
Perjalanan waktu seakan begitu cepat bergulir. Tanpa terasa telah berlalu 6 bulan lamanya semenjak sepasang insan yang saling jatuh cinta terpisah, Viola dan Raihan.
Sepanjang waktu itu Viola maupun Raihan belum pernah saling bertemu secara langsung. Lebih tepatnya Viola seperti sengaja menghindar dari Raihan.
Bukan karena Viola berusaha untuk tidak mencintai Raihan. Bukan, bukan karena itu. Karena sejatinya Viola masih mencintai Raihan..., hingga saat ini.
Dia berusaha untuk tidak hadir dulu di hadapan Raihan agar kesannya mereka memang benar-benar sudah berpisah atau putus hubungan.
Bagaimana kalau benar-benar berpisah ya? Baru tahu rasa gadis itu!
Sesekali Viola hanya memantau Raihan dari jauh kalau dia kangen. Sekaligus juga ngepoin kalau Raihan sudah punya pacar baru atau belum. Tapi nyatanya hingga 6 bulan ini Viola belum melihat Raihan mempunyai pasangan baru.
Apakah Raihan masih mengharapkan kembali kepadanya? Semoga saja, harap Viola.
Untuk mengisi kesibukannya agar tidak memikirkan Raihan terus, selain kuliah, Viola membantu kakaknya, Miko mengelola restoran milik Miko.
Kebetulan memang Viola jago dalam masak memasak. Apalagi sekarang ini keahliannya sudah setingkat dengan chef. Hanya belum dapat sertifikat saja. Tapi memang dasarnya Viola ini adalah gadis yang pintar.
Sedangkan Raihan, apakah dia benar-benar sudah melupakan Viola?
Karena dalam 6 bulan ini dia memang sama sekali belum bertemu dengan Viola lagi. Terlepas dia tahu Viola sengaja menghindar atau tidak, Raihan seolah tidak lagi berusaha mencari tahu keadaan Viola. Seperti sengaja melupakan.
Apakah begitu?
Pemuda itu terus saja sibuk mengurus perusahaannya bersama adik sepupunya, Bayu. Hingga dalam hitungan 1 tahun Raihan menghandle PT. Buana Persada, perusahaan itu telah mencapai kesuksesan yang gemilang.
Perusahaan itu bukan saja tidak lagi tergolong perusahaan miskin, bahkan PT. Buana Persada sudah masuk dalam golongan perusahaan besar.
Nama Raihan sudah cukup dikenal di kalangan para pengusaha besar. Dan sudah beberapa investor gede menanam saham di perusahaan Raihan, tanpa ragu.
Sungguh suatu pencapaian yang benar-benar fantastis dan spektakuler!
Dan pencapaian yang gemilang ini benar-benar membuat Pak Baskoro maupun Pak Mahendra tercengang bukan main. Mereka tidak menyangka bahwa Raihan dapat meraih kesuksesan dalam berbisnis dengan cepat.
Padahal kedua pengusaha besar itu tadinya meremehkan kemampuan Raihan dalam mengelola perusahaan. Mereka meremehkan kemampuan Raihan dalam bersaing dengan para pengusaha besar.
Apalagi Pak Baskoro yang seperti yakin kalau Raihan tidak bakalan sukses mengelola perusahaannya itu. Karena itu ditinggalkan dalam keadaan miskin.
Namun nyatanya Raihan mampu mematahkan anggapan negatif mereka terhadap Raihan. Nyatanya Raihan dapat meraih kesuksesan, bahkan dalam waktu yang singkat.
Maka, tidak bisa tidak Pak Mahendra maupun Pak Baskoro harus mengakui kehebatan dan kepiawaian Raihan dalam dunia bisnis.
Karena kalau mereka masih menganggap Raihan sebelah mata, mereka akan rugi sendiri. Bisa-bisa mereka kalah bersaing dalam merebut pasaran.
Maka mau tidak mau mereka harus memperhitungkan keberadaan Raihan dalam dunia bisnis.
Di samping itu Raihan mulai merintis usaha restoran, dan sudah berjalan selama 3 bulan ini. Adapun yang mengelola restoran itu, Raihan percayakan kepada kedua saudara perempuannya.
Yaitu Shafira yang bertindak sebagai CEO, dan Aira yang bertindak sebagai wakil sekaligus asistennya. Dan hal itu memang sesuai dengan bidang mereka.
