
Melihat Raihan dan Bayu terkejut mendengar ucapannya, Marsha malah keheranan. Karena tidak tahan didera oleh rasa heran, dia segera bertanya.
"Kok kalian kaget gitu sih? Apa... kalian takut bertemu keluarga aku?"
Raihan cuma tersenyum tawar mendengar pertanyaan Marsha itu. Sedangkan Bayu memandang sejenak pada Marsha, lalu pada sekumpulan orang di sana. Terus menoleh pada Raihan dan berkata.
"Mungkin ini waktunya kamu bertemu mereka, Rai. Kamu nggak bisa terus menerus menghindar...."
"Kamu ngomong apa, Mas Bay?" Marsha makin heran dan bingung mendengar ucapan Bayu. "Apa... kalian udah kenal keluarga aku...?"
Raihan masih terdiam membisu, tidak menanggapi ucapan Bayu tadi maupun Marsha barusan. Saat ini kondisi perasaannya seperti campur aduk.
Entah kenapa dia sama sekali tidak rindu ingin bertemu Pak Baskoro dan Bu Retno, kedua orang tuanya. Apalagi kalau sampai bertemu terus berbicara dengan ayahnya.
Malah dia merasa enggan untuk bertemu saat ini. Bersamaan dengan itu pula dia didera perasaan resah dan khawatir.
Dia tidak resah dan khawatir jika seandainya ayahnya maupun kakaknya melontarkan hinaan dan cacian kepadanya.
Dia resah malam ini Marsha bakal tahu kalau dia adalah kakaknya yang selama ini dia cari. Yang mana hal itu di luar dari rencananya tentunya.
Kalau sudah begitu Marsha pasti bakal marah kepadanya karena merasa dipermainkan olehnya, menganggapnya tidak jujur. Tahu kalau Marsha adalah adiknya, tapi tidak berterus terang.
Raihan lebih khawatir lagi jika seandainya keluarganya melontarkan cacian dan hinaan terhadap Bayu. Terus menuduh Bayu yang tidak-tidak. Dia khawatir rasa sakit hati Bayu yang sudah sembuh bakal kambuh lagi.
Sungguh Raihan didera keresahan dan rasa khawatir yang hebat. Sehingga saat ini dia masih terdiam.
Sehingga membuat sebagian keluarga sudah tampak BT merasakan suasana menggantung seperti ini. Bahkan Pak Baskoro maupun Fauzan sudah mendengus kesal.
Cuma segelintir orang saja yang tampak tenang, bahkan terdiam sambil menatap Raihan dan Bayu. Di antaranya adalah seorang gadis kecil berusia 9-10 tahun. Sejak tadi dia terus menatap Raihan dan Bayu secara bergantian.
Sedangkan Aira, mau dibilang tenang juga tidak bisa meski gadis itu tampak tenang. Di satu sisi dia amat senang bisa melihat dan bertemu Bayu lagi. Tapi di sisi lain dia khawatir seperti apa yang dikhawatirkan Raihan terhadap pemuda yang disukainya itu.
"Rai, ayo ke mari! Jangan biarkan kami menunggu lama di sini!" seketika terdengar Shafira memanggil yang langsung membuyarkan kebisuan. "Kamu nggak bisa selamanya terus-terusan menghindar!"
Seketika Raihan terkejut dari lamunannya. Terus kembali memandang sekumpulan orang-orang di sana dengan masih dikecamuki berbagai perasaan.
Sedangkan Marsha makin heran, makin bingung, makin tidak mengerti akan suasana seperti ini. Dia merasa seperti ada rahasia di balik suasana yang seakan menegangkan ini.
"Mas Rai, Mas Bay, ni ada apa sih?" tanya Marsha makin penasaran. "Kayaknya ada rahasia yang ditutup-tutupi."
"Marsha!" panggil Fauzan dengan menekan kemarahan. "Kembali kamu ke sini! Kalau 2 orang rendahan itu nggak mau ke sini, nggak usah diurus!"
"Sebaiknya kita masuk, Ma," gerutu Pak Baskoro kepada istrinya bernada dongkol. "Buang-buang waktu saja mengurus dua anak muda yang nggak tahu diri itu."
"Tunggu, Pa!" cegat Bu Retno sambil terus menatap Raihan. "Aku penasaran dengan pemuda berjaket biru itu."
"Rai, Bay! Cepat ke mari!" panggil Shafira lagi yang seperti sudah tidak sabaran.
Raihan tidak lantas menyahuti panggilan kakaknya itu. Dia malah memandang Bayu. Tapi Bayu memandang Marsha, terus berkata.
"Kamu jalan duluan, Sasa! Nanti kami ikut di belakangmu!"
"Ni ada apa sih, Mas Bay?" Marsha malah bertanya lagi. "Aku makin bingung...."
