Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 59 KETEGASAN RAIHAN


__ADS_3

Perlu diketahui bahwa acara perjodohan yang sedianya akan dilangsungkan di kediaman Pak Baskoro tanpa sepengetahuan Raihan maupun Bayu. Artinya Raihan tidak diberitahu kalau malam ini dia akan dijodohkan.


Lebih tidak tahu lagi bahwa ternyata gadis yang akan dijodohkan dengannya adalah Michella. Karena gadis itu tidak berterus terang kepada Raihan maupun Bayu saat mereka menanyakan, siapa pemuda yang Michella dijodohkan dengannya.


Sedangkan Raihan maupun Bayu juga tidak mau memaksa Michella mengatakan siapa pemuda yang dijodohkan dengannya.


Kalau begitu, apa sebabnya Raihan tidak diberi tahu kalau dia akan dijodohkan?


Perlu diketahui bahwa sebenarnya Raihan sudah dua kali dijodohkan oleh orang tuanya, atau lebih sang ibu, Bu Retno yang menjodohkan. Namun dua kali itu pula dia menolaknya, dengan tegas.


Dan alasan Raihan menolak perjodohan amat mendasar. Membuat ibunya tidak bisa membantah penolakan Raihan tersebut.


Itulah makanya Bu Retno tidak memberi tahu terlebih dulu kepada Raihan bahwa dia akan menjodohkan lagi putranya tersebut pada kali yang ketiga ini. Tentunya dengan gadis yang lain.


Bu Retno khawatir jika dia memberi tahu secara langsung kepada Raihan kalau dia hendak dijodohkan, takutnya Raihan akan menolak lagi.


Bu Retno cuma menyampaikan undangan kepada Raihan melalui WA agar supaya Raihan datang ke rumah induk malam ini. Perihal acara keluarga, kata Bu Retno. Dan Raihan diharuskan datang malam ini.


Adapun pada Fauzan dan istrinya, Jovanka, Shafira dan suaminya, Dr. Kenzie serta Marsha, Bu Retno juga tidak memberi tahu mereka semua. Yang tahu masalah perjodohan itu selain dia cuma suaminya, Pak Baskoro.


Sementara Pak Baskoro sebenarnya tidak terlalu mendukung perjodohan itu. Karena dia masih tidak menganggap Raihan sebagai anak kandungnya.


Namun karena orang tua perempuan yang Raihan dijodohkan dengannya adalah salah seorang pengusaha besar, maka Pak Baskoro akhirnya mendukung juga.


Pak Baskoro mendukung perjodohan itu karena dia mempunyai tujuan pribadi. Dengan perjodohan itu, maka akan terjalin kerja sama bisnis dengan calon besannya itu. Yang tentu usaha Pak Baskoro akan semakin besar.


Betapa menyedihkan lelaki tua itu. Sama sekali dia tidak memikirkan kemaslahatan anaknya itu. Yang dia pikirkan hanyalah keuntungan pribadinya.


Akan tetapi Bu Retno juga mengundang kedua anaknya yang sudah berumah tangga itu untuk datang ke rumah induk. Dengan perihal yang sama dengan undangan pada Raihan, yaitu acara keluarga.


Perlu sedikit diketahui bahwa Shafira dan Dr. Kenzie sudah menikah pada 2 bulan yang lalu. Acaranya berlangsung dengan lancar dan meriah, sesuai yang diharapkan.


Terlebih lagi Raihan dan Bayu ikut menghadiri acara pernikahan kakak mereka itu, walaupun Pak Baskoro tidak menginginkan kehadiran mereka.


Kalaulah tidak mengingat penyakit jantung istrinya, Pak Baskoro benar-benar melarang Raihan dan Bayu untuk datang.


Di samping itu juga para pengusaha sudah terlanjur mengetahui bahwa Raihan dan Bayu termasuk keluarganya. Terkhusus Raihan, tidak sedikit publik sudah tahu kalau pemuda itu adalah putranya.


★☆★☆


Singkat cerita, Raihan telah datang ke rumah induk demi memenuhi undangan yang katanya acara keluarga. Dan dia datang seorang diri, tidak ditemani oleh Bayu.


Bayu tidak ikut bersama Raihan, atau lebih tepatnya dia menolak ikut karena, di samping undangan itu adalah acara keluarga, Bayu tidak bisa meninggalkan Michella seorang diri yang jelas belum bisa beradaptasi dengan penghuni rumah.


