
Setelah tadi terkurung dalam rasa ngeri yang sangat, kini perasaan itu seketika lenyap. Berganti rasa bahagia yang begitu membahagiakan sekaligus mengharukan.
Raihan, sang kekasih telah menyelamatkannya dari kesengsaraan dan kematian. Dan hal itu sudah dua kali.
Tanpa malu-malu, tanpa sungkan Viola langsung memeluk Raihan setelah tali yang mengikat tangan dan kakinya dilepas oleh Raihan.
Air mata bahagia bercampur haru tertumpah begitu saja tanpa bisa dia cegah. Pelukannya pada Raihan yang juga memeluknya semakin dieratkan, meresapi kebahagiaan yang memenuhi rongga dadanya.
Sudah sebulan lebih dia tidak bertemu pemuda pujaan hatinya itu. Dan ketika bertemu lagi pada momen yang benar-benar dia memerlukan pertolongan sang kekasih.
Betapa hati ini tidak bahagia kalau begitu?
"Kamu udah aman, Lala," kata Raihan lembut di sela mereka saling berpelukan. "Sekarang kamu bisa tenang."
Viola melonggarkan sedikit pelukannya pada Raihan. Lalu menatap pemuda tampan itu dengan jarak yang begitu dekat sambil tersenyum manis di sela wajahnya yang masih dibasahi oleh air mata.
Sedangkan Raihan juga menatap kekasihnya itu dengan lembut penuh cinta sambil tersenyum manis penuh kehangatan. Lalu pemuda itu menyeka air mata Viola dengan jemari tangannya dengan begitu lembutnya.
Dan Viola meresapi sentuhan lembut Raihan itu dengan penuh penghayatan.
"Terima kasih, Mas Rai," kata Viola bernada lembut setelah Raihan menyeka air matanya. "Kamu udah dua kali nyelamatin aku. Makasih banget."
Lalu dengan cepat tapi lembut gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Raihan. Terus mencium bibir sang pemuda tanpa rasa sungkan. Seolah lupa kalau dia tidak terbiasa berciuman, bahkan belum pernah.
Sebenarnya Raihan hendak menanggapi ucapan Viola barusan. Namun baru saja mulutnya terbuka sedikit Viola dengan cepat menciumnya. Bahkan sekarang gadis itu memagut bibirnya dengan lembut penuh kemesraan.
Awalnya Raihan terkejut tidak menyangka Viola bisa melakukan hal itu dengan berani. Belum lama mereka resmi berpacaran, tapi gadis ini sudah berani menciumnya. Yang mana dia sendiri belum pernah melakukannya kepada Melinda waktu mereka pacaran dulu.
Hampir saja dia hendak menghindari pagutan bibir Viola yang begitu kenyal. Namun dia cepat berpikir, kalau dia melakukannya tentu Viola akan kecewa.
Sehingga mau tidak mau dia biarkan saja Viola melakukan sekehendak hatinya terhadap bibirnya. Bahkan perlahan dia mulai balas memagut bibir legit Viola.
Dan akhirnya sepasang kekasih itu larut dalam pertarungan adu bibir yang begitu syahdu. Saling pagut memagut dengan penuh kelembutan dan kemesraan.
Sementara, selagi sepasang kekasih itu bertarung saling adu bibir, Bayu datang ke kamar itu dan langsung menyaksikan adegan romantis itu. Tentu saja dia terkejut sambil tersenyum penuh arti.
"Sialan! Jauh-jauh aku dari kota hingga nyampe ke puncak ini, ternyata cuma buat ngelihat orang berciuman. ******!" gerutunya setengah berseru dengan nada bagai kesal. Padahal dia hanya bergurau saja sesungguhnya.
Mendengar gerutuan Bayu barusan, sepasang kekasih itu seketika tersentak kaget. Lalu refleks saling berjauhan bibir, saling lepas pelukan, saling menjauh.
Lalu hampir bersamaan memandang ke arah Bayu yang tampak agak berantakan. Tapi tak ada tanda di wajahnya kalau dia terkena pukulan.
Sontak saja wajah Viola langsung bersemu merah mana kala mengetahui Bayu sudah ada di kamar ini. Meski Bayu tidak memandang ke arahnya, tapi rasa malu tidak dapat ditahannya. Akhirnya dia tersenyum kikuk.