"Nanti kamu akan tahu," sahut Bayu. "Jalanlah duluan!"
__ADS_1
Sejenak dia menatap Bayu beberapa detik. Lalu beralih menatap Raihan yang sedikit menganggukkan kepalanya. Kejap berikut dia berjalan mundur beberapa langkah sambil terus menatap kedua pemuda itu. Lalu dia berbalik dan melangkah cepat menghampiri keluarganya.
Sementara Bayu, karena melihat Raihan belum ada reaksi sama sekali, langsung cepat mengambil inisiatif. Dengan cepat dia meraih tangan kanan Raihan. Lalu melangkah cepat sambil menarik tangan pemuda itu.
Sedangkan Raihan sepertinya tidak melakukan penolakan. Dia juga ikut melangkah seiring ritme langkah Bayu seolah tanpa sadar. Tapi akhirnya dia mensejajarkan langkahnya di samping kiri Bayu.
Mengetahui hal itu, Bayu langsung melepaskan pegangan tangannya pada lengan Raihan. Dan mereka terus melangkah cepat hingga kedua pemuda tampan itu sampai di hadapan orang-orang itu.
★☆★☆
Sejak umur 7 tahun hingga sekarang Pak Baskoro tidak pernah lagi melihat wajah anak ketiganya. Rupa wajah anaknya itu seperti siapa ketika dewasa tentu dia tidak bisa menggambarkannya.
Atau lebih tepatnya dia tidak bisa membayangkan secara persis seperti siapa. Di samping dia sudah terpisah cukup lama, juga lebih dominan tidak perduli.
Lain halnya dengan Bu Retno. Sejak terpisah dengan putra atau anak ketiganya, dia boleh dibilang selalu memikirkan anaknya itu. Dan berusaha keras memikirkan bagaimana rupa anaknya ketika dewasa nanti.
Meskipun dia juga tidak bisa membayangkan secara persis seperti siapa.
Namun....
Ketika kedua orang tua itu menatap lekat-lekat wajah Raihan yang sudah berada cukup dekat dengan mereka, naluri sebagai orang tua mereka seakan mengatakan kalau di depan mereka itu adalah putra mereka yang sudah lama menghilang.
Di samping itu pula adanya kemiripan wajah antara Pak Baskoro dengan Raihan menguatkan dugaan mereka kalau Raihan adalah putra mereka. Meskipun keraguan masih mempengaruhi dugaan mereka.
Memikirkan hal itu, Pak Baskoro menatap penuh kebencian dan amarah kepada Raihan. Dan sikap angkuhnya benar-benar menganggap hina dan rendah terhadap Raihan.
Sedangkan Bu Retno, dia tidak bisa membayangkan kalau seandainya yang di depannya itu adalah benar putranya. Tentu saja perasaannya akan bercampur aduk. Dan satu hal yang ditakutkan kalau sampai sekarang putranya itu masih membencinya.
Seperti saat ini, sorot mata Raihan yang tajam memancarkan kebencian. Meski tidak menatap dirinya, melainkan menatap suaminya, tapi masih merasa takut.
Lalu wanita paruh baya itu beralih menatap Bayu yang sejak tibanya tadi terus saja menundukkan kepala. Dan saat melihat pemuda biasa itu, dia seperti melihat Mulyono, adik laki-lakinya.
Apakah Raihan benar-benar kakaknya?
"Siapa kedua pemuda itu, Shafira?" akhirnya Bu Retno bertanya yang langsung menghancurkan suasana yang dibungkam kebisuan. "Aku melihat kamu, Aira, dan Sasa seperti sudah mengenal mereka."
"Kira-kira dalam pikiran mama mereka itu siapa? Atau mirip siapa?" Shafira malah bertanya seakan berteka-teki.
Bu Retno kembali memandang Raihan lekat-lekat, lalu berkata dengan suara sedikit bergetar.
"Apa... apakah pemuda yang mirip papamu itu... adalah Raihan..., Raihan Pratama Baskoro...?"
"Benar, Ma," sahut Shafira bernada haru.
Semua orang yang ada di situ seketika terkejut mendengar pengakuan Shafira kecuali Aira. Mereka tidak menyangka orang yang dikabarkan telah menghilang belasan tahun ternyata sudah berada di hadapan mereka.
Masalahnya, Raihan seolah-olah sudah dinyatakan tidak ada lagi. Tidak ada lagi keluarga Baskoro maupun keluarga Sudrajat yang menyinggung-nyinggung tentang keberadaannya.
Namun siapa sangka pemuda itu malah sudah berada di tengah-tengah mereka. Siapa yang tidak terkejut kalau begitu?
