Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 30 PASANGAN YANG KE 4 JADIAN


__ADS_3

Raihan tampak terkejut mendengar ucapan Viola yang seolah hendak mengajukan sesuatu atau syarat.


"Tapi apa, Viola?" tanya Raihan penasaran, tapi dengan nada lembut.


"Marsha gimana?" tanya Viola bagai meragu.


"Maksudmu?" tanya Raihan belum paham, tapi masih dengan nada lembut.


"Aku nggak pingin berebut cinta dengannya," ungkap Viola terus terang. "Kalau dia menyukaimu juga aku ngalah aja."


Raihan lantas terdiam mendengar pengakuan Viola barusan. Tapi bibirnya tampak sedikit menarik senyum penuh arti. Sementara tangan kirinya masih membelai lembut kepala Viola.


Melihat Raihan diam saja, tidak memberi komentar apa-apa, membuat Viola penasaran. Maka dia langsung bertanya dengan nada memberengut manja.


"Kok kamu diam aja, Mas Rai? Ngomong dong!"


"Ngomong apa?" kata Raihan seakan tidak mengerti.


"Jikalau Marsha menyukaimu juga, aku mungkin akan mengalah. Menurutmu gimana?"


"Apa kamu beneran mengalah dengan sepenuh hati?" Raihan malah bertanya sambil tetap tersenyum kecil.


"Jujur, Mas Rai, sebenarnya aku nggak bisa mengalah begitu aja," ungkap Viola berterus terang. "Aku nggak rela kamu jadi milik Marsha. Tapi...."


"...Marsha adalah sahabat aku yang terbaik saat ini," lanjut Viola menuturkan. "Andai dia suka ama cowok yang aku juga suka, aku akan mengalah meski nggak rela...."


"Kamu nggak perlu mengalah, dan Marsha nggak akan berebut cinta ama kamu," kata Raihan memberi tahu.


"Kamu 'kan tahu kalau aku kakaknya Marsha," lanjut Raihan seperti mulai mengungkap sesuatu yang belum diketahui Viola.


"Dia cuma menganggap kamu kakak," kata Viola seakan meralat. "Tapi... sapa tau dia diam-diam juga menyukai kamu, Mas Rai."


Karena Viola belum tahu hal yang sebenarnya, jelas dia masih beranggapan kalau antara Raihan dengan Marsha adalah orang lain, tidak ada hubungan kekeluargaan.


"Nggak mungkin lah dia menyukai aku seperti cewek menyukai cowok," kata Raihan membantah, mulai menjurus untuk mengungkap hal sebenarnya. "Kamu nggak perlu khawatir...!"


"Kamu kok kayaknya yakin gitu?" tanya Viola heran campur curiga.


"Apa Marsha belum ngomong apa-apa ama kamu tentang sesuatu?" Raihan malah yang bertanya.


"Tentang apa, Mas?" tanya Viola makin penasaran.


"Tentang hubungan kami," jelas Raihan.


Tapi ucapan itu diartikan lain oleh Viola. Dia menyangka Raihan ada hubungan spesial dengan Marsha. Padahal barusan Raihan memberi tahu kalau Marsha tidak mungkin menyukainya sebagai seorang pacar.


"Apa kamu juga menyukai Marsha, Mas?" tanya Viola jelas ingin tahu.


"Jelas aku menyukainya karena dia adalah adikku. Tapi kamu jangan salah paham dulu. Aku akan memberi tahu tentang sesuatu yang sebenarnya."


"Apa sih, Mas?" tanya Viola seakan tidak sabaran. "Jangan bikin aku penasaran dong!"


"Apa kamu pernah berpikir kalau aku adalah kakaknya Marsha yang selama ini dia cari?" tanya Raihan masih belum berterus terang, tapi sudah dekat ke tujuan.


Sejenak Viola terdiam, tidak bicara lagi seakan memikirkan ucapan Raihan dalam-dalam sambil menatap pemuda tampan itu lekat-lekat.


"Apa kamu beneran kakak kandung Marsha, Mas?" tanya Viola setelah agak lama terdiam. Tebakannya seakan merasa yakin.


"Iya benar," sahut Raihan sambil mengangguk pelan, "aku memang kakak kandung Marsha...."


Viola langsung tersenyum gembira mendengar pengakuan Raihan barusan. Dia amat senang akhirnya sahabatnya itu menemukan kakaknya yang selama ini dia cari.


Viola amat senang karena ternyata dia tidak perlu berebut cinta dengan Marsha untuk mendapatkan cinta Raihan.

__ADS_1


Namun seketika dia teringat atau tersadar akan sesuatu saat menyadari Raihan bersaudara kandung dengan sahabatnya, Marsha.


Seperti dia ketahui kalau Marsha adalah putri salah seorang pengusaha besar di kota ini. Kalau Marsha adalah putri pengusaha yang kaya raya, otomatis Raihan anak pengusaha yang kaya raya juga.