Sedangkan Raihan juga sebenarnya malu dipergoki sedang ciuman oleh Bayu. Tapi dia dapat menangkalnya dengan bertanya.
"Gimana dengan 3 lawanmu tadi? Apa mereka baik-baik saja?"
"Mereka langsung kubuat tidur pulas," sahut Bayu santai.
"Sebaiknya kita cepat tinggalin tempat ini!" lanjut Bayu mengusulkan tapi bagai menyuruh. "Takutnya ada kejadian lanjutan."
"Kamu nggak papa, Lala?" tanya Raihan sambil menatap gadis itu. "Bisa jalan nggak?"
__ADS_1
"Ciuman aja bisa, apalagi jalan, Bossku," gerutu Bayu sambil melangkah duluan.
Raihan hanya tersenyum mendengar gerutuan Bayu itu. Sedangkan Viola hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaan Raihan. Karena dia menahan tawa akibat mendengar gerutuan Bayu.
Lalu mengambil tasnya yang ada di atas meja. Terus melangkah bersama Raihan, meninggalkan tempat ini.
★☆★☆
Mobil sedan merci itu terus melaju melintasi jalan aspal membelah pekatnya kegelapan malam. Bayu yang mengendarainya melajukan dengan kecepatan sedang.
Sementara di jok belakang duduk Raihan dan Viola yang saling berdekatan. Bahkan Viola duduk sambil kepalanya bersandar manja di pundak kanan Raihan.
Tadi Raihan dan Bayu sempat mengungkapkan rasa senang mereka karena melihat Viola kini sudah berubah menjadi wanita seutuhnya. Bukan lagi bertubuh wanita, tapi berdandan laki-laki.
Adapun saat ini Viola tengah mengungkapkan curhatannya akibat tidak bertemu Raihan selama sebulan lebih. Termasuk mencurhatkan penampilannya yang berubah drastis demi menuruti kehendak papa-mamanya.
Dengan menuruti kehendak ortunya dia berharap mereka meluaskannya untuk bertemu dengan Raihan. Namun nyatanya mereka tetap tidak meluaskan untuk pergi.
"Kamu nggak berontak?" tanya Raihan seakan menguji.
"Aku 'kan ngikutin nasehat kamu agar nggak ngebantah orang tua aku lagi," sahut Viola dengan mode polos.
"Anak pinter," tanggap Raihan seolah memuji.
Tapi itu cuma candaan dan dimengerti oleh Viola yang sudah biasa bercanda dengan Raihan.
Lalu Viola lanjut menceritakan kenapa dia bisa diculik tadi ketika Raihan menanyakan. Dia memberitahukan kalau Melinda juga terlibat dalam penculikan itu.
"Melinda juga terlibat dalam penculikan aku, Mas," tutur Viola di tengah ceritanya, "di samping kakaknya yang tadi brantem ama kamu. Aku menduga dia dalang utamanya."
"Melinda memanggilnya Vega," sahut Viola masih ingat. "Apa Melinda belum pernah cerita ama kamu kalau dia punya kakak laki-laki?"
"Dia emang pernah cerita kalau punya kakak laki-laki," sahut Raihan mengungkap, "tapi katanya udah mati. Namanya aku lupa, tapi bukan Vega."
"Mungkin Vega itu kakaknya yang lain," celetuk Bayu dari jok depan menduga.
"Bisa jadi," tanggap Raihan dan Viola hampir bersamaan sependapat.
"Ada yang lebih mengejutkan lagi, Mas," kata Viola melanjutkan penuturannya, "kejadian saat aku hampir mati ditusuk oleh preman, itu ternyata Melinda dan kakaknya itu yang ngedalangi."
"Ah yang benar?!"
Terang saja Raihan terkejut mendengar penuturan Viola itu. Tidak terkecuali Bayu. Mereka tidak menyangka kalau Melinda bertindak sudah sejauh itu.
"Benar, Mas," sahut Viola meyakinkan. "Melinda sendiri yang ngomong sama aku tadi."
"Apa maksud mereka ngenculik kamu tadi ingin ngebunuh kamu juga, La?" tanya Bayu menebak.
"Benar, Mas Bay," sahut Viola. "Bahkan... Melinda sendiri yang pingin ngebunuh aku sebenarnya."
"Edan...!" dengus Bayu dalam kejutnya. "Cewek itu emang udah benar-benar edan!"
