Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 48 VIOLA KEMBALI PULANG


__ADS_3

Sebenarnya Viola masih ingin berlama-lama di rumah Raihan. Kalau bisa dia tinggal saja di kediaman yang tidak saja megah, tapi nyaman dan damai itu.


Namun karena terus dibujuk oleh Raihan agar dia harus pulang ke rumahnya, akhirnya dengan terpaksa Viola mau pulang juga ke rumahnya.


Lagipula Raihan sudah berjanji kepada papanya Viola tadi siang kalau akan mengantarkan Viola pulang hari ini.


Raihan memang telah menceritakan kepada Viola tentang pertemuan tadi siang dengan Pak Mahendra dan Miko serta Pak Darmawan dan istrinya, Bu Yunita.


Viola sempat khawatir kalau benar keluarga Pak Darmawan akan memperkarakan Raihan, sang kekasih kepada pihak kepolisian terkait kasus kematian Melinda.


Namun Raihan menenangkan Viola agar jangan khawatir. Pak Darmawan tidak punya bukti yang kuat untuk memperkarakannya kepada polisi.


Apabila keluarga Pak Darmawan memaksakan diri untuk melapor polisi, bisa jadi mereka yang akan terjerat hukum. Karena Raihan pasti akan melaporkan kepada pihak kepolisian terkait kasus penculikan terhadap Viola.


Sementara itu waktu sudah menunjukkan sore hari. sebuah mobil sedan mercy warna hitam melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalan perumahan elit.


Di dalam mobil mewah itu ditumpangi oleh Bayu yang bertindak sebagai supir. Sedangkan di jok belakang duduk berdampingan Raihan dan Viola.


Tentu tujuan mereka tidak lain adalah hendak mengantar Viola pulang ke rumahnya.


Di samping itu pula Raihan punya tujuan yang penting hendak bertemu dengan kedua orang tua Viola. Dan hal itu Raihan sudah utarakan kepada Viola.


"Mas Rai, apa kamu yakin mau melamarku sekarang sama orang tuaku?" tanya Viola sambil menatap kekasihnya. Tampak dari nada bicaranya bagai ada yang dia khawatirkan.


"Apa kamu masih belum yakin kalau aku serius menjadikanmu sebagai istri?" Raihan malah bertanya sambil tersenyum dan juga balas menatap Viola.


"Aku bukannya belum yakin kalau kamu serius padaku," sahut Viola bernada sendu. "Malahan aku yakin 100%. Tapi...."


"Tapi apa, Lala?"


"Aku takutnya papa ama mama bakal nolak lamaran kamu," kata Viola mengungkapkan kekhawatirannya. "Bahkan, bisa jadi mereka marah besar kepadamu."


"Orang tuamu bakal marah padaku itu sudah pasti," kata Raihan tetap tenang dan menenangkan Viola. "Aku juga udah perhitungin kalau mereka bakal nolak lamaranku."


"Tapi setidaknya aku udah nunjukin keseriusan aku ama kamu pada mereka," lanjut Raihan. "Terserah nanti gimana mereka nolaknya, aku nggak perduli...."


"Yang penting nanti kamu dukung aku di hadapan mereka."


"Itu udah pasti, Mas Rai," ucap Viola bernada mantap. "Aku pasti ngedukung kamu walau kamu nggak memintanya. Walau nantinya besar kemungkinan bokap ama nyokap bakal nolak lamaran kamu...."

__ADS_1


"Kita sama-sama berdoa saja mudah-mudahan acara lamaran Rai diterima," kata Bayu menyeletuk dari depan.


"Ya, semoga...," kata Viola penuh harap.


"Mudah-mudahan lancar...," kata Raihan juga penuh harap.


★☆★☆


Sesuai petunjuk Viola kini mereka sampai di kediaman Pak Mahendra. Lebih tepatnya mereka masih berada di depan gerbang pagar rumah mewah nan megah itu.


Tak lama Viola keluar dari mobil, terus menuju pintu gerbang yang tertutup rapat. Belum lama dia menekan bel yang menempel di tiang gerbang pagar, jendela kecil di salah satu sisi pintu pagar terbuka, terus muncul kepada seorang satpam penjaga.


"Eh, Non Ola!" seru satpam itu amat gembira. "Akhirnya Non pulang juga...."


Setelah melihat satpam itu, Viola langsung teringat kalau lelaki itu yang telah dipukulnya di malam dia hendak kabur dari rumah. Begitu mengingatnya, dia langsung minta maaf dengan tulus.


"Mang, maafin aku ya malam itu aku udah mukulin mamang. Sorry, aku terpaksa ngelakuinnya. Aku minta maaaafff... banget!"


"Ah, nggak apa-apa, Non, lagi pula mamang nggak cidera," kata pak satpam memaklumi. "Yang penting Non sekarang udah pulang ke rumah lagi."


"Eh, Non nggak apa-apa 'kan?" tanya satpam itu khawatir.


"Nggak papa, Mang, tanang aja."