Tapi kenapa Raihan mengatakan kalau dia hanyalah seorang pemuda miskin? Apa maksudnya mengaku seperti itu? Apa dia cuma menutup-nutupi jati dirinya?


★☆★☆


Baru saja Viola hendak mengutarakan tentang ganjalan hatinya itu, seketika terdengar suara pintu diketuk dari luar. Lalu menyusul suara orang beri salam.


Tok tok tok!


"Assalaamu 'alaikum...!"


"Wa 'alaikum salaam...!" sahut Raihan dan Viola hampir berbarengan.


Lalu hampir bersamaan pula mereka segera menoleh ke arah pintu masuk ruangan. Tak lama seorang pemuda tampan beratribut dokter masuk bersama seorang perawat cantik.


Saat dokter dan perawatnya itu masuk ke ruang ICU ini, Raihan dan Viola yang tadinya masih berpegangan tangan seketika langsung saling melepaskan. Tapi dokter tampan berkaca mata itu masih sempat melihatnya. Hal itu membuatnya tersenyum penuh arti.


Tak lama kemudian, sang dokter tengah sibuk melakukan pemeriksaan terhadap Viola. Menanyakan beberapa hal tentang kondisi Viola pasca operasi. Menganjurkan hal-hal yang boleh dilakukan dan hal-hal harus dihindari oleh Viola selama lukanya belum sembuh benar.


Sedangkan sang perawat cantik tampak sibuk mencatat hal-hal penting yang dibicarakan dokter kepada pasiennya, termasuk mencatat resep obat yang harus diminum pasiennya.


"Apa sudah bisa pindah ke bangsal, Mas Kenzie?" tanya Raihan yang sepertinya mengenal sang dokter.


"Sudah bisa, Rai," sahut dokter yang ternyata bernama Dr. Kenzie. "Tapi nanti sore. Nggak papa 'kan?"


"Nggak papa, aku manut padamu saja," sahut Raihan. "Yang penting Viola bisa dirawat dengan baik biar lekas sembuh."


"Kamu tenang aja, Rai, aku akan berbuat sebaik mungkin demi kesembuhan...," ucapan Dr. Kenzie seketika dihentikan.


Lalu tak lama Dr. Kenzie langsung melanjutkan dengan bertanya yang membuat Viola agak terkejut.


"Iya, Mas, barusan resmi beberapa menit yang lalu," sahut Raihan seraya tersenyum sedikit kikuk.


Sedangkan Viola juga tampak tersenyum setengah tertawa karena merasa lucu dengan jawaban Raihan dan ekspresi yang ditunjukkan Raihan.


"Berarti kalian jadian di ruang ICU ini?" tebak Dr. Kenzie sambil tersenyum menggoda.


"Yaaah..., begitulah, Mas Ken," ucap Raihan mengaku seraya masih tersenyum malu-malu.


Dr. Kenzie langsung tertawa mendengar pengakuan jujur Raihan barusan. Sedangkan perawat cantiknya hanya senyum-senyum saja.


"Maaf, maaf, aku nggak ada maksud ngeledek kalian," kata Dr. Kenzie di sisa-sisa tawanya. "Hanya saja aku merasa peristiwa ini sedikit unik bagiku."


"Unik?" kata Raihan bernada heran. "Maksud Mas Ken?"


Tampak Viola juga merasa heran dengan ucapan Dr. Kenzie itu. Dia langsung menatap sang dokter dengan ekspresi ingin sekali tahu.


"Kalian tau nggak, dalam 1 bulan ini udah ada 4 pasangan yang jadian di ruang ICU ini," sahut Dr. Kenzie sambil masih tersenyum setengah tertawa. "Dan kalian pasangan yang ke 4. Bukankah peristiwa itu unik?"


Mendengar hal itu Raihan jadi tertawa juga entah kenapa. Memang peristiwa itu cukup unik. Dalam sebulan ada 4 pasang kekasih yang jadian di ruang ICU yang sama.


Sedangkan Viola sebenarnya ingin tertawa juga. Tapi luka di perutnya masih terasa perih kalau dibuat tertawa. Dia hanya bisa tersenyum saja atas peristiwa yang memang cukup unik itu.


★☆★☆


Sepeninggal Dr. Kenzie dan perawatnya Viola langsung menanyakan, siapakah perihal dokter tampan berkaca mata itu. Sepertinya Raihan amat akrab dengan dokter itu.


Maka Raihan langsung menjelaskan kalau Dr. Kenzie adalah tunangan kakaknya, Mbak Shafira. Tinggal 3 bulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.


"Aku berharap hubungan kita juga bisa nyampe hingga di pelaminan nanti ya, Mas Rai," kata Viola penuh harap.

__ADS_1


"Bahkan hingga kita tua nanti," imbuh Raihan.


"Ya, sampai kita tua nanti," kata Viola seakan lebih menegaskan.


