
Seperti yang sudah disepakati dengan Shafira, Raihan menjalankan perusahaan yang diberikan ayahnya dari belakang layar.
Artinya, Shafira tetap berada perusahaan itu sebagaimana yang sudah diketahui oleh para karyawan seolahnya dia masih sebagai CEO. Namun pemegang kendali utama perusahaan sudah berpindah ke tangan Raihan meski tidak duduk di kursi Direktur Utama atau CEO.
Dengan kata lain Shafira masih bertindak selaku pengelola perusahaan. Namun semua tindakannya berada di bawah kendali Raihan.
Itu langkah awal.
Selain belum adanya legitimasi tertulis tentang kepemilikan perusahaan ini atas namanya, dia juga ingin mempelajari dulu seluk-beluk perusahaannya ini.
Termasuk mengetahui tentang karakter semua karyawan yang bekerja di perusahaan ini. Terutama tentang orang-orang yang memegang jabatan penting di perusahaan, seperti dewan direksi.
Agar supaya Raihan tetap memantau perusahaan dari dekat meski tidak duduk di kursi CEO, maka dia menjadi OB di perusahaannya itu bersama dengan Bayu. Lebih tepatnya menyamar sebagai OB perusahaan.
Hal itu dimaksudkan agar dia bisa lebih leluasa memantau perusahaannya dari bawah.
Beruntungnya lagi bahwa semua dewan direksi dan karyawan belum ada yang tahu kalau dia anaknya Pak Baskoro kecuali Shafira dan Aira.
Karena memang selama ini keberadaan Raihan tidak ada seorang pun yang tahu. Sampai pun Pak Baskoro dan istrinya, Bu Retno.
Lebih tepatnya sebenarnya, sejak Raihan meninggalkan rumah di usia 7 tahun waktu itu, Pak Baskoro sudah tidak menganggap lagi keberadaan Raihan.
Makanya sejak saat itu hingga sekarang Pak Baskoro tidak lagi menyebut-nyebut Raihan di luaran. Apalagi menyebutnya sebagai putranya.
Yang dia munculkan di luaran dan dia sebut sebagai putranya hanyalah Fauzan Adhitama. Sehingga semua orang menganggap kalau Pak Baskoro cuma mempunyai 1 putra, yaitu Fauzan Adhitama.
Sementara itu, jika seandainya suatu saat Raihan muncul di hadapan Pak Baskoro, atau mereka saling berpapasan di jalan, akankah Pak Baskoro masih mengenal putra ke tiganya itu, masih merupakan tanda tanya.
Masalahnya, Pak Baskoro bertindak seperti tidak lagi mengganggap Raihan sebagai anaknya. Kalau begitu, apakah orang tua itu masih mengingat putranya itu?
Sedangkan sang bunda, Bu Retno Setyaningrum, apakah masih mengingat wajah putranya, juga masih tanda tanya. Masalahnya, Raihan tidak tinggal lagi bersamanya di rumah induk sejak masih berusia bocah, yaitu 7 tahun.
Sudah beberapa kali dia berkunjung ke Malang, ke rumah orang tuanya dengan maksud mengambil Raihan untuk dibawa pulang ke Jakarta.
Namun beberapa kali itu pula dia harus menggigit jari. Jangankan mau dibujuk untuk dibawa pulang, melihat wujudnya saja tidak pernah. Sepertinya Raihan sengaja menghindar untuk bertemu dengan keluarganya meskipun itu ibunya sendiri.
Dan ketika Bu Retno berkunjung untuk kesekian kalinya, dikabarkan kalau Raihan tidak ada lagi di Malang. Pergi entah ke mana bersama Bayu. Sedangkan simbah putri sudah tenang beristirahat di kuburannya ketika itu.
__ADS_1
Sebenarnya Bu Retno hampir frustasi memikirkan putranya yang entah pergi ke mana. Namun Shafira dan Aira terus membujuk Bu Retno agar tetap bersabar.
Setiap kali Shafira dan Aira membujuk agar tetap bersabar, setiap kali itu juga mereka mengatakan kalau Raihan pasti akan pulang ke rumah.
Akan tetapi andaikan Raihan pulang ke rumahnya juga, sepertinya belum tentu Bu Retno langsung tahu kalau yang pulang itu adalah putranya.
Namun dia masih bisa mereka-reka kalau wajah Raihan mirip seperti wajah suaminya. Dan yang terpenting lagi dia masih ingat tanda lahir putranya itu.
★☆★☆
Dikarenakan Pak Baskoro tidak mengekspose keberadaan Raihan di luara, makanya tidak heran kalau tidak ada yang tahu perihal Raihan sebenarnya di perusahaannya ini. Malahan orang-orang memandang kalau Raihan cuma pemuda desa yang miskin.
Orang-orang itu tidak tahu kalau Raihan bekerja sebagai OB hanyalah penyamaran saja. Mereka tidak tahu kalau Raihan memantau mereka dalam keadaan mereka tidak sadar.
Sedangkan Bayu yang sekarang sudah menjabat sebagai orang kepercayaan Raihan, tentu bekerja sebagai OB pula. Namun seperti halnya Raihan, dia juga dalam status penyamaran.
Dia terus saja mendampingi Raihan dalam menjalankan roda perusahaan ini di belakang layar. Terutama memikirkan cara mengatasi kemelut perusahaan yang terjadi akhir-akhir ini.
