Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 47 DIALOG RAIHAN DENGAN PARA PENGUSAHA Part. 3


__ADS_3

Ruangan bernuansa elegan itu masih dibungkam kebisuan, masih dikurung oleh kesunyian, meski sudah beberapa saat Pak Darmawan dan istrinya meninggalkan tempat itu.


Pak Mahendra tampak masih diam sambil menatap Raihan dengan tajam. Di wajahnya memang tampak kemarahan dan kebencian terhadap pemuda itu.


Bukan! Dia membenci pemuda itu bukan karena pemuda itu sendiri, tapi dia membenci karena Raihan adalah putranya Pak Baskoro, musuh bebuyutannya.


Memang tidak ada alasan Pak Mahendra untuk membenci Raihan selain alasan itu. Lain halnya kalau pemuda itu terbukti yang menyembunyikan putrinya.


Sementara Miko tidak menatap siapa pun orang yang ada di ruangan itu. Tidak menatap Raihan, tidak juga menatap Bayu. Dia hanya tertunduk sambil fokus memainkan handphonenya.


Tapi itu hanyalah pengalihan. Siapa sangka kalau hatinya sekarang dalam keadaan gelisah.


Bagaimana hatinya tidak gelisah kalau dia menjadi sebab hubungan Raihan dengan Melinda jadi hancur.


Bagaimana hatinya tidak gelisah kalau sebelumnya dia pernah berselisih dengan Raihan, bahkan sempat menghinanya yang menyebabkan Raihan dikeluarkan dari tempat pekerjaannya, waktu itu.


Miko bukan takut kepada Raihan. Dia hanya khawatir dua hal tersebut di atas dijadikan sebab terhalangnya dia untuk kembali kepada Aira. Sementara dia ketahui bahwa Raihan ternyata adalah kakak sepupunya Aira.


Bagaimana nanti dia hendak kembali kepada Aira jika Raihan menghalanginya?


Perlu diketahui bahwa semenjak kematian Melinda, Miko berniat untuk kembali kepada Aira. Lebih tepatnya membina ulang hubungan mereka yang sempat terputus.


Namun tentunya banyak penghalang yang harus dia lewati. Perseteruan yang terjadi antara keluarganya dengan keluarga Aira. Persoalan yang terjadi antara dia dengan Raihan, yang bisa jadi penghalang besar untuk dia kembali kepada Aira.


Belum lagi dia harus menghadapi Aira yang pasti marah besar kepadanya. Untuk menyatakan kembali kepadanya dengan cepat pasti akan susah pula.


Apalagi tadi dia tidak menghiraukan keberadaan dirinya. Bahkan bermanja-manja dengan Bayu di hadapannya yang membuatnya cemburu.


Entahlah, dia belum tahu secara pasti, apakah Aira sudah berpacaran dengan Bayu?


"Kalau boleh tahu, apakah tujuan Tuan berdua datang ke tempat saya?" tiba-tiba Raihan bertanya yang membuat kebisuan seketika pecah, kesunyian langsung buyar.


Membuat lamunan Miko seketika hancur berantakan. Sampai-sampai dia berhenti memainkan HP-nya, terus menatap Raihan dengan tajam.


"Apakah ada hubungannya dengan Viola?" lanjut Raihan tetap dalam mode tenang.


"Di mana putriku kamu sembunyikan?" tanya Pak Mahendra langsung seolah tidak mau berbasa-basi.


"Anda menuduh atau bertanya?" Raihan malah balik bertanya.


"Jawab saja, tidak usah bertele-tele!" geram Pak Mahendra setengah membentak. "Di mana kamu sembunyikan putriku?"


"Kenapa Anda bertanya begitu kepada saya?" Raihan masih berputar-putar. "Apakah Anda merasa saya mengenal putri Anda? Dan... kenapa Anda begitu yakin kalau putri Anda ada sama saya?"


"Kamu adalah teman Viola," sahut Pak Mahendra bernada dingin. "Jadi, dia pasti ke rumahmu setelah kabur dari rumah!"


"Apakah teman Viola cuma saya," jelas Raihan ingin mengetes tanggapan Pak Mahendra, "sampai Anda yakin kalau Viola langsung ke rumah saya setelah kabur?"


"Viola belum punya banyak teman semenjak tinggal bersama kami," sahut Pak Mahendra tetap berusaha menahan amarah, sehingga suaranya bernada dingin. "Dia hanya punya 2 teman, yaitu kamu dan adikmu."


"Awalnya kami tidak menyangka kalau kalian bersaudara," lanjut Pak Mahendra, "awalnya kami tidak menyangka kalau kamu ternyata anaknya Baskoro juga."


"Kenapa dunia ini begitu sempit?" keluh Pak Mahendra dalam kekesalannya. "Kenapa putriku bisa mempunyai teman anak-anak musuhku?"


Setelah mengeluh dengan kesal atas takdir yang sudah terjadi, lalu dia melanjutkan ucapannya yang berselimut amarah yang hampir meledak.


