Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 28 MALAM NAHAS VIOLA


__ADS_3

Seumur hidup Viola belum pernah merasakan yang namanya berpacaran. Meskipun sejak kecil dia sering bermain dengan laki-laki, tapi tak ada satu pun dari mereka yang menyukainya, terus mengajaknya berpacaran.


Masalahnya, rata-rata mereka menganggapnya laki-laki meskipun berwajah cantik. Seakan-seakan mereka beranggapan kalau dia itu tidak pantas untuk dipacari, pantasnya dijadikan teman untuk nongkrong saja.


Tapi Viola tak terlalu menghiraukannya. Tidak berpacaran di usia dini malah membuatnya merasa aman. Setidaknya dia terhindar dari cowok yang bisanya cuma gombal dan merayu, tapi tidak serius dalam menjalin hubungan.


Dulu, dia sempat heran terhadap dirinya, kenapa tidak bisa menyukai laki-laki? Apakah dia mempunyai kelainan? Artinya menyukai sesama jenis ketimbang lawan jenis?


Namun, bersamaan dengan itu juga dia malah risih jika berteman dengan perempuan, apalagi menyukai mereka segala. Apalagi terhadap cewek yang berpenampilan feminim, dia merasa jijik jika melihatnya.


Akan tetapi ketika dia sudah beranjak dewasa, dia baru tahu kalau dia tidak memiliki kelainan. Nyatanya dia juga menyukai laki-laki, beberapa orang.


Tapi dia cuma sekedar suka saja beberapa orang itu. Tidak sampai membuatnya jatuh cinta, entah karena apa? Yang intinya Viola sama sekali belum pernah jatuh cinta kepada seorang lelaki, sebelumnya....


Namun....


Sejak berkenalan dengan Raihan, Viola merasakan sesuatu yang beda dalam hidupnya. Sesuatu itu begitu amat membahagiakannya, suatu perasaan yang indah sebagaimana yang dirasakan oleh seorang wanita terhadap lelaki.


Dia telah menyukai Raihan....


Dia bukan saja sekedar suka pada Raihan, bahkan sudah ada benih cinta yang bersemai di dalam hatinya terhadap pemuda tampan itu.


Akan tetapi sialnya dia belum berani menyatakan perasaannya itu kepada Raihan. Jangankan mengungkapkan kalau dia mulai mencintai Raihan, mengatakan kalau dia suka sama pemuda itu saja belum berani.


Di samping itu juga dia belum punya pengalaman menyatakan cinta kepada seorang cowok. Bagaimana caranya jelas dia masih bingung.


Di sisi lain dia juga teringat akan sahabatnya, Marsha.


Meski Marsha telah mengatakan kepadanya kalau dia hanya menganggap Raihan sebagai kakak, tidak akan lebih dari perasaan itu, namun hati orang siapa yang tahu. Siapa tahu Marsha juga menyukai Raihan.


Marsha menganggap Raihan sebagai kakaknya siapa tahu itu cuma sebagai pengalihan perhatian. Padahal sesungguhnya Marsha juga menyukai Raihan.


Mengingat akan hal itu, Viola makin bingung untuk menyatakan perasaannya kepada Raihan. Dia menyukai Raihan, tapi dia juga menyayangi sahabatnya itu.


Marsha sudah begitu baik kepadanya. Mau menerima pertemanan dengan dirinya tanpa memandang akan keadaan dirinya yang tomboy akut.


Akankah dia harus berebut cinta dengan sahabatnya itu?


Viola menganggap pemuda yang baik hati seperti Raihan itu amat susah didapatkan. Kalau dia tidak merebut cinta Raihan, dan membiarkan Marsha yang mendapatkan Raihan, akankah dia akan mendapatkan pemuda yang baik hati seperti Raihan?


Perlu diketahui bahwa Viola belum mengetahui perkembangan terbaru. Dia belum mengetahui kalau Raihan adalah benar-benar kakaknya Marsha yang selama ini dia cari.


Meski mereka bertemu di kampus atau jalan bareng, tapi Marsha rupanya belum memberi tahu kepada Viola kalau Raihan adalah kakak kandungnya sungguhan. Bukan hanya menganggap sebagai kakak.


Loh kenapa bisa demikian?


Hal itu tidak lain disebabkan karena Raihan melarang agar Marsha jangan dulu memberitahukannya kepada Viola. Raihan mengatakan bahwa biar dia sendiri yang akan memberitahukannya kepada Viola.


Sedangkan Marsha, meskipun merasa heran tapi dia manut saja apa yang diperintahkan oleh kakaknya.


