
Malam sudah melingkupi seantero Jakarta....
Sementara itu di kos-kosan di kamar Raihan, pemuda itu dan Bayu tengah asyik berbincang-bincang. Waktu itu mereka telah selesai melaksanakan shalat isya.
Di awal perbincangan mereka saling menceritakan kalau siang tadi masing-masing keduanya mendapat musibah yang cukup mengenaskan. Yaitu orderan berupa paket makanan di-cancel begitu saja oleh si pelanggan.
Mengetahui kalau masing-masing kedua pemuda tampan itu mendapat musibah yang serupa pada hari yang sama, tentu saja memancing tawa di antara mereka berdua.
Mereka tertawa bukan saja kejadian itu suatu hal yang lucu. Namun mereka juga menertawakan tentang nasih mereka yang begitu malang.
"Kamu gimana ceritanya bisa sampai terjadi begitu?" tanya Raihan di sela tawanya.
Maka ceritalah Bayu tentang pengalamannya siang tadi. Seorang pengorder yang bernama Karin Dianita telah membatalkan pesanan yang dia order dengan sengaja.
Raihan tidak menyadari kalau Karin yang membatalkan orderannya itu adalah Karin yang bertabrakan dengan Bayu di depan kafe di tempat kerja mereka dulu. Hingga Bayu selesai bercerita Raihan masih tetap tidak menyadarinya.
"Kamu tahu nggak Karin yang meng-cancel orderannya dengan sengaja itu?" tanya Bayu di ujung ceritanya.
"Memang Karin siapa to?" kata Raihan balik bertanya.
"Kamu masih ingat saat kita bertabrakan dengan 2 cewek di depan kafe tempat kerja kita dulu?"
"Masih," sahut Raihan setelah berpikir sebentar.
"Apa... Karin yang bertabrakan dengan kamu waktu itu dia juga yang membatalkan orderannya?" tebak Raihan.
"Benar, tebakanmu benar," sahut Bayu membenarkan. "Dialah orangnya."
"Hahaha, kamu bertemu lagi dengannya," kata Raihan sambil tertawa pendek. "Jangan-jangan kamu jodoh dengan cewek itu...."
"Jodoh ndasmu kui!" sengit Bayu. "Itu saja aku ketemu dengannya karena nggak tahu kalau yang mengorder itu dia. Kalau aku tahu, jelas aku tidak melayaninya...."
"Kamu sudah tahu tadi 'kan dia dan 2 boss sombongnya telah menindas aku?" lanjut Bayu dengan nada kesal. "Kalau saja bukan berada di perusahaan si Miko sombong itu, aku sudah menggasaknya di situ...."
"Terus... paket makanan yang dicancel itu kamu ke manakan?" tanya Raihan ingin tahu. "Atau ada yang membeli?"
"Nanti dulu," kata Bayu. "Sekarang giliran kamu yang cerita, kenapa bisa orderan yang kamu antar dicancel sama pelangganmu?"
Setelah mengambil napas sebentar, maka Raihan bercerita tentang nasibnya mengantarkan orderan pelanggannya yang tidak lain mamanya Melinda, namun dibatalkan begitu saja tanpa perasaan.
Raihan bukan saja menceritakan tentang pertemuannya dengan Melinda lagi yang cukup menyedihkan, Raihan juga memberitahukan tentang penghinaan mamanya Melinda terhadap dirinya, plus caci makinya.
"Aku heran dengan gadis itu," kata Raihan di ujung ceritanya, "aku sudah putus dengannya, tapi kenapa dia begitu tega berbuat sesuka hatinya kepadaku? Padahal aku tidak mengusiknya."
"Asal kamu tahu, si Melinda itu sepertinya masih mencintai kamu," komentar Bayu. "Karena kamu nggak mau lagi diajak balikan oleh dia, makanya dia sampai tega berbuat seperti itu kepadamu. Dia itu dendam kepadamu."
"Sampai kapanpun aku nggak akan pernah lagi balikan sama dia, meskipun dia masih mencintaiku," kata Raihan bernada geram. "Dan aku nggak perduli kalau dia sampai dendam kepadaku...."
"Seharusnya dia berpikir kalau semua yang terjadi akibat ulahnya sendiri," lanjut Raihan masih menggeram.
"Sudahlah, nggak usah lagi kamu pikirkan gadis itu dan keegoisannya!" kata Bayu menasehati. "Sekarang gimana kamu menata masa depanmu lebih baik lagi."
"Masa depan aku dan masa depan kamu juga," kata Raihan seolah memperbaiki ucapan Bayu barusan.
★☆★☆
"Terus gimana kelanjutannya?" tanya Bayu setelah beberapa saat mereka terdiam. "Paket makanan yang dibatalkan pelangganmu itu dibeli siapa?"
Kemudian Raihan melanjutkan ceritanya mulai dari dia meninggalkan rumah Melinda hingga bertemu dan berkenalan dengan Viola dan Marsha, hingga kedua gadis itu membeli paket makanannya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku merasa curiga dengan gadis yang bernama Marsha itu," gumam Raihan di akhir ceritanya.
