
Michella sedikit kelabakan tiba-tiba Viola menarik tangannya, terus membawanya pergi menjauh dari mobil yang dikendarai oleh Bayu.
Sedangkan Bayu, pemuda dingin itu seperti tidak menghiraukan adegan itu. Begitu sampai di pintu mobil sebelah kanan, segera masuk. Dan tak lama, dia telah menjalankan mobil yang memang milik Raihan itu.
Sementara Michella hanya bisa memandang sebentar mobil sedan itu pergi meninggalkan kampus. Sedangkan Viola terus menarik tangannya hingga mereka makin masuk ke areal kampus.
"Lu napa sih tiba-tiba narik gue?" tanya Michella kesal sambil melepaskan tangannya yang tadi dicekal Viola.
"Lu kenal di mana cowok tadi?" tanya Viola langsung bagai tidak menggubris pertanyaan Michella. "Napa lu bisa sama-sama dia? Dan semalam... lu ke mana aja? Napa nggak pulang ke rumah lu? Dan gue hubungin lu, HP lu nggak aktif. Napa lu matiin HP lu?"
"Aduuuh..., Ola, lu nanyanya kayak interpol aja," gerutu Michella menegur. "Satu-satu dong nanyanya!"
"Lu tinggal jawab aja, Bawel!" dengus Viola juga kesal. "Jangan bikin gue makin penasaran!"
"Lu nanyanya langsung main berondong gitu! Gimana gue ngejawabnya?!"
Sejenak Viola menetralkan perasaannya yang ternyata sempat sedikit emosi. Masalahnya, Michella saat ini memakai baju yang dibelikan Raihan untuknya. Juga secara mengejutkan Michella tiba-tiba muncul bersama Bayu.
Apakah semalam Michella bermalam di rumah Raihan? Kenapa bisa demikian? Berbagai macam pertanyaan dan dugaan-dugaan menyambar-nyambar pikiran Viola hingga membuatnya penasaran tingkat tinggi.
Michella yang melihat diamnya Viola yang menurutnya aneh, langsung disergap rasa heran. Lalu dia menanyakan dengan sedikit rasa bersalah.
"Lu napa, La? Gue nyinggung perasaan lu ya? Maafin deh. Habisnya lu sih... nanyanya langsung banyak gitu. Gue 'kan bingung ngejawabnya gimana?"
"Udah, nggak papa, santai aja," kata Viola berusaha tersenyum dan menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
"Bener lu nggak papa?" tanya Michella yang masih menatap wajah Viola yang masih terselip kejanggalan menurutnya.
"Bener, gue nggak papa," kilah Viola. "Gue hanya kaget aja lu tiba-tiba muncul sama cowok. Sedangkan semalam kata nyokap lu, lu nggak pulang ke rumah...."
"Nyokap gue nelpon lu semalam?" tanya Michella seolah ingin memastikan.
"Iya, nyokap lu nelpon gue semalam," kata Viola meyakinkan.
"Lu ke mana aja sih?" tanya Viola selanjutnya. "Napa tiba-tiba lu muncul bareng cowok tadi?"
Viola masih saja berlagak pura-pura tidak mengenal Bayu. Entah apa maksud gadis itu?
"Gue sebenarnya kesal sama orang tua gue," tutur Michella mulai bercerita. "Bayangin aja gue mau dijodohin ama cowok yang gue nggak cinta. Ya gue minggat aja...."
Akhirnya Michella menceritakan tentang kisahnya yang melarikan diri dari acara perjodohan hingga tanpa sengaja bertemu Bayu.
Michella menceritakan kisahnya itu cukup rinci. Membuat Viola sempat menahan napas saat Michella menceritakan bahwa ternyata Michella bermalam di rumah Raihan tadi malam.
Tapi, dari cerita Michella tersebut Viola belum mendapat indikasi kalau gadis itu suka sama cowok yang dia cintai. Michella lebih banyak bercerita tentang kebersamaannya dengan Bayu. Seakan-akan gadis itu mengindikasikan kalau dia menyukai Bayu.
Sekarang, siapa pemuda yang dijodohkan dengan Michella?
