Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 64 TETAP MEMPERTAHANKAN


__ADS_3

Mau tidak mau Raihan harus bicara dengan Bayu tentang perjodohannya dengan Michella. Dengan kata lain Bayu harus tahu kalau dia dijodohkan dengan Michella.


Raihan tidak ingin Bayu salah paham terhadapnya dengan dugaan bahwa Raihan sengaja menyembunyikan masalah perjodohan tersebut dari Bayu.


Padahal Raihan hanya ingin menjaga perasaan Bayu agar pemuda dingin itu tidak kecewa jika seandainya dia ternyata menyukai Michella.


Maksudnya, Raihan sebenarnya ingin menahan dulu untuk membicarakan masalah itu, dua tiga hari ke depan. Tapi dia berpikir lagi bahwa mungkin lebih cepat membicarakan masalah tersebut kepada Bayu.


Sekaligus juga Raihan ingin menanyakan secara langsung, apakah Bayu telah suka, atau mulai menyukai Michella. Sedangkan Michella, Raihan bisa tahu kalau gadis itu ada indikasi menyukai adik sepupunya itu.


Oleh karena itu, ketika Bayu sudah tiba di kantor sehabis tadi mengantar Michella ke kampusnya, dia langsung memanggil pemuda itu ke ruangannya.


Ketika itu waktu masih terbilang pagi, Bayu sudah berada di ruang CEO PT. Buana Persada bersama sang CEO muda, Raihan Pratama. Dan saat ini mereka telah duduk di kursi sofa penerima tamu.


Tadinya Raihan bersama sekretarisnya, Shinta di ruangan ini, membicarakan masalah perusahaan sambil menunggu Bayu. Tapi gadis cantik itu sudah meninggalkan ruangan setelah Raihan menyuruhnya keluar.


"Lu mau ngomongin apa sama gue?" tanya Bayu dengan bahasa santai dan biasa karena mereka cuma berdua. "Mau ngomongin tentang pertemuan keluarga tadi malam?"


"Gue mau ngomongin tentang hubungan lu sama Sela," kata Raihan seakan membuat Bayu salah tebak. Padahal sebenarnya nanti dia akan membicarakan masalah itu juga.


"Kami nggak ada hubungan spesial," kata Bayu jelas berkilah. Padahal Michella sudah mendekat spesial di hatinya. "Kami cuma teman...."


"Lu suka 'kan sama cewek itu?" tanya Raihan langsung seperti tahu kalau Bayu ngeles.


"Baru kemarin ketemunya, Rai," Bayu masih ngeles. "Mana bisa secepat itu gue suka sama cewek yang baru gue kenal? Lu ada-ada aja!"


"Jangan bo'ong!" tegur Raihan bernada sedikit tajam. "Sedari kecil sampe sekarang kita selalu sama-sama. Lu tau gue, gue tau lu. Jadi jangan coba-coba bo'ong!"


"Gue suka juga nggak mungkin gue bisa dapatin cewek itu, Rai," kata masih setengah berterus terang. "Gue nyadar diri gue siapa...."


"Sekali lagi gue tanya, lu suka sama Sela 'kan?" tanya Raihan mengulang pertanyaannya. Dan nadanya kali ini penuh ketegasan.


Bayu sejenak terdiam, tidak lantas menjawab pertanyaan yang bagai memaksanya untuk jujur itu. Lantas dia menatap Raihan sejurus kemudian. Tapi tak lama dia ungkapkan juga akan perasaannya.


"Ya..., gue nggak bisa bo'ongin hati gue kalau gue memang suka sama Sela. Tepatnya mulai suka...."


"Di antara sekian banyak cewek yang gue temuin," lanjut Bayu mengungkapkan perasaannya, "cuma Sela yang gue rasa spesial di hati gue. Dia mampu membuat gue suka pada pandangan pertama...."


Raihan mendengarkan dengan serius apa yang dituturkan Bayu, tanpa ingin menyela dahulu. Dia biarkan dulu Bayu mengungkapkan perasaannya.


"Tapi... gue nyadar diri, Rai, gue ini siapa," lanjut Bayu lagi. "Sedangkan Sela anak orang kaya. Orang tuanya pasti nggak merestui hubungan kami karena gue kere...."


★☆★☆


"Cukup bagi gue lu udah ngungkapin perasaan lu, bahwa lu memang suka sama Sela," kata Raihan setelah Bayu selesai mengungkapkan perasaannya.


"Dan gue berharap semoga rasa suka lu itu berubah jadi cinta," lanjut Raihan mendoakan kebaikan sekaligus menyemangati. "Semoga lu bisa cinta sama Sela, dan Sela juga cinta sama lu."


"Tapi dia anak orang kaya, Rai...."


"Lu juga bisa dibilang orang kaya," Raihan langsung memotong ucapan Bayu dengan cepat, "bahkan sebenarnya lu memang anak orang kaya. Jadi, lu nggak usah minder."


