Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 74 BAGAS DAN MARSHA JADIAN


__ADS_3

Aira, begitu pintu masuk restoran terbuka, yang pertama dia lihat adalah Miko. Karena pemuda itu yang terus terlintas dalam benaknya. Karena sudah sepekan ini dia tidak bertemu dengan kekasihnya itu.


Tanpa banyak pikir, tanpa melihat atau menyadari kehadiran Jennie, apalagi mendengar suaranya, gadis berambut shaggy itu langsung berjalan cepat setengah berlari menuju Miko.


Begitu amat dekat dengan sang pemuda....


"Mas Miko...."


Langsung dipeluknya pemuda itu tanpa sungkan, tanpa memperhatikan keadaan. Tanpa menghiraukan seruan kaget dari Jennie.


Tentu saja Miko terkejut bukan main. Aira memeluknya pada saat ada Jennie di tempat ini juga. Membuat Jennie segera tahu kalau dia dan Aira ternyata sudah balikan.


Saat ini keadaan Miko serba salah. Dia mau menolak dipeluk Aira, takutnya Aira marah. Dia membiarkan gadisnya memeluknya, membuat Jennie melihat adegan kemesraan mereka.


Sedangkan Raihan, Shafira maupun Bayu, mungkin hal biasa bagi mereka Aira memeluk Miko. Tapi Aira memeluk Miko di saat Jennie juga hadir di tempat ini, bahkan gadis itu melihat adegan itu dengan sikap marah, tentu itu bukan hal yang biasa.


"Kak Miko! Apa-apaan kamu?!" tegur Jennie dengan nada berang saat dia sudah berada di dekat samping kiri Miko berjarak 3-4 langkah.


Dengan sikap marah Jennie maju hendak menarik Aira yang masih memeluk kakaknya. Bertepatan dengan Miko menoleh ke arah adiknya itu dan langsung melihat aksinya.


Miko sebenarnya hendak mencegah Jennie yang hendak menarik Aira. Tapi Aira masih memeluknya, seakan tidak menghiraukan seruan kemarahan Jennie, membuat dia tidak bisa segera mencegah tindakan Jennie.


Namun untunglah seorang pemuda tampan yang tengah melangkah cepat yang berada di belakang Jennie langsung menangkap lengan kanan Jennie dengan cepat.


"Dari dulu sifat lu nggak berubah," tegur pemuda itu yang ternyata adalah Andra tapi bernada kalem, "selalu saja ingin merusak hubungan orang."


Tentu saja hal itu membuat Jennie terkejut bukan main. Terkejut mendengar suara Andra yang menegurnya, terkejut atas tindakan Andra yang memegang erat lengannya, sehingga dia tidak jadi melaksanakan niatnya.


Sementara Aira, seketika tersadar akan seruan kemarahan Jennie tadi. Lantas menoleh pada Jennie cepat. Kejap berikut spontan dia melepas pelukannya pada Miko dengan wajah pias.


Sedangkan Jennie, tanpa berpikir dahulu segera menoleh pada Andra yang masih memegang erat lengan kanannya. Begitu melihat Andra, awalnya tatapannya menyorotkan kemarahan.


Tapi saat tahu kalau yang memegang lengannya adalah Andra, tatapan matanya seketika langsung berubah.


"Kak Vega...," gumam Jennie menyebut nama lama Andra bernada akrab.


Sorot mata Jennie langsung berubah lembut saat menatap pemuda yang telah disukainya sejak lama. Dan hingga saat ini dia masih menyukai pemuda itu, sebenarnya.


"Rupanya lu masih ingat nama lama gue," kata Andra bernada kalem sambil tersenyum lembut.


Jennie diam saja, tidak menanggapi ucapan Andra itu. Dia masih saja menatap Andra yang semakin tampan itu. Sedangkan Andra lantas menoleh pada Miko dan berkata.


"Biar gue yang ngurus adik lu ini! Lu lanjutin aja kangen-kangen lu sama cewek lu itu. Enjoy aja, Mik!"


Lalu dia melangkah masuk ke dalam restoran sambil terus memegang lengan Jennie, seakan tanpa perduli ekspresi Miko yang masih terkejut akan kejadian barusan.


