
Untuk yang kedua kalinya Raihan dan Shafira mengadakan rapat tertutup, setelah dua bulan lebih lamanya Raihan memulai menjalankan perusahaannya. Tentu rapat itu juga dihadiri oleh Bayu dan Aira.
Sementara tempat diadakannya rapat sama seperti rapat pertama, yaitu di ruangan Direktur Utama. Dan waktu pelaksanannya setelah jam pulang kerja.
Hadir juga dalam rapat itu Direktur Keuangan, Bu Mega; General Manajer, Pak Burhan; serta Manajer Personalia, Pak Handoko. Tiga orang ini merupakan orang-orang yang paling Shafira percaya di antara seluruh karyawan.
Sedangkan Raihan sudah memeriksa semua riwayat karyawan dan telah memantau kinerja mereka. Dan dia mendapati bahwa ada beberapa orang yang memiliki riwayat kerja yang bersih selama bekerja di PT. Buana Persada ini. Tiga orang itu termasuk.
Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa kinerja dan prestasi kerja mereka memuaskan. Di samping itu pula mereka memiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata. Ini yang Raihan suka.
Awalnya, 3 orang penting perusahaan itu tidak merasa heran melihat peserta rapat yang hadir, yaitu mereka dan orang paling penting perusahaan serta asistennya.
Sampai pun Raihan dan Bayu masuk membawa minuman dan camilan, mereka masih anteng-anteng saja.
Namun begitu Raihan dan Bayu duduk di kursi yang sudah disiapkan untuk mereka, ketiga orang itu serta merta memandang Raihan dan Bayu dengan terkejut heran bercampur rasa aneh.
Mau apa 2 karyawan OB itu ikut hadir dalam rapat khusus yang pasti rahasia ini? Apa mereka juga diundang oleh Bu Shafira sebagai peserta rapat?
Berbagai macam pertanyaan bergelayut di dalam benak ketiga orang penting perusahaan itu tentang hadirnya Raihan dan Bayu dalam rapat khusus ini.
Namun karena mereka orang yang baik hati, ramah dan sopan kepada siapa pun. Meski itu kepada karyawan rendahan sekalipun, termasuk kepada Raihan dan Bayu.
Hanya saja jelas mereka merasa aneh, 2 karyawan OB ikut dalam rapat khusus meskipun mereka berasumsi kalau keduanya mesti diundang oleh Shafira.
Kalau begitu siapakah kedua pemuda yang berstatus karyawan OB itu? Apakah mereka dua orang penting dalam PT. Buana Persada ini juga?
"Maaf, Bu Direktur, apakah ibu mengundang 2 karyawan OB ikut rapat juga?" tanya Pak Handoko penasaran. Tapi tetap menjaga sikap dan attitudenya.
"Bahkan Pak Raihan ini yang mengundang kita untuk mengadakan rapat," kata Shafira sambil tersenyum kecil.
"Pak Raihan?" desis ketiga orang itu dalam kejut mereka.
Tentu saja mereka terkejut heran, Shafira memanggil 'pak' pada Raihan yang cuma seorang OB. Padahal yang mereka tahu umur Shafira tentu lebih tua dari Raihan ini.
Mereka saja memanggil Shafira dengan sebutan 'bu'. Padahal umur mereka lebih tua dari Shafira. Hal itu dikarenakan Shafira adalah Direktur Utama di perusahaan ini yang mereka harus berlaku hormat kepadanya.
Kalau begitu siapakah Raihan ini yang Shafira memanggil 'pak' segala?
Sementara Raihan, mendapat tatapan ketiga orang penting perusahaan tetap tenang-tenang saja. Tidak merasa grogi atau kikuk sedikitpun. Seakan hal itu sudah biasa baginya, padahal dia belum pernah duduk semeja dengan mereka.
★☆★☆
__ADS_1
"Tentu kalian pasti bertanya-tanya tentang siapa Pak Raihan ini," kata Shafira. "Kenapa dia yang malah mengundang kita untuk mengadakan rapat ini?"
"Benar, Bu Direktur," kata Bu Mega yang juga penasaran dengan seorang Raihan ini. "Tolong jelaskan kepada kami tentang siapa Raihan..., eh maksud saya Pak Raihan ini!"
Ucapan Bu Mega itu seolah mewakili kedua rekannya yang juga penasaran tentang siapa Raihan sebenarnya.
"Pak Burhan! Apakah Anda masih ingat kalau sebenarnya ayah saya masih memiliki anak kandung selain Pak Fauzan, saya dan Marsha?" tanya Shafira sambil menatap lelaki berumur 50-an tahun ke atas itu.
"Masih...," sahut Pak Burhan setelah berpikir beberapa saat. "Saya masih ingat, Bu Direktur. Kalau tidak salah putra ketiga Tuan Baskoro. Apa benar, Bu?"
"Ya, Anda benar, Pak Burhan," kata Shafira membenarkan.
"Tapi putra beliau itu sudah cukup lama menghilang," ungkap Pak Burhan. "Entah sekarang berada di mana?"
"Maaf, Bu Direktur, benarkah Boss Besar masih memiliki putra?" tanya Bu Mega dalam keterkejutannya.
Terang saja dia terkejut heran seakan tidak percaya kalau Pak Baskoro ternyata masih memiliki anak selain ketiga anaknya yang Bu Mega telah ketahui.
Pak Handoko pun juga demikian, dia seakan belum percaya kalau ternyata Pak Baskoro masih mempunyai anak.
Pasalnya, dia maupun Bu Mega belum pernah mendengar Pak Baskoro menyebut-nyebut tentang putranya itu. Jadi mereka menganggap kalau Pak Baskoro cuma memiliki tiga orang anak.