Bayu terdiam, tidak menanggapi ucapan Raihan barusan. Tapi benaknya seperti membenarkan apa yang diucapkan Raihan itu. Dia memang terbilang orang kaya dan anak orang kaya.


Tapi....

__ADS_1


"Lu nggak usah mikirin macam-macam," kata Raihan selanjutnya bagai menepis pikiran Bayu yang memang memikirkan macam-macam, "orang tua Sela bakal nerima lu atau nggak, itu urusan gue."


"Yang penting lu urusin aja gimana lu sama Sela bisa saling jatuh cinta," Raihan masih lanjut. "Itu aja."


"Apa emang Sela bisa cinta sama gue?" tanya Bayu seakan pesimis.


"Itu tergantung lu gimana merebut hatinya," kata Raihan memberi saran sekaligus memberi harapan. "Lagi pula kayaknya Sela juga suka sama lu. Tinggal lu mantapin aja rasa suka Sela ke lu."


Selepas Raihan berbicara Bayu masih terdiam seakan mencerna semua perkataan Raihan. Sehingga sejurus kemudian suasana langsung ditelan kebisuan.


Namun....


"Oh iya," kata Bayu tiba-tiba teringat sesuatu yang ketika mengantar Michella ke kampus tadi, "Sela ternyata teman kampusnya Lala."


Yang Bayu maksud Lala adalah Viola. Viola dipanggil dengan sebutan Lala memang cuma Raihan dan saudara-saudaranya saja yang menggunakan. Hal itu bermula dari Marsha yang memanggil Viola begitu.


"Sela teman kampusnya Lala?!" tanya Raihan seakan kurang percaya apa yang dia dengar.


"Iya, Sela teman kampusnya Lala," sahut Bayu meyakinkan. "Gue taunya pas tadi sewaktu ngantar Sela ke kampus...."


Kemudian Bayu menceritakan tentang pertemuannya dengan Viola tadi sewaktu di kampus Sela. Bayu juga memberi tahu kalau Viola bersikap seolah-olah tidak mengenalnya. Maka Bayu pun juga demikian, menimpali sikap Viola terhadapnya.


Sehingga mereka tidak saling tegur sapa sebagaimana layaknya orang yang suka saling kenal.


"Kenapa Lala bersikap kayak gitu ya?" gumam Raihan seakan bertanya pada diri sendiri.


"Nggak tau sih," sahut Bayu. "Mungkin dia punya maksud tertentu...."


"Kayaknya gitu," kata Raihan menanggapi. "Tapi apa?"


"Ya lu benar, gue memang harus ketemuan sama Lala," kata Raihan menyetujui. "Secepatnya."


Sebenarnya Raihan memang sudah punya rencana ingin ketemuan dengan Viola, gadis yang masih dicintainya hingga sekarang. Dia juga berpikir jangan-jangan Viola juga sudah dijodohkan oleh ortunya, sama seperti dirinya.


Maka, setelah mengetahui bahwa ternyata Viola teman kampusnya Sela, rencana ingin ketemuan dengan Viola semakin mantap.


Perlu di sini diketahui bahwa baik Raihan maupun Bayu tidak atau belum tahu kalau antara Viola dan Marsha sudah berkumpul kembali. Hal itu disebabkan karena Marsha tidak memberi tahu.


Tentu hal itu karena Viola meminta Marsha agar tidak memberi tahu pada kedua kakaknya, Raihan dan Bayu. Entah apa maksudnya, cuma kedua gadis itu yang tahu.


★☆★☆


"BTW, apa sih yang diomongin saat pertemuan keluarga tadi malam?" tanya Bayu seperti penasaran. "Gue duga pasti ada sesuatu yang penting yang dibicarakan."


Raihan memang belum memberi tahu tentang hal sebenarnya yang dibicarakan pada pertemuan tadi malam. Raihan baru hanya menjawab secara umum saja.


Tapi Bayu sudah bisa menebak kalau ada hal penting yang dibicarakan pada pertemuan itu. Hanya saja Bayu belum mau mendesak Raihan untuk berterus terang sewaktu tadi mereka masih di rumah. Karena waktu itu Michella masih ada bersama mereka.


Maka Bayu pikir sekaranglah saatnya mendesak Raihan untuk berterus terang.


"Sebelumnya gue ngingatin lu agar jangan mikir yang macam-macam dulu," kata Raihan mewanti-wanti. "Yang penting lu harus tahu kalau gue jamin Sela bakal jadian sama lu, bakan jadi milik lu...."


"Apa pertemuan tadi malam ada hubungannya dengan Sela?" tanya Bayu menebak. Bersamaan dengan itu dia sudah mulai merasa tidak enak dalam hatinya.


"Ya..., memang ada hubungannya dengan Sela," sahut Raihan mendesah. "Bahkan itu pembicaraan penting...."