Sedangkan Jennie entah kenapa dia manut saja ke mana Andra membawanya. Seakan tidak lagi menghiraukan Miko yang masih bersama Aira. Kepalanya juga sedikit tertunduk seperti tengah memikirkan banyak hal.


"Semoga saja adik gue yang satu itu nemuin cinta sejatinya pada Bang Andra," gumam Miko setalah Andra dan Jennie masuk ke dalam.


Shafira maupun Aira tidak terkejut lagi mendengar Miko menyebut pemuda yang dulunya bernama Vega dengan nama Andra. Dan juga tidak terkejut saat melihat Andra. Karena mereka sudah mendengar cerita tentangnya dari Raihan dan Bayu.


Tidak lama kemudian, Shafira pamit pulang duluan. Sedangkan Aira tetap ingin bersama Miko dahulu meski Jennie sudah mengetahui hubungan mereka.


Miko tidak mempermasalahkan hal itu. Apalagi dia juga amat kangen dengan gadisnya ini. Dia yakin Andra pasti dapat menjinakkan Jennie yang memang menyukai Andra sejak lama.


Sedangkan Raihan tidak mau terlalu memusingkan tentang apa yang terjadi. Yang penting dia hendak berbicara pada Miko sebentar. Lalu menyelesaikan urusan utamanya datang ke restorannya ini.


Sementara Bayu tetap mengikuti sesuai agenda Raihan berada di restoran ini.


★☆★☆


Sementara itu, Viola dan Michella sudah bertemu Marsha di tempat biasa. Bagas, si cowok pendiam tetap setia mengikuti mereka dari belakang ke manapun ketiga gadis itu pergi. Tanpa ada ucapan apapun darinya, apalagi komentarnya.


Kalau orang melihatnya, Bagas tampak tenang-tenang saja. Tapi siapa yang menyangka kalau perasaannya saat ini seperti gelisah sekaligus khawatir, panik, dan grogi.

__ADS_1


Panik dan grogi karena saat ini dia berada cukup dekat jaraknya dengan Marsha, cewek yang sudah sejak lama disukainya. Gelisah dan khawatir jangan-jangan Marsha menolaknya saat dia akan menembaknya nanti.


Berpikir tentang hal itu, bagaimana cara menembak Marsha, Bagas belum menemukan cara yang bagus yang berkesan romantis. Soalnya dia belum pernah menembak cewek.


Adapun dulu, waktu dia berpacaran dengan Michella, terjadi begitu saja tanpa dia menembak Michella. Bahkan Michella yang menyatakan suka padanya.


Sedangkan Marsha, tidak terlalu terkejut melihat Michella yang datang bersama Viola. Karena sudah mendengar cerita tentang gadis itu dari Viola. Yang sedikit mengusik pikirannya tentang kehadiran gadis di sini, mau apa?


Namun ternyata benaknya lebih terusik saat melihat teman SMA-nya ikut serta bersama kedua gadis itu ke tempatnya ini.


Marsha masih ingat pemuda itu bernama Bagas, cowok pendiam yang pernah dia kenal semasa sekolah dulu. Namun dia tidak terlalu mengenal cowok itu. Karena Bagas tergolong cowok introvert.


Yang membuatnya bertanya-tanya sendiri, bahkan amat penasaran, mau apa Bagas ikut bersama Viola dan Michella ke tempatnya ini?


Tentu saja dia hendak bertanya kepada Viola tentang maksud kedatangan Bagas ke sini. Namun keburu Michella sudah bertanya, kenapa Viola seolah takut akan kehadiran Jennie di restoran ini?


Maka, setelah Viola menjelaskan tentang hal yang sebenarnya, barulah Michella dapat mengerti meskipun dia merasa heran juga. Namun rasa herannya itu tidak mau dia pertanyakan karena itu urusan para pengusaha konglomerat yang biasa bertikai.


Sedangkan Marsha, mendengar Jennie juga ada di restoran ini, bahkan sempat dilihat oleh Viola dan Michella, tentu saja ikut terkejut.


"Terus gimana?" tanya Marsha bernada seperti panik. "Kak Jenn liat lu nggak, La?"


"Gue nggak tau," kata Viola mengaku. Nada suaranya juga sedikit panik. "Yang ngeliat duluan adalah Sela."


