
Cinta memang bisa membuat orang menjadi gila. Seperti halnya yang terjadi dengan Melinda itu.
Gadis yang berubah menjadi jahat itu masih mencintai Raihan. Namun Raihan ternyata sudah tidak mencintainya lagi. Malah Raihan sekarang mencintai Viola. Betapa hatinya tidak menjadi sakit kalau begitu.
Olehnya itu Melinda berpikir, jika dia tidak mendapatkan Raihan, maka wanita lain tidak boleh juga mendapatkan Raihan. Dia berusaha dengan segala cara menyingkirkan wanita mana pun yang mencintai Raihan.
Termasuk menyingkirkan Viola yang kuat dugaannya sudah berpacaran dengan Raihan.
Rencana pembunuhan terhadap Viola yang pertama telah gagal. Tapi malam ini dia yakin Viola bakal mati. Dia yang akan membunuhnya secara langsung.
"Kemarin lu masih bisa lolos dari kematian," kata Melinda penuh ancaman sambil tersenyum dingin. "Tapi malam ini lu nggak bakal lolos lagi. Lu bakal mati benaran...."
Viola diam saja, tidak menanggapi ucapan Melinda yang mengerikan itu. Dia hanya bisa menatap Melinda dengan tajam sambil berpikir bagaimana caranya agar dia bisa lolos dari sekapan Melinda dan lelaki muda itu.
"Lu udah pacaran ama kakak gue," kata Viola mulai mencoba siasatnya. "Tapi napa lu masih ngarepin Mas Rai lagi?"
"Gue nggak cinta ama kakak lu yang brengsek itu," kata Melinda bernada geram. "Gue cintanya ama Mas Rai seorang."
"Tapi Mas Rai udah nggak cinta lu lagi," kata Viola seakan mengingatkan. "Lu harus nyadar, Mel."
"Sekarang memang Mas Rai belum mencintai gue lagi," kata Melinda dengan optimis. "Tapi suatu saat dia pasti mencintai gue. Karena dulu emang kami saling mencintai."
"Mel, cobalah lu buka hati lu ama cowok lain!" Viola masih terus membujuk. "Kak Miko cinta banget ama lu. Cobalah lu mencintai Kak Miko dengan seutuhnya, bukan sekedar berpura-pura."
Viola telah mengetahui hubungan cinta antara Melinda dengan Miko dari mamanya dan kakak perempuannya. Dari keduanya Viola tahu kalau Miko memang amat mencintai Melinda.
Dan menurut apa yang mereka lihat dan menduga dari hubungan antara Miko dengan Melinda bahwa Melinda juga mencintai Miko.
Namun ternyata Melinda cuma berpura-pura mencintai Miko. Melinda ternyata masih mencintai Raihan. Makanya Viola membujuk Melinda agar mencintai Miko dengan tulus, bukan hanya sekedar berpura-pura.
"Lu pikir Miko mencintai gue dengan tulus, gitu?" dengus Melinda bernada sinis. "Asal lu tau! Hubungan gue ama Miko hanya demi kepentingan bisnis orang tua kita."
"Jadi, nggak ada ketulusan kalau hubungan ditunggangi demi kepentingan bisnis," lanjut Melinda bernada dingin.
"Gimana kalau benaran Kak Miko emang mencintai lu, Mel?" tanya Viola terus mempengaruhi pikiran Melinda.
"Gue nggak percaya," sahut Melinda cepat tanpa mikir. "Nggak ada yang tulus mencintai gue selain Mas Rai."
"Kalau Mas Rai tulus mencintai lu, napa lu minta putus ama Mas Rai kalau gitu?" Viola terus mencecar pikiran Melinda.
Viola sudah mengetahui hubungan asmara antara Raihan dengan Melinda meski secara garis besarnya. Jadi, dia punya bahan untuk menyerang pikiran Melinda.
Baru saja Melinda hendak menanggapi ucapan Viola itu, lelaki muda yang sedari tadi diam saja tiba-tiba berkata dengan nada mengingatkan Melinda.
"Mel, adik Rania itu cuma mengulur waktu untuk menunda kematiannya saja. Jangan sampai kamu terpengaruh oleh bicaranya!"