Pak Baskoro sebenarnya sudah menduga kalau pemuda itu adalah putra ketiganya. Namun tak urung dia terkejut juga saat mendengar pengakuan Shafira.
Lain halnya dengan Fauzan, dia memang juga sempat terkejut. Tapi cuma sebentar saja. Setelah itu dia malah memandang curiga pada Raihan. Jangan-jangan kemunculannya sekarang ingin merebut tahta papanya sebagai boss besar.
Sedangkan Marsha bahkan begitu kaget mendengar pengakuan Shafira. Sebelumnya dia memang sudah setengah yakin kalau Raihan adalah kakak kandungnya yang selama ini dia cari.
__ADS_1
Tapi tak urung dia masih terkejut juga setelah mendapati kenyataan kalau Raihan memang benar-benar kakak kandungnya. Menyadari akan hal itu, tanpa dapat dicegat lagi....
★☆★☆
"Kakak!" serunya bernada haru campur bahagia.
Marsha langsung menghambur dan memeluk Raihan. Memeluknya dengan erat sambil menumpahkan air matanya yang tak bisa dibendung lagi. Rasa rindu yang selama ini menderanya langsung diluapkan semuanya pada Raihan malam ini.
Dia tidak mau bertanya macam-macam dulu kenapa Raihan tidak berterus terang dari awal kalau dia adalah adiknya. Dia tidak mau memusingkan dulu tentang Shafira yang ternyata sudah mengetahui tentang Raihan sebelumnya.
Dia yakin pasti ada rahasia yang tersembunyi di balik tindakan Raihan dan Shafira yang menyembunyikan perkara ini darinya.
Dia tidak mau memusingkan dulu semua itu. Dia puas-puaskan dulu meluapkan rasa kangennya kepada Raihan, kakak ketiganya.
Sedangkan Raihan tidak kuasa pula menahan haru saat Marsha memeluknya. Dia juga balas memeluk Marsha. Sehingga membuat Marsha makin erat memeluknya.
Sementara semua orang yang ada di situ selain Pak Baskoro, Pak Sudrajat dan Fauzan, ikut terbawa oleh suasana haru pula.
Adapun Bu Retno sebenarnya ingin menghambur pula ke Raihan dan hendak memeluknya. Hendak menumpahkan rasa rindunya selama ini dipendam.
Namun belum juga melangkah Pak Baskoro langsung mencegatnya dengan mencekal tangannya.
"Nggak usah kamu ke sana!" kata Pak Baskoro bernada dingin seolah mengancam.
"Aku ingin menemui putraku, Pa," kata Bu Retno bernada pilu. Matanya sudah berkaca-kaca sudah hampir berlinang air mata. "Dia anak kita yang sekarang sudah kembali."
"Sejak dia menghilang, aku sudah tidak menganggapnya lagi anak," kata Pak Baskoro makin dingin suaranya. Dan sudah ada tanda-tanda kemarahan besar dari getaran suaranya.
"Jadi dia bukan anak kita!"
Kalau sudah begitu Bu Retno tidak bisa berbuat apa-apa. Suaminya terlalu kuat memeluknya hingga dia tidak bisa memberontak untuk pergi memeluk putranya. Dia hanya bisa mengeluarkan air mata pilu.
Dia hanya bisa memandang Raihan yang masih saling berpelukan dengan anak bungsunya, tanpa bisa ikut memeluk Raihan juga.
"Marsha, ke mari!" panggil Pak Baskoro dengan berang. "Tidak usah kamu dekat-dekat dengan pemuda yang tidak tahu diri itu! Dia sudah bukan lagi kakakmu!"
Marsha segera melepaskan pelukannya pada Raihan. Lalu berbalik menghadap papanya setelah menyusut air matanya. Lalu berkata menyanggah ucapan papanya.
"Tapi, Pa, Mas Rai memang kakakku. Kenapa papa mau mengingkarinya...."
"Kamu sudah berani membantah ucapanku, Marsha?!" Pak Baskoro makin berang seraya memelototkan matanya menatap Marsha.
"Sudah, kamu turuti saja ucapan orang tua itu," kata Raihan menganjurkan. "Yang penting kamu sudah bertemu aku sekarang sebagai kakakmu...."
"Tapi, Mas Rai...."
"Marsha!" kali ini yang memanggil adalah Fauzan dengan nada marah.
"Sudah, kamu ke sana!" suruh Raihan. "Jangan sampai mereka bertambah marah."
"Mas Rai nggak papa?" tanya Marsha makin sedih.
"Aku nggak papa, tenang saja!"
Akhirnya Marsha menuruti juga perintah Raihan. Dengan langkah pelan dia kembali ke tempat keluarganya.
__ADS_1
Sementara Bu Retno cuma bisa menatap Raihan dengan pilu, tanpa bisa memeluknya.
★☆★☆★