__ADS_1


"Pembicaraan penting...?" gumam Bayu seolah bicara sendiri. Tapi seketika terbetik sesuatu dalam benaknya, dan langsung diungkapkan, "Jangan-jangan yang dijodohin sama Sela adalah lu, gitu?"


"Ya, itu emang benar," sahut Raihan hati-hati. "Tapi lu jangan salah sangka dulu, kenapa gue nggak langsung beri tahu ke lu tentang masalah ini. Gue ngejaga perasaan lu. Tapi... gue pasti bakal beri tahu ke lu...."


"Gue cuma nunggu momen yang tepat buat gue beri tahu ke lu," lanjut Raihan. "Mungkin... saat ini momen yang tepat, gue berharap...."


Ketika mendengar pengakuan Raihan barusan, Bayu merasa seperti ada sesuatu yang hancur dalam hatinya, berkeping-keping.


Rencana ingin menggapai cinta Michella seketika berantakan. Ternyata gadis yang sudah mengisi relung hatinya itu telah dijodohkan dengan Raihan, orang yang paling disayangi dan dihormati di dunia ini.


Sedangkan Raihan langsung dapat melihat reaksi adiknya itu. Ekspresi wajah Bayu yang biasa dingin, ternyata tidak bisa menyembunyikan perasaan kecewanya. Makanya cepat-cepat dia berkata.


"Gue udah bilang tadi, lu jangan mikir macam-macam dulu. Gue jamin apa yang lu pikirin itu nggak bakal terjadi. Gue bakal perjuangin kalau lu tetap jadian sama Sela..., Sela tetap jadi milik lu.... Lu harus percaya gue!"


Memang..., Bayu tidak bisa menahan rasa kecewanya. Bukan kecewa pada Raihan ataupun Michella. Melainkan dia kecewa karena tidak bisa mendapatkan Michella.


Namun kekecewaannya itu cepat-cepat dia padamkan. Dia harus tahu diri. Dia harus mengutamakan kepentingan Raihan daripada dirinya. Dia... harus mendukung perjodohan itu.


Raihan sudah banyak berkorban demi agar dia tetap bertahan hidup. Bahkan hingga dia bisa mencapai kehidupan yang lebih layak.


Ah... lu nggak usah kayak gitu juga kali, lu nggak usah terlalu mikirin gue," kata Bayu setelah menenangkan perasaan dan hatinya. "Gue nggak papa, tenang aja."


"Ya... jujur... gue sedikit kecewa ternyata lu dijodohin sama Sela," lanjut Bayu mencoba mengalah. "Tapi... mumpung gue belum terlalu jauh sama Sela, gue harus relain aja lu sama Sela."


"Lu terima aja perjodohan itu. Sela juga ceweknya baik. Nggak jauh beda dengan Lala."


"Nggak, gue nggak akan nerima perjodohan itu," kata Raihan tegas. "Lu tetap jadian sama Sela, itu yang penting."


"Lagian... Sela juga nggak terima dengan perjodohan itu," lanjut Raihan. "Artinya... Sela nggak suka sama gue. Dan gue juga nggak ada rasa sama Sela...."


"Gimana dengan Bude', apa beliau nerima penolakan lu?" tanya Bayu seakan mengingatkan.


"Ibu tetap nerusin perjodohan itu, dan nggak terima dengan penolakan gue," sahut Raihan mengakui. "Tapi lu nggak usah mikirin itu. Biar gue yang berurusan dengan ibu."


"Tapi... Sela juga cewek yang baik, Rai," Bayu terus membujuk agar Raihan menerima perjodohan itu. "Gue yakin lu pasti bahagia jika nikah sama dia.... Meski awalnya kalian nggak saling cinta...."


"Bay, lu musti tau! Gue bakal pertahanin cinta gue sama Lala," kata Raihan bernada mantap. "Dan lu juga harus pertahanin agar lu tetap sama Sela."


"Gue cuma adik lu, Rai...."


"Justru lu adik gue," kata Raihan langsung memutus ucapan Bayu, "makanya gue harus lebih merhatiin akan hal yang terbaik buat lu."


"Bude' pasti nggak restuin kalau gue sama Sela," kata Bayu mengingatkan.


"Ibu merestui atau nggak, lu nggak usah peduli," kata Raihan terus memantapkan hati Bayu. "Yang penting gue merestui."


Bayu tidak bisa berkata lagi kalau Raihan sudah berucap begitu. Itu artinya Raihan akan memperjuangkan tentang nasibnya, nasib cintanya. Dan akan menentang siapa saja yang merintangi kebahagiaannya.


Bayu amat percaya akan hal itu.


Sungguh, ketika mengingat itu membuat Bayu amat terharu. Sudah begitu banyak Raihan berkorban demi agar dia tetap bahagia.


Rasanya dia tidak bisa membalas semua pengorbanan Raihan terhadapnya, meskipun dengan nyawanya sekalipun.


Karena pengorbanan Raihan tanpa kenal batas....

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2