Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 42 RAHASIA MULAI TERUNGKAP


__ADS_3

Raihan, Viola dan Bayu sampai di rumah Raihan hampir jam 2 dini hari. Tentu saja begitu sampai mereka bertemu dengan Shafira dan Marsha yang ternyata menunggu kedatangan mereka di ruang tamu.


Sebelumnya, begitu Shafira dan Marsha sampai di rumah Raihan, mereka tidak bertemu dengan Raihan maupun Bayu. Lalu kedua gadis cantik itu bertanya kepada para pembantu, tapi mereka juga tidak tahu kenapa Raihan dan Bayu belum pulang ke rumah.


Shafira sebenarnya tahu kalau Raihan dan Bayu ada pertemuan dengan kolega bisnis di luar. Dan hal itu diberitahukan kepada Marsha.


Tapi sudah hampir larut malam mereka belum pulang, tentu urusannya bukan hanya sekedar meeting dengan kolega bisnis. Pasti ada urusan lain hingga mereka belum pulang sampai sudah selarut ini.


Tapi entah kenapa kedua gadis itu merasa kalau sedang terjadi sesuatu dengan Raihan dan Bayu. Apalagi waktunya bertepatan dengan kaburnya Viola dari rumahnya.


Makanya mereka memilih menunggu Raihan dan Bayu pulang ke rumah. Tapi karena lelah menunggu mereka sampai tertidur di sofa ruang tamu.


Dan karena Marsha tertidur, jelas dia tidak tahu kalau Raihan mengirim pesan di WA-nya tentang kabar Viola sekaligus kedua kakaknya itu.


Barulah Shafira dan Marsha terbangun saat Raihan membangunkan mereka. Dan tak butuh waktu lama Shafira dan Marsha segera tahu kalau Raihan dan Bayu sudah pulang.


Begitu menyadari kalau Viola bersama mereka, betapa senangnya kedua gadis itu. Saking gembiranya Marsha langsung memeluk Viola sambil menangis haru.


Terharu karena kembali bertemu setelah sebulan lebih tidak bertemu. Terharu karena ternyata Viola baik-baik saja.


Sedangkan Shafira langsung bertanya, kenapa Raihan dan Bayu bisa pulang sampai dini hari begini? Dan bagaimana bisa bertemu dengan Viola?


Tanpa menunda Raihan langsung menjelaskan secara singkat dan cuma garis besarnya saja. Adapun secara rinci, Raihan menunda untuk menjelaskan. Sekarang sudah dini hari, mereka harus istirahat.


Terutama Viola yang harus istirahat dulu. Karena dia sepertinya masih sedikit trauma atas musibah yang menimpanya malam ini. Dia harus cukup istirahat untuk memulihkan kembali keadaannya.


Ternyata Shafira dapat memaklumi hal itu. Dan tanpa Raihan pinta dia langsung mengantarkan Viola ke kamar tidur di lantai 2.


Shafira yang membeli kediaman yang cukup besar dan megah ini untuk Raihan. Jadi dia amat tahu seluk-beluk rumah ini.


Sedangkan Marsha tentu saja menemani Viola karena Viola memintanya untuk menemani dirinya. Tapi Shafira berpesan kepada Marsha agar tidak bertanya apapun dulu kepada Viola, dan memerintahkan mereka berdua untuk segera tidur.


Kemudian Shafira pergi ke kamar tidur yang biasa dia tempati kalau lagi berada di rumah ini. Letaknya berada di sebelah kamar yang Viola dan Marsha tempati.


Sementara Raihan maupun Bayu, setelah membersihkan diri masing-masing di kamar mereka di lantai 1, mereka langsung tidur karena amat kelelahan.


★☆★☆


Barulah pada pagi harinya Raihan menjelaskan secara rinci dan gamblang apa yang terjadi dengan mereka semalam, karena Shafira langsung menanyakan hal tersebut.


Termasuk memberitahukan tentang keterlibatan Melinda dalam kasus rencana pembunuhan terhadap Viola. Juga memberitahukan keterlibatan Melinda tentang peristiwa sewaktu Viola hampir dibunuh oleh preman.


Perlu diketahui saat ini mereka; Shafira, Raihan, dan Bayu telah berkumpul di meja makan sembari sarapan setelah mereka bertiga sudah bersiap-siap akan ke kantor.


