Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 33 BAGAI ANAK TITIPAN YANG PASTI AKAN PERGI


__ADS_3

Begitu pintu utama kediaman Pak Baskoro itu terbuka, seorang gadis cantik yang ternyata Marsha segera keluar sambil berseru dengan penuh haru dan gembira.


"Kak Rai! Mas Bay!"


Tanpa menunggu lama, gadis itu segera menghambur keluar menuju Raihan dan Bayu yang sudah berdiri saling berdampingan. Begitu sampai di hadapan Raihan, tanpa ditahan-tahan Marsha langsung memeluknya dengan erat.


Rasa kangennya terhadap kakak laki-lakinya rupanya belum juga tuntas. Apalagi sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Raihan. Membuat rasa rindunya makin berlipat-lipat. Membuat air mata haru tak bisa ditahannya.


Sedangkan Raihan membiarkan saja adiknya memeluknya demi menumpahkan rasa rindunya. Bahkan dia ikut memeluk pula sambil membelai lembut rambut belakang gadis cantik itu. Mengecup lembut atas kepala Marsha dengan penuh kasih sayang.


Membuat Shafira maupun Bayu tersenyum haru melihat 2 kakak beradik itu saling berpelukan. Masing-masing mereka dapat memahami perasaan kakak beradik itu.


Marsha telah merindukan kakaknya yang sudah sekian tahun terpisah itu. Sementara Raihan tidak menyangka kalau ternyata masih ada yang merindukannya dan mengharapkan kehadirannya.


Cukup lama juga 2 kakak beradik itu saling berpelukan. Setelah akhirnya Shafira menegur Marsha dengan halus.


"Sasa, apa kamu mau peluk kakakmu terus kayak gitu? Apa nggak diajak masuk?"


"Oh...."


Mendengar teguran halus Shafira, sontak Marsha tersadar kalau dia terlalu larut dalam keharuan. Maka segera gadis cantik itu melepas pelukannya pada kakaknya. Menyusut air matanya sebentar, lalu berkata.


"Maaf, Kak Rai, aku sampe lupa ngajak kamu masuk. Habisnya kangenku belum hilang sih...."


"Udah ketemu kok masih kangen," goda Raihan sambil tersenyum.


"Kita ketemunya jarang mana kangenku bisa hilang," kata Marsha memberengut manja. "Lagian belum lama juga aku tau kalau kamu kakakku."


"Udah, kangen-kangennya udah dulu, Sasa," tegur Shafira. "Kak Rai-mu mau ketemu papa. Jadi, jangan diganggu dulu ya!"


"Emang Kak Rai mau ketemu papa ada urusan apa?" tanya Marsha pada Raihan ingin tahu.


"Papa udah di rumah 'kan, Sasa?" tanya Shafira tidak menggubris pertanyaan Marsha pada Raihan.


"Udah," sahut Marsha mengabarkan seakan tak tersinggung pertanyaannya diabaikan. "Sekarang lagi di taman belakang sama mama."


"Kak Zan ama Kak Vanka udah datang?" tanya Shafira lagi.


"Belum. Tapi mungkin entar lagi."


"Kak, ada urusan apa sih ama papa?" tanya Marsha masih penasaran.


"Kamu nggak nyapa Mas Bay juga?" tanya Raihan seolah tidak menggubris pertanyaan Marsha. Nadanya jelas menggoda sambil tersenyum. "Apa kamu nggak kangen dia juga?"

__ADS_1


Marsha langsung tersenyum mendengar ucapan Raihan yang menggodanya itu. Tepatnya tersenyum malu-malu. Tentu saja dia kangen juga dengan pemuda tampan yang diam-diam sudah mulai disukainya itu.


Tapi perasaannya itu cuma disimpan sendiri saja, tidak diungkapkan kepada siapa pun. Sampai pun kepada Viola, teman akrabnya, apalagi kepada Bayu.


