
Malam telah menghampar di seantero Jakarta. Namun gemerlapnya lampu jalanan dan lampu-lampu kendaraan bermotor membuat kegelapan seakan tersingkir.
Sementara itu Raihan dan Bayu baru saja keluar dari areal perusahaan selepas mereka shalat isya.
Peristiwa kempisnya ban motor mereka, lalu insiden perkelahian dengan 4 karyawan OB, membuat mereka masih tertahan di perusahaan cukup lama.
Belum lagi mereka harus memompa ban motor mereka. Sehingga mereka terpaksa tertahan di areal perusahaan hingga waktu shalat isya tiba. Dan begitu selesai shalat isya, barulah mereka bisa meninggalkan areal perusahaan dengan tanpa halangan lagi.
Namun dikarenakan kejadian yang mereka alami tadi, membuat mereka diserang rasa lapar. Maka mereka memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu baru pulang ke rumah.
Sebelumnya mereka sempat sedikit berdebat mengenai di mana mereka harus mengunjungi tempat makan?
Bayu memilih agar mereka makan di warung biasa saja. Yang penting bersih. Sedangkan Raihan memilih agar mereka makan di restoran mewah.
Tentu saja Bayu terkejut atas pilihan Raihan itu. Terus spontan menolaknya.
"Sekali-kali kita makan di restoran mewah nggak papalah, Bay," kata Raihan memberi alasan atas pilihannya.
"Tapi harga makanan di situ rata-rata mahal, Rai," kata Bayu tetap menolak. "Itu sama saja kita buang-buang uang."
"Kita harus membiasakan diri masuk di tempat-tempat elit, Bay," papar Raihan, "agar kita nggak kelihatan kampungan jika ngadain pertemuan dengan klien di tempat-tempat kayak gitu. Contohnya restoran mewah."
"Belajar biar nggak ndeso nggak mesti masuk ke tempat kayak gitu juga, Rai," kata Bayu tetap membantah.
"Udah, nggak usah bawel! Pokoknya kamu ikut saja!"
Akhirnya dengan terpaksa Bayu mengikuti ajakan Raihan yang menurutnya suatu pemaksaan. Masuk ke sebuah restoran mewah yang seumur hidup belum pernah dia masuki.
Setelah memarkirkan motor mereka di parkiran motor, dua pemuda tampan yang berpakaian tidak terlalu mewah itu melangkah sedang menuju pintu masuk restoran.
Begitu telah sampai di pintu masuk, mereka langsung masuk begitu saja tanpa harus membuka pintu karena pintunya terbuka sendiri secara otomatis. Setelah sebelumnya mereka dipersilahkan masuk oleh 2 penjaga pintu dengan senyum mereka yang begitu ramah.
Begitu sudah masuk sejenak mereka memperhatikan keadaan di dalam restoran yang cukup ramai pengunjung. Bukan memperhatikan para pengunjung, namun seperti mencari meja yang kosong untuk mereka duduk.
__ADS_1
Saat Raihan bertanya kepada Bayu di mana mereka harus duduk, Bayu spontan menunjuk ke sebuah meja kosong di samping kanan mereka.
Meja yang ditunjuk Bayu tepatnya agak di depan mereka. Dan kalau ke sana harus melewati dua tiga meja yang sudah terisi.
"Ayo!" ajak Raihan tanpa komentar atas pilihan Bayu.
Tanpa berlama-lama kedua pemuda tampan itu langsung menuju meja yang sudah disepakati. Tapi siapa sangka jalur menuju meja itu melewati meja Jennie dan Karin yang duduk bersama 2 orang pemuda tampan.
★☆★☆
Jennie maupun Karin tampak asyik menikmati hidangan lezat nan mewah di hadapan mereka sambil ngobrol dengan 2 pemuda kawan duduk mereka. Kedua gadis cantik itu belum ngeh kalau Raihan dan Bayu akan melintas di alur dekat meja mereka.
Sementara Raihan dan Bayu, entah menyadari bakal melewati meja Jennie dan Karin atau belum menyadari, mereka terus saja melangkah ke meja yang mereka tuju.
Sampai pun mereka telah duduk di kursi di meja pilihan Bayu itu, Raihan maupun Bayu belum ngeh kehadiran Jennie dan Karin di restoran ini juga. Begitu pun juga dengan Jennie dan Karin, belum ngeh juga.
Tapi begitu Jennie tanpa sengaja memandang ke arah Raihan, barulah dia menyadari kehadiran pemuda itu. Kebetulan posisi Jennie duduk hampir berhadapan dengan posisi Raihan duduk. Jadi dia bisa leluasa memandang wajah Raihan tanpa Raihan menyadari.
Beberapa detik Jennie menatap Raihan sambil berpikir.