"Maksudmu?" tanya Bayu belum paham.
"Sewaktu aku menyebutkan namaku saat kami berkenalan," jelas Raihan, "dia langsung terkejut. Ekspresinya seperti... dia pernah dengar nama itu...."
"Aku bisa menangkap dari sikapnya itu kalau dia sedang mencari aku," lanjut Raihan. "Dugaanku semakin kuat saat dia bertanya, apakah nama panjangku Raihan Pratama?"
"Terus kamu ngaku kalau nama panjangmu begitu?" tanya Bayu seakan menguji.
"Ya nggak lah," sahut Raihan. "Nanti keluargaku tahu kalau aku ada di sini."
"Tapi sepertinya Mbak Shafira sudah tahu kalau kamu ada di kota ini sekarang," kata Bayu seolah mengabarkan.
"Apa kamu sudah bertemu dengan kakak perempuanku itu?" kejut Raihan.
"Aku nggak bertemu langsung," sahut Bayu mengakui, "tapi dia dan asistennya melihat aku saat berurusan dengan Karin di perusahaan si Miko siang tadi."
"Maksudmu asistennya yang bernama Aira?"
"Iya benar," sahut Bayu membenarkan. "Malahan dialah yang membeli paket makanan yang nggak dibayar Karin itu. Katanya atas suruhan Mbak Shafira."
"Apa kamu diajak jalan sama Aira?" tanya Raihan sekaligus menebak.
"Kok tebakanmu tepat sekali," kata Bayu sambil tersenyum menyeringai.
"Dia sudah lama nggak ketemu dengan kamu," kata Raihan seolah mengungkap hubungan Bayu dengan Aira. "Saat ketemu lagi, apa dia mau melepaskanmu begitu saja?"
"Kamu benar, Rai, dia langsung mengajak aku jalan sekaligus makan siang," beber Bayu.
"Tentu banyak hal yang kalian bicarakan saat jalan bersama," kata Raihan seraya tersenyum curiga.
"Kamu tenang saja, aku tetap nggak beri tahu tentang keberadaanmu di sini meskipun dia terus maksa," ungkap Bayu menepis kecurigaan Raihan terhadapnya.
"Kami nggak ada hubungan apa-apa, Rai," aku Bayu bernada kesal. "Kok kamu bisa-bisanya bilang aku ada hubungan dengan Aira?"
"Aira itu menyukaimu, Bay," kata Raihan mengungkapkan. "Aku yakin kamu juga pasti tahu akan hal itu."
"Terus..., kalau Aira menyukaiku, lantas kamu menyuruh aku untuk menyukainya juga, begitu?"
"Apa yang kurang dengan gadis cantik macam Aira, Bay?" kata Raihan seakan menerangkan kelebihan Aira kepada Bayu. "Dia itu nggak hanya berwajah cantik, tapi juga berhati baik. Amat cocok buat kamu jadikan istri."
"Memang nggak ada yang kurang dengan Aira," kata Bayu mengakui sekaligus tahu diri. "Yang kurang itu aku. Aku cuma anak orang miskin, Rai, nggak pantas bersanding dengan anak orang kaya macam Aira."
Perlu diketahui bahwa Aira adalah keponakan Pak Baskoro, papanya Shafira. Artinya Shafira dan Aira masih saudara, saudara sepupu.
Apa yang dikatakan Bayu kalau Aira adalah anak orang kaya memang benar. Papanya Aira juga punya perusahaan meski tidak sebesar perusahaan milik Pak Baskoro.
Lebih tepatnya perusahaan Pak Sudrajat, papanya Aira, merupakan salah satu anak perusahaan Pak Baskoro.
"Jodoh siapa yang tahu, Bay," kata Raihan seakan mengingatkan.
"Memang jodoh nggak ada yang tahu pasti," kata Bayu masih juga berargumen. "Tapi aku nggak berharap berjodoh dengan anak orang kaya."
"Maunya berjodoh dengan anak orang biasa saja, begitu?" kata Raihan seraya tersenyum penuh arti.
"Bukankah kamu juga begitu, pingin berjodoh dengan anak orang biasa saja?" kata Bayu seakan membalikkan ucapan Raihan.
Mendengar ucapan Bayu barusan, Raihan hanya tertawa pelan saja. Bukankah dia juga ingin mencari jodoh anak orang biasa saja?
__ADS_1
★☆★☆
"Sudahlah," kata Bayu tidak ingin memperpanjang. "Lebih baik kita bicara tentang masalah yang lebih penting."
"Masalah apa?" tanya Raihan serius.
"Tadi siang Aira banyak berbicara kepadaku tentang perusahaanmu yang sementara dikelola orang Mbak Shafira," ungkap Bayu mulai masuk ke inti pembicaraan.
