Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 36 VIOLA DICULIK


__ADS_3

Viola menyusuri jalan aspal yang terbilang sunyi. Berjalan tidak terlalu cepat, sedikit terseok sambil sesekali menoleh ke belakang.


Dia sudah cukup jauh meninggalkan rumahnya. Sudah puluhan rumah di kompleks perumahan elite itu dia lewati. Namun belum juga menemukan jalan utama.


Sialnya lagi belum ada taksi online atau taksi biasa yang lewat di jalan itu. Jadi, hingga saat ini dia masih saja jalan kaki. Entah sudah berapa kilo dia berjalan, dia tidak tahu. Yang jelas dia sudah letih, kakinya sudah mulai pegal.


Entah sudah berapa lama Viola berjalan, seketika melintas sebuah mobil merek toyota warna hitam dari arah belakangnya.


Sedangkan Viola, mendengar ada mobil melintas di jalan ini, dia segera berhenti dan langsung menoleh ke belakang dengan cepat. Namun setelah memastikan kalau mobil itu tidak dia kenal, Viola kembali berjalan.


Tak lama kemudian, mobil itu telah sampai di dekat Viola yang terus melangkah. Lalu mobil itu berhenti di depannya sekitar 2 meter.


Dan begitu Viola sudah berada sejajar dengan pintu depan sebelah kiri yang kaca jendelanya sudah terbuka, seorang lelaki muda yang duduk di jok depan sebelah kiri berkata kepada Viola menawarkan.


"Butuh tumpangan, Mbak?"


Viola cuma menoleh acuh pada lelaki muda berumur 30-an yang duduk di samping supir itu. Sedangkan dia terus saja berjalan tanpa berhenti, tanpa menjawab tawaran lelaki muda itu.


Meskipun dia sudah lelah, kakinya sudah pegal, Viola tidak mau sembarang menumpang pada orang yang tidak dia kenal. Dia terus saja berjalan, bahkan langkahnya makin dipercepat walau kesusahan dan sudah terseok.


Sedangkan lelaki muda itu entah maunya apa, menyuruh supirnya kembali menjalankan mobil dengan pelan mengikuti langkah Viola.


Dan begitu gadis itu sudah berada di tentangan pintu bagian belakang, seketika pintu itu terbuka lebar dengan cepat. Membuat Viola terkejut dibuatnya. Namun, karena posisinya sedikit mepet dengan mobil, dia tidak sempat lagi untuk menghindar.


Sehingga pintu mobil bagian belakang itu....


Dughk!


Keras dan kuat pintu itu menghantam tubuh Viola. Sehingga dia langsung sempoyongan ke samping depannya dengan menyedihkan hingga hampir jatuh.


Sementara Viola sempoyongan, 2 orang lelaki yang duduk di jok tengah segera keluar dengan cepat. Terus salah seorang segera menangkap tubuh Viola yang hampir jatuh. Terus lelaki itu menyumpal mulut dengan kain yang sudah dibaluri obat bius.


Kejadian itu begitu cepat berlangsung, membuat Viola tidak sempat menyadarinya. Tahu-tahu dia sudah diboyong oleh 2 orang lelaki ke dalam mobil dalam keadaan pingsan.


Sedangkan keadaan sekitarnya masih saja sunyi. Sepertinya tidak ada yang menyaksikan peristiwa penculikan itu menurut dugaan sang supir dan 4 orang rekannya.


Begitu Viola yang pingsan bersama kedua lelaki yang memboyongnya sudah masuk ke dalam mobil, sang supir langsung menjalankan mobil itu. Dan tanpa ragu-ragu dia langsung melajukan dengan kecepatan tinggi.


Sementara itu sekitar ratusan meter di belakang mobil toyota itu juga melintas sebuah mobil sedan mewah. Penumpangnya ada 2 orang, yang dua pemuda yang berwajah tampan.


Sepertinya pemuda yang duduk di jok sebelah kiri sempat melihat sebentar kejadian saat Viola diculik tadi. Dia langsung menduga kalau telah terjadi penculikan.


Maka dengan segera dia memerintahkan pada temannya membututi mobil yang cukup jauh di depan mereka itu.


