Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 43 MALAM TRAGIS MELINDA


__ADS_3

Apakah yang terjadi dengan Melinda setelah peristiwa penculikan terhadap Viola?


Setelah peristiwa itu Melinda berniat hendak pulang ke rumahnya. Dalam pikirannya Viola sudah mati di tangan kakaknya setelah menggagahinya sebelum dibunuh.


Hal itu tentu saja membuatnya senang bukan alang kepalang. Dia senang karena berhasil menyingkirkan wanita yang telah menyukai Raihan.


Dia memang sudah bertekad akan menyingkirkan setiap wanita yang menyukai Raihan.


Tidak ada seorang pun wanita yang berhak memiliki Raihan. Cuma dia seorang yang berhak memiliki Raihan. Cuma dia seorang yang lebih berhak mencintai Raihan.


Rasa senang di hatinya terus menemaninya sepanjang jalan dia pulang. Sehingga saking senangnya tanpa sadar kalau dia melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi.


Ditambah lagi jalur lintasan mobilnya sudah berada di tengah-tengah jalan aspal yang masih sunyi. Bahkan kedua ban mobilnya yang sebelah kanan sudah melewati marka jalan.


Sementara itu dari belakangnya sebuah truk besar juga tengah melaju dengan kecepatan tinggi. Sudahnya itu sang supir mengendarai truknya sambil terkantuk-kantuk. Sedangkan kernetnya sudah tertidur pulas di sebelahnya.


Beberapa detik lamanya sang supir belum menyadari kalau Melinda mengendarai mobilnya hingga sampai ke tengah jalan. Namun begitu jarak mereka sudah cukup dekat, dia baru menyadari kalau mobil Melinda berada di jalur lintasan truknya.


Ketika menyadari hal itu dengan refleks sang supir menekan klakson kuat-kuat hingga menimbulkan bunyi keras yang cukup memekakkan telinga.


Sedangkan Melinda, ketika mendengar klakson yang amat keras dari arah belakangnya, tentu saja membuatnya amat terkejut bukan main. Sehingga membuatnya panik dan rasa senangnya seketika lenyap.


Karena panik dia jelas tidak menyadari kalau mobilnya sedang melintas di tengah jalan. Malah tanpa sadar dia membanting setir ke sebelah kanan. Sehingga tentu saja mobilnya makin masuk ke jalur jalan sebelahnya.


Dan ketika bunyi klakson yang keras kembali terdengar, Melinda makin panik. Sehingga tanpa sadar lagi mobilnya dibelokkan ke kiri secara tiba-tiba.


Di situlah malam nahasnya telah datang!


Truk besar yang kecepatannya tidak terkurangi itu seperti tidak terkendali lagi larinya. Sang supir cuma sempat membelokkan mobilnya sedikit. Tapi karena laju truk itu demikian cepat. Sehingga....


Braaak!


Plaaang...!


Bumper depan truk besar itu seketika menghantam mobil Melinda bagian belakang sebelah kanan dengan keras dan kuat. Menimbulkan bunyi tabrakan yang keras yang cukup mengerikan.


Bagai layaknya anak domba diseruduk oleh banteng besar dan kekar, mobil sedan mewah itu langsung terlempar terpelanting ke depan sebelah kiri.


Tidak cuma terpelanting saja, mobil sedan itu terguling di atas aspal cukup jauh beberapa kali. Dan mobil sedan itu terus terlempar tanpa terkendali hingga sampai ke pinggir jalan.


Namun ternyata nasib malang mobil sedan itu tidak sampai di situ. Celakanya pinggir jalan adalah jurang yang cukup dalam.


Sehingga, karena mobil itu terlempar terpelanting dengan keras, maka mobil sedan itu langsung terguling masuk ke dalam jurang tanpa ada yang dapat mencegatnya.


★☆★☆


Sementara truk besar itu sempat oleng sedikit. Tapi tidak ada kerusakan yang berarti padanya. Supirnya pun cuma kaget, sedikit panik dengan muka pucat. Namun dia tidak mengalami cidera apa-apa. Hanya saja kejadian nahas itu membuat kernetnya seketika terbangun karena kaget.


"Ada apa?" tanya si kernet dengan panik.

__ADS_1


Namun sang supir tidak menjawab. Setelah tabrakan tadi, tanpa menghentikan mobilnya, dia langsung menancap gas, lari dari tanggung jawab.


