
Didatangi oleh 2 pemuda tak dikenal tentu saja Raihan maupun Bayu terkejut awalnya. Namun begitu Raihan tahu kalau dua pemuda itu adalah teman Jennie dan Karin, dia tidak terkejut lagi. Meski keheranan tapi tetap bersikap tenang.
Sedangkan Bayu dari rasa terkejut berubah menjadi heran. Dia tidak tahu kalau 2 pemuda itu adalah teman Jennie dan Karin karena tadi dia tidak melihatnya. Lagipula posisi duduknya sedikit membelakangi Jennie dan Karin.
Sekonyong-konyong 2 pemuda yang tak lain adalah Dimas dan Anthon itu datang ke meja mereka, ada urusan apa?
Untuk beberapa saat lamanya Raihan dan Bayu saling bertatapan dengan Dimas dan Anthon.
Raihan maupun Bayu menatap kedua pemuda itu dengan tatapan biasa, tanpa adanya sorotan permusuhan. Sikap mereka pun masih terkendali, masih tenang. Padahal belum begitu lama mereka habis berkelahi.
Sedangkan Dimas dan Anthon menatap Raihan dan Bayu dengan tatapan meremehkan penuh perendahan. Seolah kedua pemuda itu tidak ada apa-apanya bagi mereka.
Sementara Jennie dan Karin terus saja memperhatikan keempat pemuda itu. Bahkan Jennie tampak tersenyum senang melihat tindakan yang dilakukan Dimas.
Lain halnya Karin. Entah apa yang ada di dalam benak gadis itu? Yang jelas dia tampak beberapa kali memandang Anthon dan Bayu yang duduk sedikit membelakanginya.
"Ada apa, Bro?" tanya Raihan menyapa bernada kalem. "Kalau mau gabung makan bareng, silahkan duduk! Tapi kalau mau nunjukin keangkuhan bukan di sini!"
Sikap Raihan tetap tenang dalam berbicara. Meski nada suaranya datar, tidak juga bersikap sopan, tapi dia tidak menunjukkan permusuhan dengan kedua pemuda itu.
"Lu pikir gue pingin duduk bareng sama cowok miskin kayak kalian?" kata Dimas bernada dingin sekaligus sinis.
"Gue adalah seorang CEO," lanjutnya dengan nada angkuh, "pantang duduk sama orang-orang rendahan macam kalian."
"Kalau lu pantang duduk sama orang rendahan," kata Raihan masih tenang menanggapi, "kenapa lu masih ada di sini, di hadapan orang-orang rendahan?"
Mendengar ucapan santai Raihan tersebut membuat Dimas seketika menggeretakkan rahangnya pertanda menahan geram. Keangkuhannya semakin kentara dengan sorot mata yang penuh kebencian.
"Lagian lu yang datang ke mari," lanjut Raihan. "Kalau lu nyebut diri lu orang terhormat, harusnya lu nggak datang ke mari, ke tempat yang kata lu orang-orang rendahan...."
"Kalau gitu, siapa yang disebut orang rendahan, lu apa gue?"
Hampir saja amarah Dimas meledak mendengar kata-kata Raihan itu. Dia tidak menyangka pemuda itu pandai membalikkan ucapannya. Sehingga dia tidak bisa langsung membalas ucapan Raihan.
Sungguh dia telah meremehkan pemuda itu.
Sedangkan Anthon sudah meledak amarahnya. Ucapan Raihan itu benar-benar sudah menghina bossnya. Maka dia hendak menyerang Raihan sambil melepaskan hardikannya.
__ADS_1
"Berani lu menghina boss gue?"
Tapi aksinya itu dengan cepat dicegat oleh Dimas. Karena hampir bertepatan waktunya pelayan restoran datang mengantarkan pesanan Raihan dan Bayu.
Dengan terpaksa Anthon menghentikan tindakannya. Terus membiarkan pelayan restoran menghidangkan pesanan Raihan dan Bayu itu.
Sedangkan si pelayan restoran, setelah menghidangkan pesanan orang, terus mempersilahkan menikmati hidangan, dia langsung pergi setelah menunduk hormat pada Dimas.
Pelayan restoran itu tanpa berkomentar apa-apa atas apa yang sempat dilihatnya tadi. Jelas sekali sikap si pelayan restoran kalau dia takut dan segan terhadap Dimas.
★☆★☆
"Makan, Rai!" suruh Bayu sepeninggal pelayan tadi. "Baru kita cepat pulang!"
Sikapnya seakan-akan tidak menggubris keberadaan Dimas dan Anthon. Dia juga malah langsung menyantap hidangannya, tanpa menunggu Raihan. Lagi pula dia juga memang sudah lapar.
Raihan yang melihat hal itu hanya tersenyum saja. Sedangkan Dimas dan Anthon tentu saja makin geram. Perbuatan Bayu itu jelas tidak menghormati kedudukan Dimas sebagai seorang boss.
