
Dengan sedikit cepat Bayu menarik pintu belakang sebelah kanan mobilnya. Pintu itu dibuka cukup lebar. Maka terlihatlah Michella yang duduk takut-takut di jok belakang mobil sedan itu.
Sejenak Bayu menatap gadis cantik itu dengan tatapan dingin seakan tanpa ekspresi. Wajah tampannya juga tampak datar saja. Tidak menunjukkan marah atau terkejut atau lainnya.
Sedangkan Michella dengan memberanikan diri juga menatap pemuda tampan nan dingin itu sambil tersenyum takut-takut.
Terus terang hatinya kini berdebar-debar karena berbagai macam perasaan.
Hatinya bergetar takut kalau-kalau Bayu marah padanya karena memasuki mobilnya tanpa izin. Itu suatu perbuatan yang tidak sopan, dan dia harus mengakuinya.
Namun perasaan takut itu ternyata terkalahkan dengan sesuatu yang mampu membuat relung hatinya bergetar. Relung hati yang terpendam asmaranya di situ.
Terus terang belum ada seorang pemuda pun yang mampu menggetarkan relung hatinya selain pemuda di depannya ini. Pertanda apakah ini?
Apakah itu artinya dia jatuh cinta kepada pemuda yang belum pernah dikenalnya ini? Apakah secepat itu? Sepertinya jangan dulu!
"Sepertinya orang yang mengejar Anda sudah pergi, Nona," kata Bayu bernada dingin tapi terdengar sopan. "Masih ada perlu dengan mobil saya?"
"Eh... anu... aku..., eh saya...."
Lamunan Michella langsung berantakan. Membuatnya berbicara tidak becus, malah tergagap seperti orang linglung yang tidak tahu harus bicara apa.
"Tenangkan diri Anda dulu baru bicara, Nona!" kata Bayu tetap dengan gaya bicaranya. "Tenang saja, tidak usah merasa takut!"
"Boleh gue numpang di mobil lu?" pinta Michella amat berharap dengan wajah memelas.
"Orang yang mengejar Anda sudah pergi, Nona," kata Bayu seperti keberatan. "Saya rasa masalah Anda sudah teratasi."
"Nggak sesederhana itu," kata Michella masih memohon. "Nggak segampang kayak yang lu pikirin. Masalah gue belum selesai, bahkan baru dimulai."
"Kalau begitu Anda hendak ke mana? Mungkin bisa saya antar," kata Bayu akhirnya menawarkan.
"Nanti gue kasih tahu ke mana gue mau pergi," kata Michella malah seperti membuat teka-teki.
Sejenak Bayu berhenti bicara, tidak menanggapi ucapan Michella. Namun sepasang matanya masih menatap gadis cantik bermata indah itu.
Sedangkan Michella juga menatap Bayu dengan sorotan penuh harap, wajahnya masih mengiba agar pemuda itu mau menolongnya.
"Please! Gue benar-benar ngarapin pertolongan lu!" mohon Michella saat melihat Bayu seperti bersikap ragu.
Namun tidak ada tanggapan dari Bayu. Dia beralih pada abang parkir yang masih di dekat situ. Sepertinya abang parkir itu merasa bertanggung jawab. Dan tidak akan meninggalkan Bayu sebelum masalah selesai.
Akan tetapi Bayu menganggap masalah selesai. Dan membolehkan abang parkir untuk meninggalkan mereka.
Sebelum abang parkir meninggalkan mobil Bayu, Michella memberikannya uang Rp. 100.000,- sebagai tanda terima kasih karena telah menolongnya.
Si abang parkir senang-senang saja dikasih duit sebanyak itu. Apalagi dia mendapat ongkos parkir lebih dari Bayu.
Sedangkan Bayu, setelah menutup pintu belakang sebelah kanan itu, dia masuk ke dalam mobil. Lalu menaruh kresek belanjaannya di samping kirinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, dia sudah menjalankan mobilnya. Tapi masih belum bersuara. Sementara Michella juga seperti enggan mau ngomong lagi.
★☆★☆
Mobil sedan mewah itu terus melaju dengan kecepatan sedang. Sementara Bayu maupun Michella masih membisu, belum ada yang saling berbicara mulai dari meninggalkan mini market tadi.