"Berarti preman-preman itu adalah orang-orangnya si Vega juga, iya 'kan?" komentar Shafira di akhir Raihan bertutur.


"Bisa jadi kayak gitu," sahut Raihan kurang yakin.


"Bisa jadi juga mereka hanya orang sewaan Vega," kata Bayu menanggapi lain.


"Napa kamu bisa ngomong kayak gitu, Bay?" tanya Shafira ingin tahu.

__ADS_1


"Soalnya preman-preman itu adalah orang-orang yang berbeda dengan orang-orang yang ngenculik Lala," kata Bayu menjelaskan. "Aku masih nyimpan foto-foto para preman itu. Juga masih sempat ngefoto orang-orang yang ngeculik Lala."


Kemudian Bayu memperlihatkan foto-foto para penculik Viola kepada Shafira yang disimpan dalam phonecellnya. Lalu memperlihatkan juga preman-preman yang hampir membunuh Viola tempo hari.


"Mungkin saja si Vega itu orang-orangnya banyak," tanggap Shafira setelah melihat foto-foto yang ditunjukkan Bayu, "termasuk preman-preman itu."


"Semua kemungkinan itu bisa saja benar," kata Raihan seolah menyatukan 2 pendapat Shafira dan Bayu yang berbeda. "Tapi yang jelas kita harus berhati-hati mulai sekarang. Aku menduga Vega itu mafia."


Kemudian Raihan menuturkan mengenai motif kenapa Vega berani melakukan tindak kriminal itu. Yaitu tidak lain karena dendam terhadap keluarga Mahendra.


"...Vega menganggap keluarga Lala ikut menjadi sebab atas kematian Mbak Rania," kata Raihan di akhir penuturannya.


"Apa hubungan Vega dengan Mbak Rania?" tanya Shafira yang sudah tahu siapa Rania.


"Menurut keterangan Lala yang sempat berbicara dengan Vega," sahut Raihan, "Vega mengaku pacar Mbak Rania."


"Tunggu!" kata Shafira seperti mengingat sesuatu. "Seingat aku Mbak Rania pernah pacaran sama Tristan, lengkapnya Tristan Aditya, anak pertama Pak Darmawan."


"Namun hubungan mereka kandas karena Mbak Rania akhirnya dijodohkan sama Kak Zan," lanjut Shafira.


"Aku sekarang jadi ingat," kata Raihan seketika teringat sesuatu.


"Ingat apa?" tanya Shafira cepat.


"Dulu Melinda pernah bilang padaku kalau dia punya kakak laki-laki yang katanya udah meninggal, tapi sempat aku lupa namanya," kata Raihan mengungkapkan. "Sekarang aku ingat lagi kalau dia bernama Tristan setelah kamu sebut tadi."


"Apa memang si Tristan itu udah meninggal, Mbak?" tanya Bayu ingin tahu.


"Kalau gitu Vega itu siapa?" tanya Bayu lagi seperti bingung. "Sementara Melinda mengaku kalau dia itu kakaknya."


"Apa memang Melinda punya kakak laki-laki lagi selain Tristan?" tanya Raihan juga seperti bingung.


"Aku nggak tahu pasti Pak Darmawan itu punya anak berapa," kata Shafira mengaku. "Yang aku tahu Tristan memang anak Pak Darmawan."


"Sedangkan Melinda...," lanjut Shafira, "baru aku tahu kalau dia putrinya Pak Darmawan setelah ketahuan kalau Miko ternyata dijodohkan sama dia."


"Bisa saja mungkin Pak Darmawan punya anak lain yang bernama Vega," komentar Bayu berasumsi. "Mungkin saja Tristan udah meninggal. Dan Vega sebagai adik datang buat ngebalasin dendam Tristan atas kematian Mbak Rania, pacar Tristan."


"Kamu tadi bilang sempat brantem ama Vega," kata Shafira kepada Raihan. "Bisa nggak kamu ngira-ngira umurnya berapa?"


"Kayaknya nggak jauh beda umurnya ama Fauzan," sahut Raihan.


"Kalau gitu menurut aku," komentar Shafira berpendapat lain, "Vega itu cuma nama samaran. Aslinya ya... Tristan itu."