Sedangkan Raihan masih tetap tenang di tempat duduknya, tidak terpengaruh dengan keheranan yang dirasakan oleh ketiga orang karyawannya itu.
Tapi satu hal yang Raihan maupun Bayu tanggap dari situasi seperti ini bahwa ternyata Pak Baskoro memang benar-benar tidak menganggap Raihan ada di dunia ini.
Yaaah, tidak mengapa, pikir Raihan. Lah dia juga tidak menganggap Pak Baskoro sebagai ayahnya.
"Sekarang coba kalian lihat Pak Raihan ini!" pinta Shafira seperti menginstruksikan. "Kira-kira wajahnya mirip siapa?"
Serta-merta Bu Mega, Pak Burhan dan Pak Handoko menatap Raihan lekat-lekat. Tapi tidak butuh waktu lama kalau mereka sudah bisa memikirkan Raihan mirip siapa.
"Wajahnya mirip Tuan Baskoro...."
"Mirip Boss Besar...."
Terdengar ucapan Pak Handoko dan Bu Mega yang hampir bersamaan bernada gumam, sebagai ungkapan tentang apa yang ada di dalam pikiran mereka.
"Apakah dia anak ke tiga Tuan Baskoro, Bu Direktur?" tanya Pak Burhan menebak sambil tak lepas menatap Raihan.
"Ya benar, Pak Raihan adalah anak ke tiga Pak Baskoro," sahut Shafira bernada yakin, "pemilik sesungguhnya PT. Buana Persada."
__ADS_1
Tiga orang penting perusahaan itu tentu saja terkejut mendengar Shafira mengatakan bahwa Raihan adalah pemilik perusahaan ini. Soalnya Shafira tidak pernah mengatakan hal itu kepada mereka.
Yang mereka tahu kalau PT. Buana Persada ini masih berhubungan dengan perusahaan induk. Dan Shafira ditunjuk sebagai CEO atau Direktur Utama di sini.
Sementara Bu Mega dan Pak Handoko saja baru tahu kalau Pak Baskoro masih memiliki anak, bahkan anak ke tiga yang bernama Raihan.
Sekarang Shafira mengatakan kalau Raihan adalah pemilik perusahaan ini. Kalau begitu bagaimana ceritanya bisa sampai demikian?
Akhirnya Shafira menjelaskan kepada ketiga orang penting perusahaan itu tentang awal kejadiannya sehingga PT. Buana Persada ini menjadi milik Raihan Pratama, anak ke tiga dari Pak Baskoro.
Apa yang dijelaskan Shafira kepada ketiga bawahannya itu tidak jauh beda dengan apa yang dijelaskannya kepada Raihan waktu rapat pertama.
★☆★☆
Kemudian Shafira menambahkan memberitahukan beberapa hal di akhir penuturannya.
Di antaranya memberi tahu bahwa Bayu merupakan teman akrab Raihan. Dan dia juga menjabat sebagai personal assistant bagi Raihan.
Berikutnya Shafira memberitahukan bahwa sekarang jabatan CEO atau Direktur Utama PT. Buana Persada diserahkan kepada Raihan.
Tambahan terakhir, Shafira menginfokan bahwa Raihan sudah 2 bulan lebih mengelola perusahaannya ini. Dan sudah merumuskan bersama Bayu tentang langkah-langkah yang harus mereka lakukan untuk mengatasi kemelut dalam perusahaan.
Setelah mendengar penuturan Shafira yang cukup panjang lebar itu, akhirnya ketiga orang itu baru mengerti tentang duduk permasalahannya.
Dan begitu mengetahui kalau ternyata Raihan adalah atasan mereka yang paling tinggi sekarang, bukan lagi Pak Baskoro, maka serta-merta mereka langsung minta maaf karena berlaku tidak sopan kepada pimpinan mereka itu.
Terus, seketika itu juga mereka langsung tunduk hormat kepada Raihan. Dan seketika itu juga mereka langsung merasakan pancaran kewibawaan dan karisma kepemimpinan dalam diri Raihan. Sehingga membuat mereka segan dan makin hormat kepada Raihan.
Namun Raihan segera menegur perbuatan mereka agar menghormatinya dengan penghormatan biasa saja, jangan terlalu berlebihan. Sebab bukan penghormatan yang Raihan butuhkan.
"Saya tidak butuh kalian menghormati saya sedemikian rupa," ucap Raihan bernada bijak. "Yang saya butuhkan dari kalian adalah kesungguhan kalian dalam membantu saya menjalankan perusahaan ini...."
"Agar perusahaan ini bisa mencapai kesuksesan yang gemilang hingga menjadi perusahaan yang besar," lanjut Raihan, "yang bisa menampakkan taringnya agar bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya...."
Tidak lama kemudian, rapat khusus itu dimulai. Fokus pembahasan adalah langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengatasi kemelut perusahaan yang masih belum teratasi.
Namun mereka sudah bisa bernapas sedikit lega. Meski krisis yang terjadi belum bisa diatasi secara menyeluruh, tapi setidaknya mereka berhasil meredam terjadinya krisis yang lebih parah lagi.
Bahkan sudah bisa mereka rasakan adanya tanda-tanda kalau kemelut atau krisis yang terjadi dalam perusahaan ini akan segera teratasi. Hal itu tidak lepas dari ide-ide cemerlang yang dikemukakan oleh Raihan maupun Bayu.
Rapat itu terus saja berlangsung hingga hampir menjelang magrib.
__ADS_1
★☆★☆