Melinda tidak menunjukkan reaksi berarti atas ucapan lelaki muda yang terus memandang Viola dengan liar itu. Cuma melirik sebentar. Ekspresinya juga tidak terkejut akan ucapan itu.
Yang terkejut adalah Viola, bahkan amat terkejut. Sampai-sampai dia menatap lelaki mesum itu dengan mata yang terbelalak.
★☆★☆
Rania adalah kakak pertamanya yang sudah meninggal. Dia meninggal menjelang pernikahannya dengan pria yang sebenarnya tidak dicintainya.
__ADS_1
Viola belum paham benar peristiwa yang terjadi ketika itu. Karena waktu itu dia baru berumur 10 tahun. Tahu-tahu 2 hari sebelum hari pernikahan Rania, kakaknya meninggal akibat kecelakaan.
Dan entah bagaimana ceritanya, akibat peristiwa itu pihak pria yang hendak nikah dengan Rania sebagai tertuduh atas meninggalnya Rania.
"Ada apa, Viola?" kata lelaki muda itu sambil tersenyum menyeringai. "Lu kaget gue tahu tentang kakak lu?"
"Lu kenal ama kakak gue?" tanya Viola tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dan rasa penasarannya.
"Kenal," sahut lelaki muda itu santai, "amat kenal."
"Dari mana lu kenal Kak Rania? Lu apanya Kak Rania?" cecar Viola cepat.
"Lu nggak perlu tahu dari mana gue kenal Rania dan apa hubungan gue ama dia," sahut lelaki muda itu bernada dingin. "Yang jelas lu dan seluruh keluarga lu harus mati semua, untuk menebus nyawa Rania."
"Kak Vega, kayaknya aku udah terlalu lama di sini," kata Melinda pada lelaki muda yang ternyata bernama Vega, "kita bunuh sekarang aja cewek brengsek ini!"
Viola langsung menelan salivanya mendengar ucapan Melinda barusan. Tentu saja dia tidak bisa menahan keterkejutan bercampur kengerian.
Viola yakin ucapan itu bukan sekedar omong kosong belaka. Kedua kakak beradik itu pasti akan membunuhnya.
"Nggak usah terburu-buru menghabisi nyawanya," kata Vega bernada tenang tapi menakutkan. Kedua matanya semakin liar memandang tubuh Viola. "Aku ingin bermain-main dulu dengannya."
Belum hilang rasa ngeri akibat membayangkan kematian dirinya yang sebentar lagi akan menjadi nyata, kembali Viola dikejutkan dengan ucapan Vega barusan. Bahkan ucapan itu lebih mengerikan ketimbang dia dibunuh.
Viola amat paham apa maksud ucapan Vega itu. Lelaki muda itu bermaksud memperkaosnya dulu sebelum membunuhnya. Hal itu diperjelas dengan wajahnya yang penuh nafsu dan matanya yang liar.
Bukankah itu lebih mengerikan?
"Aku udah terlalu lama di sini, Kak," bantah Melinda yang kurang setuju dengan rencana Vega. "Aku ingin ngebunuh cewek ini dengan tanganku sendiri."
"Kamu sebaiknya tinggalin tempat ini sekarang!" kata Vega menyuruh. "Biar cewek sainganmu itu urusan gue."
"Tapi, Kak...."
"Jangan ngebantah, Melinda!" kata Vega setengah membentak sambil menatap tajam pada gadis itu. "Tinggalin tempat ini! Cepat!"
Tampak Melinda sedikit terkejut takut mendengar bentakan kakaknya. Kejap berikut dia langsung cemberut bercampur kesal. Akan tetapi dia tidak berani membantah perintah kakaknya itu.
Setelah menatap Viola dengan tajam penuh kebencian, Melinda dengan cepat meninggalkan ruangan ini.
Begitu Melinda sudah keluar dari ruangan ini, Vega segera mengunci pintu kamar dari dalam. Lalu dia melangkah perlahan menuju pembaringan.
Senyum menyeringai semakin mengembang di wajah culasnya. Sepasang matanya semakin liar menatap Viola, bagai serigala buas yang mengintai domba cantik.
Sedangkan Viola, jantungnya semakin berdegup kencang. Wajahnya semakin pucat. Keringat dingin terus bercucuran di wajahnya. Kengerian makin menghantui perasaannya.