Tak lama kemudian, Bayu keluar duluan. Setelah menutup pintu depan yang dia buka, lalu pemuda dingin itu membuka pintu belakang sebelah kanan di mana Viola duduk di sebelah situ.


Namun Viola tidak langsung keluar walau pintu sudah terbuka. Dia menoleh pada Raihan sejenak seolah minta dukungan dan penguat agar dia tetap tegar.


"Tenanglah! Nggak akan terjadi apa-apa," kata Raihan lembut sambil tersenyum.


Setelah mendapat dukungan dari Raihan, setelah memantapkan hatinya, akhirnya Viola keluar dari mobil. Lalu menyusul Raihan dari arah yang sama.


Begitu sudah berada di luar, Raihan dan Viola segera melangkah meniti anak tangga sambil berpegangan tangan. Lalu menyusul Bayu di belakang mereka.


Namun baru saja mereka menginjakkan kakinya di lantai serambi, pintu depan rumah itu yang cukup besar seketika terbuka. Lalu tak lama keluarlah Pak Mahendra, Bu Hellen, Miko, dan putri ke tiganya, Jennie.


Dan mereka semua langsung berhenti di depan pintu yang terbuka. Terus memandang Raihan dan Viola dengan ekspresi yang berbeda-beda.


Terkhusus Jennie, gadis cantik itu menatap Raihan dan Viola dengan sinis. Apalagi saat melihat kedua tangan Raihan dan Viola masih bergandengan saat jalan mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


Hatinya makin panas melihat kedekatan mereka yang sudah sampai bergandengan tangan, bagai layaknya mereka itu orang yang berpacaran. Jangan-jangan mereka sudah berpacaran, pikir Jennie.


Jika benar mereka telah berpacaran dia harus menggagalkannya. Tidak boleh Raihan berpacaran dengan Viola. Raihan hanya boleh berpacaran dengan....


Raihan dan Viola berhenti melangkah di depan keluarga itu berjarak 4 langkah. Lalu seperti tersadar kalau masih berpegangan tangan, mereka segera saling melepas.


Sementara Bu Hellen tidak memandang selain keadaan yang ada pada putri bungsunya itu; wajahnya yang tampak semakin cantik, penampilannya yang sudah sempurna perempuan, serta keadaannya yang tampak segar bugar.


"Ola...," desah Bu Hellen bernada haru bercampur gembira dapat bertemu kembali dengan putrinya yang ternyata sehat-sehat saja.


Suaminya dan Miko sudah menceritakan padanya tentang pertemuan mereka dengan Raihan di kantornya tadi siang.


Tentu saja dia amat takut dan khawatir saat mendengar cerita mereka bahwa Viola malam itu. Dia masih khawatir walau Miko mengatakan Viola baik-baik saja.


Namun begitu sekarang melihat Viola tidak kurang suatu apa, baru dia percaya bahwa putrinya itu memang baik-baik saja.


"Mama...!"


Viola langsung menghambur ke mamanya, memeluknya dengan erat tapi lembut. Menumpahkan rasa rindunya, mengungkapkan rasa bersalahnya. Air matanya tidak bisa tidak ikut tertumpah pula.


Begitu juga Bu Hellen yang tidak bisa menahan haru. Sehingga air matanya ikut tertumpah pula. Rasa rindu dan khawatir yang dalam segera dituntaskan dalam pelukan hangatnya yang penuh kasih sayang.


★☆★☆


"Lu udah antar adik gue dengan selamat ke rumah gue," kata Jennie bernada sinis. "Sekarang lu boleh tinggalin tempat ini! Nggak ada lagi urusan lu di sini 'kan?"


Raihan hanya tersenyum kecil mendengar pengusiran Jennie, tidak menanggapi ucapannya. Sedangkan Bayu juga diam saja meski mangkel mendengar ucapan Jennie.


"Jenn! Lu nggak usah ngomong kalau nggak tau ngomong!" tegur Miko langsung sambil mendelik.


"Napa...."


"Lu diam aja, nggak usah ngomong!" Miko cepat memotong ucapan Jennie yang hendak bicara. Sehingga Jennie tidak jadi berucap meski hatinya kesal.


Tak lama Pak Mahendra maju ke depan yang tadi berada di belakang. Sejenak dia menatap Raihan dengan tatapan kebencian, tetap. Karena pemuda itu adalah putranya Pak Baskoro, musuh bebuyutannya.


"Terima kasih kamu dan temanmu itu sudah mengantar putri kami kembali pulang," kata Pak Mahendra bernada datar. "Sekarang, jika nggak ada lagi urusanmu di sini, kamu boleh pulang."


Kalimat itu diucapkan dengan begitu dingin, sarat akan kebencian.

__ADS_1


Mendengar ucapan papanya itu, Viola yang sudah melepas rangkulannya pada mamanya seketika kaget. Sampai-sampai dia menatap papanya dengan sorot ketakutan dan khawatir kalau Raihan bakal kenapa-kenapa.


★☆★☆★


__ADS_2