatu yang aneh, seperti adanya jalinan batin dengan Raihan.


Tentu hal itu membuat jantungnya juga berdebar-debar.


★☆★☆


Namun seketika Raihan tersadar seperti terbangun dari sesuatu yang membuatnya terkesima. Lalu buru-buru diperbaiki keadaan diri dan perasaannya.


Kemudian cepat-cepat dia berdiri menghadap kedua gadis itu. Setelah itu barulah dia menanggapi sapaan Viola.


"Masnya memanggil saya. Mungkin ada perlu?"


Disebut dengan sapaan laki-laki Viola tidak tersinggung, malah dia semakin tersenyum seperti hampir tertawa. Maka gadis tomboy itu cepat-cepat membekap mulutnya dengan telapak tangannya sambil memandang Marsha.


Sedangkan Marsha juga hampir tertawa mendengar Raihan memanggil Viola dengan sebutan mas. Namun juga cepat-cepat dibekap mulutnya agar tawanya tidak benar-benar meledak sambil pula memandang Viola.


Maka untuk sejenak kedua gadis berbeda style sambil berpandangan dengan menahan tawa.


Melihat hal itu Raihan menjadi heran. Malah berpikir mungkin ada yang salah dengan ucapannya sehingga membuat kedua gadis itu hampir tertawa.

__ADS_1


"Eh... saya salah bicara ya?" tanyanya hati-hati dengan ekspresi bersalah. "Maaf, maaf kalau begitu."


Viola jelas tidak bisa langsung menanggapi ucapan Raihan karena dia masih sibuk menahan tawanya. Entah kenapa dia merasa lucu Raihan memanggilnya dengan sapaan laki-laki, bukannya tersinggung atau marah.


Bahkan Viola merasa ada kesan tersendiri Raihan memanggilnya dengan sebutan mas.


Sedangkan Marsha, meski juga sibuk menahan tawa, tapi dia masih bisa menerangkan siapa Viola sebenarnya.


"Teman gue ini cewek, Mas," kata Marsha di sela dia menahan tawa. "Pakaiannya aja yang kayak cowok."


"Cewek?!" kejut Raihan seakan tidak percaya keterangan Marsha barusan.


Ditatapnya Marsha sebentar seolah ingin memastikan kalau Marsha tidak bergurau. Lalu kembali menatap Viola dalam-dalam seolah ingin meyakinkan pandangannya kalau yang dilihatnya itu memang benar-benar cewek.


Sedangkan Viola, ditatap Raihan begitu rupa, sebenarnya hampir saja salah tingkah. Namun untung saja dia sudah terbiasa dengan tatapan lelaki. Jadi, Viola masih mampu menahan dirinya agar tidak sampai grogi.


"Kalau lu nggak percaya, ni lu liat!"


Lalu Marsha membuka topi Viola yang sedikit menyamarkan pandangan Raihan.


Begitu topi yang menutupi kepala Viola terbuka, maka Raihan dapat melihat wajah gadis tomboy itu secara keseluruhan. Barulah Raihan dapat percaya kalau Viola memang benar-benar perempuan setelah dia mengamati sekali lagi.


Bahkan Raihan langsung mengagumi kecantikan Viola yang menurutnya unik.


Kejap berikut Raihan langsung tersenyum lebar setengah tertawa dengan mimik wajah bagai orang yang tertipu dengan apa yang dilihat.


"Maaf, sekali lagi maaf, Mbak," kata Raihan buru-buru minta maaf kepada Viola sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya. "Terus terang saya tidak tahu."


"Ah nggak papa, santai aja, Mas," kata Viola memaklumi bernada santai. "Mas bukan orang pertama yang manggil saya dengan sebutan cowok."


Tidak mau memperpanjang membahas masalah itu, Raihan langsung menanyakan keperluan kedua gadis itu menemuinya.


"Kayaknya gitu," kata Marsha.


Lalu dia menyodorkan tangan kanannya ke depan Raihan, lalu memperkenalkan diri.


"Kenalin, gue Marsha. Lu panggil gue Sasa aja!"


"Saya Raihan," sambut Raihan sambil menjabat tangan Marsha yang begitu lembut.


Mendengar Raihan menyebut namanya terang saja Marsha maupun Viola seketika terkejut. Sampai-sampai mereka menatap Raihan lekat-lekat.


Betapa tidak? Nama Raihan sama dengan nama kakak laki-laki Marsha yang menghilang. Apakah di hadapan mereka ini kakak Marsha itu, pikir mereka.


★☆★☆


Sedangkan Raihan, melihat ekspresi terkejut dari kedua gadis itu tentu saja merasa heran. Dari rasa heran berubah menjadi curiga, jangan-jangan kedua gadis cantik berbeda style itu mengenal atau mengetahui tentang dirinya?


Raihan merasa belum pernah bertemu dengan kedua gadis itu sebelumnya. Jadi sulit baginya mengira-ngira tentang siapa mereka. Sedangkan untuk menduga kalau salah satu dari keduanya adalah keluarganya, hal itu terlalu terburu-buru.


Akan tetapi begitu melihat ekspresi kaget mereka yang mencurigakan, Raihan segera memasang kewaspadaan. Namun Raihan tentu saja tidak menampakkan di luaran. Malah dia bersikap serileks mungkin.


"Apa nama lengkap lu Raihan Pratama?" tebak Marsha langsung seakan tanpa sabar.