Ya, tentu saja sang supir tidak mau mengambil resiko melihat keadaan Melinda, apalagi mau menolongnya. Dia lebih memilih melajukan mobil truk besar itu dengan kecelakaan tinggi, meninggalkan tempat nahas itu tanpa mau menoleh lagi.


Meninggalkan Melinda yang malang. Meninggalkan mobil sedannya yang masih terguling ngeri ke bawah jurang.


Dan begitu sampai ke bawah, mobil sedan itu yang jatuh dalam keadaan terbalik menghantam dasar jurang dengan keras. Membuat kap atas mobil itu rusak parah. Karena ternyata permukaan dasar jurang cukup keras.


Bagaimana nasib Melinda? Bisakah berandai-andai kalau dia masih hidup?


Secara logika orang yang mengalami kecelakaan berat yang amat mengerikan itu pastilah mati.


Misalkan terpelanting dan terguling cukup jauh di atas aspal saja orang akan menduga kuat kalau Melinda akan mati. Apalagi ini mobilnya jatuh ke jurang hingga ke dasar. Tentu kemungkinan Melinda mati amat besar.


Dan ternyata Melinda memang telah mati akibat kecelakaan hebat itu.


Saat ini mayatnya memang masih di dalam mobil. Tapi keadaannya amat mengenaskan sekaligus mengerikan. Posisinya dalam keadaan terbalik seperti mobilnya.


Kepalanya yang pecah rapat ke kap mobil dengan posisi miring dengan leher sepertinya patah. Darah segar sudah berhamburan di seputar kepala dan wajah. Sehingga menyamarkan wajahnya karena dilumuri darah.


Tampak darah keluar dari mulut, hidung, kedua teling, serta dari sela-sela retakan kepalanya. Darah itu masih mengalir dan merembes di kap mobil.


Sedangkan kedua matanya masih membelalak terbuka. Namun sepasang mata itu cahayanya telah redup. Bahkan sudah padam bersama riwayat hidupnya.


Sungguh mengerikan!


Sudah bisa dibayangkan bagaimana keadaan Melinda saat terjadi kecelakaan tadi. Tentu kepalanya terbentur sana sini dengan benda keras. Bahkan kejadian itu membuat lehernya patah pula.


Sepanjang hidup dia cuma mencintai satu orang lelaki, yaitu Raihan. Namun karena kebodohannya, karena tidak tahannya dia terhadap penderitaan, kisah asmaranya dengan Raihan menjadi kandas.


Dengan berspekulasi dengan takdir, Melinda minta putus dengan Raihan. Akhirnya takdir meresmikan dia putus dengan Raihan. Dan takdir pula yang membuatnya tidak bisa lagi kembali ke dalam pelukan cinta Raihan.


Kini gadis malang itu kisah hidupnya telah berakhir. Mati membawa cintanya yang tidak pernah lagi akan sampai kepada Raihan, pemuda yang satu-satunya dicintai.


Sebelum nyawanya melayang ternyata Melinda masih sempat menangis.


Ya, di antara cairan darah yang mengaliri wajahnya, masih ada cairan lain yang bening di sela-sela aliran darah di wajahnya. Cairan itu adalah air matanya.


Ternyata Melinda masih sempat menangisi hidupnya yang malang. Masih sempat menangisi cintanya yang tidak akan pernah lagi dia raih.


Cinta oh cinta! Mengapa cinta membawa gadis malang itu pada akhir hidup yang begitu menyedihkan?


★☆★☆


Dengan kematian Melinda, maka tidak ada lagi wanita yang mengganggu hubungan asmara antara Raihan dengan Viola.


Sesuai yang terlihat.


Meskipun sesungguhnya, baik Raihan maupun Viola cukup merasa terpukul dan berduka atas kematian gadis malang itu.

__ADS_1


Terutama bagi Viola yang merasa kasihan dengan nasib yang menimpa Melinda. Karena cintanya kepada Raihan, Melinda rela melakukan tindak kriminal, yaitu berencana membunuhnya.


Bukankah Melinda amat menyedihkan dan patut dikasihani?


Akan tetapi di sisi lain mereka amat gembira karena tidak ada lagi yang mengganggu hubungan cinta mereka yang semakin hari semakin bersemi.