Terus terang dia memang tidak bisa melupakan peristiwa itu. Terutama kepada wajah tampan Raihan. Sejak pertama kali bertemu pemuda itu, terus terang wajah teduh Raihan sering melintas dalam ingatannya.
Namun begitu mengingat kalau Raihan cuma pemuda biasa, cepat-cepat dia pompa kesadarannya agar jangan sampai ada rasa suka terhadap pemuda itu. Amit-amit kalau dia sampai menyukai pemuda miskin. Apalagi dia sudah mencap Raihan sebagai pemuda songong.
Sedangkan Raihan, setelah dia dan Bayu memberitahukan pesanan mereka kepada pelayan restoran, tanpa sengaja mengangkat sedikit kepalanya dan menoleh sedikit ke kiri. Maka sepasang matanya langsung memandang Jennie yang masih menatapnya.
Awalnya Raihan juga tidak langsung tahu kalau yang berada di dalam pandangannya itu adalah gadis yang pernah bertabrakan dengannya.
Tapi begitu mengingat peristiwa menyakitkan saat bertemu gadis itu, dia langsung ilfil melihat gadis itu. Maka Lekas-lekas dia membuang muka melengos ke arah lain. Namun perbuatan Raihan itu dianggap suatu penghinaan bagi diri Jennie. Jelas dia tidak terima.
Dia yang seorang boss muda yang berwajah cantik, banyak pemuda tampan ingin berpacaran dengannya, diabaikan seorang pemuda miskin, jelas membuatnya merasa terhina.
Maka kebenciannya terhadap pemuda itu yang tadinya hampir padam, kini kembali menyala. Dan dia makin menganggap Raihan sebagai cowok songong.
__ADS_1
"Sombong!" dengus Jennie tiba-tiba entah sadar atau tidak bernada sinis setengah berseru.
Seketika saja Karin dan dua pemuda yang bersamanya terkejut dan langsung terdiam sambil menatap Jennie dengan heran tidak mengerti.
"Kamu kenapa, Jenn?" tanya seorang pemuda yang duduk di depannya yang sebenarnya bernama Dimas, pacarnya sambil menatap heran pada Jennie.
"Kesambet lu ya?" tanya Karin seolah meledek sambil juga menatap Jennie dengan ekspresi heran.
Seketika timbul niat buruk dalam pikiran Jennie untuk membuat malu Raihan di hadapan pacarnya. Dia ingin memanfaatkan Dimas, pacarnya untuk menindas Raihan.
"Oh, nggak, nggak papa," kata Jennie mulai melancarkan aksinya, "cuman... cowok tu ngehina aku, Yang."
Serta-merta Karin, Dimas, dan seorang pemuda yang bernama Anthon memandang ke arah yang ditunjuk Jennie. Maka mereka langsung mendapati dua pemuda yang duduk tak jauh di dekat meja mereka.
★☆★☆
Begitu beberapa detik melihat Raihan dan Bayu, tak butuh waktu lama Karin langsung mengenal kedua pemuda itu. Merekalah yang pernah bertabrakan dengan dia dan Jennie di depan sebuah kafe.
Ditambah lagi Karin mengingat kalau dia dan Jennie pernah mengerjai Bayu. Maka gadis itu segera tahu apa penyebab yang membuat Jennie jengkel. Pasti karena si Raihan itu.
Sedangkan Dimas dan Anthon, begitu melihat Raihan dan Bayu yang cuma berpenampilan biasa, sikap peremehan dan penghinaan langsung terpancar dari sorot mata mereka. Ditambah lagi dengan senyum sinis penuh permusuhan.
"Cowok miskin itu ngehina kamu, Jenn?" tanya Dimas seolah belum yakin dengan pengaduan Jennie tadi.
"Iya, Yang," sahut Jennie lebih meyakinkan, "dia memang udah ngehina aku. Bahkan dia dan temannya itu pernah nabrak aku ama Karin dengan sengaja."
"Iya 'kan, Rin?" Jennie langsung menoleh pada Karin yang duduk di sebelahnya mencari dukungan.
"Benar, Pak Dimas," kata Karin memberi dukungan pada bossnya, "dua cowok belagu itu memang pernah nabrak Bu Jennie dengan sengaja. Mereka memang benar-benar sombong dan sok keren, sok cool...."
"Biar gue samperin mereka dan peringatin agar jangan macam-macam ama kamu," kata Dimas sudah mulai menyala amarahnya.
Mendengar itu Jennie langsung tersenyum. Dia sudah membayangkan kalau Raihan pasti tidak akan berkutik menghadapi Dimas. Apalagi dengan dibantu oleh Anthon, orang kepercayaannya.
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Dimas langsung berdiri dari kursinya. Sedangkan Anthon otomatis mengikutinya. Lalu keduanya, begitu berbalik badan langsung melangkah lebar menghampiri Raihan dan Bayu.
★☆★☆★