★☆★☆
__ADS_1
"Lu belum cerita siapa cowok yang dijodohin ama lu," kata Viola mengingatkan di akhir Michella bercerita.
"Oh, gue belum cerita ya?" tanya Michella seolah tidak menyadari.
"Lu hanya sibuk ceritain cowok yang bernama Bayu itu," kata Viola berlagak ketus-datar. "Mana sempat lu kasi tahu cowok yang dijodohin ama lu siapa...."
"Hehehe...," Michella hanya terkekeh menanggapi ucapan Viola barusan.
"Siapa, Sela?" tanya Viola seperti mendesak.
"Penting amat ya buat lu tahu?" tanya Michella seakan mempermainkan Viola sambil tersenyum menggoda.
"Jawab aja, Sela!" pinta Viola bagai perintah.
"Sebenarnya gue sih nggak perduli ama cowok yang dijodohin ama gue," kata Michella mengakui. "Karena... gue nggak cinta ama dia, meski dia juga tampan dan baik. Tapi karena lu maksa, ya... gue kasih tahu juga...."
"Nggak usah bertele-tela segala, Sela!" tegur Viola kembali kesal. "Tinggal jawab aja napa!?"
"Mas Rai, kakaknya Mas Bayu," sahut Michella bernada malas dan tanpa menoleh ke Viola.
"Apa...?!"
Bukan main terkejutnya Viola mengetahui kalau pemuda yang dijodohkan dengan sahabatnya adalah Raihan, pemuda yang amat dan masih dicintainya.
Seketika saja wajah cantik Viola langsung berubah tanpa bisa dia sembunyikan. Seketika saja wajahnya menunjukkan ekspresi marah, sedih, dan kecewa.
Sedangkan Michella, karena mendengar seruan Viola yang terkejut itu, dengan cepat dia langsung menoleh pada gadis itu. Dan mendapati wajah Viola dengan berbagai macam ekspresi.
"Oh, nggak, nggak!" kilah Viola sambil menggoyangkan telapak tangannya di depannya beberapa kali. "Gue nggak kenal. Gue hanya kaget, gimana nanti gue bernasib kayak lu juga, dijodohin ama cowok yang nggak dicintai?!"
"Gue sendiri juga bingung gimana ngatasi masalah ini, La," desah Michella masygul.
Michella belum menyadari kalau sebenarnya yang membuat Viola berubah sedemikian rupa disebabkan karena cowok yang dijodohkan dengan dirinya adalah cowok yang Viola cintai.
"Lu benar nggak cinta sama cowok yang dijodohin ama lu itu?" tanya Viola ingin kejelasan yang pasti.
"Iya nggak lah," sahu Michella spontan tanpa pikir-pikir dulu. "Gue malah... suka sama adiknya itu."
Saat Michella berucap kalau dia suka sama Bayu, bibir legitnya langsung tersenyum manis. Terbayang lagi saat-saat indah bersama Bayu.
"Lu demen ama cowok kulkas?" tanya Viola mencoba mengalihkan perasaannya dengan bertanya seperti itu.
"Gue 'kan udah pernah bilang ama lu, kalau tipe cowok yang pingin gue jadiin pacar ya... kayak Mas Bay itu?"
"Napa lu nggak terima aja dijodohin sama Mas Rai?" tanya Viola jelas menguji keteguhan Michella. "Dia juga pasti cowok yang baik."
"Ya memang sih Mas Rai juga cowok yang baik," tanggap Michella tidak menyadari Viola mengujinya. "Tapi... ya mau gimana lagi Mas Rai bukan tipe gue.
"Lagian... gue nggak ada rasa ama dia," lanjut Michella mengungkapkan kejujuran hatinya, "meski gue udah bermalam di rumahnya tadi malam."
__ADS_1
★☆★☆
"Eh, lu 'kan lari dari acara perjodohan ya," kata Viola seketika menyadari suatu hal. "Itu artinya kalian nggak ketemu di acara perjodohan, malah ketemunya di rumah Mas Rai. Apa Mas Rai udah tahu lu apa belum."
"Saat kita bertemu di rumahnya, Mas Rai kayaknya biasa aja ngelihat gue," ungkap Michella. "Kayak orang nggak kenal gitu."