Begitupun juga dengan Jennie dan Karin. Melihat perbuatan Bayu yang menurut mereka tidak sopan itu, membuat kedua gadis itu ikut geram pula. Bahkan Jennie makin benci pada Raihan yang bersikap seolah membiarkan saja ketidak sopanan temannya itu.
"Dasar orang kampung!" desis Karin mendengus geram. Dia tidak berani mengeraskan umpatannya karena tahu resikonya.
Sama halnya dengan pacar boss cantiknya itu. Raihan yang juga pandai bersilat lidah mampu membalikkan ucapannya tanpa dapat membalikkannya dengan segera.
Akan tetapi Anthon yang sepertinya belum memahami karakter Bayu maupun Raihan, malah menghardik Bayu dengan nada cukup menghinakan.
"Hey, Orang Kampung! Apa lu nggak punya sopan santun sama sekali hah?! Orang lagi ngomong, lu malah makan!"
"Ini makanan gue yang pesan," kata Bayu santai saja menanggapi sambil terus makan, "gue yang bayar juga. Lu kenapa mesti sewot segala seolah melarang gue makan?"
"Dasar kampungan!" dengus Anthon makin berang. "Lu mesti tau sopan santun kalau boss gue lagi ngomong!"
Raihan membiarkan saja Bayu dan Anthon saling berdebat. Dia juga kini mulai menyantap makanannya, tidak perduli tatapan menghina dari Dimas. Tidak perduli tatapan kebencian dari Jennie.
"Boss lu bukan boss gue," kata Bayu membantah lagi. "Lagian yang nggak tau sopan santun itu adalah boss lu ama lu. Kalian datang ke mari hanya buat onar aja."
"Berani lu ngatain kami hah?!" hardik Anthon.
__ADS_1
Dia hendak bertindak terhadap Bayu. Namun cepat dicegat oleh Dimas, lalu memperingatkannya agar tetap tenang, jangan main kasar. Tentu reputasinya sebagai seorang CEO akan tercemar kalau dia bikin onar di tempat umum seperti ini.
★☆★☆
Lalu, setelah menenangkan orang kepercayaannya, Dimas kembali menghadap Raihan yang lagi asyik makan. Terus melontarkan ucapan bernada ancaman.
"Gue peringatin lu, jangan coba-coba lagi gangguain pacar gue!"
Mendengar Dimas menyebut kata pacar, dia langsung tanggap kalau yang dia maksud pacar adalah Jennie. Maka dia melirik sebentar pada Jennie yang juga masih menatap ke arahnya.
"Oh, gadis gila itu ternyata pacar lu," kata Raihan seraya tersenyum sinis. "Jadi, lu bikin onar di sini ternyata atas suruhan dia rupanya."
Sejak tadi sebenarnya Raihan sudah paham mengapa Dimas beserta Anthon mendatangi dia dan Bayu di meja mereka. Jennie pasti mengadu yang tidak-tidak tentang tabrakan yang terjadi antara mereka tempo hari.
Maka, karena telah tersulut oleh emosi atas pengaduan Jennie, Dimas dan Anthon hendak membuat perhitungan dengan Raihan dan Bayu.
Sementara Dimas, mendengar pacarnya disebut sebagai gadis gila, dia makin tersulut amarahnya sebenarnya. Kalau bukan sedang berada di tempat umum, jelas dia sudah bertindak terhadap Raihan.
Sedangkan Jennie yang mendengar Raihan menyebutnya sebagai gadis gila, berangnya minta ampun. Jelas dia tidak terima ucapan itu. Langsung saja dia berdiri dari kursinya, lalu melangkah cepat menuju meja Raihan.
Namun, begitu telah tiba di hadapan Raihan, terus hendak mendampratnya, cepat-cepat Dimas menenangkan pacarnya itu agar tidak berbuat onar.
"Aku dihina oleh cowok songong ini, lu malah diam aja," dengus Jennie menatap tidak mengerti pada Dimas. "Malah kamu ngelarang aku memberinya pelajaran. Apa kamu takut ama cowok udik itu?"
"Bukan begitu, Sayang," kata Dimas memberi alasan. "Di sini bukan tempatnya memberi dia pelajaran, ini masih tempat umum. Kita buat perhitungan aja ama dia di luar sana."
"Nggak bisa! Cowok songong ini tetap harus diberi adap sopan santun!"
Jennie tetap memaksa hendak melabrak Raihan. Tapi Dimas tetap menahannya. Bahkan dia membawa Jennie pergi dari situ. Anthon dan Karin otomatis mengikuti pula.
Sebelum pergi membawa Jennie, Dimas masih sempat memberi ancaman singkat kepada Raihan.
"Ingat! Kita belum selesai!"
Sementara Raihan cuma tersenyum saja mendengar ancaman Dimas itu sambil terus saja menyantap hidangannya. Sempat dia memandang pada Jennie yang terus menatapnya dengan tajam.
Sedangkan Bayu tidak berkomentar apa-apa. Meskipun sebenarnya kaget juga kalau ternyata ada Jennie dan Karin juga di restoran ini. Tapi Bayu tidak mau terlalu memikirkan, dia tetap makan saja.
__ADS_1
★☆★☆★