
"Maafkan aku... selama ini nggak menjadi kakak yang baik buat kamu...."
Tidak bisa tidak Viola kembali menatap kakak laki-lakinya lekat-lekat. Tentu saja dia terkejut kakaknya meminta maaf padanya dengan ringan tanpa beban.
Viola merasa ucapan Miko itu begitu tulus. Tapi juga sekaligus mengandung penyesalan. Menyesal atas apa yang selama ini dia perbuat kepada Viola.
Kesambet apa orang ini, kok tiba-tiba baik padanya? Pake minta maaf segala. Seperti menyesal atas apa yang dia perbuat selama ini.
"Ka... kamu sehat 'kan?" tanya Viola masih heran, seperti curiga. "Nggak lagi sakit 'kan?"
"Apa maksud omonganmu?" Miko malah bertanya seolah tidak mengerti, tanpa menoleh pada Viola yang masih menatapnya.
"Kamu tiba-tiba minta maaf gitu...," sahut Viola menerangkan, "kayak nyesal gitu.... 'Kan aneh?"
"Aku 'kan udah bilang tadi pingin berubah?" sahut Miko sambil cuma sedikit menoleh sebentar. "Nggak boleh?"
Viola kembali menoleh ke depan, kembali memandang berlaksa-laksa bintang yang berkerlap-kerlip di langit. Lalu berkata.
"Ya... nggak papa sih.... Cuman... aku heran aja, kayak aneh gitu...."
Miko menoleh dan menghadapkan sedikit badannya pada Viola, lalu berkata dengan tulus dan jujur, tanpa ada tendensi apapun.
"Mulai sekarang aku ingin jadi kakak yang baik buat kamu. Aku janji akan menyayangimu dan menjagamu. Kamu setuju nggak? Kamu senang nggak?"
Viola kembali menolehkan kepalanya ke Miko, bahkan menghadapkan sedikit badannya pada pemuda tersebut. Menatapnya lekat-lekat lagi. Merasakan tatapan Miko yang begitu lembut penuh kasih sayang dan senyuman yang benar-benar tulus.
Keharuan langsung menyeruak dalam perasaan Viola. Tanpa terasa air mata haru bercampur bahagia bergulir kembali di pipi halus mulusnya.
Sungguh dia tidak menyangka kakaknya yang dulu begitu membencinya, kini berubah menjadi baik padanya. Berjanji akan menyayanginya dan menjaganya. Betapa hatinya tidak menjadi senang kalau begitu?
"Eeeh..., malah nangis!" kata Miko seakan menegur tapi bernada lembut sambil mengelap air mata Viola dengan kedua jari jempolnya. "Mau nggak jadiin aku kakakmu yang baik?"
"Ma... mau... mau, Kak," sahut Viola sambil mengangguk dengan antusias.
Senyum bahagia juga langsung terukir dibibir legitnya di tengah derai air matanya. Dan untuk pertama kalinya pula Viola memanggil kakak pada Miko.
Dan tanpa menahan lagi Viola langsung memeluk Miko dengan erat tapi lembut. Pelukan hangat seorang adik kepada seorang kakak.
__ADS_1
Sedangkan Miko juga membalas memeluk Viola dengan lembut penuh kasih sayang. Mengecup lembut ujung kepala gadis itu. Dia telah berjanji pada dirinya bahwa akan menyayangi dan melindungi adiknya itu.
Tak lama, setelah cukup lama saling berpelukan, Miko dengan perlahan melepas pelukan mereka. Kemudian memegang kedua pundak Viola dengan lembut, lalu berkata dengan penuh ketulusan.
"Mulai sekarang kamu harus bahagia, jangan pernah sedih-sedih lagi. Ada kakakmu yang bakal ngebuat kamu bahagia dan peduli ama perasaan kamu. Ngejaga kamu dari orang-orang yang ngebuat kamu nggak bahagia...."
"Kalau kamu pingin curhat, sekarang ada kakakmu yang bakal dengerin curhatanmu," lanjut Miko terus tersenyum lembut kepada Viola, si bungsu.
"Ya... kamu benar, Kak, aku harus bahagia dan nggak boleh bersedih lagi," kata Viola dengan nada penuh semangat hidup.
"Harus semangat jalanin hidup," kata Miko seakan menuntun.
"Harus semangat...."