"Ikuti mobil itu, Bay!"


"Emangnya kenapa, Rai?" tanya pemuda yang ternyata adalah Bayu Anggoro bernada heran.


"Telah terjadi penculikan di mobil itu," sahut pemuda yang tentu saja bernama Raihan Pratama.

__ADS_1


Bayu langsung menaikkan laju kecepatan mobilnya. Setelah itu dia bertanya.


"Kamu sempat melihat siapa yang diculik?"


"Kurang jelas, Bay," sahut Raihan mengakui, "tapi kayaknya cewek, karena pakaian yang dia kenakan pakaian perempuan."


Bayu tidak bertanya lagi. Dia semakin melajukan mobilnya karena mobil yang dikejar semakin berjalan kencang. Sedangkan Raihan juga tidak berkata lagi. Dia terus saja menatap mobil yang mereka buntuti.


★☆★☆


Viola masih terbaring diam di atas pembaringan yang rangkanya terbuat dari besi itu. Sepertinya dia masih pingsan akibat tadi sempat dibius oleh penculiknya.


Sementara kedua tangannya yang terentang ke atas terikat oleh tali yang ujungnya diikat di batang besi bagian kepala tempat tidur. Sedangkan kedua kakinya juga terikat yang ujungnya diikat di batang besi di bagian kaki.


Kala itu Viola tengah berada di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Tidak banyak perabot yang mengisi ruangan itu. Selain tempat tidur besi, cuma ada lemari, meja yang terletak di samping lemari, dan sebuah kursi kayu. Dan di atas meja itu tidak ada apa-apa selain tas Viola.


Tak lama berselang, kedua mata Viola mengerjap-ngerjap. Setelah itu terbuka dengan agak cepat. Namun untuk beberapa detik lamanya kedua mata Viola masih terdiam seolah sedang mengingat-ingat kejadian yang telah dialaminya.


Kejap berikut sontak dia kaget bukan main ketika tersadar kalau dia berada di sebuah ruangan yang asing. Lebih terkejut lagi saat mengetahui kedua tangan dan kakinya terikat. Tentu saja membuatnya panik bukan main.


Langsung saja dia meronta-ronta hendak melepas tali yang mengikat kedua kaki dan tangannya. Namun perbuatannya itu ternyata sia-sia saja.


Tali yang mengikat kedua kaki dan tangannya begitu kuat. Sedangkan tali itu sendiri begitu alot, tidak bisa diputuskan. Beberapa kali Viola meronta-ronta hingga tempat tidurnya bergoyang-goyang. Tapi tetap saja tali yang mengikatnya tidak bisa putus.


Hingga akhirnya dia berhenti sendiri karena capek dan lemas.


Belum lama Viola menengok, masuklah seorang gadis cantik. Menyusul di belakangnya seorang lelaki muda berwajah tampan yang kira-kira berumur 30-an tahun.


Gadis cantik yang berjalan di depan terus melangkah menghampiri Viola sambi tersenyum sinis menatap Viola. Sorotan sepasang mata indahnya sarat akan kebencian dan dendam. Wajah cantiknya menguarkan keangkuhan dan kesombongannya.


Sedangkan lelaki muda yang berjalan paling belakang tampak tersenyum menyeringai bagai serigala melihat mangsa. Sepasang matanya yang kotor menatap Viola dengan buas penuh nafsu.


Setelah itu dia melangkah menuju kursi, terus duduk di situ dengan santai. Namun matanya yang buas terus menatap liar tubuh Viola yang terlentang di atas pembaringan.


Viola tidak kenal dengan lelaki muda yang baru masuk itu, tapi dia tahu lelaki itulah yang menawarkan tumpangan di mobil toyota tadi.


Sedangkan begitu menatap secara cermat pada gadis cantik yang berjalan ke arahnya, dia langsung mengenalnya.


Ya, gadis itu adalah pacar kakaknya, Miko saat ini. Yang mana sebelumnya pernah berpacaran sama Raihan, kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan....


★☆★☆


"Melinda...," desisnya menyebut nama gadis itu.


Gadis cantik itu yang ternyata adalah Melinda makin tersenyum sinis mendengar Viola menyebut namanya.