"Kami sudah menghubungi adikmu, dan ternyata putriku tidak ada di ayahmu. Sekarang tinggal kamu satu-satunya orang yang pasti Viola menemuinya, yang kami ketahui bertempat tinggal terpisah dari rumah ayahmu...."


"Sekarang..., apa kamu masih mau mengelak kalau Viola ada bersama kamu?"

__ADS_1


Kalimat terakhir yang diucapkan Pak Mahendra suaranya begitu ditekan dan bercampur nada dingin.


★☆★☆


Raihan tidak lantas menjawab atau menanggapi pertanyaan Pak Mahendra. Sejenak dia memandang Bayu yang juga menatapnya.


Sementara Miko, yang dilakukan pemuda itu hanya diam, seolah cuma menyimak pembicaraan saja. Seakan tidak ingin ikut andil dalam bicara ataupun komentar.


Sedangkan Pak Mahendra jelas tidak sabaran atas sikap Raihan yang seperti lamban merespon pertanyaannya. Tampak amarah yang sangat sudah menguar di wajah tuanya tapi masih tampak tampan.


"Jawab, Anak Muda! Jangan coba-coba bermain-main denganku!" bentak Pak Mahendra dengan suara cukup keras.


Saking kerasnya bentakan Pak Mahendra membuat Miko dan Bayu sedikit tersentak kaget. Namun tidak dengan Raihan. Dia masih tampak tenang, tidak tersinggung dengan bentakan kasar Pak Mahendra. Dia malah tampak sedikit tersenyum.


"Putri Anda memang ada di rumah saya," kata Raihan akhirnya mengaku.


Bukan karena dia takut akan bentakan lelaki tua itu. Tapi karena dia tidak mau lagi mempermainkan amarah Pak Mahendra.


"Keparat...!"


Pak Mahendra seketika berdiri dari kursinya hendak menerjang Raihan. Setidaknya dia hendak menonjok wajah pemuda itu atau menamparnya.


Sedangkan Raihan tetap tenang di kursinya. Tidak menunjukkan gelagat apa-apa untuk menghindar atau semisalnya.


Yang tidak tenang adalah Bayu. Tapi dia tidak akan melabrak Pak Mahendra, apalagi menyakitinya. Dia hanya bersiap-siap saja hendak menghalangi tindakan Pak Mahendra yang hendak menerjang Raihan.


Namun Miko, sang putra segera bertindak. Dengan cepat dia menangkap papanya, lalu menenangkan hatinya yang sudah dibungkus amarah.


"Tenang, Pa! Jangan bertindak yang nggak-nggak di sini! Ini wilayah orang, Pa, tenang dulu!"


"Kenapa kamu tiba-tiba melunak sama bangsat itu hah?" berang Pak Mahendra masih berapi-api. "Dia telah menyembunyikan adikmu!"


"Tanya baik-baik katamu?!" berang Pak Mahendra sambil mendelik pada Miko. "Bagaimana kalau adikmu sudah diapa-apakan oleh pemuda sialan itu?"


"Sabar, Pa! Ola nggak akan kenapa-napa," Miko tetap meyakinkan papanya agar tenang. "Tenang saja! Ingat, jantung papa nanti kumat lagi!"


Mendengar Miko mengingatkan penyakitnya, Pak Mahendra mulai meredakan amarahnya. Lalu dia duduk kembali di kursinya dengan dibantu oleh Miko.


★☆★☆


Setelah melihat papanya sudah mulai tenang, kemudian Miko beralih memandang Raihan, terus bertanya dengan nada datar. Tapi berusaha untuk tidak menyelipkan kebencian.


"Benarkah adik saya berada di rumah Anda, Tuan Rai?"


Dia sekarang berbicara dengan gaya formal seolah ingin mengimbangi sikap formal Raihan.


"Benar," sahut Raihan tetap tenang dan sopan, "adik Anda masih ada di rumah saya. Dan dalam keadaan baik-baik saja, tidak kurang suatu apa pun."


"Kenapa Anda tidak langsung mengantarkan ke rumahnya?" selidik Miko masih bernada datar. "Malah Anda membiarkan tinggal di rumah Anda seolah menahannya."


"Bolehkah saya bercerita sedikit apa yang terjadi sebelum Viola berada di rumah saya, dan kenapa Viola tinggal cukup lama di rumah saya?" kata Raihan meminta izin untuk mengungkapkan sesuatu.


"Tidak usah bertele-tele!" bentak Pak Mahendra mulai terpancing lagi amarahnya. "Cepat katakan di mana rumahmu, biar kami sendiri yang mengambilnya!"


"Sabar, Pa!" Miko kembali menenangkan papanya. "Biar Raihan bicara dulu apa yang mau dibicarakan! Papa tenang dulu!"


"Huh!" Pak Mahendra hanya mendengus kesal.


"Silahkan! Anda mau bercerita apa?" Miko kembali beralih pada Raihan. "Apa yang terjadi dengan adik saya?"

__ADS_1


"Setelah keluar dari rumah, Viola diculik oleh orang-orang suruhan Melinda dan kakaknya," sahut Raihan tenang.


"Apa?!"