Atau lebih tepatnya Bayu seakan enggan berbicara untuk sejenak. Sedangkan Michella seperti merasa bersalah melihat sikap diamnya Bayu.
Sejak tadi Bayu belum menanggapi permohonannya. Tapi anehnya pemuda itu membawanya pergi juga. Membuat dia merasa heran bertanya-tanya.
"A... apa lu nggak suka nolongin gue?" tanya Michella takut-takut. Ucapannya sekaligus memecah kebisuan yang cukup lama membungkam mereka.
"Kita belum saling kenal, Nona," kata Bayu seakan tidak menggubris ucapan Michella sambil terus mengemudikan mobilnya. "Kenapa Anda begitu berani minta tolong pada orang yang belum Anda kenal?"
"Kalau gitu kita kenalan dong," kata Michella berseloroh sambil tersenyum, sok akrab. Tapi tetap saja kesedihan tidak bisa dia pudarkan dari wajahnya.
"Kenalin... nama gue Michella, tapi lu cukup manggil gue Sela aja," kata Michella memperkenalkan diri tanpa menyodorkan tangannya. "Nama lu sapa?"
"Anda belum menjawab pertanyaan saya, Nona!" kata Bayu seakan menegur, masih tidak menggubris ucapan Michella. "Kenapa Anda begitu berani minta tolong pada orang yang belum Anda kenal?"
"Apakah Anda tidak takut saya berbuat kurang ajar kepada Anda?" lanjut Bayu masih dengan mode dinginnya.
"Gue yakin lu tu orang baik," kata Michella merasa yakin. "Jadi, nggak mungkinlah macam-macam ama gue. Iya nggak?"
"Jangan mudah percaya kepada orang yang belum Anda kenal," kata Bayu bernada bijak menasehati. "Siapa tahu orang yang Anda lihat baik itu, ternyata orang jahat."
"Lu sendiri, napa nolongin gue?" tanya Michella seakan membalikkan pertanyaan Bayu. "Apa lu kira gue juga orang baik? Gimana kalau gue bikin masalah ama lu?"
"Kalau gitu bawa aja gue ke rumah lu," kata Michella seakan tanpa pikir. Nadanya mulai kesal mendengar Bayu yang ternyata membawanya bukan bermaksud menolongnya.
"Jangan asal bicara, Nona Sela," tegur Bayu tapi datar saja. Entah tersinggung atau apa, tidak jelas. "Anda itu perempuan, sedangkan saya laki-laki. Apalagi kita tidak saling kenal. Bagaimana Anda mau saja dibawa oleh orang yang tidak dikenal."
"Bisa nggak sih ngomongnya biasa aja, nggak formal kayak gitu?" tegur Michella dongkol. "Ngomong lu gue-lu gue aja napa sih! Nggak usah ngomong Anda Saya-Anda Saya! Ribet amat sih!"
Bayu cuma melirik Michella sebentar melalui kaca spion dalam mobil. Tidak menanggapi gerutuan si gadis.
"Lu sebenarnya mau ke mana, Sela?" tanya Bayu mulai mengobrol biasa sesuai permintaan si gadis setelah beberapa saat membisu. "Mau gue antar pulang? Atau ke rumah teman lu?"
"Nyatanya lu bisa ngomong biasa juga," gerutu Michella bercampur seloroh sambil tersenyum karena lucu.
Entah kenapa Michella merasa senang ngobrol dengan Bayu. Dia merasa seperti sudah akrab dengan pemuda itu. Dalam hati dia mengagumi kepribadian Bayu yang tenang dan menjunjung tinggi nilai kesopanan.
"Jawab aja pertanyaan gue!" kata Bayu menegur. "Nggak usah ngalihin omongan!"
Michella tidak lantas menjawab pertanyaan Bayu. Dia terdiam sejenak seakan menimbang pertanyaan Bayu sambil memandang keadaan di luar mobil.
★☆★☆
"Gue nggak mau pulang," ucap Michella kemudian bernada kesal.
__ADS_1
Bukan kesal karena Bayu bertanya demikian. Tapi dia kesal karena masalah yang harus dihadapi jika dia pulang.
"Kayaknya lu ada masalah?" tanya Bayu mulai perduli. "Boleh gue tau?"