Lantas Marsha beralih memandang Michella seakan bertanya dengan pertanyaan yang sama. Dan Michella yang cepat tanggap langsung berkata.


"Gue juga nggak tau kalau Kak Jenn sempat ngeliat gue ama Ola apa nggak. Tapi... saat gue pertama kali ngeliat Kak Jenn, dia langsung menuju ke arah Kak Miko, Mas Rai dan Mas Bayu."


Marsha tidak terkejut lagi saat mengetahui ternyata Raihan dan Bayu, kedua kakaknya sudah tiba. Dia juga tidak heran kenapa Miko juga ada di restoran. Paling hendak bertemu dengan Aira. Karena sudah sepekan mereka tidak bertemu.


Yang dia herankan, mau apa Jennie datang ke restoran kakaknya ini?


Tapi dia tidak mau pusing dulu memikirkan hal itu. Yang perlu dia urus, kenapa Bagas berada di sini juga? Apa tujuan cowok cool itu?


Dia yakin pasti Viola dan Michella mengetahui tujuan Bagas datang ke mari. Oleh karena itu, begitu mereka sudah berada di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas....


Marsha tidak melanjutkan ucapannya. Tapi dia sedikit menoleh dan melirik pada Bagas yang duduk sambil tertunduk. Tapi pemuda itu sepeti curi-curi pandang padanya.


Viola yang langsung mengerti isyarat dari Marsha, maka segera memulai acara.


"Lu masih ingat nggak cowok itu?" tanya Viola jelas mengetes sambil tersenyum penuh arti. "Lu masih tau namanya nggak?"


"I... iya masih sih, masih ingat," sahut Marsha seperti grogi sambil melirik sebentar pada Bagas. "Dia 'kan teman SMA gue dulu."


Saat Marsha berkata begitu Bagas tetap diam. Namun siapa sangka kalau hatinya begitu senang ternyata Marsha masih mengingatnya.


Lalu Marsha memberanikan diri menoleh penuh pada Bagas yang masih tertunduk. Lalu bertanya ingin memastikan.


"Lu Bagas 'kan?"


Seketika Bagas mengangkat kepalanya dan langsung menatap Marsha lekat-lekat. Dia sudah terbiasa bersikap tenang, dingin, dan pendiam. Namun mengetahui Marsha yang ternyata masih mengingat namanya, tentu saja dia terkejut bukan main.


Betapa tidak hatinya begitu senang bukan main.


★☆★☆


"Lu kok kaget gitu?" tanya Marsha malah keheranan melihat ekspresi Bagas. "Lu Bagas 'kan?"


"I... iya, gue memang Bagas," kata Bagas sedikit cepat seraya mengangguk cepat, "teman SMA lu...."


Tingkah yang ditunjukkan Bagas tampak lucu untuk cowok pendiam sepertinya. Membuat Viola dan Michella tersenyum-senyum menahan tawa.


"Lu masih ingat gue juga?" tanya Marsha jelas terselip rasa senang di dalam hatinya.


Entah kenapa Marsha juga tampak senang sekali karena ternyata Bagas masih mengingat dirinya.

__ADS_1


Ada apakah gerangan?


"Iya lah gue masih ngingat lu," sahut Bagas seakan mendapat keberanian untuk berbicara meski sedikit grogi. "Nama lu Marsha yang dipanggil Sasa 'kan?"


"Iya, lu benar, gue memang Sasa."


Betapa senang dan gembiranya Marsha tidak bisa dia tahan-tahan. Senyum manis langsung merekah di bibir legitnya meski dia masih sedikit gugup juga. Bagas ternyata juga masih mengingat namanya.


Yang menjadi persoalan, kenapa Marsha tampak begitu senang dan gembira saat mengetahui ternyata Bagas masih mengingat akan dirinya?


Jangan-jangan dia juga menyukai Bagas sejak lama?


Sedangkan Bagas, melihat Marsha tersenyum begitu manis, entah sadar atau tidak dia juga ikut tersenyum. Senyum yang begitu mempesona menambah ketampanannya.


"Cie cie...! Lu kok happy banget Bagas masih ngingat lu?" kata Viola sambil tersenyum menggoda. "Jangan-jangan lu... sama juga kayak dia?"