Bagaimanakah dengan Marsha?
__ADS_1
Gadis cantik itu ternyata ikut andil juga dalam usaha restoran Raihan. Dia yang ternyata sekarang sudah jago dalam hal masak memasak menjadi salah satu chef di restoran itu. Sembari dia masih kuliah juga tentunya.
★☆★☆
Seorang gadis cantik berjalan cukup cepat setengah berlari menyusuri jalan yang agak ramai di sore itu. Sesekali dia menoleh ke belakang seperti takut yang mengejarnya melihat dirinya. Wajahnya yang cantik sudah berselimut kecemasan yang sangat.
Seketika dia berhenti di belakang sebuah mobil sedan yang parkir di depan sebuah mini market.
"Aduh...! Di mana gue harus sembunyi nih?" keluhnya di tengah napasnya yang sedikit tersengal karena letih.
Beberapa kejap kemudian, gadis cantik itu seketika berbalik ke belakang, dan terus menuju ke sebelah kanan mobil sedan itu.
Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu, dia langsung menarik handel pintu mobil bagian belakang dan ternyata terbuka. Maka tanpa banyak pikir dia langsung masuk ke dalam mobil, dan terus duduk meringkuk di jok belakang.
Tentu saja aksinya itu dilihat abang parkir yang menjaga mini market itu. Langsung saja si abang parkir melangkah cepat menghampiri mobil yang dijaganya itu.
Begitu sampai di tentangan pintu belakang itu, si abang parkir langsung menarik handle pintu mobil itu hingga terbuka. Membuat gadis cantik itu memekik terkejut bukan main.
"Neng, napa naik di mobil orang?" tegur abang parkir setengah marah. "Turun, Neng!"
"Sorry, Bang! Saya lagi dikejar-kejar preman," kata si gadis meminta pengertian abang parkir dengan wajah memelas. "Biar saya sembunyi di sini sebentar ya, Bang. Tolong ya!"
"Bukan aye nggak mau nolong, Neng," kata abang parkir seperti serba salah. "Tapi ini mobil orang. Gimana nanti tanggung jawab aye ama yang punya mobil? Kalau ada ape-ape, aye yang kena, Neng."
"Abang tenang aja, saya yang tanggung jawab kalau mobil ini ada apa-apanya," kata gadis itu masih memohon. "Biar saya sembunyi dulu di sini sebentar aja. Saya nggak ngapa-ngapain kok, Bang."
"Gimana ya, Neng?" kata abang parkir meragu. "Aye nggak ada hak ngebiarin Neng sembunyi di dini...."
"Tolong, Bang! Yang ngejar saya udah dekat ke mari," kata gadis cantik itu cepat. "Biarin saya sembunyi sebentar ya, Bang!"
Belum kering nada suara si gadis, dia langsung menutup pintu kembali dengan cepat. Membuat si abang parkir harus menghindar dengan cepat pula kalau tidak ingin terjepit pintu.
Tidak lama kemudian, dua lelaki kekar yang dilihat si gadis telah sampai di depan mini market, tidak jauh di belakang mobil sedan yang gadis cantik tadi masuk tanpa izin.
Sementara si abang parkir masih berada di situ, berdiri bersandar di belakang mobil sedan itu. Kedua matanya memandang sekilas 2 lelaki kekar di depannya itu. Lalu memandang ke arah lain.
Tapi tak lama kedua lelaki kekar itu segera menghampiri abang parkir itu dengan cepat. Lalu salah seorang bertanya padanya dengan kasar sambil melototkan matanya yang sangar.
"Heh lu! Lihat nggak cewek cantik dan masih muda lewat sini?"
"Ma... maaf, Bang! Ce... cewek yang mana?" kata abang parkir langsung mengkeret ketakutan. "Ya... yang lewat sini... banyak."
Walau kesal dan marah lelaki kekar itu menyebutkan juga ciri-ciri orang yang mereka cari. Dari ciri-ciri yang disebutkan lelaki kekar itu, jelas orang yang dimaksud adalah gadis cantik yang ada di dalam mobil itu.
Sejenak si abang parkir tertegun setelah mendengar lelaki kekar itu menyebut ciri-ciri orang yang dicari. Apakah dia berterus terang saja? Tapi bagaimana kalau kedua lelaki ini memang berniat jahat kepada gadis itu?
★☆★☆
"Heh, Njing! Lu lihat nggak?" bentak lelaki kekar itu berang sambil menarik kerah baju abang parkir dengan kasar.