Raihan kembali meraih jemari tangan kanan Viola yang halus. Lalu menghantar jemari itu ke bibirnya dengan perlahan, terus mengecupnya dengan penuh cinta kasih. Membuat Viola semakin jatuh cinta atas kelembutan dan kasih sayang yang diberikan Raihan itu.


"Kamu nggak usah khawatir akan hubungan kita jika ditentang oleh orang tuaku," kata Raihan meyakinkan sekaligus meneguhkan hati Viola. "Aku akan berusaha keras memperjuangkan cinta kita."


Bukan tanpa alasan Raihan bertutur demikian. Karena sebelum Dr. Kenzie keluar dari ruangan ini, dia sempat berpesan kepada Raihan dan Viola agar tetap menjaga hubungan mereka walau apapun yang terjadi.


Masalahnya, antara keluarga Pak Baskoro dengan keluarga Pak Mahendra terjadi perseteruan yang sudah cukup lama, baik itu di dalam dunia bisnis maupun di luar dunia bisnis.


"Aku juga akan berusaha agar hubungan kita tetap utuh," kata Viola juga ikut menguatkan tekad Raihan. "Karena keluarga aku pasti juga menentang hubungan kita."


"Kita sama-sama berdoa aja kalau begitu, Lala," kata Raihan menyebut nama panggil Viola.


Viola tampak mengangguk pasti sambil tersenyum penuh kebahagiaan. Kemudian dia berkata mengabarkan sesuatu yang mengejutkan.


"Mas Rai, tahu nggak, kamu adalah pacar pertama aku."


"Benarkah?" tanya Raihan seakan tidak percaya.


"Beneran," kata Viola lebih meyakinkan, "aku nggak bo'ong. Sebelumnya aku belum pernah pacaran. Kamu memang pacar pertama aku."


"Tapi...," lanjut Viola, "aku berharap kamu adalah pacar yang terakhir buat aku, Mas Rai!"


"Aku juga berharap begitu, Lala. Meski kamu bukan cinta pertamaku, tapi aku berdoa semoga kamu wanita yang terakhir buat aku."


Viola tidak mempermasalahkan dia bukan cinta pertamanya Raihan. Namun dia sudah cukup senang dan bahagia Raihan menjadikannya wanita pilihan bagi pemuda tampan tersebut.


Bahkan dia amat senang dan bahagia.


Kemudian Viola kembali teringat kalau tadi dia hendak mengutarakan suatu kejanggalan hatinya. Maka berucaplah dia mengungkapkan keheranannya itu.


"Kamu bilang padaku kalau kamu cowok miskin. Tapi kamu adalah kakaknya Marsha, otomatis kamu juga orang kaya. Apa kamu ngebohongin aku?"


"Aku nggak ada maksud ngebohongin kamu," kata Raihan berkata jujur. "Percayalah! Kamu jangan salah sangka dulu!"


"Terus... napa kamu bilang kalau kamu cowok miskin, padahal kamu orang kaya?" kata Viola masih mempermasalahkan. "Apa maksudmu sebenarnya?"


"Baiklah, aku akan jelasin semuanya padamu dari awal...."


Kemudian Raihan menjelaskan bahwa pada hakekatnya dia memanglah orang yang miskin. Dia meninggalkan rumahnya sejak usianya 7 tahun karena perbedaan prinsip antara dia dengan orang tuanya.


Dari usia bocah itu hingga dia dewasa, dia tidak pernah mendapat suplai harta dari orang tuanya. Sedari kecil dia dan Bayu sudah mulai berusaha mencari uang demi keberlangsungan hidup. Demi agar mereka tetap bersekolah.


Mereka tidak bisa mengandalkan usaha nenek mereka yang tergolong pas-pasan. Dan sepeninggal nenek mereka pun, dia dan Bayu tetap terus berusaha mencari uang sendiri agar tetap hidup.


Hingga akhirnya Shafira mengabarkan kepadanya kalau ayahnya memberikannya sebuah perusahaan secara tidak langsung.


Namun perusahaan itu adalah perusahaan miskin yang sudah hampir jatuh bangkrut karena tidak lagi mendapat suplai dari perusahaan ayahnya.


"...Tapi aku dan rekan-rekan aku akan tetap berusaha semaksimal mungkin, mengerahkan semua kemampuan kami agar perusahaan itu tidak bangkrut," kata Raihan di akhir penuturannya.


"Aku juga meminta dukunganmu agar perusahaan yang aku kelola bersama rekan-rekanku bisa selamat dari keterpurukan," lanjut Raihan meminta dukungan moril dari kekasih barunya itu.


"Kalau kayak gitu ceritanya aku pasti memaklumi keadaanmu, Mas Rai," kata Viola langsung mudah mengerti.


"Kamu tenang saja," lanjutnya, "aku pasti mendukungmu."


"Terima kasih, Lala...."


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2