"Tapi...," lanjut Michella, "saat Mas Rai pulang dari acara keluarga di rumah orang tuanya, dia udah agak lain saat ngelihat gue."
"Mas Rai cerita nggak tentang acara keluarganya yang diomongin apa?" kejar Viola.
"Cuma acara keluarga seperti biasa kata Mas Bay," sahut Michella yang memang jujur. "Tapi gue curiga deh jangan-jangan yang dibicarakan tentang perjodohan kami."
"Tapi gue nyantai aja," lanjut Michella. "Berlagak nggak tahu aja. Dan... Mas Rai juga tampak biasa aja ama gue setelah itu."
"Napa lu nggak mau dijodohin ama cowok itu?" selidik Viola lagi. "Padahal lu tahu dia cowok yang baik."
"Pertama..., gue udah mulai suka sama Mas Bay," sahut Michella terus terang. "Dan... kayaknya Mas Bay juga udah mulai suka ama gue. Gue bisa ngerasain hal itu...."
"Kedua..., sebenarnya gue bisa aja nerima perjodohan itu," lanjut Michella. "Tapi gue yakin Mas Rai pasti udah punya pacar. Makanya gue nggak nerima perjodohan itu karena gue nggak mau nyakitin hati pacar Mas Rai."
"Terutama gue nggak mau nyakitin perasaan Mas Bay."
Sampai di situ pembicaraan di atara mereka terhenti sejenak. Sementara sepasang kaki mereka terus saja melangkah secara perlahan sembari mereka telah hanyut dalam pikiran masing-masing.
Setelah mendengar semua penuturan sahabatnya itu, Viola berencana untuk menemui Raihan. Mungkin saatnya lah dia bertemu dengan Raihan kembali. Bertemu untuk membicarakan tentang masalah ini.
Dan yang lebih penting daripada itu, Viola ingin mengetahui tentang perasaan Raihan hingga sekarang, apakah pemuda itu masih mencintainya?
Tapi, sebelum bertemu dengan Raihan, dia berencana menemui Marsha terlebih dahulu. Tentu akan membicarakan tentang masalah ini juga.
Sedangkan Michella memikirkan tentang kejelasan antara dia dengan Bayu. Bagaimana, andai kata mereka ternyata memang terbukti suka sama suka dan resmi berpacaran, apakah hubungan mereka akan tetap abadi?
Michella sudah membayangkan bahwa pasti kedua orang tuanya menentang hubungan mereka. Dan kedua orang tuanya jelas tetap mempertahankan perjodohannya dengan Raihan.
Memikirkan hal itu, Michella menjadi bingung sekaligus khawatir. Bingung harus berbuat apa untuk mempertahankan hubungan mereka? Khawatir kalau-kalau orang tuanya akan menyakiti Bayu.
"Sel, lu udah mantap memilih Mas Bay jadi pacar lu?" tanya Viola seketika memecah kebisuan.
"Gue belum berani mastiin kalau gue memilih Mas Bay jadi pacar gue," tutur Michella mengakui. "Tapi jujur gue suka sama dia...."
"Gue hanya bisa doain yang terbaik buat lu," kata Viola mensuport. "Kalau lu misalkan ditakdirkan bakal berjodoh dengan Mas Bay, gue bakal ngedukung lu sepenuh hati."
"Tapi kalau misalkan lu tetap dijodohin sama Mas Rai dan terpaksa harus menikah dengan cowok itu, gue juga bakal ngedukung lu sepenuh hati."
Saat mengucapkan kalimat mengerikan itu, Viola berusaha sekuat tenaga menekan perasaannya. Yang ada dalam pikirannya saat ini bagaimana memberikan yang terbaik buat Raihan. Dan memberikan yang terbaik pula buat sahabatnya ini.
Kalau begitu, kapan dia akan memberikan yang terbaik buat dirinya? Lebih dari itu, sanggupkah dia mengalah, melepaskan cintanya demi sahabatnya?
Michella hanya mendengarkan penuturan Viola barusan, tanpa ingin memberi tanggapan. Tapi benaknya jelas memikirkan semua yang diucapkan sahabat karibnya itu.
__ADS_1
★☆★☆★