Tinggal sekarang bagaimana menghadapi orang tua masing-masing yang jelas belum atau bahkan tidak setuju dengan hubungan cinta kasih mereka.


Bagi Raihan yang hingga saat ini belum akur dengan ayah dan kakak laki-lakinya, cukup mudah menghadapi orang tua.


Artinya, karena ayahnya tidak mengakuinya lagi sebagai anak, tentu tidak menghiraukan dengan siapa pun Raihan menjalin cinta. Hal itu menguntungkan bagi Raihan.


Tinggal sekarang bagaimana menghadapi Bu Retno, ibunya. Tapi sepertinya Raihan pasti tidak akan menggubris ibunya meskipun melarang berpacaran dengan Viola.


Sekarang yang Raihan harus hadapi dengan serius adalah Pak Mahendra dan Bu Hellen, kedua orang tua Viola. Pasti dan pasti kedua orang tua itu tidak menyetujui hubungan cinta antara Raihan dengan Viola.


Apalagi jika Pak Mahendra dan Bu Hellen sampai tahu kalau sebenarnya Raihan adalah putra ke tiga Pak Baskoro dan Bu Retno.


"Mas, gimana nanti ngadapin bokap sama nyokap ya?" tanya Viola ingin mengetahui pendapat kekasihnya. "Mereka pasti nggak setuju hubungan kita."


Saat ini dia dan Raihan tengah bersantai di ruang tengah sambil menonton siaran TV. Viola duduk dengan rapat di samping Raihan sambil bersandar pada pemuda itu. Sedangkan Raihan membelai lembut rambut Viola.


Perlu diketahui bahwa Viola tinggal di rumah Raihan yang membuatnya aman dan nyaman sudah 6 hari. Selama itu pula Viola belum mengabari kepada kedua orang tuanya tentang keadaannya yang tinggal di rumah Raihan.


Tentu saja dia tidak tahu bagaimana kabar mereka saat ini. Tapi yang pasti dia merasa kalau mereka cukup terpukul juga atas kematian Melinda. Karena Melinda adalah pacar Miko, kakaknya Viola.


Perlu diketahui pula bahwa Viola hingga sekarang tidak lagi diganggu atau diteror oleh Vega yang entah siapa lelaki muda itu.


Mudah-mudahan saja hingga seterusnya hubungan mereka tidak diganggu oleh lelaki yang tidak jelas itu.


"Kita memang nggak bisa ngindari campur tangan orang tua dalam hubungan kita," kata Raihan bernada bijak. "Terlebih-lebih mereka nentang hubungan kita...."


"Tapi...," lanjut Raihan, "asal kita serius saling mencintai, semua rintangan pasti akan teratasi, cepat atau lambat."


"Mas, aku selalu berdoa agar hubungan kita bisa lancar nyampe kita nikah nanti," kata Viola bernada semangat. "Bahkan nyampe kita tua nanti."


"Ya, aku juga selalu berdoa kayak gitu," kata Raihan seolah tidak mau kalah. "Semoga hubungan kita baik-baik aja, aman-aman aja...."


"Sekarang gimana dengan kamu?" tanya Raihan. "Kapan kamu mau aku antar ke rumahmu?"


"Sebenarnya aku masih mau tinggal lama di sini, Mas," kata Viola bernada sedih. "Karena... kalau aku udah pulang, jangankan ke sini, ketemu ama kamu aja pasti bakal lama lagi...."


"Tapi kamu harus perhatiin juga perasaan orang tua kamu," bujuk Raihan dengan halus. "Mereka udah pasti khawatir dengan keadaanmu."


"Yaaah..., kamu benar, Mas," desah Viola masygul. "Mereka pasti khawatir aku minggat dari rumah dan belum pulang nyampe sekarang. Tapi apakah mereka mau ngerti kalau aku mencintaimu, Mas Rai?"


"Cepat atau lambat mereka pasti restuin hubungan kita," kata Raihan meyakinkan. "Bersabarlah!"


"Yang penting kamu dan aku tetap saling mencintai," kata Raihan lagi, "tetap menjaga cinta suci kita hingga selamanya."

__ADS_1


"Ya, itu yang penting, Mas Rai," kata Viola saling memotivasi, "yang penting kamu dan aku tetap saling mencintai.... Selamanya...."


★☆★☆★


__ADS_2