Bukan main terkejutnya Pak Mahendra dan Miko mendengar penuturan Raihan barusan. Sampai-sampai mereka sedikit terlonjak dari kursinya. Mereka menatap Raihan lekat-lekat seakan ingin memastikan ucapan Raihan benar atau dusta.


Mendengar ucapan Raihan barusan, mereka terkejut akan 2 hal. Pertama, terkejut mendengar kabar bahwa Viola sempat diculik malam itu. Kedua, mereka terkejut karena Melinda ternyata terlibat juga atas penculikan Viola.


"Benarkah apa yang kamu katakan itu, Anak Muda?" tanya Pak Mahendra bernada dingin masih belum percaya.


"Benar, Tuan," sahut Raihan tetap ramah. "Saya berani bersumpah kalau saya berdusta. Teman saya, Bayu ini juga ikut menyelamatkan Viola malam itu."


"Benar, Tuan Mahendra," kata Bayu mendukung. "Malam itu Nona Viola memang diculik setelah keluar dari rumahnya...."


Kemudian Bayu menceritakan secara singkat tanpa diminta apa yang terjadi malam itu. Sedangkan Pak Mahendra dan Miko mendengarkan tanpa menyela hingga Bayu selesai bercerita.


"...Untung saja malam itu kami cepat menolong Viola," sambung Raihan setelah Bayu selesai bercerita. "Kalau kami terlambat sedikit saja, mungkin Viola sudah mati malam itu."


"Dan asal kalian tahu, sebenarnya Melinda sudah dua kali berencana hendak membunuh Viola," lanjut Raihan, "tapi selalu gagal."


"Kapan rencana yang satunya?" tanya Miko heran.


"Saat Viola diserang oleh beberapa orang preman sebulan yang lalu," sahut Raihan. "Preman-preman itu adalah orang-orang suruhan Melinda dan kakaknya. Hal itu Melinda sendiri yang mengakuinya di hadapan Viola saat Viola masih disekap oleh mereka di sebuah vila."


"Kenapa Melinda bisa tega berbuat begitu?" kata Miko bernada getir.


"Sebenarnya dalang utamanya adalah kakaknya yang bernama Vega," kata Bayu seakan memberi tahu. "Adapun Nona Melinda saya rasa dia hanya diperalat oleh Vega."


"Pa, apakah ada anak Om Darmawan yang bernama Vega?" Miko beralih memandang papanya. "Setahuku cuma Tristan anak Om Darmawan yang laki-laki. Itupun sudah meninggal."


"Vega itu anak biologis dari wanita selingkuhan Darmawan," ungkap Pak Mahendra meski bernada dingin. "Umurnya tidak jauh beda dengan Tristan, anak kandungnya."


"Selama ini anak itu Darmawan lempar ke luar negeri," lanjut Pak Mahendra. "Karena dia tidak mau mengakui Vega sebagai anaknya."


"Tapi..., apa maksud Vega ingin membunuh Viola?" tanya Miko bingung.


"Tujuan utama orang itu sebenarnya adalah balas dendam," kata Raihan. "Dia ingin membunuh semua keluarga Anda, Tuan Mahendra, keluarga Tuan Baskoro. Dan juga sudah pasti keluarga Tuan Darmawan. Karena Tuan Darmawan tidak mengakuinya sebagai anak."


Tentu saja Raihan maupun Bayu tidak mau mengatakan kalau tujuan Melinda hendak membunuh Viola karena dibakar cemburu terhadap Viola.


Jika mereka mengungkapkan hal itu, akan menimbulkan masalah yang Raihan belum siap menghadapinya.


Nanti ada waktunya sendiri Raihan akan mengungkapkan bahwa dia mencintai Viola.


Selesai Raihan berkata demikian, tak ada lagi tanggapan atau pertanyaan dari Pak Mahendra maupun Miko. Maka kejap berikutnya suasana dibungkam oleh kebisuan dan kesunyian.


Tapi tak lama kemudian, Pak Mahendra seketika bersuara bertanya kepada Raihan dengan nada masih menyimpan amarah.


"Di mana rumahmu? Aku ingin mengambil putriku!"


"Anda tidak perlu repot-repot datang ke rumah saya, Tuan Mahendra," kata Raihan masih tetap sopan. "Saya sendiri yang akan mengantar ke rumah Anda."


"Aku berharap kamu menepati ucapanmu itu," kata Pak Mahendra bernada dingin. "Jangan coba-coba bermain-main denganku!"


Setelah berkata demikian, Pak Mahendra berdiri dengan sedikit kasar dari kursinya. Sejenak menatap Raihan dengan penuh kebencian, lalu meninggalkan ruangan itu tanpa pamitan dengan Raihan.


Sedangkan Miko, tanpa diajak dia segera berdiri juga dari kursinya. Sebelum mengikuti papanya meninggalkan ruangan itu, dia menatap Raihan sejenak, terus Bayu dengan tatapan yang entah apa maksudnya. Setelah itu dia meminta pamit.


Sepeninggal ayah dan anak tadi, Raihan dan Bayu masih berada di ruangan itu. Tak lama berselang mereka sudah terlibat pembicaraan tenang pertemuan mereka dengan para pengusaha tadi.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2