★☆★☆
Sementara itu waktu semakin bergulir, malam semakin merangkak naik. Namun Miko dan Viola masih saja betah berada di taman kecil di belakang rumah mereka sambil saling curhat tentang perasaan mereka.
"Kamu masih cinta sama Raihan 'kan?" tanya Miko.
"Yaaah..., aku nggak bisa mungkir kalau aku masih cinta ama Mas Rai," kata Viola bernada mendesah. "Aku minta putus ama dia tempo hari, itu terpaksa sekali."
"Makasih, Kak," kata Viola dengan tulus. "Tapi... kayaknya jangan sekarang.... Nanti aja."
"Ya itu terserah kamu," kata Miko tidak memaksa. "Tapi asal kamu tahu aku ngedukung kamu sama Raihan. Kapan pun kamu minta bantuanku agar kamu bisa bertemu sama dia, aku siap."
Viola makin tersenyum ceria mendengar kesungguhan kakaknya dalam mendukung hubungan cintanya dengan Raihan. Kini wajahnya tidak lagi bersedih, bahkan sekarang berseri-seri.
"Asal kamu tahu, aku juga sebenarnya bernasib sama dengan kamu," kata Miko mulai membuka kisah masa lalunya.
"Maksudnya... kakak pernah jatuh cinta sama seorang cewek?" tebak Viola.
"Ya..., aku pernah jatuh cinta pada seorang cewek yang baik," sahut Miko sambil tersenyum karena mengenang kembali kisah cintanya dengan Aira, putrinya Pak Sudrajat.
"Bukan Melinda 'kan?" kata Viola semoga salah.
"Bukan... bukan dia," ucap Miko sedikit menggeram mana kala mengingat gadis jahat itu. "Aku nggak pernah cinta sama dia, dan dia juga nggak pernah cinta sama aku...."
__ADS_1
"Tapi nggak penting ngebahas cewek jahat yang sudah mati itu," lanjut Miko tidak ingin terlalu panjang membahas Melinda.
"Jadi siapa ceweknya yang kakak pernah jatuh cinta sama dia?" tanya Viola seakan tidak sabaran ingin tahu.
"Pasti kamu udah kenal sama Aira Indriani 'kan?"
"Iya, aku kenal ama Mbak Aira, adik sepupunya Mas Rai," sahut Viola sudah siap-siap terkejut. "Jadi, Mbak Aira yang kakak pernah cintai?"
"Ya, dialah orangnya," sahut Miko mengungkapkan. "Kami pernah pacaran, dan kami saling mencintai waktu itu...."
"Tapi... hubungan kami kandas setelah terjadi perseteruan antara keluarga kita dengan keluarga Pak Baskoro," kata Miko mengenang kembali peristiwa itu, "seperti yang kamu udah ketahui masalahnya kayak apa."
"Sampe sekarang, kakak masih cinta nggak sama Mbak Aira?" tanya Viola ingin tahu banget.
"Ya jelas aku masih cinta sama dia," ungkap Miko jujur mengakui.
"Eh, aku boleh nanya nggak sama kamu?" tanya Miko sambil menoleh pada Viola.
"Nanya apa, Kak?"
"Apa kamu tahu kalau Aira udah punya pacar?" tanya Miko sambil dalam pikirannya terlintas Bayu.
"Setahu aku nggak tuh," sahut Viola setelah tercenung beberapa saat. "Tapi... Mbah Aira berusaha ngedekatin Mas Bay. Sedangkan Mas Bay nggak merespon. Mas Bay cuma ngenganggap Mbak Aira sebagai adik. Nggak mau lebih dari itu...."
"Syukurlah...," kata Miko tersenyum gembira.
"Kakak mau balikan lagi ama Mbak Aira?" tanya Viola sambil tersenyum menggoda.
"Pinginnya sih...."
"Gimana kalau Mbak Aira udah nggak mau balikan ama kakak? Gimana kalau Mbak Aira nggak cinta lagi ama kamu, kak?"
"Ah..., itu urusan nanti aja. Yang penting asal kamu tahu kalau masih cinta sama Aira. Seenggaknya aku udah curhatin tentang perasaan aku sama kamu yang mau ngedengarin."
"Tenang aja, Kak. Aku ngedukung kok kalau kamu ama Mbak Aira. Dia emang cewek yang lembut dan baik."
Kedua kakak beradik itu terus saja saling ngobrol seakan lupa kalau malam semakin larut.
__ADS_1
★☆★☆★