Dia tahu kalau Aira, kakak sepupunya menyukai Bayu. Bahkan duluan menyukai daripada dirinya. Meskipun Bayu sampai saat ini belum menyatakan suka sama Aira juga.


Sedangkan Bayu yang tadinya mengalihkan pandangan ke arah lain seakan tengah menikmati keadaan sekitar, mendengar Raihan menyinggung namanya, segera menoleh pada Raihan dan menatapnya dengan dingin.


Baru saja dia ingin berkata pada Raihan hendak melontarkan teguran....


★☆★☆


"Apa kabarmu, Mas Bay?" tanya Marsha dengan lembut sambil tersenyum manis.


"Oh, ba...baik, baik," sahut Bayu sedikit gugup," aku baik-baik saja.... Kamu gimana kabarnya?"


"Ada apa sama kamu, Bay?" tanya Raihan jelas menggoda sambil tersenyum. "Kok kamu tiba-tiba kayak gugup gitu. Jangan-jangan kamu kangen juga sama Marsha."


"Tuan Muda Raihan, sebaiknya kita cepat selesaikan urusan kita di rumah Tuan Baskoro," kata Bayu mengalihkan pembicaraan. "Takutnya kita kemalaman di rumah Tuan Baskoro."


"Udah sana, Sasa!" kata Shafira bagai mengusir. "Beri tahu papa ama mama kalau Raihan datang."


"OK," kata Marsha penuh semangat.


Lalu Marsha melangkah cepat setengah berlari masuk ke dalam rumah. Menyusul kemudian Raihan dan Bayu ikut masuk ke dalam rumah megah nan indah itu setelah Shafira mengajak mereka masuk.


Bahkan dia menganggap dirinya tamu di rumah ini. Itulah makanya dia hanya duduk di sofa di ruang tamu bersama Bayu sambil menunggu kedatangan Pak Baskoro. Bisa jadi juga ibunya akan datang menemuinya pula.


Dan apa yang Raihan perkirakan akhirnya terjadi. Bu Retno datang dengan tergopoh-gopoh bersama Shafira dan Marsha. Sedangkan Pak Baskoro juga ikut, tapi dengan sikap acuh tak acuh. Bahkan memandang Raihan dan Bayu dengan tatapan sinis sekaligus benci.


Hampir bersamaan waktunya Fauzan beserta istri dan putrinya masuk ke dalam rumah. Tentunya begitu masuk mereka semua langsung dapat melihat Raihan dan Bayu yang sedang duduk di ruang tahu.


Jovanka memandang biasa pada Raihan dan Bayu. Begitu juga halnya dengan Berly, putrinya. Sedangkan Fauzan langsung memandang sinis penuh permusuhan dan kebencian kepada Raihan dan Bayu.


Tapi Raihan tidak menggubris keberadaan Fauzan. Dia sedikit menghiraukan kedatangan ibunya yang langsung melangkah cepat menghampirinya.


Dan ketika Raihan bangkit berdiri menyambut kedatangan Bu Retno, wanita tua itu langsung memeluknya tanpa dapat dicegah lagi. Tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Pak Baskoro, sang suami.


Dipeluknya anak lelakinya yang sudah 19 tahun terpisah itu dengan erat penuh kasih sayang. Air matanya seketika tertumpah tanpa dapat dibendung. Suara tangisnya seketika pecah tanpa dapat diredam.


Sedangkan Raihan, bukannya tidak terharu dan senang mendapat pelukan hangat dari seorang wanita yang telah melahirkannya.


Namun dia tidak mau larut terbawa oleh suasana. Sedapat mungkin Raihan mengunci perasaan harunya itu agar tak tampak di luaran. Bahkan dia tidak balas memeluk ibunya.

__ADS_1


Yang tampak dari ekspresi di wajahnya hanyalah sikap datar bercampur dingin. Bahkan sorotan matanya amat tajam menatap Pak Baskoro yang berdiri berdampingan dengan Fauzan.


Sementara Shafira, Marsha dan Jovanka yang melihat adegan Bu Retno memeluk erat Raihan sambil menangis penuh haru, mereka langsung larut dalam haru hingga kedua mata mereka berkaca-kaca.