Dan memang juga Michella tidak mau ditinggalkan oleh Bayu. Dia menginginkan agar Bayu menemaninya malam ini.


Sementara Raihan memaklumi alasan Bayu menolak ikut dengannya. Di samping itu juga Raihan memberi kesempatan pada adiknya itu untuk saling mengenal lebih jauh dengan Michella.


Karena Raihan amat berharap keduanya bisa jadian dan saling mencintai.

__ADS_1


Sekarang Raihan sudah berada di rumah induk, dan dia sudah berada di tengah-tengah keluarganya. Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga.


Di situ sudah ada Bu Retno yang duduk berdampingan dengan Pak Baskoro, dua pasangan anak mereka yang sudah menikah, serta Raihan.


Tidak ada Marsha di situ. Gadis itu lebih memilih bersama keponakannya, Berly ketimbang hadir dalam pertemuan itu. Dia bukan tidak menghargai kakaknya, Raihan. Tapi dia malas saja berada satu ruangan dengan papanya dan Fauzan, kakak pertamanya.


"Bayu kenapa nggak ikut, Rai?" tanya Bu Retno mulai membuka pembicaraan.


Entahlah, sepertinya pertanyaan itu sekedar basa-basi. Karena sejak tadi dia melihat bahwa Raihan cuma datang sendiri, tidak bersama Bayu. Sedangkan wanita tua itu tidak menanyakannya. Barulah sekarang dia tanyakan.


"Maaf, Bu, dia nggak bisa ikut," sahut Bayu bernada sopan, "karena ada kerjaan yang nggak bisa dia tinggalkan."


Jelas Raihan tidak akan mengatakan hal sebenarnya kenapa Bayu tidak ikut. Dia hanya menjawab dengan perkataan umum.


Perlu diketahui bahwa Raihan sudah bisa menganggap Bu Retno sebagai ibunya yang melahirkannya, tidak lagi menganggap seperti orang lain.


Dia berusaha memaafkan dan melupakan perbuatan ibunya di waktu dia masih kecil, yang menorehkan luka yang panjang dan dalam di hatinya.


Makanya sekarang dia memanggil Bu Retno dengan sebutan 'ibu', bukal lagi dengan panggilan 'nyonya'.


"Adik lu itu ternyata udah bisa sombong juga ya?!" celetuk Fauzan bernada sarkas dan sinis. "Pertemuan besar kayak gini udah berani dia anggap sepele."


"Tapi... kayaknya nggak penting juga dia hadir," lanjut Fauzan bernada menghina, "karena dia bukan...."


"Fauzan! Nggak ada yang nyuruh kamu bicara!" potong Bu Retno bernada tajam dan tegas. Nada bicaranya jelas menguarkan kemarahan.


Sedangkan Raihan tidak menanggapi penghinaan lelaki itu, juga tidak memandang ke arahnya. Dia cuma duduk tanang saja tanpa memandang siapa-siapa.


Sementara Pak Baskoro juga tampak diam saja. Seperti tidak ingin menanggapi ucapan anak sulungnya ataupun menambahkan. Namun saat Raihan tadi berbicara dia cuma menanggapi dengan sinis.


Adapun Jovanka, Shafira dan Dr. Kenzie tidak memberikan reaksi serius atas percakapan awal itu. Mereka tampak diam saja, dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku tahu kalau kamu dan Bayu akhir-akhir ini sangat sibuk mengurus perusahaan kamu yang sudah sukses," kata Bu Retno menanggapi jawaban Raihan tadi. "Ibu turut bahagia atas kesuksesan yang telah kamu capai...."


Tapi... sesibuk-sibuknya adikmu itu," lanjut Bu Retno, "ya... harusnya dia sempatkan juga untuk ikut dalam pertemuan seperti ini. Apalagi ini adalah pertemuan keluarga...."


"Ma..., nggak usah lah terlalu peduliin anak sialan itu," kata Fauzan bernada kesal. "Mau datang atau nggak, mama nggak usah ngurusin...."


"Lagi pula dia bukan keluarga kita," lanjut Fauzan makin menghina nada bicaranya. "Dia cuma anak hina yang nggak pantas dipeduliin...."


Ucapan Fauzan yang penuh hinaan itu jelas membuat Dr. Kenzie langsung terkejut heran, tidak menyangka kalau seorang Fauzan dapat melontarkan ucapan seperti itu.