"Gimana kabar lu, Viola?" tanya Melinda jelas bernada ejekan sambil tersenyum menyebalkan. "Gue harap lu baik-baik aja...."


"Apa maksud lu ngelakuin semua ini ama gue?" tanya Viola bernada tajam penuh amarah. "Gue nggak ada permusuhan ama lu! Gue juga nggak ngusik lu pacaran ama kakak gue!"

__ADS_1


"Lu udah pacaran ama Mas Rai?" tanya Melinda seolah tidak menggubris ucapan Viola.


"Bukan urusan lu!" geram Viola makin tajam menatap Melinda. "Lagian, lu juga udah putus ama Mas Rai. Jadi, ngapain lu nanya-nanya segala soal hubungan gue ama Mas Rai!"


"Gue ingatin ke lu! Nggak ada yang berhak milikin Mas Rai selain gue!" kata Melinda mengeram marah penuh ancaman. "Nggak juga lu!"


"Dasar lu emang cewek sakit!" cibir Viola bernada sinis. "Untungnya Mas Rai udah putus ama cewek gila kayak lu!"


"Brengsek!"


Plak!


Setelah memaki dengan geram, Melinda langsung menampar pipi Viola dengan keras. Sedangkan Viola, karena masih dalam keadaan terikat, dia tidak bisa membalas penindasan yang dilakukan Melinda.


Dia hanya bisa menatap tajam pada Melinda penuh amarah dan dendam.


Sedangkan Melinda balas menatap tajam sambil terus tersenyum sinis. Tampak di wajah angkuhnya aura kepuasan atas apa yang dilakukan terhadap Viola.


Seperti kata Viola, gadis itu memang sudah sakit, sudah gila. Dia rela melakukan segala cara untuk menyingkirkan wanita mana pun yang mencoba mendekati Raihan. Sampai pun dengan membunuh sekalian dia tak perduli.


Itu semua karena dia masih mencintai Raihan. Dia tidak ingin ada wanita lain yang mencintai Raihan selain dirinya. Hanya dia yang berhak mencintai Raihan, hanya dia yang berhak memiliki Raihan. Tidak boleh ada selainnya.


"Gue kira lu udah mati ketusuk pisau waktu itu," kata Melinda bernada dingin campur sinis. "Ternyata lu masih hidup! Napa juga Mas Rai nolongin lu waktu itu? Napa nggak ngebiarin lu mati aja?"


Bukan main terkejutnya Viola mendengar ucapan Melinda yang gamblang barusan. Ternyata otak dari rencana pembunuhan terhadap dirinya pada malam itu....


"Jadi..., dalang atas rencana pembunuhan terhadap gue pada malam itu adalah lu?" tanya Viola dengan nada geram.


"Bukan cuma gue tapi kami," sahut Melinda masih bernada dingin campur sinis, "gue dan kakak gue itu."


Sambil berkata Melinda menunjuk dirinya, lalu menunjuk lelaki muda yang duduk tenang di kursi dekat meja itu sambil terus menatap Viola penuh nafsu.


Sedangkan Viola semakin terkejut mendengar pengakuan Melinda itu. Dia segera menatap lelaki muda berwajah mesum itu. Seketika perasaannya langsung bergidik ngeri.


Dia tidak menyangka kalau Melinda dan lelaki yang disebutnya kakak itu telah merencanakan pembunuhan terhadap dirinya yang hampir saja berhasil. Untuk saja malam itu Raihan dan Bayu cepat menolongnya.


Namun malam ini siapakah yang bakal menolongnya?


Perasaannya semakin bergidik ngeri membayangkan kejadian-kejadian buruk yang akan menimpa dirinya.


Dia kini sudah tertawan oleh kedua orang berhati jahat itu.


Melinda yang telah membencinya sekaligus cemburu gila terhadapnya jelas motifnya kenapa dia sampai tega ingin membunuhnya.


Sedangkan lelaki muda yang Melinda sebut sebagai kakaknya itu, motifnya apa sampai mau membunuhnya?


Dia belum pernah berbuat masalah dengan orang itu, apalagi bertemu.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2