"Aku nggak nyangka Melinda bisa berbuat sampe segitunya," kata Raihan mendesah kecewa atas tindakan Melinda yang keliwat batas.
__ADS_1
"Dia ngelakuin itu karena dia masih mencintaimu, Mas Rai," ungkap Viola seperti ada keperihan dalam ucapannya.
"Dia ingin nyingkirin semua wanita yang berusaha mencintai kamu," lanjut Viola. "Cuma dia yang berhak mencintai kamu, katanya...."
"Kalau toh dia nggak dapetin cintamu, wanita lain nggak boleh juga dapetin cintamu, Mas Rai...."
"Hhh..., kenapa dia nggak nyadar-nyadar juga kalau hubungan aku dengan dia di masa lalu bisa berakhir akibat ulahnya juga," desah Raihan menyesalkan.
"Aku yakin pasti ada sebab lain, selain Melinda minta putus ama kamu, Mas," kata Viola sambil menengok wajah Raihan yang resah.
Raihan terdiam, tidak lantas menanggapi ucapan Viola yang bermakna bertanya itu.
★☆★☆
Melihat situasi itu, Bayu langsung mengambil peran yang menanggapi ucapan Viola. Karena dia yakin Raihan pasti tidak akan mau menjawabnya.
"Melinda berselingkuh di belakang Raihan, Lala. Sementara... mereka masih pacaran waktu itu."
Viola seketika tersentak kaget mendengar ucapan Bayu itu. Sampai-sampai dia langsung mengangkat kepalanya dari pundak Raihan lalu memandangnya dengan antusias.
Perlu diketahui bahwa Viola belum tahu kalau Melinda pernah berselingkuh selama berpacaran dengan Raihan. Hal itu jelas karena Raihan tidak memberitahukan.
Raihan cuma memberi tahu kalau dia pernah berpacaran dengan Melinda. Terus Melinda meminta putus karena orang tuanya tidak menyetujui hubungan mereka disebabkan Raihan orang miskin.
Terus Raihan juga memberitahukan kalau orang tua Melinda sudah menjodohkan Melinda dengan anak orang kaya sekaligus seorang CEO.
Viola langsung memahami kalau pemuda yang dijodohkan dengan Melinda adalah kakaknya, Miko Vebrian. Namun sama sekali Viola tidak pernah terpikirkan kalau Melinda sebenarnya berselingkuh dengan kakaknya, Miko.
Makanya Viola langsung bertanya kepada Raihan dengan antusias, ingin sekali tahu. Sementara benaknya tidak mau menerka-nerka tentang siapa orangnya.
"Selingkuh ama siapa, Mas?"
Raihan masih terdiam, seolah tidak ingin menjawab. Tepatnya tidak tega untuk menjawabnya. Maka Bayu kembali mengambil alih yang menjawab.
"Seorang CEO di Jakarta."
"Apa ama kakak aku, Miko, Mas Rai?" akhirnya Viola menebak juga dengan spontan.
"Sebenarnya masalah itu nggak penting untuk dibahas, Lala," desah Raihan mencoba mengelak. "Itu juga sudah berlalu."
"Tapi bagiku itu penting, Mas," kata Viola terus memaksa. "Apa ama kakak aku Melinda berselingkuh?"
"Ya...," sahut Raihan mendesah pelan.
Viola sebenarnya sudah menduga kalau Melinda berselingkuh dengan kakaknya. Tapi tetap saja dia masih terkejut juga mendengar pengakuan kekasihnya itu.
Ditatapnya Raihan lekat-lekat, melihat wajah tampan pemuda itu yang tersembunyi duka yang sudah bertahun-tahun di situ.
Sungguh, perbuatan kakaknya itu membuatnya merasa bersalah. Seolah-olah dia ikut andil dalam masalah itu karena dia adalah saudara Miko. Padahal dia sama sekali tidak tahu menahu akan hal itu sebelumnya.
"Aku nggak papa, Lala," kata Raihan yang juga menatap Viola dengan lembut. "Kamu nggak perlu merasa bersalah gitu.... Masalah itu udah berlalu, aku nggak mikirin lagi."
Mendengar ucapan Raihan yang penuh bijak itu membuat hati Viola kembali terharu. Dengan segera dia memeluk sang kekasih, membenamkan kepalanya di dada bidang pemuda itu. Sementara air mata haru kembali mengalir di pipi halusnya.
__ADS_1
★☆★☆★