★☆★☆


Malam ini tampaknya Viola kepingin sendiri. Berjalan-jalan menikmati udara malam seorang diri, tanpa Marsha menemani. Dia cuma berjalan kaki, tanpa memakai mobilnya.


Keluar dari apartemennya dengan cuma berjalan kaki sudah merupakan hal yang biasa dilakukan oleh Viola. Dia lebih senang dan merasa lebih leluasa bergerak dan bisa melihat apa saja dengan berjalan kaki.

__ADS_1


Lain halnya jika memakai mobil, dia seperti tidak bebas melihat-lihat pemandangan kota di malam hari.


Makanya itu dia lebih memilih berjalan kaki. Lagi pula dia keluar tidak terlalu jauh dari apartemennya. Itu juga kalau tidak jalan bersama Marsha.


Lagi pula dia tidak perlu cemas atau takut jika berjalan kaki seorang diri karena dia cukup menguasai beberapa ilmu bela diri.


Setelah bosan berjalan di tengah suasana hingar-bingar Kota Jakarta, Viola kini berjalan menyusuri sebuah jalan yang terbilang sunyi. Jalan itu menyerupai sebuah gang yang agak luas.


Ketika berjalan yang entah sudah berapa meter, tiba-tiba dari sebuah lorong kecil di depan sebelah kirinya keluar 7 orang lelaki bertampang sangar.


Tujuh lelaki itu seperti sengaja menunggu Viola di mulut lorong itu. Karena begitu melihat Viola sudah dekat, mereka langsung keluar dan melangkah cepat menuju Viola.


Awalnya Viola tidak menggubris kehadiran 7 lelaki bengis itu. Dia terus saja berjalan seakan tidak melihat mereka. Tapi lirikan matanya terus memantau pergerakan ketujuh lelaki bengis itu yang makin mendekat ke arahnya.


"Berhenti!"


Seketika terdengar bentakan cukup keras dari lelaki yang berjalan paling depan ketika Viola sudah berada cukup dekat dengannya. Yaitu berjarak sekitar 2-3 meter.


Dengan terpaksa Viola yang saat ini berpakaian model laki-laki berhenti. Namun sama sekali tidak ada rasa takut atau ngeri terhadap ketujuh lelaki yang tampaknya sekumpulan preman kota.


Sejenak dia mengamati secara cermat tampang ketujuh lelaki bengis itu. Dia merasa baru melihat mereka, sebelumnya belum pernah.


Tapi modus mereka kurang lebih sama dengan preman-preman lainnya, yaitu ingin memalaknya. Baik sukarela atau terpaksa.


Kalau sukarela menyerahkan barang yang mereka minta, Viola akan dibiarkan pergi dengan aman. Kalau Viola melawan, mereka akan membuatnya babak belur dulu, baru dibiarkan pergi.


"Serahkan semua isi yang ada dalam tas lu itu!" kata lelaki yang berdiri paling depan tanpa basa-basi.


Tampang lelaki itu makin menyeramkan karena ada bekas codet cukup panjang yang melintang dari alis kirinya hingga ke pipi kanannya.


"Apa lu mau mati di sini hah?!" bentak lelaki bercodet itu berang.


"Kalian pikir gue takut ama kalian?" kata Viola makin berani. "Kalian maju barengan pun gue jabanin!"


"Brengsek! Rupanya lu lebih sayang barang daripada nyawa!"


Setelah memaki cukup keras, lelaki bercodet panjang seketika mengibas tangan kanan ke depan.


Maka tanpa menunggu 2x keenam anak buahnya segera bergerak mengepung Viola dari segala penjuru. Lalu masing-masing mereka segera mengambil kuda-kuda dan siap untuk menyerang secara bersama-sama.


Namun lagi-lagi gadis tomboy itu tidak merasa takut. Dengan tidak mau kalah, setelah memperbaiki posisi tas belakangnya, dia juga segera memasang kuda-kuda yang mantap, siap untung bertarung.


"Serang!" seru sang boss memerintah.


Mendengar perintah penyerangan, keenam lelaki bengis itu langsung serentak menyerang Viola dengan cepat dan ganas.


★☆★☆


Akan tetapi Viola yang sudah siap, menyongsong serangan keenam lelaki bengis itu dengan tidak kalah cepatnya.


Dia harus bergerak lebih cepat dari semua lawannya kalau tidak ingin terkena serangan. Bayangkan saja Viola diserang dari 6 jurusan. Kalau dia tidak menguasai ilmu bela diri, sudah sejak awal dia terkena serangan lawan.