Sedangkan Jovanka maupun Shafira cuma bisa mengelus dada mendengar ucapan lelaki muda tapi sombong itu.


Adapun Raihan....


★☆★☆


"Tuan Fauzan! Jika anda tidak bisa menjaga mulut Anda untuk tidak menghina adik saya," kata Raihan meski tenang tapi tajam, "jangan salahkan saya kalau bertindak kasar terhadap Anda!"

__ADS_1


"Kamu bisa apa, Anak Sialan?!" tantang Fauzan jelas tidak mau kalah dengan nada geram. "Apa mentang-mentang kamu udah sukses, terus mau ujuk kesombongan di depanku, gitu?"


"Dulu waktu saya masih kecil Anda hanya bisa mematahkan tangan saya," kata Raihan masih bersikap tenang. "Tapi sekarang..., saya bisa berbuat lebih daripada Anda. Saya bisa mematahkan leher Anda!"


"Kamu udah berani...."


"Sudah!" bentak Bu Retno dengan suara cukup keras. "Kalian aku undang ke sini bukan untuk bertengkar!"


"Anak brengsek itu udah berani kurang ajar sama aku, Ma," kilah Fauzan membela diri. "Seharusnya mama...."


"Diam!" bentak Bu Retno lagi. "Kalau kamu nggak bisa berhenti bicara sebelum ditanya, keluar saja kamu dari ruangan ini!"


"Ok, sebaiknya memang aku keluar aja," kata Fauzan bernada dingin campur sinis. "Mama lebih membela anak brengsek itu ketimbang aku."


"Lagi pula aku muak jika bertemu sama anak sialan ini!" lanjut Fauzan makin sinis.


Lalu dia berdiri, terus telunjuk kanannya menunjuk dengan kasar penuh penghinaan pada Raihan, terus berkata penuh ancaman.


"Awas kamu!"


Setelah itu dia melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar. Dengan membawa kemarahan yang sangat.


Sedangkan Jovanka seketika bingung, apakah tetap berada di sini atau mengikuti suaminya. Tapi, begitu Pak Baskoro menyuruhnya mengikuti suaminya, wanita itu langsung keluar setengah berlari mengejar suaminya.


Sementara Bu Retno masih menenangkan perasaannya yang sempat bergemuruh akibat pertengkaran antara kedua putranya. Sedangkan Pak Baskoro ikut membantu menenangkan istrinya.


Adapun Raihan tetap tenang di tempat duduknya. Sikap dan mimik wajahnya tidak menunjukkan reaksi apa-apa.


"Ma, sebenarnya apa sih tujuannya mama ama papa ngumpulin kita di sini?" tanya Shafira ingin to the poin saja setelah melihat Bu Retno sudah tenang. "Pasti ada maksud lain kan'?"


"Ma, sebaiknya kasih tahu aja anakmu itu," kata Pak Baskoro seperti memerintah sambil melirik pada Raihan, "apa tujuan kita mengundang dia ke sini."


Setelah meyakinkan dirinya kalau perasaannya sudah benar-benar tenan, Bu Retno mulai berkata lagi.


"Seperti yang kamu sudah ketahui kalau kedua kakakmu sudah menikah semua. Jadi..., ibu berharap kamu juga segera menikah. Apalagi usiamu sudah pantas untuk menikah."


"Nggeh, Bu," kata Raihan dengan sopan. "Nanti juga pasti saya akan menikah kalau sudah saatnya. Dan yang jelas saya akan menikah dengan wanita yang saya cintai."


Entahlah, sepertinya Raihan sudah tahu arah pembicaraan Bu Retno ke mana. Makanya dia langsung berucap seperti itu untuk membantah niat terselubung dari ucapan Bu Retno.


"Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya," kata Bu Retno seperti tahu juga maksud ucapan Raihan, "asalkan pasangannya baik. Bukan begitu, Rai?"


"Ibu bermaksud hendak menjodohkan aku lagi?" tebak Raihan langsung.


"Ya... kurang lebih seperti itu...," sahut Bu Retno dengan kalimat yang tersirat.


"Maaf, Bu," kata Raihan langsung tidak setuju. "Saya sudah punya pasangan sendiri. Aku berharap ibu nggak memaksa aku menikah dengan orang yang aku nggak cinta...."


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2