★☆★☆
Begitu sampai di tepi pembaringan, sejenak Vega memandang sekujur tubuh Viola dari kepala hingga kaki dengan penuh nafsu.
Kemudian lelaki bejat itu duduk di tepi pembaringan dengan perlahan. Lalu tangan kanannya bergerak hendak menjamah wajah Viola. Namun belum juga tangan kotor itu sampai ke tujuan....
"Apa lu pacar Kak Rania?" tanya Viola dengan berani di tengah kengeriannya.
__ADS_1
Tangan kotor Vega langsung berhenti. Sepasang matanya langsung menatap Viola dengan dingin. Lalu mulutnya yang selalu menyeringai buas berkata lembut.
"Kalau iya kenapa? Apa lu mau menggantikan posisinya?"
Viola tidak lantas menjawab atau menanggapi ucapan kotor Vega. Dia malah menelan salivanya untuk kesekian kalinya. Dia tidak menyangka lelaki berhati bejat ini pernah pacaran dengan kakaknya.
"Lu pacar Kak Rania," kata Viola memberanikan diri lagi, "tapi napa Kak Rania malah mau nikah sama orang lain, bukan sama lu?"
"Hehehe...! Lu pikir gue terpengaruh dengan akal murahan lu?" kata Vega bernada dingin. "Lu nggak bisa ngalihin pikiran gue. Lu tetap bakalan mati."
"Tapi sebelum lu mati," lanjut Vega bernada kotor, "gue akan ngerasain lu surga dunia dulu. Biar lu mati dengan puas."
"Lu pacar Kak Rania, tapi napa lu mau menghabisi keluarganya?" tanya Viola lagi, tidak perduli dengan ucapan Vega. "Dendam apa lu sama keluarga Rania?"
"Diam!"
Plak!
Setelah membentak Viola dengan kasar, lalu tangan yang tadinya hendak menjamah wajah Viola langsung menampar pipi gadis itu dengan keras. Sehingga wajah Viola terlempar ke samping.
"Lu kalau mau gue lembutin, jangan banyak omong!" kata Vega bernada dingin sambil memelototi Viola.
Ditindas sedemikian rupa begitu membuat Viola marah bukan main sebenarnya. Tapi apa daya dia kalau kedua tangan dan kakinya masih terikat.
Saat ini dia hanya bisa berdoa semoga keajaiban dari Tuhan akan segera turun di kamar ini.
Belum lama dia berdoa demikian, terdengar dari luar kamar seperti ada keributan. Bunyinya datang dari ruangan depan.
Mulanya terdengar suara bentakan-bentakan kasar. Lalu terdengar kegaduhan seperti perkelahian. Ditingkahi suara benda-benda lain.
Mendengar suara gaduh itu, Viola langsung terkejut. Tapi Vega lebih terkejut lagi. Dia langsung menatap ke arah pintu kamar dengan tajam. Pendengarannya lebih dipertajam untuk mendengar suara-suara gaduh dari luar.
Kemudian, setelah menatap Viola sejenak, mengancam agar tidak berteriak, Vega segera berdiri dan langsung menuju pintu kamar. Namun baru saja dia membuka pintu itu, sebuah tendangan keras langsung bersarang di lambungnya.
Dughk!
"Hughk!"
Demikian kerasnya tendangan yang tak disangka-sangka itu, membuat Vega langsung terjajar ke belakang sambil mengeluh kesakitan.
Namun dengan cepat dia segera menguasai dirinya. Menetralkan keadaannya yang sempat kena hajar tadi. Lalu memandang dengan cepat ke arah pintu.
Begitu mengetahui siapa yang tengah menendangnya, amarahnya langsung naik dengan drastis.
Semetara Viola juga segera menatap ke arah pintu kamar demi melihat siapa gerangan malaikat penolong yang telah datang menolongnya. Sejenak dia mengamati rupa pemuda tampan yang menolongnya itu.
Begitu Viola telah mengetahui siapa pemuda tampan yang menolongnya, senangnya minta ampun. Karena dia tahu siapa lelaki dewa penolongnya itu.
Di situ, di ambang pintu telah berdiri seorang pemuda tampan yang tengah menatap Vega dengan tajam penuh permusuhan.
"Mas Rai...."
★☆★☆★
__ADS_1