Adapun Aira, berada satu tempat kerja dengan Bayu tentu saja merasa senang bukan main, sebenarnya. Namun di satu sisi, karena yang tampak di luaran kalau Bayu cuma OB, tentu dia tidak bisa leluasa mendekati Bayu.
Aira baru bisa bersama Bayu dengan bebas kalau mereka sudah berada di luar perusahaan. Itupun tidak sering-sering. Dikarenakan Bayu seperti menghindar agar dia tidak sering-sering bersama Aira.
Terlalu berat bagi Bayu untuk menerima cinta dari Aira. Terlalu beresiko. Masalahnya Aira itu anak orang kaya. Apalagi keponakan Pak Baskoro, sang boss besar.
Jika seandainya mereka berpacaran sudah pasti Pak Sudrajat menentangnya. Terlebih-lebih lagi Pak Baskoro, lebih besar dan lebih keras lagi penentangannya.
Oleh karena itu, Bayu mengatakan kepada Aira bahwa jika ingin menjalin hubungan dengannya, cukuplah hubungan itu hanya sebatas pertemanan saja. Tidak boleh sampai pada jenjang berpacaran.
Akan tetapi Aira tetap ngebet ingin berpacaran dengan Bayu. Dia sudah terlanjur cinta kepada Bayu. Dan berkali-kali mengatakan kepada Bayu kalau dia tidak perduli seandainya orang tuanya dan Pak Baskoro menentang hubungan mereka.
"Cobalah kamu mengerti akan keadaan saat ini, Aira!" kata Bayu meminta pengertian Aira. "Perusahaan masih dalam kemelut besar. Seharusnya kita fokus dulu memikirkan gimana mengatasi permasalahan itu."
"Aku rasa kalau kita pacaran, kayaknya nggak ganggu kerjaan kita deh," kata Aira masih belum mau mengerti. "Malah aku makin semangat bekerja."
"Kamu tahu, jikalau seandainya kita pacaran, pasti akan menimbulkan masalah besar lainnya. Tolonglah mengerti!"
"Tapi aku amat mencintaimu, Mas Bayu," Aira tetap ngotot. "Napa kamu nggak ngerti perasaanku?"
__ADS_1
"Aku bukan nggak mengerti perasaanmu, Aira," kata Bayu masih memberi pengertian. "Tapi... perasaan cintamu itu kepadaku akan menimbulkan masalah besar bagi aku."
"Sekarang aku tanya sama kamu, jawab jujur! Apa kamu mencintai aku juga?"
"Lebih baik untuk saat ini kita berteman aja dulu," kata Bayu seolah menghindar menjawab jujur. "Kalau keadaan perusahaan sudah benar-benar kondusif, barulah kita pikirkan tentang kelanjutan hubungan kita."
Setelah terus dibujuk oleh Bayu, barulah Aira mau mengerti agar mereka tidak berpacaran dulu, melainkan berteman saja. Hal itu masih lebih ringan resikonya ketimbang mereka harus berpacaran pada saat-saat seperti ini.
★☆★☆
Sementara jalinan pertemanan Raihan dengan Viola semakin hari semakin akrab saja. Akan tetapi sudah sebulan mereka menjalin hubungan pertemanan, belum sekalipun di antara mereka menyatakan perasaan sukanya kepada masing-masing pihak.
Meskipun perasaan suka yang ada di dalam hati Viola semakin bergejolak, namun belum juga membuatnya berani mengutarakan kepada Raihan.
Meskipun sebenarnya ingin rasanya cepat-cepat dia mengutarakan perasaannya itu kepada Raihan.
Akan tetapi Viola masih enggan bercampur malu untuk mengutarakan perasaannya itu. Mengingat dirinya adalah seorang gadis tomboy. Dia masih takut kalau seandainya Raihan menolaknya karena dia tomboy.
Walaupun sebenarnya Viola tahu kalau Raihan tidak mempermasalahkan ketomboyannya.
Sementara Raihan juga sendiri sebenarnya diam-diam mulai suka sama Viola. Dia suka akan kecantikan yang ada pada Viola. Menurutnya kecantikan yang dimiliki Viola begitu unik.
Viola cantik sebagai seorang laki-laki jika seandainya dia laki-laki. Akan tetapi ternyata Viola adalah seorang perempuan. Gadis yang amat cantik sebagai seorang perempuan.
Maka dua kecantikan itu berpadu di dalam wajah Viola. Sehingga menghasilkan kecantikan yang amat cantik dan unik.
Dan, semakin jauh mengenal Viola, Raihan semakin mengetahui bahwa ternyata nasib Viola tidak terlalu jauh berbeda dengan nasibnya.
Adapun pertemanan Raihan dengan Marsha juga semakin membaik dan semakin akrab. Bahkan Marsha sudah menganggap Raihan adalah kakaknya.
Ada satu hal yang perlu diketahui di sini. Marsha sama sekali tidak memandang Raihan itu sebagai seorang lelaki yang harus dicintai, sebagaimana layaknya sepasang kekasih.
Dia lebih tertarik menganggap Raihan itu sebagai kakaknya. Karena memang dia amat haus akan kasih sayang seorang kakak laki-laki. Di mana dia tidak mendapatkannya pada Fauzan, kakak laki-lakinya.
Perlu diketahui pula bahwa Raihan belum mengatakan kepada Marsha tentang hal yang sesungguhnya kalau dia sebenarnya adalah kakak laki-lakinya juga.
★☆★☆★
__ADS_1