"Ng... nggak, Bang...," abang parkir makin ketakutan dibentak dan dipelototi demikian. "Aye... nggak lihat, Bang...."
__ADS_1
"Lu nggak bo'ong hah?" bentak lelaki kekar itu lagi.
"Nggak, Bang..., nggak, Bang...! Sumpah!"
"Kayaknya emang kunyuk ini nggak lihat," kata temannya seperti percaya keterangan abang parkir. "Ayo kita lanjutin cari Nona Michella! Nanti keburu malam."
Setelah mendorong abang parkir dengan kasar dan agak kuat, lelaki itu melangkah cepat mengikuti temannya meninggalkan parkiran mini market itu.
Meninggalkan abang parkir yang tidak sampai kenapa-napa. Dia cuma kaget ketakutan saja, dan wajah wajahnya masih pucat. Sedangkan kedua matanya yang masih ketakutan terus memandang punggung kedua lelaki kekar dan kasar tadi.
Dia takut bukan sekedar bentakan kasar lelaki tadi. Tapi dia takut apabila kedua lelaki kekar itu sampai tahu kalau dia berbohong. Masalahnya orang atau gadis cantik yang mereka cari ada di dalam mobil.
Sedang gadis cantik yang ternyata bernama Michella memberanikan diri menyembulkan sedikit kepalanya, memandang kepergian kedua lelaki yang mencarinya.
Setelah kedua lelaki kekar itu hilang dari pandangan, Michella bersiap-siap hendak keluar. Dia harus berterima kasih pada abang parkir, karena rela berbohong demi menyelamatkan dirinya.
Setelah itu dia pergi dari sini dengan cepat. Tapi dia bingung hendak ke mana?
Selagi Michella bingung, telinganya mendengar obrolan abang parkir dengan seseorang yang sepertinya pemilik mobil. Akhirnya dia urung untuk keluar. Tapi dia mengintip siapa orangnya yang berbicara dengan abang parkir.
"Bang, aye minta maaf, Bang," kata abang parkir dengan mimik penuh rasa bersalah dan tulus minta maaf.
"Loh, minta maaf kenapa?" tanya seorang pemuda tampan yang ternyata Bayu sambil mengeluarkan selembar uang dari dompetnya.
Dia saat ini sudah berada di dekat pintu depan mobilnya. Sementara di tangan kirinya terpegang sebuah kresek yang berisi belanjaannya.
Michella mendengar suara pemuda yang tidak dikenalnya itu. Nadanya agak dingin tapi terkesan angkuh dan tidak meremehkan lawan bicaranya.
"Ada cewek cakep masuk ke mobil Abang," kata abang parkir melapor dengan mimik ketakutan. "Aye belum sempat melarang, dia udah masuk duluan."
"Lu udah nanya kenapa dia masuk mobil gue?" tanya Bayu dengan mode dinginnya tapi tidak angkuh.
Tanpa diminta 2 kali abang parkir langsung menceritakan kenapa sampai Michella masuk ke dalam mobil Bayu. Sambil bercerita abang parkir masih diselimuti ketakutan. Takut kalau Bayu marah padanya karena keteledorannya.
"Nggak usah takut kayak gitu!" kata Bayu bernada tenang dan santai sambil menyodorkan selembar uang biru ke abang parkir. "Santai aja!"
"Abang lihat dulu cewek itu!" kata abang parkir belum bersedia menerima uang parkiran. "Kali aja dia udah ngapa-ngapain di dalam."
"Jangan lekas curiga pada orang kalau belum jelas dia siapa!" kata Bayu terus menyodorkan uang Rp. 50.000,- itu. "Ni terima dulu uang parkirannya!"
Abang parkir terpaksa menerima uang itu dengan takut-takut. Lalu dia hendak mengembalikan uang kembalian setelah diambil ongkos parkiran. Tapi....
"Nggak usah dibalikin!" larang Bayu sambil tangan kanannya bergerak hendak membuka pintu belakang.
"Ni terlalu banyak, Bang," protes abang parkir.
Tapi Bayu tidak menghiraukan ucapan abang parkir. Dia terus saja menggerakkan tangannya. Dan begitu jemari tangan kanannya sampai di handle pintu, lalu dia menarik pintu belakang sebelah kanan itu dengan agak cepat.
Maka....
★☆★☆
__ADS_1