"Aku nggak punya perusahaan, Bay," bantah Raihan seakan menentang kenyataan. "Aku hanya pemuda miskin yang nggak punya apa-apa. Kamu 'kan sudah tahu itu?"
"Kenapa kamu terus saja berkhayal sampai pada detik ini, Rai?" kata Bayu bernada menyesalkan pendirian Raihan yang masih dipegangnya hingga sekarang.
"Maksudmu?"
"Banyak orang miskin di luar sana yang selalu bermimpi menjadi orang kaya," kata Bayu mengingatkan sekaligus menyadarkan. "Tapi kamu..., anak orang kaya yang tiap hari bermimpi menjadi orang miskin."
"Aku nggak bermimpi menjadi orang miskin, Bay," bantah Raihan lagi. "Aku memang orang miskin sejak dulu...."
"Dari dulu sampai sekarang kita selalu bersama-sama," lanjut Raihan. "Jadi kamu telah tahu kalau aku nggak pernah menikmati harta pakdemu itu. Bukankah aku juga orang miskin?"
Yang Raihan maksud pakde adalah Pak Baskoro, ayahnya sendiri. Sementara ayahnya Bayu bersaudara dengan ibunya Raihan. Tepatnya Pak Mulyono, ayahnya Bayu adalah adik kandungnya Bu Retno Setyaningrum, ibunya Raihan.
Jadi, Bayu memanggil Pak Baskoro dengan sebutan pakde juga.
"Tuan Baskoro adalah bapakmu, Rai," Bayu terus saja mengingatkan. "Jadi kamu terhitung anak orang kaya."
"Cuma anak orang kaya," Raihan masih membantah, "bukan orang kaya. Kamu harus bedakan itu."
Bedanya di mana pikir Bayu? Tapi dari dulu memang Raihan selalu menganggap dirinya orang miskin. Walau kenyataannya dia itu anak orang kaya.
Bahkan Pak Baskoro, ayahnya memberikan kepadanya sebuah perusahaan. Namun karena Raihan belum juga mau bergabung dengan keluarga besarnya, maka untuk sementara waktu perusahaan itu masih dikelola oleh Shafira, kakaknya Raihan yang dibantu oleh Aira.
"OK-lah," kata Bayu seolah mengalah, "kamu nggak mau mengakui kalau kamu juga orang kaya yang juga punya perusahaan, itu urusan kamu...."
"Aku nggak punya perusahaan, Bay," gerutu Raihan kesal. "Itu milik Tuan Baskoro yang sombong itu. Kenapa kamu selalu ngomong begitu?"
"Kamu dengar aku dulu!" sengit Bayu kesal juga dari tadi dibantah terus. "Jangan langsung dibantah!"
"Sekarang kamu harus perduli satu hal," kata Bayu setelah melihat Raihan seperti tidak hendak membantah lagi. "Saat ini Mbak Shafira mengalami kesulitan dalam mengelola perusahaanmu itu."
"Ada masalah yang cukup besar yang terjadi dalam perusahaan," lanjut Bayu.
"Sepertinya itu bukan urusan aku," kata Raihan bernada sinis tetap acuh tak acuh. "Aku nggak pernah memintanya kepada Tuan Baskoro meski dia memberi. Jadi kenapa aku harus perduli?"
"Kamu nggak perduli dengan perusahaanmu, itu urusan kamu," kata Bayu sedikit bernada tinggi. "Tapi setidaknya kamu perduli dengan kesulitan yang menimpa Mbak Shafira, kakak perempuanmu."
Mendengar ucapan Bayu barusan Raihan langsung terdiam. Apa yang dikatakan Bayu memang benar. Meski dia membenci keluarga besarnya karena kesombongan Tuan Besar-nya, tapi dia tidak boleh egois.
Dia tidak boleh mengabaikan kebaikan Shafira yang dengan kerelaan hatinya mau membantu mengelola perusahaan yang diberikan oleh Pak Baskoro, ayahnya.
Sebenarnya Shafira sudah beberapa kali menawarkan Raihan agar mengelola perusahaannya sendiri waktu dia dan Bayu masih tinggal Surabaya. Tentunya dibantu oleh Bayu.
Namun Raihan selalu saja menolak dengan alasan klasik, perusahaan itu bukan miliknya meski Pak Baskoro telah memberikan kepadanya.
"Aira bilang kalau Mbak Shafira dan dia habis datang ke Surabaya sebulan lebih yang lalu," tutur Bayu memecah kebisuan yang terjadi.
Tanpa Bayu sebutkan maksud kedatangan Shafira ke Surabaya, Raihan sudah tahu. Tidak lain tidak bukan adalah tentang hal yang sedang mereka bicarakan ini.
Bayu terus saja membujuk Raihan, dan mengemukakan tentang hal-hal logis yang Raihan bisa menerimanya. Hingga akhirnya mau juga Raihan bertemu dengan kakak perempuannya.
__ADS_1
Karena memang hal itu sesuai pesan yang telah disampaikan oleh Aira kepada Bayu.
★☆★☆★