Sedangkan Bayu juga berusaha agar tidak ikut terharu larut dalam suasana pilu. Dia berusaha menunjukkan sikap tegar. Berusaha menunjukkan ekspresi dingin.


Dia memang bisa memaafkan perbuatan Pak Baskoro yang dibantu oleh Pak Sudrajat yang telah merebut perusahaan ayahnya. Namun rasa sakit hati atas perbuatan mereka belum hilang.


Yang lebih menyakitkan lagi Bu Retno, kakak kandung ayahnya hanya berdiam diri saja. Tidak berusaha membatu ayahnya. Bahkan sikap Bu Retno terkesan mendukung suaminya dalam merebut perusahaan ayahnya.


Sungguh miris....


Adapun Berly yang sama sekali belum tahu apa yang terjadi di masa yang lalu pada diri Raihan, cuma menatap pemuda itu dengan heran.


★☆★☆


"Akhirnya kamu datang juga, anakku," kata Bu Retno bernada pilu di sela tangis harunya. "Akhirnya kamu pulang kembali di rumah ini...."


Lagi-lagi Raihan tidak memberikan reaksi apa-apa. Sikapnya masih dingin-dingin saja. Tapi tak lama, dia melepaskan pelukan ibunya itu dengan perlahan. Setelah itu dia berkata bernada lembut.


"Maaf, Bu, saya mungkin nggak akan lama di sini. Kedatangan saya ke sini hanya ingin bicara sebentar dengan Tuan Baskoro."


"Maafkan aku, anakku," kata Bu Retno bernada pilu seolah tidak menggubris ucapan Raihan, "wanita yang tidak tahu diri ini telah menelantarkanmu selama 19 tahun lamanya...."


"Kini kamu kembali lagi di rumah ini dalam keadaan sudah dewasa seperti ini," lanjut Bu Retno semakin bersedih hati.


"Di satu sisi aku merasa amat senang karena kamu ternyata sehat-sehat saja. Tapi di sisi lain aku amat sedih dan menyesal kamu tumbuh dewasa seperti ini bukan di bawah pengasuanku...."


"Sungguh aku telah gagal menjadi seorang ibu...."


"Tidak ada yang perlu disesalkan, Bu," kata Raihan berkata bijak. "Semuanya sudah terjadi sesuai takdir yang telah ditentukan oleh Allah...."


"Menurut saya Anda tidak gagal menjadi seorang ibu," lanjut Raihan, "karena Anda sudah mendidik 3 anak anda dengan baik...."


"Adapun saya... sepertinya tidak ditakdirkan menjadi anak Anda yang bisa Anda didik dengan baik, meskipun saya terlahir dari rahim Anda....


"Saya hanyalah anak titipan yang cepat atau lambat pasti akan keluar dari rumah ini."


Kata-kata yang diucapkan Raihan begitu mendalam maknanya. Dan amat dipahami oleh Bu Retno maupun Shafira. Membuat Bu Retno makin berderai air matanya. Membuat Shafira tak kuasa menahan air mata.


Sedangkan Jovanka maupun Marsha yang sama sekali tidak mengetahui kehidupan masa kecil Raihan di rumah ini, sedikit banyak mengetahui arti dari kandungan makna ucapan Raihan tadi. Sehingga tanpa terasa mereka ikut meneteskan air mata pula.


Sementara Pak Baskoro maupun Fauzan, putra pertamanya bukan tidak tahu akan apa yang diucapkan Raihan itu. Namun sikap mereka seperti tidak perduli, meskipun pula enggan mengomentari ucapan itu.

__ADS_1


Adapun Bayu yang tahu kehidupan Raihan di masa kecil dulu hanya bisa mendam haru dalam hati. Namun seperti kata Raihan, semuanya sudah terjadi sebagaimana yang telah ditakdirkan. Tidak perlu disesalkan....


★☆★☆★


__ADS_2