"Sama apaan?" kejut Marsha seraya menatap Viola cepat. Seketika jantungnya langsung berdebar-debar.


Viola sebenarnya hendak berkata lagi yang tujuannya hendak menggoda Marsha. Tapi Michella langsung cepat berkata.


"La! Lu nggak usah lama-lama deh! Lu sampein aja langsung apa maksud Bagas pingin temuin Sasa."


"Lu datang ke sini emang pingin temuin gue?" Marsha kembali menoleh dan menatap Bagas. Tatapannya seperti mengandung sesuatu yang sudah sejak lama dia harapkan dari Bagas.


Senyum Bagas yang tadi masih dipamerkan seketika raib seakan direnggut setan. Dia malah terkejut Marsha bertanya seperti itu. Dan jantungnya juga seketika langsung berdebar-debar.


Untuk sejenak jelas Bagas tidak bisa langsung menjawab pertanyaan sakral itu. Memang dia datang ke sini tujuannya untuk bertemu dengan pujaan hatinya itu. Tapi kenapa dia belum sanggup mengatakan iya?


Sedangkan Viola, melihat situasi semacam ini, cepat mengambil alih tindakan. Maka segera dia berkata kepada Marsha, menerangkan tujuan Bagas ke mari.


"Sa, Bagas datang ke sini emang sengaja pingin temuin lu.... Asal lu tau... Bagas udah lama suka sama lu. Dan... udah lama juga pingin nyatain perasaannya itu ama lu...."


Marsha belum mau memotong atau menyela ucapan sakral Viola itu. Meski hatinya kini sudah berkecamuk, dikecamuki rasa senang yang tiada tara. Hal itu tampak dari wajah cantiknya.


"Tapi... Bagas hingga sekarang belum berani nyatain perasaannya itu ama lu," kata Viola melanjutkan.


"Benar kayak gitu, Gas?" tanya Marsha ingin memastikan.


"I... iya, Sa, gue emang... udah lama suka sama lu," entah setan apa yang merasuki dirinya, Bagas begitu berani menyatakan perasaannya meski sedikit terbata, "sejak kita masih SMA dulu, bahkan sejak kelas 10...."


"Lu kenapa nggak ngomong dari dulu, Gas?" kata Marsha seakan menyesalkan.


"Gua... gua waktu itu nggak berani," kata Bagas agak pelan. Sementara matanya masih saja menatap Marsha, entah keberanian dari mana dia dapatkan.


"Sekarang gimana?" tanya Marsha seakan menantang keberanian Bagas untuk menembaknya.


Bagas tidak langsung menjawab. Dia meraih paper bag yang tadi diletakkan di meja. Lalu dia mengeluarkan isinya yang ternyata kue brownis yang terbungkus dus kotak.


Sejenak Bagas menghirup udara seakan hendak melonggarkan napasnya setelah membuka tutup dus kotak brownis. Lalu, sambil menyodorkan kue brownis di depan Marsha, dia berkata dengan berani dan sedikit cepat.


"Gue suka sama lu, Sa. Maukah lu jadi pacar gue?"


Marsha tidak lantas menjawab tembakan Bagas. Dia menikmati dulu rasa senangnya yang berlipat-lipat. Dia senang akhirnya Bagas menembaknya yang sebenarnya dari dulu dia tunggu-tunggu.


Dia senang karena mendapat kue brownis kesukaannya dari Bagas, cowok yang sebenarnya sudah sejak lama juga dia sukai. Rupanya cowok itu benar-benar memperhatikannya dengan menyuguhkan kue kesukaannya di saat menembak dirinya.


"Asal lu tau, Gas! Gue juga udah lama suka ama lu," kata Marsha mengungkapkan perasaannya. "Gue udah lama nungguin lu nembak gue...."


Lalu....


"Iya..., gue mau jadi pacar lu, Gas...."


Setelah itu, dengan hati gembira bibir tersenyum manis, Marsha menerima kue brownis persembahan Bagas. Dan Bagas amat gembira dan senang sekali dibuatnya. Sehingga dia juga tersenyum bahagia.


Sedangkan Viola dan Michella langsung bertepuk tangan seraya tersenyum bahagia pula menyambut hari jadinya Marsha dengan Bagas.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2