Pasalnya, ternyata keenam lelaki bertampang garang itu rata-rata memiliki ilmu bela diri. Meski mereka belum terlalu menguasai ilmu bela diri mereka, namun tetap saja cukup merepotkan Viola di awal-awal pertarungan.


Sementara itu si lelaki bercodet, sang boss tetap berdiri di tempatnya sambil terus menyaksikan pertarungan. Dia merasa belum saatnya terjun di medan pertarungan. Dia begitu optimis 6 anak buahnya dapat meringkus Viola.

__ADS_1


Akan tetapi dugaan sang boss kurang tepat. Begitu pertarungan sudah berlangsung lebih dari 5 menit, 2 orang di antara pengeroyok Viola terjajar ke belakang akibat terkena tendangan dan pukulan keras dari Viola.


Tidak lama kemudian, menyusul lagi seorang terjajar ke belakang akibat dadanya terhantam tendangan Viola yang begitu kuat.


Lalu, belum lama kakinya turun, kaki yang satu kembali melayang naik menghantam wajah lawan yang ada di belakangnya dengan kuat pula. Sehingga membuat sang lawan terjajar ke belakang menyusul kawan-kawannya.


Kemudian, tanpa menghiraukan nasib lawan-lawannya, Viola kembali bergerak cepat ke samping kanan. Lalu melayangkan 2 tinjunya sekaligus dan menghantam dada lawan kiri kanan dengan kuat.


Bughk! Bughk!


"Akh...!"


Demikian kuatnya 2 pukulan itu bersarang di sasaran, membuat lelaki itu ikut terjajar ke belakang pula.


Sedangkan sang boss, melihat kenyataan yang berlangsung di depannya, bukan main terkejutnya dia. Lelaki bercodet itu tidak menyangka kalau semua anak buahnya dengan mudah dipecundangi oleh pemuda tampan itu.


Ya, sang boss mengira Viola adalah lelaki, karena penampilannya memang persis laki-laki. Apalagi rambutnya yang sudah panjang dibungkus semua di dalam topinya.


Setelah memaki lagi, dia kembali memerintahkan semua anak buahnya untuk menyerang kembali. Dan kali ini juga dia ikut menyerang.


Maka tak lama kemudian, pertarungan kembali berlangsung yang kali ini sang boss ikut terjun dalam pertarungan.


Dan dengan turunnya sang boss dalam pertarungan, membuat Viola tidak mudah lagi menghajar semua lawannya dengan mudah. Meskipun juga sang boss dan 6 anak buahnya tidak mudah juga menumbangkannya.


Hingga akhirnya sang boss mengeluarkan pisaunya dari balik jaket kulitnya.


Awalnya dia tidak segera menyerang Viola dengan pisaunya itu. Dia biarkan dulu Viola sibuk saling serangan dengan karena anak buahnya. Dia menunggu waktu yang tepat untuk menusukkan pisaunya ke sasaran.


Hingga suatu ketika, Viola menghantam 3 anak buahnya, sang boss bersiap untuk menyerang dengan pisaunya. Begitu Viola meninju muka anak buahnya yang lain, dengan cepat sang boss bergerak. Lalu....


Craaasss!


"Aaa...!"


Pisau sang boss dengan kuat menusuk lambung kiri Viola hingga menembus cukup dalam. Membuat Viola menjerit cukup keras. Dan begitu sang boss menarik pisaunya itu, Viola langsung limbung ke belakang 3 langkah sambil membekap luka tusukan itu dengan tangan kirinya.


Sedangkan sang boss rupanya tidak berhenti menyerang. Selepas menarik kembali pisaunya dari tubuh Viola, lalu kaki kananya melayang dengan cepat, mendupak dada Viola dengan kuat.


Dughk!


"Akh...!"


Demikian kuat dan kerasnya tendangan sang boss, membuat Viola terlempar ke belakang sambil kembali menjerit tertahan. Lalu tubuhnya jatuh bergedebuk di jalan gang itu.


Namun Viola belum pingsan, masih tersadar. Dengan susah payah dia bangkit terduduk. Tangan kirinya terus saja membekap luka tusuk di lambung kirinya itu. Namun darah segar terus saja mengalir keluar.


Sementara ketujuh lelaki bertampang beringas itu sepertinya ingin lekas-lekas menghabis Viola. Dengan langkah cepat mereka menghampiri Viola.


Namun Viola tampaknya sudah kepayahan. Darah yang cukup banyak keluar sudah membuat tubuhnya lemas. Pandangan matanya sudah nanar.


Dan ketujuh lelaki bengis itu sebentar lagi akan sampai di depannya. Itu artinya sebentar lagi nyawanya akan melayang. Namun....


"Berhenti...!"


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2