"Mungkin masalah ini kita butuh melacaknya dulu lebih lanjut," kata Raihan seperti memutuskan. "Yang jelas... orang yang bernama Vega ini harus kita waspadai lebih serius. Karena dia pasti akan menyerang keluarga Pak Baskoro selain keluarga Pak Mahendra."


★☆★☆


Shafira melihat jam di tangannya sejenak. Lalu dia minum setelah sarapannya habis. Mengenakan tasnya dan mengambil phonecellnya yang tergeletak di meja di dekatnya. Terus berkata setelah berdiri.


"Kita ngomongin lagi masalah ini lain kali. Aku mau berangkat duluan."

__ADS_1


"Mbak, jangan ngomongin dulu masalah ini sama Aira!" pinta Bayu kepada Shafira yang sudah melangkah.


"Ok," kata Shafira sambil terus melangkah cepat.


Tak lama kemudian, Raihan dan Bayu sudah bersiap-siap juga hendak pergi ke kantor. Tapi belum juga melangkah meninggalkan meja makan, mereka melihat Viola dan Marsha yang ternyata sudah menuju ke ruang makan.


Akhirnya mereka menunda sejenak untuk berangkat ke kantor. Lala Raihan melangkah menghampiri kedua gadis cantik itu. Sedangkan Bayu cuma berdiam diri saja di tempat berdirinya sambil memandang kedua gadis itu yang meski baru bangun tidur tetap saja cantik.


"Kalian udah bangun rupanya," sapa Raihan sambil tersenyum.


"Mas udah mau ke kantor ya?" tanya Viola bernada seolah menahan Raihan untuk pergi.


"Aku ke kantor dulu sebentar," kata Raihan, "mau ngambil kerjaan biar di kerjakan di rumah, terus pulang."


"Nggak mampir 'kan?" kata Viola seolah menyuruh Raihan cepat pulang.


"Nggak mau dibeliin HP?" tanya Raihan menawarkan. "Kamu 'kan sekarang nggak megang HP."


"Mau sih...," kata Viola ragu. "Tapi... aku masih takut."


"Iya, Kak, kasihan Lala kalau ditinggal lama," kata Marsha menambahkan. "Kalau ada apa-apa, aku juga nggak bisa ngapa-ngapa."


"Biar aku yang beliin," kata Bayu mengajukan diri. "Mau beli HP merek apa, La?"


"Makasih, Mas Bay," kata Viola sambil tersenyum senang. "Merek apa aja yang penting bagus, hehehe.... Nanti aku gantiin uang kamu ya...."


"Gampang itu," kata Bayu sambil mengibaskan tangannya di depan wajahnya.


"Kak, aku bolos ke kampus dulu ya," mohon Marsha, "mau kangen-kangenan dulu ama Lala."


"Ya nggak papa," kata Raihan bernada bijak. Terus melanjutkan ucapannya dengan berpesan kepada kedua gadis itu.


"Ingat! Selama aku belum pulang, kalian jangan keluar dari dalam rumah...!"


Setelah memberi peringatan kepada kedua gadis itu, Raihan memberikan peringatan-peringatan khusus dan pesan-pesan khusus kepada semua pelayan rumah.


Setelah itu Raihan pamitan kepada Viola. Sebelum melangkah keluar disempatkan mengecup kening sang kekasih pujaan hatinya itu. Lalu berpesan agar berhati-hati dan berdoa untuk keselamatan.


Sementara Marsha segera menghampiri Bayu yang hampir melangkah keluar.


"Mas Bay, kamu juga hati-hati ya!" kata Marsha mengingatkan sambil merapikan dasi Bayu yang sedikit miring. Sambil berkata begitu Marsha tersenyum manis.


"Ya," cuma itu tanggapan Bayu.


Setelah itu pemuda dingin itu melangkah keluar menyusul Raihan yang sudah melangkah.


Setelah kedua pemuda itu keluar, Viola dan Marsha segera sarapan sambil ngobrol santai. Sedangkan seorang ART segera mengunci pintu depan.


Begitu berada di dekat pos jaga, tak lupa Raihan memberikan pesan-pesan khusus pula kepada satpam. Setelah itu dia keluar areal rumah dengan mobilnya. Dan Bayu juga dengan mobilnya karena nanti Bayu pulang belakangan.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2