Mendengar pertanyaan bernada tebakan itu, Raihan semakin yakin kalau kedua gadis itu mencari orang yang bernama demikian. Tentu saja dia tidak akan berterus terang.


Sementara Viola menyayangkan Marsha terlalu cepat bertanya seperti itu. Maka dia menatap gadis itu dengan ekspresi kesal. Kenapa Marsha tidak sabaran begitu? Bagaimana kalau Raihan curiga?


"Ah, nama saya Raihan saja sejak kecil," sahut Raihan tidak berterus terang. "Maklum, saya dari keluarga miskin. Jadi namanya tidak panjang-panjang."

__ADS_1


Marsha sebenarnya hendak bertanya atau berkata. Tapi cepat-cepat dicegat orang Viola dengan langsung memperkenalkan dirinya yang tadi belum sempat setelah menyodorkan tangan kanannya.


"Kenalin, nama saya Viola."


Raihan langsung menyambut jabat tangan Viola dengan tenang seolah penuh persahabatan. Lalu menyebut namanya seperti perkenalannya pada Marsha tadi.


"Sepertinya Mas Rai...," kata Viola memutus ucapannya. "Boleh saya memanggil Anda dengan Mas Rai?"


"Oh tidak mengapa," sahut Raihan apa adanya, tetap berusaha tenang.


Dia tahu gadis bernama Viola itu berusaha mengalihkan perhatian Marsha agar tidak memaksakan kehendaknya yang utama.


"Sepertinya Mas Rai sedang ditimpa musibah," tanya Viola berusaha mengakrabkan diri. "Kalau boleh tahu."


"Yaaah, biasalah, Mbak Viola, nasib tukang ojol seperti saya," sahut Raihan apa adanya tanpa bermaksud mengeluhkan keadaannya.


"Paketnya tidak dibayar pelanggan, Mas?" tanya Viola seakan merasa asyik ngobrol dengan Raihan. Apalagi saat mendengar Raihan berbicara dengan aksen jawa.


"Yaaah, begitulah...," kata Raihan singkat.


Jelas Raihan tidak ingin mengeluhkan tentang musibah yang menimpanya. Sedangkan Viola sepertinya tahu kalau Raihan tidak ingin berterus terang tentang musibah yang dialami.


"Kalau boleh tahu, itu paket apa sih, Mas?" tanya Viola tidak terlalu canggung dan kaku lagi berbicara dengan Raihan sambil memandang dan menunjuk paket makanan mahal itu.


"Paket makanan restoran," sahut Raihan. "Ada 3 porsi."


"Harganya berapa, Mas Rai?" tanya Marsha ikut nimbrung yang sudah bisa menguasai gejolak perasaannya.


"Cukup besar juga, Mbak Marsha," sahut Raihan tidak berharap kedua gadis itu membeli paket makanan yang tidak dibayar.


"Berapa?" tanya Marsha antusias.


"Rp. 2.000.000,- lebih."


Marsha maupun Viola sejenak berhenti, tidak bicara atau bertanya lagi. Lalu mereka saling bertatapan dengan sorot mata seakan bersepakat hendak membeli paket itu.


Maka tanpa banyak pikir kedua gadis itu mengutarakan niat baik mereka itu kepada Raihan.


Sedangkan Raihan mengungkapkan bahwa sebenarnya dia merasa senang sekali kalau kedua gadis cantik itu sudi membeli paket makanan itu. Tapi Raihan mengingatkan kalau paket makanan itu cukup mahal.


Akan tetapi Viola maupun Marsha terus meyakinkan agar Raihan tidak perlu sungkan menjual paket makanan itu kepada mereka. Hingga akhirnya Raihan melepaskan juga paket makanan itu dibeli oleh Viola dan Marsha.


Bukan main senangnya hati Raihan paket makanan mahal itu dapat terjual juga. Betapa dia mengucapkan rasa terima kasih yang tiada terhingga kepada mereka.


Sebelumnya dia menyangka kalau semua orang kaya itu sama saja. Dengan harta mereka seenak jidatnya menindas orang.


Akan tetapi dengan kebaikan yang ditunjukkan oleh Viola dan Marsha, yang Raihan kuat menduga kalau mereka anak orang kaya, maka sangkaan itu ternyata tidak bisa dipukul rata kepada semua orang kaya.


"Kenapa kalian begitu baik kepada saya?" tanya Raihan bernada haru atas kebaikan kedua gadis itu. "Padahal kita sebelumnya tidak saling kenal."


"Kita berbuat baik nggak mesti harus saling kenal dulu," kata Marsha mengungkapkan kata-kata bijak. "Kebaikan bisa datang dari siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Bukankah kayak gitu, Mas Rai?"


"Ya, ucapan Mbak Marsha memang benar," kata Raihan sepakat.


Tidak lama kemudian, setelah serah terima uang dan barang, Viola maupun Marsha meminta nomor WA Raihan. Dan Raihan tanpa banyak pikir langsung memberikan.


Sebenarnya Viola dan Marsha ingin lebih lama lagi saling ngobrol dengan Raihan. Namun karena hari sebentar lagi akan kedatangan malam, maka mereka menunda lain kali saja mengajak Raihan untuk saling ngobrol.


Akhirnya mereka memutuskan meninggalkan tempat itu. Raihan jelas langsung pulang ke kos-kosan. Sedangkan Viola dan Marsha melanjutkan perjalanan entah mau ke mana.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2