"Gue tu sebenarnya mau dijodohin ortu ama seorang pengusaha kaya," tutur Michella mengungkapkan dengan nada dongkol. "Jelas gue nolak lah. Masak udah jaman segini masih dijodoh-jodohin."
"Terus lu lari dari rumah karena nggak mau dijodohin, gitu?" tanya Bayu menebak.
"Persisnya nggak kayak gitu...."
Lalu Michella menceritakan bahwa tadi sebenarnya dia dan mamanya sedang belanja di sebuah mall. Tapi saat ada kesempatan untuk kabur, Michella langsung ngacir tanpa perduli resikonya.
Tanpa perduli kalau 2 bodyguard papanya terus mencarinya tanpa henti. Tadi hampir saja 2 bodyguard papanya menemukannya kalau tidak cepat sembunyi di dalam mobil Bayu.
Masalahnya nanti malam kedua papa dan mamanya akan mengantarkan dia ke rumah orang tua pemuda yang mau dijodohkan dengannya itu.
Terang saja Michella langsung meninggalkan mamanya saat di mall tadi, dan tidak mau pulang ke rumah malam ini. Karena dia tidak mau dijodohkan.
"Lu udah punya pacar, makanya nolak mau dijodohin?" tanya Bayu ingin tahu.
"Pernah punya, tapi udah putus," sahut Michella mengaku. "Jadi, sekarang nggak punya. Tapi..., meski gue udah punya pacar, papa ama mama tetap ngejodohin gue ama cowok pengusaha kaya itu."
"Kayaknya cowok pengusaha kaya itu cukup spesial di mata orang tua lu," gumam Bayu yang tanpa terasa larut dalam keasyikan ngobrol bersama Michella.
"Ya tentu saja," kata Michella kesal. Bukannya bangga, malah mendongkol atas pemikiran orang tuanya. "Di samping cowok itu anak salah seorang pengusaha besar di kota ini, cowok itu juga termasuk pengusaha besar yang sekarang namanya lagi naik daun."
"Lu udah tahu cowok itu siapa kayaknya?" kata Bayu sambil menerka-nerka siapa yang dimaksud Michella. "Atau udah pernah lihat orangnya?"
"Tau banget sih nggak," kata Michella mengaku, "ketemu juga belum pernah. Gue cuman ngeliat fotonya aja saat nyokap gue kasih liat."
"Namanya siapa?" kejar Bayu.
"Eh..., ngomong-ngomong masalah nama," kata Michella bagai tersadar akan sesuatu, "kayaknya lu belum kenalin nama lu ke gue. Nama lu sapa sih?"
"Panggil aja Bayu," sahut Bayu cepat. Lalu dia bertanya lagi nama pemuda yang dijodohkan sama Michella seakan penasaran. "Nama cowok yang dijodohin ama lu tu siapa?"
"Ih..., kepo amat sih," kata Michella sambil tersenyum menggoda, mencandai Bayu. "Emang harus gitu... lu tau namanya? Atau jangan-jangan lu cemburu ya?"
"Jangan-jangan lu udah suka ama gue, terus lu cemburu ama cowok itu, gitu ya?" lanjut Michella terus saja mencandai Bayu. "Lu pingin tau sapa cowok itu, terus lu mau melabraknya, gitu ya?"
"Nona Michella, bisakah Anda tidak bercanda?" kata Bayu bernada datar dengan gaya formalnya.
"Eh, lu kumat lagi deh!"
Terus dia membekap mulutnya dengan telapak tangannya menahan tawanya. Tapi akhirnya tertawa kecil juga, tawa yang tertahan.
Sedangkan Bayu, melihat tingkah Michella tidak membuat dia tersinggung. Malah dia cuma sedikit geleng-geleng kepala sambil tersenyum, tidak lebar tapi tidak sedikit. Dan itu amat manis, makin menambah pesona ketampanannya.
Tentu saja Michella yang hampir tidak pernah lepas memandang Bayu melalui kaca spion dalam, melihat senyum yang menawan itu.
__ADS_1
"Ternyata benar orang bilang," gumam Michella dalam hati. "Cowok cool itu, sekali tersenyum pasti mempesona...."
★☆★☆★